BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Sangat Bahagia


__ADS_3

Banyak kata yang tidak dapat Galih ucapkan untuk mengekpresikan rasa syukurnya. Tidak pernah menyangka hidupnya akan sebahagia ini, bersatu bersama wanita yang sejak kecil telah mampu menghangatkan jiwa dan raganya. Ditambah kehadiran buah cinta mereka yang kini tumbuh di rahim istrinya.


Bibirnya tak henti mengecup pucuk kepala Mala yang terlelap berbantalkan lengannya, rasa sayang yang dia rasakan semakin hari semakin bertambah. Berkali-kali Galih merasakan jatuh cinta pada istrinya. Andai saja dia tahu akan sebahagia ini, Galih tidak akan melepaskan Mala dimasa lalu.


Satu penyesalannya adalah menginkari rasa yang dulu dia miliki untuk gadis kecil berpipi chubby ini. Galih merasa bodoh membiarkan Mala pergi dan membiarkan dirinya mencari yang lain. Kini Galih baru menyadari, mengapa dia tidak bisa sebahagia ini saat mencintai yang lain, karena hatinya sesungguhnya tak bisa berpaling dari Mala.


"Sayang, rasa ini sudah ada sejak dulu. Hanya saja, jarak dan waktu membuat kita kehilangan"


"Mas mencintaimu sejak dulu" bisik Galih lembut di telinga Mala.


"Mala tahu, Mala juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, Mala yang dulu tidak faham apa itu cinta"


Galih tersenyum mengingat percakapan mereka tadi sore. Bukan hanya Mala yang tak faham arti cinta dimasa lalu, dirinyapun sama.


"Hubby, kenapa tidak tidur?" tanya Mala yang terbangun karena pergerakan yang Galih lakukan.


"Masih ingin memandangi istri Mas yang cantik"


"Gombal"


"Untuk istri sendiri boleh kan?" Mala tersenyum dengan wajah wajahnya yang sedikit merona.


Bersyukurnya Galih, hanya dia yang bisa menyaksikan wajah merona istrinya yang terlihat lebih cantik. Galih megusap sayang pipi yang merona itu. Kalau saja istrinya sedang dalam keadaan baik-baik saja, sudah pasti dia akan mengungkung Mala dan memghabiskan malam dengan berbagi peluh.


"Apa masih terasa sakit?" tanya Galih saat dia menyentuh luka yang ada di kepala Mala.


"Sudah tidak sakit lagi"


Galih mengecup luka itu, dia tidak akan memaafkan Wina meski wanita itu meraung memohon ampun dihadapannya.


"Tidur lagi sayang" ucap Galih memberi perintah pada istrinya.


"Mas juga tidur" jawab Mala.


"Kasih obatnya dulu biar bisa tidur." Pinta Galih.


Mala tersenyum. Cup, dia mengecup bibir Galih yang langsung disambut laki-laki itu dengan melu matnya.


"Selamat tidur sayang, mimpi yang indah" ucap Galih setelah mengakhiri tautan mereka.


Galih membuka mata, dia tidak menemukan Mala didalam pelukannya. Galih kehilangan Mala, kemana istrinya itu pergi. Selama dirumah sakit dia tidak membiarkan Mala melakukan apapun sendiri, dirumahpun dia tidak ingin Mala kelelahan atau merasakn sakit pada luka-lukanya dengan melaukan aktifitas yang berlebih.

__ADS_1


Galih membuka pintu kamar mandi, tidak ada Mala disana. "Kemana dia?" gumamnya.


"Sayang" panggil Galih sambil berjalan keluar kamar.


Menghirup uap panas yang beraroma coklat membuat Mala merasa tenang. Tadi dia merasa haus dan tidak menemukan teko air putih yang biasanya tersedia dimeja dekat sofa yang ada dikamarnya. Mala keluar kamar menuju dapur, tapi di meja makan dia menemukan secangkir coklat panas.


"Sudah bangun?" tanya bunda Sarah begitu melihat Mala berdiri disisi meja makan.


"Ini coklat Bunda?"


"Kamu mau? Minum saja, nanti Bunda buat yang baru." tanya dan jawab bunda Sarah.


"Biar Mala buat yang baru, Bun."


"Kamu sudah baikan" tanya bunda Sarah, takut putrinya belum bisa melakukan aktifitas yang banyak.


"Hemm. Mala hanya luka, masih bisa kalau hanya untuk membuat minuman." Jawab Mala yang mendapat senyuman dari bunda Sarah.


Disinilah Mala dan bunda Sarah, duduk berdua menikmati secangkir coklat hangat yang mampu menenangkan jiwa mereka saat Galih menemukan istrinya itu.


"Kalau ingin sesuatu kamu bisa bangunkan Mas, sayang" ucap Galih sambil menarik kursi yang ada disamping Mala.


"Tadinya hanya mau ambil air putih, ternyata ada bunda sedang menikmati coklat panas disini. Jadi Mala ikutan bunda" jelas Mala agar suaminya itu tidak marah.


"Mala sudah sehat Mas"


"Tapi kamu sedang hamil sayang, tidak boleh capek."


Bunda menggelengkan kepala mendengar perdepabatan sepasang suami istri di hadapannya ini. Maksud Galih mungkin baik, tidak ingin Mala kelelahan atau kesulitan. Tapi bukan berarti putrinya tidak boleh melakukan aktifitas apapun selain makan dan tidur.


"Galih" panggil bunda Sarah menghentikan perdebatan keduanya.


"Orang hamil itu bukan berarti mereka tidak boleh melakukan apa-apa. Biarkan saja beraktifitas seperti biasa. Kalau sedang hamil malas-malasan nanti anaknya jadi pemalas. Kamu mau anakmu jadi anak pemalas?"


"Jangan Bunda. Biar Galih saja yang pemalas, tapi anak Galih jangan" sahut Galih perkataan bunda Sarah.


Mala dan bunda Sarah tertawa mendengar jawaban Galih.


"Jadi Mas mengakui kalau Mas itu pemalas?" tanya Mala.


"Iya bisa dikatakan begitu, apa lagi kalau sudah berdua sama kam... Auww"

__ADS_1


"Bunda, anak bunda melakukan kekerasan dalam rumah tangga" adu Galih pada bunda Sarah karena Mala tiba-tiba saja mencubit perutnya.


"Kenapa sekarang jadi suka gombal sih, Mas?" tanya Mala heran. Bukan sifat Galih yang suka melontarkan kata-kata gombalan seperti ini. Laki-laki itu lebih banyak menunjukkan rasa sayangnya dengan perbuatan bukan dengan bayak kata-kata yang sekarang Galih lakukan.


"Bawaan bayi sepertinya." Sahut bunda Sarah.


"Emang bisa begitu, Bun?" tanya Galih yang tidak mengerti.


"Bukan hanya Ibu hamil yang akan mengalami perubahan hormon, tapi ayah bayi juga bisa ikut berubah sifat dan kebiasaannya. Tidak sedikit ayah bayi yang jadi banyak keinginan yang aneh-aneh karena ngidam, sementara ibu sang bayi tidak meninginkan apa-apa. Atau yang biasanya diam sekarang jadi suka bicara."


Mala menunjuk pada Galih. "Apa?" tanya suaminya.


"Mas Galih sekarang banyak bicara" jawab Mala.


"Itu namanya suami sedang mengalami gejala kehamilan simpatik. Biasanya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung." lanjut bunda penjelasannya.


"Mas Galih stres aku hamil?" Galih menggeleng.


"Mas bukan stress tapi terlalu empati sama kamu. Mas sangat bahagia sayang." Mala tersenyum.


"Ini sudah larut malam, kalian harus kembali tidur. Ibu hamil tidak boleh kurang tidur" ucap bunda Sarah menasihati keduanya.


"Mas yang habisin coklatnya" Mala mengeser cangkir coklatnya kehadapan Galih.


"Aku udah nggak berselera. Mau lihat Mas yang minum aja" lanjut Mala ucapanya.


"Habisin Mas, ini permintaan anakmu" ulang Mala permintaanya melihat Galih yang tidak berminat pada coklat yang dia sodorkan.


Mendengar perkataan terakhir Mala, Galih segera meraih cangkir yang di sodorkan Mala dan menghabiskan coklat hangat itu hingga tandas.


Bunda tersenyum. Bukan bayi mereka yang menginginkan Galih untuk menghabiskan coklat hangat itu, seperti yang Mala katakan. Mala hanya ingin Galih minum, mimuman yang sangat dihindari suaminya itu.


"Bagaimana rasanya Mas, enggak asinkan?"


Pertanyaan yang dilayangkan Mala membuat bunda Sarah tertawa. Galih baru sadar kalau Mala membohonginya. Galih mencubit kedua pipi Mala karena gemas. Istrinya mengingatkan kisah lama yang tidak diketahui orang lain selain kedua keluarga mereka. Bukan tidak suka coklat, tapi Galih punya pengalaman buruk dengan minuman itu. Jika harus memilih, maka Galih akan menempatkan minuman yang bernama coklat itu diurutan yang paling akhir sebagai minuman yang diinginkannya.


"Berani kamu sekarang ya" ucap Galih sambil melepaskan cubitannya berganti dengan usapan sayang pada kedua pipi istrinya.


Kembali Galih merasa jatuh cinta. Jatuh cinta pada wanita yang sama, yang ada di hadapannya ini.


"Cantik" Bukan gombalan tapi itu tulus dari hatinya.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2