BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Kangen


__ADS_3

"Siapa?" bunda Sarah ikut bertanya pada Leo, dia juga ingin tahu siapa musuh Andromega kali ini.


"Bunda." panggil Arfan.


"Mala sama siapa?" tanya Arfan lagi.


"Adikmu sedang bersama Zoya, tidak usah khawatir." jawab bunda Sarah.


"Bunda kesini ingin melihat keadaan Galih." lanjut bunda ucapannya memberi tahu maksud kedatangannya.


"Galih masih betah tidur." papa Andro yang mejawab.


"Jadi siapa Mr.X?" tanya Arfan yang kembai membahas masalah mereka.


"Ayah Dirga, tuan Yamin Pratama."


"Sudah Bunda duga." sahut bunda Sarah jawaban Leo.


"Saat kamu mencurigai Dirga, maka Bunda juga berpikir jika ini ulah Yamin."


"Ada masalah apa sebenarnya, Bun?" tanya Arfan tidak mengerti.


"Dulu dia sempat menanan saham dan membatu di Andromega." jawab papa Andro.


"Aku kira dulu ayah berselisih hanya karena masalah pribadi dengannya, dan ingin menjauhkan Mala dari gangguan Dirga, sampai-samapi ayah memutuslan untuk pindah rumah karena tidak nyaman." ucap Arfan.


"Papa dan ayah kalian dulu bersahabat dengannya." ucap papa Andro memberitahu.


"Saat Papa dan ayah kalian merintis Andromega, dia datang menawarkan bantuan tambahan dana. Kami yang saat itu memang sedang membutuhkan dana tambahan tentu saja menerima tawaran itu." ucap papa Andro mengawali ceritanya.


"Yamin menjadi orang pertama yang menanamkan saham di Andromega, dia juga membantu mengelola perusahaan."


"Kami bertiga bekerja sama untuk memajukan Andromega, agar perusahaan berjalan dengan baik."


"Sayangnya, setelah perusahaan berjalan dengan baik, Yamin melakukan kecurangan. Diam-diam, dia berusaha mengalihkan nama perusahaan dari milik papa dan ayah kalian menjadi miliknya pribadinya."


"Untung saja saat itu ayah kalian menemukan kejanggalan dari laporan para klien kita, sehingga Riadi mengusut masalahnya yang akhirnya menemukan berkas-berkas yang di palsukan Yamin."


"Apa yang Papa dan ayah lakukan untuk menyelamatkan perusahaan?" tanya Arfan.


"Kami terpaksa melaporkannya pada yang berwajib, karena dia tidak mau berdamai secara kekeluargaan. Dan juga mengembalikan saham miliknya."


"Dia di penjara?" tanya Arfan lagi.


"Iya, hanya satu tahun."


"Hilangnya saham milik Yamin, membuat perusahaan hampir mengalami kebangkrutan saat itu."


"Eyang dan kakek kalian yang tahu masalah yang menimpa kami memberikan suntikan dana dan mereka menjadi pemilik saham terbesar di Andromega." ucap papa Andro mengakhiri penjelasannya.


"Saham Eyang dan kakek kalianlah yang sekarang terpecah menjadi saham-saham para cucu." tambah bunda Sarah penjelasan papa Andro.


"Iya, karena itu juga papa dan ayah kalian kembali menjadi pemegang saham terbesar." timpal papa Andro.


"Yamin ternyata belum menyerah ingin menguasai Andromega." keluh papa Andro.

__ADS_1


"Satu informasi penting lagi, Om" Leo yang berbicara.


"Apa itu?" tanya papa Andro.


"Pak Yamin itu ternyata ayah Saras, putri pertama ibu Wina yang menabrak Mala."


"Apa mereka terlibat dalam masalah ini?" tanya papa Andro pada Leo.


Leo yang mengerti siapa mereka yang dimaksud papa Andro mengannguk membernarkan. "Menurut laporan Johan, iya." jawabnya.


"Jadi mereka bekerja sama, pantas saja Toni ikut terlibat." gumam papa Andro yang masih bisa di dengar Arfan, Leo dan bunda Sarah.


"Toni itu sebenarnya siapa, Pa?" Arfan yang bertanya.


"Toni itu pria simpanan Vina."


"Kenapa tidak di singkirkan dari perusahaan?" tanya Arfan lagi.


"Kinerjanya untuk perusahaan sangat baik." jawab Leo yang tahu alasan mengapa Toni masih dipertahankan.


Tidak ada yang tahu jika sejak tadi Galih sudah membuka mata dan mendengarkan percakapan papa Andro, Arfan, Leo dan juga bunda Sarah.


Bunda Sarah yang tidak sengaja melihat mata Galih yang terbuka segera mendekati menantunya.


"Bagaimana keadaanmu, apa ada yang terasa sakit?" tanya bunda Sarah.


Galih menggeleng, dia tidak merasakan keluhan apapun, yang dia inginkan adalah melihat Mala istrinya.


"Kamu sudah sadar, Nak." ucap papa Andro setelah berdiri didekat Galih.


"Mala dimana Pa, Bun?" tanya Galih.


"Mala tidak mencariku, Bun?"


"Tentu saja mencari kamu, tapi kami tidak memberi tahu Mala jika kamu terluka dan berada disini."


"Aku ingin bertemu Mala."


"Pulihkan dulu kesehatanmu Galih, baru nati kamu temui istrimu." jawab papa Andro.


"Mas Galih."


Suara Mala yang memanggil Galih mengejutkan mereka yang ada disana. Bagaimana Mala bisa tahu Galih di rawat dikamar ini. Bunda Sarah melihat pada Zoya, dia sudah berpesan pada sahabat putrinya itu untuk merahasiakan kondisi Galih.


Selepas kepulangan Lila dan Nita, dokter dan suster masuk untuk memeriksa Mala.


"Mbaknya sudah bangun ternyata. Apa merasa pusing?" sapa dan tanya salah satu suster.


Mala menggeleng. "Saya baik-baik saja, Sus." jawab Mala.


Suster itu tersenyum, "Syukurlah, semoga suami Mbak juga sudah bangun." jawabnya.


"Saya periksa dulu ya, Bu."


Ucapan dokter menahan Mala untuk bertanya lebih banyak tentang Galih. Dokter mendekat pada Mala dan memeriksa istri Galih itu secara menyeluruh.

__ADS_1


Sambil di periksa dokter, Mala melirik Zoya yang terlihat salah tingkah. Kini Mala mengerti, apa yang dia pikirkan tentang suaminya benar. Galih bukan banyak pekerjaan seperti yang Zoya katakan, sehingga tidak bisa menemuinya. Seperti yang Mala duga, jika sesuatu terjadi pada Galih. Ternyata, suaminya sedang berbaring di rumah sakit dan tidak sadarkan diri.


"Semuanya bagus dan baik. Untuk kandungannya, nanti dokter kandungan yang akan memeriksa, Ibu." ucap dokter yang memeriksa Mala.


Suara dokter itu menarik Mala dari pikirannya tentang Galih, dia segera mengangguk menanggapi ucapan dokter.


"Terima kasih, Dok." jawab Mala.


Dokter dan suster pamit dan berlalu dari kamar rawat inap Mala. Tinggal Zoya yang mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan Mala tetang Galih.


"Zoya, antarkan aku ke kamar mas Galih." pinta Mala tanpa mengajukan pertanyaan apapun pada Zoya.


"Tapi La...."


"Gue tahu, bunda dan yang lain melarang gue melihat keaadaan mas Galih karena takut gue sedih." potong Mala ucapan Zoya.


"Gue baik-baik aja, Zoy. Gue malah nggak bisa tenang kalau belum lihat mas Galih." lanjut Mala memberikan alasannya.


"Sory, gue nggak bermaksud bohongi elo, La."


"Nggak apa-apa Zoy, Gue ngerti. Lo hanya diminta tolong sama bunda. Gue juga paham, kalian semua sayang sama Gue." jawab Mala permintaan maaf Zoya.


Dengan memggunakan kursi roda yang di dorong Zoya, Mala mengunjungi kamar rawat inap Galih.


"Mas Galih kenapa?" tanya Mala begitu dia sudah mendekat pada suaminya.


"Mas baik-baik saja, hanya butuh istirahat. Sama seperti kamu."


"Terima kasih Mas, Mas Galih sudah datang membawa Mala pergi dari rumah itu."


"Dia tidak melakukan apa-apa padamu, kan?" tanya Galih.


"Tidak Mas. Selama Mala disana dia tidak pernah menampakkan dirinya di hadapan Mala. Baru tadi malam dia menemui Mala dan..." Mala menghentikan ucapannya.


"Dan apa sayang?" tanya Galih penasaran.


"Dan Mala tidak ingat apa-apa setelah berusaha kabur dari Tama. Dia semalam mabuk, Mas. Mala takut." jawab Mala.


"Sekarang kita sudah bersama" ucap Galih mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi Mas Galih jadi tidak baik-baik saja karena aku."


"Zoya cerita, Mas Galih yang gendong aku."


Galih terkekeh. "Kamu sekarang berat, Mas sampe jatuh nggak kuat gendong kamu." ucapnya membuat Mala mengerucutkan bibirnya.


"Mas Galih terluka?" Galih mengangguk.


"Sedikit, besok juga sembuh." jawab Galih menenangkan Mala.


"Kangen." ucap Mala.


Galih tersenyum, bukan hanya Mala dia juga merindukan istrinya. Galih meraih wajah Mala dan mengusapnya lembut, andai saja dia dalam keadaan baik, dia akan langsung meraih dan memeluk erat Mala.


"Mas juga kangen sama kamu, Sayang."

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagi...


__ADS_2