
Sesuai janji Galih, hari ini Mala diijinkan untuk pergi bersenang-senang bersama Zoya dan Tias. Terlebih lagi semalam istrinya itu mengalami hal buruk saat ikut menghadiri pesta anniversary ke tiga puluh pernikahan sahabat baik Mama Vina.
"Kenapa tidak bilang dari awal kalau kita akan pergi kepesta seperti ini" Mala mengeluh pada Galih saat tahu ini adalah pesta yang dihadiri orang-orang kalangan atas.
Sejak dulu, Mala selalu menghindar untuk hadir di pesta dimana orang-orangnya suka menilai penampilan seseorang dari luarnya saja. Jika bukan kenalan baik atau saudara dekat, Mala lebih memilih untuk tidak hadir dan hanya mengirimkan hadiah. Awalnya tidak masalah bagi Mala menghadiri pesta yang berisikan orang-orang yang pamer harta, jabatan, kecantikan, ketampanan dan siapa yang lebih hebat dari yang hebat. Namun lama kelamaan Mala merasa jengah dengan orang-orang munafik seperti ini, yang akhirnya membuat Mala malas menghadiri pesta yang menurut Mala tidak bermanfaat.
"Kalau bilang kamu pasti tidak akan mau hadir disini" jawab Galih sambil berbisik.
Galih yang berbisik di telinga Mala, terlihat seperti sedang mencium pipi istrinya itu. Hal itu menjadi perhatian beberapa wanita yang ikut hadir dipesta tersebut. Mereka merasa iri dan cemburu dengan Mala yang mampu mencairkan es di hati Galih.
"Itu Hubby tahu" ucap Mala membalas jawaban Galih sambil merangkul lengan suaminya.
Senyum Galih mengembang, satu kebangaan baginya bisa menghadirkan Mala disisinya malam ini. Tidak sedikit yang mengenal sosok Mala yang sebenarnya ikut hadir di pesta ini.
Mala sadar, dia sekarang menjadi pusat perhatian beberapa tamu, khususnya wanita. Bukan karena dirinya yang dikenal banyak orang, tapi laki-laki disisinya inilah yang menjadikannya pusat perhatian. Ada sedikit kebahagian di hati Mala, karena Galih lebih memilih untuk mencintainya dari pada wanita-wanita yang hadir di pesta ini dengan tampilan wah mereka dan terlihat lebih cantik dari pada dirinya.
Sayangnya Mala salah, penampilannya yang sederhana namun mampu mengeluarkan aura kecantikan yang naturallah yang membuatnya jadi perhatian. Tidak hanya kaum hawa yang memperhatikannya, banyak dari kaum adam merasa iri pada Galih.
"Ayo, kita temui yang punya acara" Mama Vina yang bicara, mengajak Galih dan Mala menemui sahabatnya.
Tanpa melepaskan rangkulannya di lengan Galih, Mala mengikuti langkah Mama Vina. Dari kejauhan, Mala melihat Saras dan Abi yang juga hadir di pesta ini. matanya sempat bersiborok dengan cinta pertamanya itu, tapi Mala segera memutus pandangannya dan beralih memandang punggung Mama Vina yang berjalan di hadapannya, saat Abi tersenyum padanya. Dulu hati Mala akan berbunga-bunga bila Abi memperhatikannya dan memberikan senyum yang menurut Mala adalah senyum yang menenangkan, tapi itu tidak lagi berlaku untuk saat ini. Secepat itukah Mala menghapus nama Abi dari hatinya?
"Jeng Tanti, kenalkan ini menantu saya" ucap Mama Vina, begitu mereka sudah berdiri di hadapan sahabat Mama Vina itu.
"Menantu Jeng Vina cantik sekali, putranya memang pintar cari istri" ucap Tanti begitu melihat Mala. Yang dipuji hanya bisa tersenyum dan menyalami punggung tangan sahabat mertuanya itu.
"Ma, acaranya dimu... Nurma." ucapan Indra terhenti begitu dia menyadari yang sedang bicara dengan mamanya adalah Mala.
" Hai In." Balas Mala sapaan Indra.
"Pak Galih, apa kabar?" Sapa Indra pada Galih sambil mengulurkan tangannya.
"Sangat baik" jawab Galih sambil membalas uluran tangan Indra.
__ADS_1
"Kalian sudah kenal?" tanya Tanti pada Indra, Galih dan Mala.
"Nurma ini teman SMP aku Ma" jawab Indra.
"Udah kenal lama kalau gitu ya" Mama Indra berujar.
"Kenapa tidak dikenali ke Mama waktu masih sekolah? Tapi kemarin yang pulang sama kamu dari Jogja, bukanya teman SMP juga?" Tanti mengingatkan Indra saat dia menjemput putranya itu di bandara yang ternyata bersama seorang teman wanita.
"Iya, dia sahabat Nurma" jawab Indra.
"Tias?" tanya Mala ingin memastikan. Indra mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.
Sementara Galih hanya menyimak, dia sudah tahu Tias yang ke Jogja, hanya saja tidak tahu jika bersama Indra. Apa karena sudah bersama Indra, Tias tidak mengganggunya lagi? Itu yang terlintas dalam pikiran Galih, dan dia bersyukur jika itu benar.
Karena acara akan segera dimulai, Galih mengajak Mala duduk di meja yang sudah disiapkan untuk mereka. Disaat Mala sedang menikmati hidangan yang disuguhkan, Mala merasa kepalanya sangat dingin.
"Aww" Suara Mala yang berteriak karena terkejut menjadi perhatian para tamu.
"Maaf saya tidak sengaja" ucap Kiara yang sebenarnya sengaja menyiramkan jus jeruk ke kepala Mala.
"Aku temani ke toilet untuk membersihkan rambutmu biar tidak lengket" tawar Widya yang juga hadir dalam pesta itu.
Mala setuju dengan tawaran Widya, mereka berduapun meninggalkan area pesta dan menuju toilet.
"Sumpah, kalau sedang tidak pesta sudah aku jambak rambut perempuan itu" Widya mengeluarkan kekesalannya begitu mereka sudah sampai di toilet.
"Biarkan saja. Bukankah dia sendiri yang akhirnya malu?" jawab dan tanya Mala.
"Dia sepertinya sengaja memancing kamu untuk marah. Sayangnya dia tidak tahu siapa lawan yang dihadapinya" Mala hanya tersenyum menanggapi ucapan sepupunya itu, sambil membasahi rambutnya biar tidak lengket, dia terus berpikir.
Entah apa yang ada dalam pikiran Kiara saat itu, Mala tidak bisa menebak. Hanya saja, Mala yakin jika ini ada hubunganya dengan Galih. Cemburukah wanita itu? Bukankah dia yang meninggalkan Galih suaminya dan berselingkuh dengan Alan? Lalu mengapa Kiara harus membencinya? Banyak pertanyaan yang terus bermunculan dikepalanya sampai akhirnya pintu toilet diketuk oleh seseorang.
Galih tidak hanya diam saja, mengambil handuk kecil yang selalu ada di mobil. Lalu menyusul istrinya ke toilet.
__ADS_1
"Kita langsung pulang saja" ajak Galih sambil membantu mengeringkan rambut istrinya. Mala mengangguk setuju.
"Kalau gue ada disana, habis itu perempuan ditangan gue" ucap Zoya begitu mendengar cerita Mala.
Mereka berdua sekarang sedang dalam perjalanan kesalon, menumpangi kendaraan yang sudah disiapkan Galih lengkap dengan sopir. Mala tidak tahu saja, jija sopir itu merangkap mata-mata dan juga bodyguard untuk istrinya. Sementara Tias sudah menunggu di salon langanan mereka bertiga.
"La, Indra itu ganteng nggak?"
Pertanyaan Zoya membuat Mala menatap lekat sahabatnya, sementara yang di tatap hanya bisa menyengir kuda.
"Udah mau pindah hati dari pak Dito?" tanya Mala akhirnya.
"Buat cadangan, kalau sama pak Dito gagal" jawab Zoya, sambil terkekeh.
"Sepertinya Tias sedang dekat dengan Indra" ujar Mala, seperti apa yang dia simak saat mama Indra bicara semalam. Tanpa Mala dan Zoya tahu, sebenarnya sedang ada yang disembunyikan Tias dari mereka berdua dan hanya Indra yang tahu.
"Kalian lama sekali, sampe garing gue nunggu disini" keluh Tias pada kedua sahabatnya tersebut.
"Lo kayak nggak tahu aja. Noh pelepasan Nyonya Galih Aarav Mandala harus pake ritual dulu, jadi lama" jawab Zoya menyalakan Mala.
Tidak salah jika Zoya kesal, dia harus menunggu lama diruang tamu di kediamannya dan Galih. Sementara Mala ditahan di kamar oleh Galih. Suaminya itu memang mengijinkannya pergi bersama Tias dan Zoya, tapi pria itu meminta mood booster dengan melu mat bibir istrinya terlebih dahulu. Padahal setelah subuh, dia sudah melakukan serangan fajar pada istrinya. Tapi Galih tetaplah Galih yang selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Yang ditunggu sudah datang. Kalian mau memulai perawatan sekarang?" tanya Vanya, pemilik salon tersebut yang masih sepupuh dari Ardi. Karena itu mereka kenal sangat baik dengan Vanya.
"Sekarang aja, Mbak" Mala yang menjawab.
"Kemana bodyguard kalian? Kok nggak ikut." tanya dan ucap Vanya saat tidak menemukan sosok sepupunya yang biasanya ikut perawatan juga.
"Dari kemarin diajakin, nolak terus. Katanya sedang ada job, mungkin lagi ada proyek." Zoya yang menjawab pertanyan Vanya.
"Kalau tidak salah, dua hari yang lalu mamanya bilang, Ardi katanya mau mondok di pesantren."
"PESANTREN" beo Mala dan Zoya bersamaan. Sementara Tias yang sudah tahu tampak biasa saja.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...