BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
16. Yakin


__ADS_3

Zoya dan Mala sama-sama menghentikan langkah mereka begitu melihat Tias yang duduk dihadapan Galih. Wajah Tias tampak bahagia, senyumnya merekah dan matanya berbinar. Zoya tahu itu tatapan cinta lalu dia melihat kearah Mala yang ternyata juga melihat kearahnya. Mereka saling tatap dengan pikiran masing-masing tentang kehadiran Tias.


Kedua berjalan beriringan menghampiri meja dimana Galih dan Tias berada. Galih yang melihat kehadiran istrinyapun langsung tersenyum senang. Gali sangat paham sikap yang ditunjukkan Tias padanya adalah sikap yang minta perhatian lebih, terlalu banyak Galih menghadapi para wanita yang mengejarnya salah satunya dengan sikap sok akrab yang Tias lakukan.


"Sayang" Galih langsung meraih tangan Mala dan menyuruhnya kembali duduk disampingnya.


Mala menuruti keinginan Galih yang juga diikuti Zoya duduk disamping Tias.


"Mana Ardi?" tanya Zoya yang heran kehadiran Tias tanpa Ardi padahal mereka berdua sudah lebih dulu hilang dari ruangan meninggalkannya sendiri.


"Oh, dia ada perlu sama Bu Fatma" jawab Tias yang terkejut dengan pertanyaan Zoya. Dia terlalu dalam melihat pasangan suami istri dihadapanya ini. Senyum diwajahnya menguap setelah melihat perlakuan manis Galih pada Mala.


"Sudah makan Yas?" Mala yang bertanya. Dia bisa melihat wajah kecewa sahabatnya setelah kehadirannya dan Zoya, entah mengapa Mala merasa sesuatu yang berbeda dari tatapan Tias pada suaminya.


"Sudah" jawab Tias berbohong.


"Kita kembali sekarang" Galih yang bicara. Mereka sudah makan dan sebentar lagi jam istirahat berakhir.


"Iya" Mala dan Zoya menjawab bersamaan.


"Kamu masih mau disini apa ikut kita?" tawar Zoya pada Tias.


"Aku nunggu Ardi, dia mau jemput aku disini" jawab Tias yang kembali berbohong.


"Kita duluan kalau gitu" ucap Mala sambil memeluk sahabatnya tersebut yang diikuti oleh Zoya.


Didalam mobil milik Galih baik Mala dan Zoya sama-sama menutup mulut mereka. Keduanya sama-sama memikirkan Tias. Mala yang masih tidak percaya dengan hubungan Tias dan Ardi yang sampai sejauh itu. Sementara Zoya curiga dengan sikap Tias pada Galih.


"Tias menyukai Pak Galih lalu Ardi?" tanya Zoya dalam hati.


"Kamu berubah sekarang Yas" gumam Zoya yang merasa Tias bukan seperti sahabatnya yang dulu.


Tias dan Ardi terlambat kembali kekantor, Zoya yang sedang mengerjakan pekerjaannya tidak bisa konsentrasi setelah kehadiran keduanya. Sesekali dia melirik Tias dan Ardi yang bersikap biasa saja. Jiwa detektif Tias keluar, mulai sekarang dia akan menyelidiki semuanya.


"Ngelamunin apa" Ardi tiba-tiba berada diasamping Zoya dan merangkul sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Zoya melepaskan rangkulan Ardi sambil melirik Tias, sahabatnya itu tampak biasa saja melihat apa yang dilakukan Ardi padanya bahkan dia memberikan senyumannya. Zoya mencoba menebak hubungan seperti apa sebenarnya yang di jalani kedua sahabatnya ini, tdak ada binar cinta yang dia lihat dimata keduanya saat saling memandang.


"Kenapa Zoy?" tanya Ardi heran dengan sikap Zoya. Sahabatnya itu tidak pernah menolak bila disentuh atau dirangkulnya seperti tadi.


"Bukan apa-apa. Ini kantor Ar, tidak enak kalau dilihat yang lain" jawab Tias berbohong.


Kenyataanya Tias merasa risih dengan sentuhan Ardi sejak tahu kelakuan sahabatnya ini. Ardi memang biasa merangkulnya dan Zoya nyaman-nyaman saja dengan perlakuan sahabatnya ini, tapi tidak untuk sekarang. Kilasan peristiwa saat kejantanan Ardi menghujam milik Tias membuatnya bergidik ngeri. Zoya merutuki dirinya sendiri mengapa dia jadi mengingat pusaka milik sahabatnya itu. Otaknya sudah tercemar dan kotor akibat perbuatan kedua sahabatnya.


"Maaf aku lupa" jawab Ardi sambil terkekeh dan sedikit menjauh dari Zoya.


Zoya menutup mata untuk melupakan apa yang tadi dilihatnya sambil menarik nafas panjang dan melepaskannya berlahan.


"Lupakan.... lupakan.... lupakan" ucap Zoya dalam hati mensugesti dirinya sendiri.


Zoya ingin waktu bergerak dengan cepat sehingga dia bisa segera pulang dan menenangkan pikirannya. Ingin sekali dia menghakimi kedua sahabatnya tersebut tapi apa yang dikatakan Mala juga benar.


"Zoy, kita hanya sahabat tidak bisa mencampuri urusan pribadi mereka. Berbeda halnya jika mereka jujur tentang hubungan mereka pada kita sehingga kita bisa menasehati apa yang mereka lakukan itu salah dan berdosa"


Sore ini Tari pamit pulang lebih awal karena akan memeriksakan kehamilannya. Tinggallah Mala sendiri yang sibuk memikirkan kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Tias dan Ardi yang belum bisa Mala percaya tentang hubungan keduanya yang terlalu jauh.


"Mungkinkah?" gumam Mala. Dia menebak Tias menyukai Galih, wajah Tias berubah mendung saat Galih menyambut kedatangannya dan Zoya. Lalu Ardi?


Tias gadis baik-baik dari keluarga baik-baik, mereka keluarga yang taat beribadah. Apa yang membuat Tias menjadi seperti ini? Itu yang terus dipikirkan Mala.


Beralih ke Ardi, bagi Mala selama ini Ardi adalah pria baik-baik karena itu dia nyaman dengan kehadiran sahabat pria satu-satunya itu. Bahkan Ardi adalah orang pertama yang melindungi mereka bertiga sebagai satu-satunya sahabat pria saat ada yang mengganggu atau berbuat tidak baik pada mereka. Bahkan sesekali Ardi lebih mementingkan dirinya dari pada Zoya dan Tias.


Apa karena cinta? Mala menggelengkan kepala. Jika Ardi mencintai Tias, dia tidak akan merusak sahabatnya tersebut. Mala juga tidak menemukan sorot cinta dikedua mata mereka saat melakukannya. Semua hanya karena nafsu. Itu yang Mala simpulkan.


"Apa mereka sudah sering melakukannya selama ini tanpa Zoya dan aku tahu?"


"Sayang" suara Galih menarik Mala dari pikirannya.


"Ada apa?" tanya Galih melanjutkan ucapannya.


Pria itu sudah duduk dihadapan Mala sejak tadi dan memperhatikan istrinya yang sedang memeriksa berkas. Tapi dia tahu, Mala bukan membaca berkas itu melainkan memikirkan hal lain. Mala menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau sudah selesai kita pulang"


Malah melihat benda yang melingkar di tangannya. Benar saja sekarang sudah waktunya pulang kerja. Mala membereskan berkas-berkas yang tadi dia pegang lalu mengambil tasnya dan berdiri.


Galih meraih tangan Mala dan menggenggamnya. Mala tidak bisa menolak karena ini ada dalam perjanjian.


"Ada masalah?" tanya Galih lagi. Dia masih penasaran apa yang dipikirkan Mala.


"Apa karena sahabatmu yang menghampiri mas?"


Mala ingin tertawa dengan kepedean Galih, apa dia pikir Mala cemburu? Dia memang memikikan sahabatnya tapi bukan karena cemburu.


"Mas juga tidak tahu, dia tiba-tiba duduk dihadapan mas dan menyapa. Tadinya mas mau marah tapi setelah mengingat dia sahabatmu mas coba untuk bersikap baik padanya" Galih mencoba menjelaskan.


"Mas tidak suka sikapnya yang tidak sopan walau dia mengenal mas, apa lagi saat itu mas duduk sendiri. Hal berbeda jika saat itu ada kamu mas bisa memakluminya karena kalian akrab" lanjut Galih memberi tahu Mala apa yang dia pikirkan tentang Tias.


"Maafkan sikap Tias, mas" balas Mala penjelasan Galih.


Percakapan mereka terhenti saat pintu lift terbuka. Tampak beberapa karyawan yang juga hendak pulang. Tapi tidak ada yang berani masuk, mereka melangkah mundur menjauh dari lift.


Belum sempat pintu lift tertutup kembali, tampak seseorang menahannya lalu masuk tanpa takut.


"Sore pak, Mala" sapanya.


"Ardi, Zoya, ayo" ajak Tias.


Mala mendongakkan kepalanya melihat kearah Galih. Baru saja pria itu membicarakan ketidak sopanan Tias, sekarang Tias menggulanginya. Wajah suaminya datar, Mala yakin Galih semakin tidak menyukai Tias.


Zoya dan Ardi ragu untuk masuk kedalam lift sampai Tias menarik mereka untuk masuk. Zoya memilih untuk berdiri dibelakang yang diikuti Ardi. Sementara Tias memposisikan dia disamping Galih tanpa ada niatan menjauh.


Tias menyentuhkan tangannya ke tangan Galih, gadis itu memberanikan diri menggoda Galih dengan meraih tangannya. Galih terkejut tapi dia tidak ingin melihat Tias. Zoya melihat apa yang dilakukan Tias dan dia tidak bisa percaya sahabatnya senekat itu.


Rangkulan Galih pada Mala lalu memindahkan posisi istrinya kesamping Tias membuat Zoya menahan tawa atas kebodohan Tias. Sekarang Zoya menemukan satu hal lagi tentang Tias dan dia akan terus melanjutkan penyelidikannya. dia yakin dengan apa yang dipikirkannya.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2