BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
22. Dibalik Hilangnya Tias


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore saat Galih melirik benda yang melingkar di tangannya, dia dan Leo baru selesai meeting bersama pimpinan dan staf kantor cabang Andromega yang ada di Surabaya. Pimpinan cabang Surabaya mengajak mereka berdua makan malam bersama di sebuah restoran yang tidak jauh dari hotel tempat Galih menginap.


Wajah Mala tampak tidak semangat saat Galih melakukan panggilan video dengan istrinya. Setelah menghabiskan makanannya, Galih segera menghubungi Mala istrinya. Sejak kejadian tadi siang, Galih sedikit tidak tenang memikirkan sang istri, dimana Mala kembali bertemu Kiara. Untungnya kejadian itu tidak ada hubungannya degan dirinya, membuat Galih sedikit tenang.


"Aku baik-baik aja lho mas" ucap Mala untuk meyakinkan Galih. Tapi tidak seperti yang Galih lihat pada wajah Mala yang menampakkan kalau istrinya itu tidak baik-baik saja. Tapi Galih bisa apa, saat ini mereka sedang berada di tempat berbeda, sehingga Galih tidak bisa memeluk sang istri seperti biasanya untuk memberi ketenangan agar Mala bisa tidur dengan nyenyak.


"Ya sudah kalau kamu merasa baik-baik saja. Mas mau balik ke hotel sekarang. Kamu jangan tidur malam-malam" Galih berusaha mengalah dan memberitahu juga nasehat pada Mala.


Tepat pukul delapan Gali sudah kembali ke hotel bersama Leo. Sesampainya di hotel Galih langsung menuju lift untuk naik kelantai dimana kamarnya berada. Kakinya hendak keluar dari lift, namun di kejauhan Galih melihat sosok wanita yang sering di hindarinya akhir-akhir ini baru saja keluar dari kamar yang akan ditempati Galih.


"Cancel dan tukar dengan kamar lain" ucap Galih yang langsung di setujui Leo. Sebagai asisten dan sahabat Leo tahu apa yang terjadi dengan Galih, dia juga melihat keberadaan wanita yang membuat Galih terus menghindar.


"Mengapa wanita itu bisa ada disini dan masuk ke kamar yang akan aku tempati" keluh Galih lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan langsung menghubungi seseorang.


Tias bersyukur setelah tahu Mala di jemput Arfan dan tidak jadi pulang bersamanya. Tadinya dia akan mencari alasan agar Mala tidak ikut pulang bersamanya, karena akan mengagalkan rencana yang sudah dia susun. Beberapa kali mencoba untuk mencari kesalahan Mala agar Galih menceraikannya gagal, kini target Tias langsung pada Galih. Mengejar Galih sampai berpaling padanya itulah tujuan Tias, tidak peduli akan menyakiti bahkan menghancurkan Mala sahabatnya.


Sudah sejak kemarin dia memesan tiket pesawat menuju Surabaya. Sengaja memilih tetap masuk kerja, tentu saja agar tidak ada yang mencurigainya, yang akan menyusul kemana Galih pergi. Sesampainya di Surabaya, Tias langsung menuju hotel dimana Galih menginap lalu menyamar menjadi seorang pelayan agar bisa masuk kekamar dimana Galih nanti akan menempatinya. Tias menjalankan rencananya lalu menunggu sampai Galih tiba.


Alan sedang gelisah karena tidak bisa menyalurkan hasratnya, tidak ada Alya istri dan Kiara simpananya yang bisa memuaskannya seperti biasanya. Semenjak sang istri yang mulai mengetahui kalau dia memiliki wanita simpanan, membuatnya mulai sulit menemui Kiara dan putranya. Puncaknya tadi siang dikala dia sedang bersama Kiara dan putranya, sang istri datang tanpa banyak bicara, Alya menyerang Kiara. Sejak kemarin juga belum ada dari dua wanitanya bisa dia sentuh, Alya yang mulai menolaknya dan Kiara yang sulit di temui.


Ditengah masalah yang menimpanya Alan harus terbang ke Surabaya, menyelesaikan masalah perusahaan yang ada dikota ini. Entah mengapa dia merasa tubuhnya tidak baik-baik saja, setelah memimum minuman yang sudah tersedia di kamar hotel ini. Alan merasakan tubuhnya panas dan keinginanya untuk bercinta sangat tinggi.


Mendengar ketukan di pintu kamarnya, Alan segera melangkah menuju pintu dan membukanya, berharap ada seseorang bisa membantunya. Tidak lagi melihat siapa yang datang, Alan yang sudah di penuhi birahi itu segera menarik sosok wanita yang berdiri didepan pintu kamarnya yang saat ini memang sedang dia butuhkan.

__ADS_1


Alan segera mendorong wanita itu kedinding dan melu mat bibir sang wanita dengan rakusnya, karena hasratnya yang sangat tinggi. Keadaan kamar yang temaram dan balasan ciuman dari sang wanita semakin membuat hasrat Alan tak tertahankan. Dia menarik wanita itu dan merebahkannya ketempat tidur lalu menindihnya. Tidak ada penolakan dari sang wanita saat dia menjamah dan mencium wanita itu. Bahkan wanita itu membalas setiap sentuhannya dan akhirnya mereka bergelut diatas ranjang hotel saling memberikan kenikmatan satu sama lain.


"Kamu siapa?" tanya Tias saat menyadari yang tidur dengannya semalam bukanlah Galih sesuai rencananya.


"Saya?" beo Alan.


"Kamu yang mengetuk kamar saya, harusnya saya yang bertanya ada apa?" bukan menjawab, Alan balik bertanya.


"Tapi kamu hebat juga, permainanmu luar biasa, saya sangat menikmatinya dan tentunys puas" ucap Alan lalu mendapat tamparan dari Tias.


"Kamu" Alan tidak terima karena seenaknya Tias menamparnya.


"Ini seharusnya kamar pria yang akan jadi suami saya, kenapa kamu bisa ada disini?" protes dan tanya Tias.


"Sudahlah, aku akan membayarmu untuk pelayananmu tadi malam" ucap Alan. Walau bagaimanapun dia harus berterima kasih karena wanita yang ada dihadapannya ini sudah membantunya melepas kedahagaannya beberapa hari ini.


"Saya bukan pelacur" bentak Tias yang merasa direndahkan.


"Kalau begitu kamu bisa jadi kekasih saya, bukankah saya juga bisa memuaskan kamu semalam" tawar Alan menggoda Tias. Setidaknya selama dia di Surabaya dia tidak sendiri. Sementara Alya sedang sibuk mengawasi Kiara.


Tias diam, dari semua yang pernah tidur denganya memang benar pria yang ada dihadapannya ini benar-benar bisa memberikan kepuasan padanya, tidak dapat dia bohongi dia bisa mendapatkan pelepasan berkali-kali dalam satu kali permainan.


"Ayolah sayang, kita bisa mengulanginya lagi, kita lakukan seperti semalam" tangan Alan segerah meraih tubuh Tias dan langsung memeluknya, dimana mereka masih dalam keadaan polos sejak semalam. Tidak dapat menolak sentuhan Alan, Tias pasrah, karena memang dia juga menginginkannya lagi. Terlebih lagi sudah satu minggu ini Ardi tidak menyentuhnya.

__ADS_1


Pagi ini Galih sarapan bersama Leo sebelum dia menemui seorang klien lalu kembali terbang ke Jakarta. Memilih pulang ke Jakarta itulah yang Galih lalukan, alasannya sangat jelas, dia ingin menghindari wanita yang ingin menghancurkan rumah tangganya. Leo memperlihatkan rekaman CCTV yang didapatnya dari petugas keamanan hotel yang dikenalnya.


"Alan?" tanya Galih tidak percaya.


"Iya, dia yang menempati kamar itu setelah lho ganti kamar" jawab Leo membenarkan.


"Dan lihat ini" Leo kembali memperlihatkan rekaman itu pada Galih.


"Wanita itu"


"Ya, Sepertinya dia sudah merencanakan sesuatu padamu. Tapi terkena pada Alan" jawab Leo.


"Alan pasti menikmati dan bersenang-senang" gumam Galih yang masih bisa di dengar Leo yang ikut mengiyakan, karena dia tahu seperti apa Alan sepupu Galih itu.


"Masih akan pulang ke Jakarta?" tanya Leo pada Galih hanya untuk memastikan lagi.


"Tentu, Alan bukan tujuan yang sebenarnya, itu berarti gue masih dalam bahaya. Lebih baik bersama istri gue dari pada disini di ganggu sahabatnya" keluh Galih memubuat Leo mengangguk mengerti dan juga terkekeh.


Galih tidak bisa mengerti, persahabatan seperti apa yang dijalani Mala dan Tias, dimana Tias sebagai sahabat sudah benar-benar berbuat jauh dibelakang Mala. Dan yang Galih juga tidak mengerti, bagaimana Mala tidak bisa melihat keburukan Tias dimatanya. Galih juga lelah bila harus ribut dengan Mala hanya karena sahabat istrinya itu. Kini saatnya dia mengumpulkan banyak bukti yang nanti akan dia tunjukkan pada Mala, bukan hanya Tias tapi juga tentang kakak Tias, Abiansyah pria yang disukai istrinya. Mala harus tahu seperti apa kedua kakak adik itu.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2