BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
86. Ngidam


__ADS_3

Mendengar Mala yang begitu bersemangat dalam bercerita, membuat Galih hanya bisa mengulum senyum. Istrinya itu sangat senang, sudah berhasil membantu teman Tari yang di selingkuhi suaminya.


Kembali Galih mengulum senyum. Mala saat ini mengancam dirinya, jika sampai dia selingkuh, maka Mala tidak akan mengizinkan dia bertemu buah hati mereka.


Ancaman itu memang menakutkan untuk Galih, tapi bukan itu yang jadi perhatian Galih. Rasa cemburu yang dimiliki sang istri untuknya saat ini, membuat Galih bahagia. Katena cemburu itu, menandakan cinta sang istri untuknya sangat besar.


"Sayang, itu berlaku jika ketahuan, kan? Kalau tidak ketahuan aman dong." goda Galih sambil menahan tawanya.


Bagaimana Mala bisa berpikir dia akan selingkuh? Untuk mendapatkan cinta Mala saja dia butuh perjuangan panjang, hingga istrinya itu memiliki rasa cemburu seperti saat ini. Tidak mungkin Galih akan melepaskan Mala begitu saja, wanita sempurna yang di kirimkan Tuhan untuknya.


"Mas!" ucap Mala tidak suka mendengar apa yang Galih katakan. Cukup keras suara yang di keluarkan Mala, sampai Galih harus menutup telinganya.


"Pelan-pelan bicaranya sayang." jawab Galih.


"Habisnya, Mas punya niatan untuk selingkuh." kesal Mala.


Galih kembali terkekeh, "Untuk apa selingkuh, orang sudah mendapatkan istri yang sempurna... na... na... na... seperti kamu, sayang." jawabnya.


"Udah bisa mengombal ya sekarang." sahut Mala.


"Sama istri sendiri enggak apa-apa, kan."


"Suami kalau mulai mengombal patut dicurigai." sahut Mala.


"Apa yang harus dicurigai sayang. Setiap saat, setiap waktu, Mas selalu ada buat kamu."


"Ih... bicaranya mengutip lirik lagu." sahut Mala.


"Setiap saat... setiap waktu... kuingat dirimu. Setiap saat setiap waktu kuingin berjumpa" lanjut Mala sambil bernyanyi.


"Kau yang terindah, hadir dalam mimpiku. Kini bertemu dalam jalinan kisah." sahut Galih menyambung lagu yang dinyanyikan Mala.


Keduanya tersenyum lalu terkekeh bersama mengakhiri perdebatan mereka.


"I love you." ucap Galih.


"I love you too." jawab Mala.


Keduanya menautkan bibir mereka sebelum memejamkan mata untuk tidur. Bahagia, Mala dan Galih merasa bahagia dengan biduk rumah tangga mereka. Meskipun diawali dengan kontrak yang ditawarkan Galih pada Mala.


"Aduh..." Mala meringis sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Galih yang ikut memegang perut Mala. Dia yang sudah terlelap terkejut mendengar teriakan Mala.


"Lapar Mas." jawab Mala.


"Mau makan apa?" tanya Galih.


"Rujak buah." jawab Mala.


"Sayang ini sudah malam, mau cari tukang rujak dimana?" tanya Galih bingung. Mala mulai menunjukkan gejala ngidam sejak dua hari yang lalu. Tapi baru hari ini, Mala memintanya diwaktu malam hari dengan makanan yang hanya biasanya ditemui di siang hari.


"Mas Galih aja yang buatin." pinta Mala.


"Mas?" beo Galih menunjuk dirinya.


"Iya ayah." jawab Mala dengan suaranya yang seperti anak kecil.


Masih dengan perasaan bingung, Galih berjalan ke dapur. Niatnya meminta bantuan asisten rumah tangga mereka di gagalkan Mala.


"Jangan bangunkan bibi." ucap Mala yang mengikuti Galih ke dapur.


"Mas tidak tahu bumbunya, Sayang. Makanan lain saja ya?" jawab dan pinta Galih.


Galih mengambil ponselnya yang tadi sempat dia bawa, lalu dia menghubungi sesorang. Dia lupa jika punya banyak koki di hotel Andromega, koki yang bisa dia mintai tolong untuk membuatkan rujak buah yang diinginkan Mala.


"Ayo sayang, ganti pakaian." ajak Galih setelah menutup panggilan teleponnya.


"Kita mau kemana?" tanya Mala.


"Ketempat yang ada rujak buahnya." jawab Galih.


Dengan sangat hati-hati Galih membaringkan Mala di tempat tidur, agar istrinya yang sudah terlelap itu tidak terjaga dari tidurnya. Menarik nafas panjang sambil menghembuskan berlahan, Galih ikut berbaring di sisi istrinya.


Malam ini benar-benar ujian untuk Galih sebagai seorang suami dan calon ayah dari buah hatinya. Belum juga makan rujak yang Mala inginkan, istrinya itu sudah tidur dengan lelapnya saat perjalanan ke hotel Andromega. Menatap wajah istrinya, Galih tersenyum bahagia. Memejamkan matanya, Galih ikut pergi ke alam mimpi bersama Mala.


Mala terjaga dari tidurnya, perutnya kembali bergejolak ingin makan sesuatu. Membuka mata seperti biasa yang dia temui adalah suasana kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur, tapi Mala sadar saat ini dia tidak berada dikamar pribadinya. Tanpa menyadari keberadaan Galih di sampingnya, Mala berteriak ketakutan.


"Mas... Mas Galih... Mas dimana?" teriak Mala mencari keberadaan Galih.


"Sayang, Mas disini." jawab Galih. Dia bangun dari tidurnya lalu duduk memeluk Mala.


"Mala takut Mas." ucap Mala memeluk erat suaminya.

__ADS_1


"Mala takut di culik lagi." lanjut Mala ucapannya sambil terisak.


Mengeratkan pelukannya pada sang istri, Galih menyadari sesuatu. Istrinya masih memiliki perasaan trauma akibat penculikan yang dilakukan Dirga. Selama ini Mala tidak pernah menunjukkan gejala itu, lalu mengapa baru malam ini dia melihat trauma yang ada pada istrinya.


"Mengapa kamu berpikir seperti itu, Sayang?" tanya Galih ingin tahu penyebabnya.


"Ini bukan kamar kita." jawab Mala.


"Hei, kemarin nikahan Zoya dan Leo kita juga menginap di sini." beri tahu Galih yang juga heran mengapa tempo hari Mala tidak takut.


"Waktu itu Mas Galih peluk Mala terus." jawab Mala.


Deg. Waktu itu, saat akan tidur Mala berpesan padanya untuk tidak melepaskan pelukannya pada sang istri dan Galih melakukan apa yang Mala pinta. Galih salah menduga, mengira Mala yang tidak ingin jauh darinya karena itu dia tidak boleh melepaskan pelukannya. Tapi kenyataannya, istrinya masih menyimpan rasa trauma kejadian kelam itu.


"Maaf sayang. Maafin Mas." ucap Galih kembali mengeratkan pelukannya. Dia merasa bersalah membawa Mala menginap di hotel tanpa istrinya ketahui.


Pantas saja, saat dia mengajak Mala untuk menginap lagi di hotel malam berikutnya, Mala meminta pulang ke kediaman mereka.


"Mas, lapar." ucap Mala di sisa-sisa tangisannya.


"Masih mau makan rujak?" tanya Galih. Mala menggeleng.


"Mau bakso, Mas."


Tidak menolak permintaan istrinya, Galih segera menghubungi bagian dapur dan minta dikirimkan dua porsi bakso.


Satu porsi bakso sudah tak bersisa dihadapan Mala dalam sekejap. Galih tersenyum meskipun menatap heran pada kebiasaan baru Mala yang makannya jadi lebih banyak dan cepat.


"Ini masih ada satu porsi lagi." tawar Galih menyodorkan satu porsi bakso yang ada dihadapanya.


"Mas habiskan saja. Mala mau rujaknya sekarang." tunjuk Mala pada rujak yang memang sudah ada sejak mereka tiba di hotel.


Malam ini Galih terpaksa melanggar aturan yang bisa merusak kesehatan tubuhnya, tapi dia tidak bisa menolak permintaan Mala yang menyuruhnya menghabiskan satu satu porsi bakso dan rujak buah seperti yang Mala juga lakukan. Demi kebahagiaan istri dan kesehatan anaknya, Galih rela melakukan ini semua.


Pagi harinya pelayan mengantarkan pakaian ganti untuk Galih dan Mala, atas permintaan Galih yang menghubungi kepala pelayan hotel ini.


Pagi ini juga Galih akan membawa Mala menemui istri temannya yang seorang psikolog, dia sudah membuat janji dengan temannya untuk memeriksakan trauma yang dialami Mala. Galih tidak akan membiarkan Mala mengalaminya berlarut-larut, trauma yang istrinya itu alami harus segera disembuhkan.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2