BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
19. Bertemu Rafi


__ADS_3

Satu minggu ini Galih terpaksa menitipkan Mala pada Bunda Sarah dan Arfan. Dia harus keluar kota selama satu minggu dan hanya mengajak Leo asistennya.


"Nanti pulang biar diantar Pak Hadi ya sayang" Galih memberitahu Mala.


Pagi ini Galih masih menyempatkan diri mengantar istrinya kekantor dan akan menuju bandara diantar Pak Hadi sopir kantor bersama Leo.


"Aku pulang sama Tias saja Mas. Dulu sebelum nikah juga biasanya gitu karena kita tinggal satu kompleks"


Galih hanya bisa mengiyakan, dia sudah berjanji tidak akan melarang Mala berteman dengan Tias. Itu saah satu syarat yang diajukan Mala saat Galih meminta mereka membatalkan perjanjian kontrak penikahan mereka dan akan menjalankan pernikahan yang sebenarnya. Galih lebih memilih memenuhi syarat yang Mala ajukan, membiarkan Mala tetap dekat dengan Tias, tapi dia akan terus memantau istrinya agar tidak di manfaatkan Tias untuk mendapatkan dirinya.


Galih juga sudah menitipkan Mala pada Zoya dan Ardi. Tanpa Mala ketahui sejak kejadian sore dimana Tias dengan kekeh ingin menganti minuman Mala dengan yang baru, ada kecurigaan Galih pada Tias.


Saat Mala sedang sibuk di dapur bersama Bi Asih menyiapkan makan malam, Galih menghubungi Ardi dan menayakan prihal minuman tadi sore.


"Ada apa Pak?" tanya Ardi begitu tahu nomor yang tidak dikenal menghubunginya adalah milik Galih.


"Ardi, tolong katakan dengan jujur, apa ada sesuatu diminuman Mala tadi sore?" tanya Galih langsung tanpa basa basi.


Ardi yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa mendesah pelan. Galih bukan pria yang tidak bisa membaca situasi, dia seorang pembisnis tentu saja bisa membaca setiap gerak gerik orang atau sesuatu yang mencurigakan.


"Iya" jawab Ardi, dia harus jujur. Ini untuk kebaikan Mala gadis yang dicintainya.


"Tias memberi obat perangsang, dan sengaja menghadirkan kakaknya, karena Tias yakin begitu Mala butuh penyaluran dari obat itu dia akan memilih Kak Abi" jelas Ardi pada Galih.


"Seniat itu" gumam Galih yang masih bisa didengar Ardi.


"Iya, dan Tias akan menghubungi bapak begitu Abi dan Mala tidur bersama, dia juga yakin bapak akan langsung menceraikan Mala begitu melihat hal itu" lanjut Ardi penjelasannya.


"Terima kasih kamu sudah menghalangi Mala meminum minuman itu" ucap Galih tulus, dia melihat dengan jelas saat Mala akan meraih minuman itu ada saja yang dilakukan Ardi biar Mala tidak meminumnya.


Keesokannya Galih mengajak Ardi dan Zoya untuk bertemu, sebelumnya Galih mengantar Mala mengunjungi Bunda Sarah. Mereka bertiga berbicara banyak, membahas tentang Tias. Tidak hanya meminta tolong pada Ardi dan Zoya, Galih juga memberi tahu Arfan, dia bicara empat mata dengan kakak iparnya itu saat menjemput Mala. Menurut Galih sebagai seorang kakak, Arfan juga harus mengetahui ini.


"Mas berangakat ya, jangan bandel" ucap Galih sambil mengulurkan tangannya sebelum dia masuk kedalam mobil perusahaan yang akan mengantarkannya ke bandara.


Mala meraih tangan Galih dan menyaliminya, lalu Galih membalas dengan mencium kening Mala. Pemandangan tidak biasa dikantor itu disaksikan banyak mata teemasuk Tias yang menahan sesak melihat kebahagiaan sahabatnya.


"Sayang, mas berangkat" Galih mengusap pipi Mala.


"Hati-hati dijalan mas" jawab Mala.


Galih tersenyum pada Mala, senyum yang hanya dia berikan untuk istrinya, sayangnya mereka sekarang berada di tempat umum sehingga semua karyawan khususnya yang wanita yang sedang berada tidak jauh dari mereka bisa melihat senyum itu.


Mala berbalik untuk masuk kedalam lift begitu kendaraan yang membawa Galih kebandara sudah tidak terlihat. Baru juga bebalik sudah ada Zoya, Tias dan Ardi berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Kalian" ucap Malah terkejut.


"Enggak usah bengong, ayo naik" Zoya merangkul lengan Mala sambil membawanya berjalan ke arah lift.


Seperti janjinya, begitu sampai di kota tujuan Galih langsung mengabari Mala.


Galih [Sayang, mas sudah sampai. Sekarang sedang perjalanan ke hotel]


Mala [Alhamdulillah]


"Maaf, pimpinnan kami sedang tidak ada di ruangan" itu suara Tari.


"Saya ingin bertemu istrinya, menurut Pak Galih kalau keputusan kerjasama perusahaan kami dengan Andromega berada di tangan istrinya" jawab pria yang ada di hadapan Tari.


Mendengar itu, Tari langsung mengerti kalau ini adalah perusahaan yang kemarin diwakilkan oleh Kiara. Dia langsung menghadap kearah Mala yang pasti mendengar langsung pembicaraannya denga pria yang ada dihadapannya. Melihat itu Mala mendekat.


"Maaf, boleh saya tahu sedang bicara dengan siapa?" tanya Mala. Pria dihadapan cukup terkejut saat melihat Mala menghampirinya dan bicara dengannya.


"Mala" panggil pria itu begitu dia mengenali Mala adik sahabatnya.


"Kamu pasti lupa dengan kakak, tapi kakak tidak pernah lupa sama gadis kecil yang selalu meminta pajak agar kakak bisa main bersama Arfan" ucap pria itu.


"Kak Rafi" ujar Mala begitu mencoba mengenali siapa pria yang ada dihadapannya.


"Kakak dulu kenal Galih dari Arfan, kami suka main bertiga waktu SMP. Tapi karena kakak yang jemput Arfan jadi hanya kakak yang harus membawa pajak buat kamu" kekeh Rafi mengingat masa-masa dimana Mala masih berseragam putih merah.


Waktu itu Mala selalu merajuk ingin ikut kalau Rafi mengajak Arfan main ke kerumah Galih. Satu-satunya yang bisa membujuk gadis kecil itu adalah oleh-oleh yang dibawanya.


Mereka sekarang sudah duduk di ruang meeting, masih menunggu Tari menyiapkan berkas kerja sama yang akan disepakati.


"Berarti benar dugaan Mala, kakak nggak ikhlas waktu itu" rajuk Mala seperti anak kecil.


"Padahal bukan Mala yang mengahabiskan pajak dari kakak, tapi Widya. Bukankah Widya menikah dengan kakak?" jelas dan tanya Mala.


"Pantas saja kakak menikah dengan Widya. Karena ramuan peletnya dimakan Widya ya" kekeh Rafi dan Mala hanya menggelengkan kepala mendengar lelucon yang du ucapkan Rafi.


"Kenapa kamu tidak datang di pernikahan kami?" tanya Rafi.


"Mala sedang sakit waktu itu. Widya juga tahu" jawab Mala.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa kerja di perusahaan Galih? Kenapa tidak membantu Arfan?" tanya Rafi berutun.


"Mala hanya magang kak, untuk tugas akhir sebelum menyusun skripsi" jawab Mala.

__ADS_1


"Oh, kakak kira kamu sudah kerja" ujar Rafi.


Tari datang membawa berkas yang akan mereka bahas, menghentikan percakapan pribadi mereka.


"Kita bisa bicarakan kerja samanya sekarang kak" ucap Mala membuat alis Rafi menyatu.


"Kenapa?" tanya Mala yang mengerti kalau Rafi sedikit binggung.


"Oh iya, kakak mencari istri Pak Galih ya" ucap Mala membuat Tari terkikik dan membuat Rafi semakin binggung.


"Kak Rafi tahu apa yang menyebabkan Mas Galih mengalihkan masalah kerjasama ini pada istrinya?" tanya Mala dan mendapati gelengan Rafi.


"Sebenarnya tidak ada masalah dalan kerjasama perusahaan yang Pak Rafi ajukan ke Andromega, saya sekertaris Pak Galih dan Bu Mala sudah memeriksanya dengan baik. Hanya saja sikap sekertaris Pak Rafi yang menuduh istri Pak Galih wanita murahan yang membuat Pak Galih marah dan akhirnya membatalkan kerja sama ini"


Rafi memijat pangkal hidungnya, dia sudah memperingatkan Kiara untuk bersikap baik, terlebih wanita itu sangat berani dan terang-terangan sering meggodanya. Sementara dia sangat tahu, Galih bukan pria yang suka digoda. Tapi apa yang sekertaris Galih katakan membuatnya sakit kepala, bagaimana bisa Kiara berani menuduh istri dari seorang Galih.


"Apa karena itu Galih meyerahkan kerja sama ini pada istrinya?" tanya Rafi.


"Iya itu salah satunya. Untungnya istri Pak Galih wanita yang berhati mulia, walau sekertaris bapak hanya memohon untuk tidak membatalkan kerja sama ini dan tidak meminta maaf atas ucapannya yang jelas-jelas menghina istri Pak Galih, istrinya tetap meninjau ulang kerja sama yang perusahaan bapak ajukan"


"Apa lagi yang sudah dilakukan sekertaris saya? Apa dia berusaha menggoda Galih?" tanya Rafi lagi.


"Kakak mengajukan pertanyaan itu pasti tahu sekertaris kakak seperti apa?" Mala yang menjawab dengan pertanyaan.


"Ternyata kamu masih sama seperti dulu La. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan" ujar Rafi.


"Kenapa tidak cari sekertaris lain aja kak?" tanya Mala lagi.


"Kiara itu pintar dan kakak suka cara kerjanya, selama ini dia tidak ada masalah setiap menemui klien. Baru kali ini dia bermasalah dan ternyata sangat-sangat tidak sopan sikapnya pada Galih dan istrinya"


"Sebenarnya Widya juga sudah berapa kali meminta kakak meganti sekertaris, karena dia tidak suka dengan cara Kiara berpakaian, Widya takut kakak tergoda kalau terus-terusan disuguhi pemandangan pentol ayam kata Widya" Rafi mencoba memberitahu Mala.


"Kalau begitu Kak Rafi harus mendengarkan apa yang Widya katakan, istri itu perlu ketenangan saat suami pergi bekerja. Kalau Kak Rafi biarkan, Widya pasti akan cemas setiap sahat dan itu tidak baik untuk kesehatan mental dia" kini Mala mencoba menasehati Rafi.


"Akan kakak pikirkan" jawab Rafi.


"Apa saya bisa bertemu istri Galih untuk meminta maaf dan menjelaskan padanya secara langsung agar kerja sama ini tetap berjalan?"


Mala dan Tari saling berpandangan lalu mereka saling melempar senyun dan akhirnya tertawa bersama membuat Rafi semakin heran"


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2