BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
31. Menjawab Dalam Diam


__ADS_3

"Alan dan Galih itu sangat dekat sejak kecil, jadi tidak usah heran nanti jika mereka ribut atau bertengkar, itu tidak akan lama. Segera mungkin keduanya baikan lagi" itulah kalimat yang disampaikan Eyang Retno saat Alan mengajak Galih untuk bicara diteras belakang.


"Jika sudah begitu ada sesuatu yang akan mereka bahas" lanjut Eyang Retno ucapanya.


Karena ucapan Eyang Retno itulah yang membuat Mala mencuri dengar apa yang dibahas Galih dan Alan, yang akhirnya membuat Mala tahu masa lalu Abi.


Mala mengerti sekarang, mengapa Galih bersikap biasa saja saat Alan tiba-tiba datang menyapa mereka. Tidak ada amarah atau rasa benci yang dia tunjukkan, mereka pasti sudah menyelesaikan semua masalah mereka dimasa lalu. Karena itu, Galih tidak suka saat Mala menyaksikan berita infotaiment yang mengaitkan namanya dengan masalah yang di hadapi Alan.


Ini kali kedua Mala bertemu Alan, dimana pertemuan pertamanya, dia hanya melihat dari jauh dan tidak sempat bertegur sapa apa lagi berkenalan.


"Apa kabar eyangku yang semakin hari semakin cantik" sapa Alan pada Eyang Retno begitu dia mendekati wanita yang sangat dia hormati.


"Kamu sendiri lagi?" tanya Eyang Retno saat Alan yang berkunjung tanpa mengajak istrinya.


"Mau bagaimana lagi, eyang tahu sendiri bagaimana sibuknya istriku itu" jawab Alan lagi.


"Apa kabar sepupu?" Alan beralih menyapa Galih yang hanya mendapat jawaban diam tanpa suara.


Bukan sesuatu yang baru mendapati suaminya menjawab dalam diam. Galih memang pendiam jika dihadapan orang lain, dia akan berbeda bila bersama orang yang dekat denganya seperti Mala atau Tari. Seharusnya itu juga berlaku untuk Alan sebagai saudaranya yang cukup dekat dengannya. Mala menyimpulkan, Galih tidak sedekat dulu dengan Alan. Semua karena masalah yang pernah ada, walau Galih sudah tidak mempermasalahkannya lagi.


Di abaikan Galih, Alan beralih pada Mala. Istri adik sepupunya ini memang cantik, tidak salah jika Galih menyukainya sejak dulu. Sebagai saudara yang cukup dekat dimasa remaja mereka, tentu Alan sangat tahu bagaimana dulu perasaan Galih terhadap Mala, sayangnya sepupunya itu hanya memendamnya sendiri lalu melupakannya. Alan cukup senang, akhirnya Galih mendapatkan cinta pertamanya Tidak seperti dia yang harus merelakan orang yang disayanginya dimiliki orang lain.


"Hai adik ipar, kita belum berkenalan bukan?" Alan mengulurkan tangannya pada Mala namun langsung ditepis oleh Galih.


Alan terkekeh melihat tingkah Galih yang tidak mengijinkannya menyentuh Mala. Dia tahu sejak masalah diantara mereka hadir karena wanita, tentu saja Galih akan menjaga miliknya kali ini.


"Masya" suara Galih yang memanggil Mala mengejutkan istrinya yang sedang mengingat kejadian tadi saat Alan mengajaknya berkenalan. Mala mengingatnya karena sikap Galih yang waspada, tidak mengijinkan Alan menyentuhnya. Seakan-akan takut jika Alan melakukan hal yang sama padanya seperti yang pria itu lakukan pada Kiara dan Rania.


"Istrimu wanita baik-baik, aku tidak akan merusaknya" kalimat yang diucapkan Alan itu cukup membuat Mala merasa lega, setidaknya Galih tidak akan terlibat masalah lagi dengan Alan karena dirinya.


"Hubby, kita menginap apa pulang lagi ke Jogja?" tanya Mala begitu Galih ikut bebaring bersamanya.

__ADS_1


"Kalau kita menginap bagaimana?" Galih balik bertanya sambil menyelipkan rambut Mala ke belakang telinga.


"Tidak masalah, capek juga kalau harus balik lagi ke Jogja" jawab Mala. Galih tersenyum penuh arti.


"Kalau buat anak nggak capekkan say... aww" Galih menjerit karena mendapat cubitan dari Mala di perutnya.


"Sakit" ucap Galih lalu mencubit gemas kedua pipi istrinya, saat itulah dia bisa melihat kedua mata Mala yang terlihat merah karena mengantuk.


"Kamu ngantuk sayang?" Mala mengangguk.


"Sudah sholat?" Mala kembali mengangguk.


"Istirahatlah dan tidur yang nyenyak. Mas mau sholat dulu" ucap Galih mengusap wajah Mala lalu mengecup sekilas bibir istrinya sebelum meninggalkannya kekamar mandi.


"Hubby, Kak Alan apa dia juga menginap?" Mala bertanya sebelum Galih turun dari tempat tidur.


"Kenapa kamu bertanya tentang dia?" Galih balik bertanya.


"Dia ada pekerjaan di kota lain, ke Solo hanya ingin mengunjungi eyang" Galih bangkit dari duduknya setelah mengacak-acak rambut Mala dan berlalu ke kamar mandi.


"Nduk, kamu sudah ada tanda-tanda belum?" tanya Eyang Retno pada Mala yang sedang menemaninya duduk di teras depan sambil melihat orang yang berlalu lalang yang sesekali menyapa mereka. Mereka berdua tengah menikmati kudapan bola-bola ubi yang tadi dibuat oleh mereka berdua dan ditemani secangkir teh hangat.


"Maksud eyang uti?" tanya Mala tidak mengerti.


"Maksud eyang, kamu sudah ada isi atau belum?" Eyang Retno mengusap perut Mala.


Pertanyaan Eyang Retno tidak bisa di jawab Mala, bagaimana dia bisa hamil sekarang kalau dia dan Galih baru tadi malam berhubungan untuk pertama kalinya. Perasaan bersalah muncul dibenak Mala, andai saja sejak awal dia bisa menerima perjodohan ini bukan karena kontrak, mungkin saja sudah ada calon anaknya dan Galih di dalam perutnya. Mala menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Eyang Retno.


"Tunggu saja, eyang pasti akan mendapatkan cicit dari aku" itu Galih yang bicara, suaminya itu berdiri dipintu menyelamatkan Mala dari pertanyaan Eyang Retno.


"Eyang harap begitu, jangan seperti istri Alan yang tidak ingin hamil, bagaimana eyang bisa berharap cicit dari dia" Eyang Retno mengeluarkan keluhannya. Itulah salah satu yang membuat eyang putri dari Galih itu tidak begitu menyukai Alya.

__ADS_1


Mala hanya bisa diam menangapi keluhan Eyang Retno, ingin sekali rasanya dia memberi tahu wanita yang masih sangat cantik ini meski usianya sudah lanjut tentang putra Alan dan Kiara, hanya saja dia tidak berhak untuk itu, jika Alan sendiri yang bersangkutan belum membicarakannya.


"Kami tidak akan menundanya, iya kan sayang" Galih kembali bicara karena Mala yang hanya diam sambil mencium pipi istrinya.


"Masih sore, sudah main cium aja. Ada yang lagi sendiri disini" Alan ikut bergabung sambil menyindir Galih.


"Iku salahmu dhewe, duwe bojo ora tau dijak" Eyang Retno yang membalas uacapan Alan. (itu salahmu sendiri, memiliki istri tidak pernah di ajak).


Alan tidak berani membalas ucapan Eyang Retno jika sudah membahas Alya istrinya, dia hanya terkekeh sambil menggusap-usap tengkuknya. Lebih baik dia segera pamit dan pergi untuk menemui Tias seperti rencananya.


"Eyang, kula nyuwun pamit" ucap Alan sambil meraih tangan Eyang Retno. (Eyang, saya pamit dulu).


"Mau kemana?" tanya Eyang Retno menatap curiga.


"Apa kamu mau malam mingguan sama wanita lain?" tuduh Eyang Ratno. Alan menggeleng.


"Besok harus bertemu teman pagi-pagi sekali, jadi Alan menginap disana" jelas Alan yang sudah pasti berbohong.


"Ya sudah sana, eyang ada Galih dan Mala yang menemani"


"Besok aku yang akan temani eyang. Janji deh" jawab Alan seperti anak kecil.


Mendapat ijin dari Eyangnya, Alan segera berlalu, sebelumya dia menyempatkan diri pamit pada Galih sambil menepuk punggung sepupunya itu. Memberi syarat, kalau dia akan mengurus Tias seperti yang dia katakan tadi.


Galih kembali menjawab dalam diam, dia tidak sepenuhnya suka dengan usulan Alan, kalau sepupu laki-lakinya itu yang mengurus Tias. Karena itu alasan Alan saja yang ingin tidur dengan sahabat istrinya, terlebih lagi saat ini Alya sedang mengawasi Kiara sehingga Alan tidak bisa sering mengunjungi simpanannya itu.


Sore ini pembicaraan antara Mala, Galih dan Eyang Retno membahas masalah rumah tangga yang mungkin akan dihadapi keduanya. Lebih tepatnya Eyang Retno memberi nasihat dan petuah pada cucu dan cucu mantunya.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2