BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
88. Ardi Kapan Nikah?


__ADS_3

Mala tertawa setelah mendengar penjelasan Ardi mengapa sahabatnya itu datang ke toko perlengkapan bayi. Semula Mala curiga dengan sahabatnya tersebut, apa lagi Ardi datang bersama seorang wanita.


Kecurigaan Mala terbantahkan, Ardi mengajak Lela hanyalah untuk membantunya memilihkan pakaian bayi. Tidak disangka Ardi bertemu dengan Mala dan Galih di toko perlengkapan bayi yang direkomendasikan ibunya. Sekarang bagaimana Ardi bisa membeli hadiah untuk keponakannya, jika semua sudah diborong oleh Mala dan Galih.


"Om Ardi bantu dekor kamar Kania aja ya." pinta Mala.


Disinilah sekarang Ardi berada, di kediaman milik sahabatnya. Setelah tiga minggu berlalu, barulah dia bisa memenuhi permintaan Mala untuk menyiapkan kamar bayi sahabatnya itu.


"Om Ardi memang keren lukisannya, Kania pasti suka nanti." ucap Mala begitu melihat hasil pekerjaan Ardi yang membuat mural di kamar putrinya.


"Capek gue, La." keluh Ardi.


"Ya udah istirahat dulu, gue punya kue kesukaan elo." sahut Mala.


Mendengar kata kue kesukaannya, Ardi menghentikan pekerjaannya dan mengikuti Mala menuju meja makan.


"Thanks ya Ar, udah mau nurutin permintaan gue." ucap Mala setelah Ardi menikmati kue dan minuman segar yang disuguhkan Mala.


"Apa sih yang enggak buat elo. Lagian ini emang hobi gue, apa lagi buat keponakan gue sendiri."


Mala tersenyum mendengar jawaban Ardi, sahabatnya itu tidak pernah menolak permintaannya meski sulit bagi Ardi menjalaninya.


"Ardi, kamu kapan mau menikahi Lela?" tanya Mala.


"Gue cowok nggak perlu buru-buru nikah, kan. Gue dan...."


"Bagaimana dengan Lela? Apa dia mau nunggu kamu sampai siap melamar dia?" tanya Mala memotong ucapan Ardi.


"Gue nggak punya hubungan apa-apa sama Lela, La" jelas Ardi.


"Ardi, lo itu cowok. Lo pasti bisa menangkap signal yang diberikan Lela ke elo."


"Gue tahu, tapi gue ngerasa gue nggak pantas buat cewek baik kayak dia, La. Dia itu ustadzah sedangkan gue?" jawab Ardi.


"Lo enggak boleh pesimis kayak gitu Ar, elo harusnya...."


"Ardi... I miss you, bro." ucap Zoya yang baru tiba menghentikan perkataan Mala.


"Lo sombong amat sih, Ar." ucap Zoya memukul lengan Ardi.


"Untung aja gue ngechat Mala. Dia kasih tahu gue klo lo lagi disini. Makanya gue langsung samperin elo." lanjut Zoya ucapannya.


"Buy the way, kalian sedang membicarakan apa? Gue ganggu ya?" tanya Zoya begitu melihat Mala dan Ardi hanya diam menanggapi sapaanya.


"Ganggu banget. Lo itu masuk bukannya salam dulu, ini main teriak-teriak aja di rumah orang." jawab Mala.


"Assalamualaikum Pak Ustadz dan Bu Bos. Sorry gue lupa, terlalu rindu sama Pak Ustadz kita." jawab Zoya sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


Mala dan Ardi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Zoya. Dari pertama mengenal Zoya, sudah seperti inilah sifat sahabat mereka ini. Tapi hal ini juga yang membuat mereka menjadi dekat.


"Jadi apa yang sedang kalian perbincangkan?" tanya Zoya lagi, dia ikut duduk sambil mencomot kue yang ada di meja.


"Zoya... Lo itu udah jadi istri orang hebat, belajar sopan dong." tegur Ardi melihat tingkah sahabatnya yang tidak berubah.


"Sewot amat lo Pak Ustadz. Gue kan emang gini dari sononya." sahut Zoya.

__ADS_1


"Makanya pak Dito ilfil sama lo." jawab Ardi lagi.


"Ardi, jangan mengalihkan percakapan gue." protes Mala melihat keributan dua sahabatnya.


"Biar aja dia ilfil sama gue, akhirnya gue dapat yang jauh lebih baik dari dia." jawab Zoya lagi.


"Zoy, Ardi benar. Lo harus belajar bersikap lebih sopan." tegur Mala.


"Gue begini kan sama kalian berdua doang. Sama bang Leo, gue nggak berani. Apa lagi sama keluarganya, gue jadi anak manis." jawab Zoya.


"Udah, nggak usah bahas gue. Bahas Ardi aja." ucap Zoya lagi.


"Lo dapat wejangan apa dari ibu bos, Ar?" tanya Zoya.


"Bukan wejangan Zoy. Gue hanya nanya kapan dia nikah?" jawab Mala.


"Lo udah punya calon Ar? Kenalin ke gue dulu baru lo boleh putusin nikah sama dia apa enggak."


"Emang lo siapa yang bisa memutuskan?" Mala yang bertanya pada Zoya.


Zoya menyengir kuda, memamerkan giginya yang rapih. "Gue hanya penasaran aja sama calonnya Ardi." jawabnya.


"Cantik." ucap Mala.


"Lo udah pernah ketemu dia, La?" tanya Zoya. Mala mengangguk.


"Lo curang Ar, kok nggak di kenalin sama gue."


"Kalian berdua apaan sih. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia."


"Ardi lo jangan pesimis. Lo sekarang Ardi yang beda sama Ardi yang dulu. Dia suka elo, karena elo yang sekarang." ucap Mala.


"Apa dia bisa terima masa lalu gue yang penuh dosa?"


"Lo ceritain aja sama dia, terus lo lihat reaksinya. Dari sana baru lo bisa memutuskan untuk melangkah maju atau berhenti sebelum terlalu jauh." jawab Mala menjelaskan.


"Kalian ngomong apa sih, sumpah gue kagak ngerti."


"Lo anak kecil nggak usah ikutan. Ini obrolan orang dewasa." jawab Ardi membuat mulut Zoya komat kamit mengerutu.


"Udah ah, gue mau kerja lagi. Gue dibayar kan, La. Buat modal nikah." ucap Ardi menggoda sahabatnya sambil berlalu.


"Ardi lo nggak ikhlas ya gue mintain tolong. Ini kan buat anak gue." sahut Mala.


"Lo udah banyak duit aja, masih minta dibayar." tambah Zoya ucapan Mala.


Ardi tidak memperdulikan teriakan kedua sahabatnya, dia hanya bercanda. Tidak mungkin dia meminta bayaran pada sang sahabat yang pernah mengisi sudut hatinya. Ardi terus berjalan masuk ke kamar yang disiapkan untuk putri Mala dan Galih.


"La, Ardi beneran udah punya calon?" tanya Zoya penasaran. Mala mengangguk.


"Nih." tunjuk Mala foto Lela yang sempat dia ambil diam-diam saat mereka makan setelah bertemu di toko perlengkapan bayi.


"Cantik." ucap Zoya.


"Dia ustadzah di tempat Ardi mondok." jelas Mala.

__ADS_1


"Gue dukung kalau calonnya Ardi cewek baik-baik begini." ucap Zoya.


Mala tersenyum, berharap Ardi bisa bersama Lela. Bukan hanya cantik, Lela memiliki ilmu agama yang bisa membimbing Ardi lebih baik lagi kedepannya.


"Lo bantuin gue, biar mereka menikah." ucap Mala.


"Pasti. Untuk sahabat kita, kita akan berikan yang terbaik." jawab Zoya.


"Assalamualaikum." suara bunda Sarah yang mengucap salam.


"Waalaikumsalam." jawab Mala dan Zoya bersamaan.


"Bunda." sapa Zoya yang langsung mencium punggung tangan bunda Sarah.


"Bunda kira hanya Ardi yang bantuin Mala dan Galih." ucap bunda Sarah.


"Zoya datang hanya untuk ngabisin makanan kok Bun." jawab Mala.


"Enak aja." sahut Zoya sambil memukul pelan lengan sahabatnya. Bunda Sarah tersenyum melihat kedua sahabat dihadapanya ini.


"Ardi mana?" Arfan yang baru masuk bertanya.


"Dikamar Kania, Kak." beritahu Mala.


Mendengar jawaban Mala, Arfan meninggalkan mereka bertiga untuk menemui Ardi.


"La, Mala. Lo kok pucat banget sih. Lo sakit?" tanya Zoya begitu menyadari Mala yang terlihat pucat. Mereka sekarang sedang duduk di ruang keluarga menyaksikan drama korea kesukaan Zoya.


"Mala kenapa Zoy?" tanya bunda Sarah.


"Perut Mala mules, Bun." Mala yang menjawab.


"Sudah berapa sering kerasa sakitnya?" tanya bunda Sarah.


"Sudah beberapa kali, tapi jarak waktunya lama." jawab Mala.


"Ya sudah, tenang saja. Kita siapkan dulu perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit." ucap bunda Sarah.


"Sudah Mala siapkan, Bun. Perlengkapannya Mala simpan di koper yang ada dikamar." beritahu Mala.


"Gue ambil in." sahut Zoya cepat sambil berjalan menuju kamar Mala dan Galih.


"Zoy, kasih tahu mas Arfan dan Ardi sekalian." pinta bunda Sarah. Zoya mengangguk tanpa melihat Mala dan bunda Sarah.


"Kita kerumah sakitnya tunggu mas Galih pulang ya Bun. Dia dan kak Leo sedang menemui tamu dari luar kota" ucap Mala memberi tahu bunda Sarah.


"Kita kerumah sakit sekarang saja, biar suami kamu menyusul kesana." jawab bunda Sarah.


"Mala kenapa Bun?" tanya Arfan.


"Mala mau melahirkan. Antar adik mu ke rumah sakit sekarang, Mas." beri tahu bunda Sarah.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2