
Zoya baru saja selesai menuntaskan hajatnya dan hendak keluar dari bilik toilet yang dia gunakan. Kunci pintu sudah dia putar tinggal menariknya lalu keluar. Belum sempat menarik pintu, Zoya mendengar suara dua orang yang sangat dia kenal.
"Kunci pintunya sayang" ucap Ardi memberi perintah pada Tias.
"Sayang?" batin Zoya mendengar panggilan Ardi pada Tias.
"Nggak sabaran banget sih" jawab Tias tapi tetap melakukan apa yang diperintahkan sahabatnya tersebut.
"Apa yang akan mereka lakukan disini? Mengapa harus dikunci? Kenapa juga Ardi masuk toilet wanita?"
Banyak pertanyan dikepala Zoya yang tidak bisa dia tanyakan pada keduanya saat dia melihat Ardi mengangkat Tias dan mendudukan sahabatnya itu di atas wastafel dan mereka langsung berpangutan. Zoya menutup mulut melihat apa yang dia lihat.
"Tias dan Ardi? Mereka..." Zoya kembali merapatkan pintu bilik toiletnya sambil menenagkan jantungnya.
Bagaimana dia bisa tejebak didalam sini dan menyaksikan kedua sahabatnya sedang bermesraan di toilet kantor.
"Mereka hanya berciumankan? Tidak akan lama" Zoya mencoba menghibur dirinya sendiri.
Tiba-tiba Zoya mendapatkan ide, dia tidak mungkin memberitahu Mala tanpa bukti. Pintu bilik toilet kembali Zoya buka yang sudah siap dengan kamera ponselnya. Namun apa yang Zoya lihat semakin membuatnya tidak percaya. Tias dan Ardi sudah membuka bawahan mereka tanpa tahu ada Zoya diantara mereka dan menyaksikan kegilaan mereka yang akan menikmati penyatuan.
"Mata perawanku ternoda" gumam Zoya dalam hati.
Sudah terlanjur Zoya melihat kelakuan kedua sahabatnya itu, dia meneruskan kegiatannya merekam setiap adegan keduanya sampai penyatuan keduanya selesai dengan nafas terengah-engah.
"Kita lanjutkan lagi nanti malam sayang" ucap Ardi sambil kembali memakai celananya.
"Apa? Masih dilanjut nanti malam?" Zoya kembali tidak percaya dengan pendengarannya.
Aku ingin kamu seganas seperti dihotel saat pernikahan Mala" lanjut Ardi ucapannya walau pelan tapi masih bisa didengar Zoya.
Tanpa curiga keduanya keluar dari toilet meninggalkan Zoya yang masih berdebar.
"Mereka yang berbuat kenapa jantung gue yang berdebar" rutuk Zoya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kejadian tadi membuatnya mengingat kembali beberpa kejadian akhir-akhir ini yang melibatkan kedua sahabatnya.
"Pantas saja mereka datang terlambat dipesta Mala ternyata mereka. Akhh" kesal Zoya pada kedua sahabatnya itu.
"Dan mereka meninggalkan aku sendiri saat makan siang. Mereka pasti... Shitt" gumam Zoya kesal. Ingat saat dia ditinggal makan dikatin sendiri, dia yakin Tias dan Ardi sedang memadu kasih.
"Sejak kapan mereka berhubungan dan kenapa harus sembunyi-sembunyi bahkan mereka sampai sejauh ini. Gila... ini gila..." rutuk Zoya dalam hati.
"Mala harus tahu, dia harus tahu" yakin Zoya.
Saat istirahat dia ingin menemui Mala dan memberitahu sahabatnya tersebut. Dia yakin Mala juga akan terkejut tentang kabar ini dan tidak menyangka sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Zoya darimana?" tanya Tias seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Zoya tersenyum tapi tidak setulus biasanya, dia ingin marah, benci dan entalah Zoya tidak tahu harus bersikap apa.
"Dari ruang kesehatan" jawab Zoya bohong.
Tidak mungkin dia bilang dari toilet wanita dan matanya ini tercemar oleh kegiatan panas dua sahabatnya. Ardi bahkan siap dengan pengaman yang dia kenakan, itu menandakan mereka sudah sering melakukannya. Ada yang menusuk hati Zoya, dia merasa benar-benar seperti orang bodoh dengan kebohongan keduanya.
"Kamu sakit?" tanya Tias lagi.
"Kenapa Zoya" Ardi yang bertanya saat dia melihat Tias memegang kening Zoya.
Zoya menggelengkan kepala. Dalam hatinya mengutuk dua sahabatnya yang bersikap biasa saja setelah apa yang mereka perbuat.
"Minta ijin pulang saja Zoy" Ardi menyarankan.
"Tidak perlu aku baik-baik saja, hanya kurang tidur" jawab Zoya asal.
Zoya berlalu dari keduanya lalu duduk dimeja kerja yang disediakan perusahaan untuknya selama magang. Zoya tidak sabar menunggu waktu istirahat siangnya yang masih satu jam lagi.
Zoya [La, makan siang bareng ya]
Zoya mengirim pesan pada Mala, berharap sahabatnya itu bisa menemaninya siang ini.
Mala [Gue ijin mas Galih dulu. Tias dan Ardi kemana?]
Mala mengerutkan keningnya setelah membaca pesan dari Zoya, dia yakin ini sangat penting karena Zoya hanya mengirim pesan padanya bukan di group mereka berempat.
"Pesan dari siapa sayang?" tanya Galih mengejutkan Mala.
"Zoya" jawab Mala jujur. Dia harus jujur karena ingin meminta ijin makan siang bersama sahabatnya itu.
"Mas, aku makan siang sama Zoya ya" Ijin Mala pada Galih.
Galih diam sambil melihat Mala yang kembali memeriksa berkas perusahan Pratama, perusahan dimana Kiara bekerja. Sesuai janjinya, Mala benar-benar memeriksa berkas kerja sama yang diajukan perusahaan tersebut.
"Ajak Zoya makan bersama kita" jawab Galih.
Dia tidak ingin jauh dari Mala walau sesaat terlebih lagi setelah dia bertemu Kiara. Karena tidak ingin terlihat melarang, Galih melakukan penawaran pada Mala.
"Aku tanya dulu, Zoya mau atau tidak" jawab Mala lalu mengirimkan pesan pada sahabatnya.
Sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan Andromega tampak dipenuhi para karyawan dari setiap perusahaan yang berada disekitar restoran tersebut. Terlihat tiga orang memasuki tempat itu dan menjadi perhatian dari beberapa pengunjung.
Siapa yang tidak kenal Galih disekitaran wilayah ini, tentu saja mata karyawan wanita yang memperhatikannya. Galih tahu akan seperti ini dan ini bukan hal pertama yang dia dapati jika pergi makan di restoran yang dekat dengan perusahaan. Hanya karena menuruti keinginan istrinya Galih bersedia makan ditempat ini.
__ADS_1
Risih, itu yang Mala rasakan saat banyak mata menatap mereka. Galih sudah mengingatkan tapi dia yang memaksa. Melihat Mala yang tidak nyaman, Galih mengeratkan gengaman tanganya pada Mala untuk menunjukkan pada mereka bahwa sudah ada wanita yang dia cintai yang ada disisinya saat ini. Sayangnya wanita yang dipilihnya belum bisa mencintainya walau sudah menjadi miliknya.
"Mau pesan apa sayang?" tanya Galih pada Mala dengan tatapan lembut.
Zoya cemburu dan iri pada Mala mendapatkan suami seperti Galih, dia berandai-andai Dito bisa bersikap seperti Galih padanya.
"Zoya" Zoya terkejut saat Mala memanggilnya dengan sedikit keras sambil menepuk lengannya.
"Ngelamunin apa sih siang-siang bolong gini? Sampai Mas Galih nanya mau makan apa kamu enggak dengar" ucap Mala membuat Zoya tersenyum malu ketahuan sedang melamun.
"Mau makan apa?" Galih mengulang pertanyaanya pada Zoya setelah sahabat istrinya tidak melamun lagi.
Galih menyebutkan pesanan mereka pada pelayan setelah Mala dan Zoya meyebutkan makanan dan minuman yang mereka inginkan.
Sambil menunggu makanan tidak ada yang bersuara diantara mereka. Ketiganya sibuk dengn gawai masing-masing.
Zoya [La setelah makan kita ke ruangan om gue, tapi bikang laki lo ke toilet ya. Ada yang ingin gue tunjukkan ke elo]
Mala [Emoticon jari dengan telunjuk dan jempol menyatu membentuk lambang oke]
Sesuai janjinya, Mala meminta ijin ke toilet pada suaminya yang sebenarnya keruangan om Zoya pemilik restoran ini dan diikuti oleh Zoya. Disinilah sekarang mereka berada diruangan ceo restoran ini. utungnya omnya sedang keluar dan Zoya mendapat ijin dari asisten omnya untuk meminjam ruangan itu. Zoya segera memutar video yang tadi dia rekam.
Seperti yang diprediksi Zoya, reaksi Mala yang terkejut tidak percaya sudah dia duga. Mala menutup mulut agar tidak mengumpat sambil memenangkan degup jantungnya.
"Mereka? Sejak kapan?" tanya Mala setelah video berakhir.
Ucapan Ardi diakhir Video itu mengingatkan Mala pada kedua sahabatnya yang hadir di akhir acara di pesta pernikahannya.
"Ternyata mereka memadu kasih" gumam Mala dalam hati.
"Tidak tahu" jawab Zoya sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kita pura-pura bodoh dan tidak tahu saja dengan apa yang mereka lakukan sampai mereka mengakuinya sendiri" ucap Mala memberi saran pada sahabtnya.
"Mereka jahat" jawab Zoya.
"Mungkin mereka belum siap mengakuinya. Hanya saja gue nggak percaya mereka sampai sejauh ini. Tidak terlihat kedekatan mereka yang berlebih selama ini" jawab dan keluh Mala tentang kedua sahabatnya itu.
Zoya membenarkan ucapan Mala, dia menceritakan sikap keduanya pada dirinya setelah mereka bercinta yang seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa dengan mereka berdua.
Mala dan Zoya keluar dari ruangan om Zoya. Mereka menuju meja dimana ada Galih disana, sudah ada sesorang yang menemani suami Mala tersebut. Mala dan Zoya beradu pandang.
"Sayang" Galih langsung meraih tangan Mala dan menyuruhnya kembali duduk disampingnya.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagia...