BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Jadi Pemenangnya


__ADS_3

Melihat adiknya tampak kelelahan, Abi memutuskan untuk mengajak Tias pulang. Abi merasa tidak ada kepentingan untuk mengantar Wina sampai ke kantor polisi, walau Abi sangat ingin bicara dengan wanita itu, dia ingin menanyakan keberadaan ayahnya.


"Aku tidak apa-apa kalau Kakak mau ikut sampai kantor polisi" ujar Tias memberi tahu Abi.


"Kamu perlu istirahat, dokter Erick bisa memarahi Kakak nanti" jawab Abi sambil terkekeh menggoda adiknya.


"Tapi Kakak bisa menjadi saksi mata untuk memberatkan wanita itu, karena Kakak menyaksikannya di depan mata."


Deg. Tias benar, Abi lupa akan hal itu. Dia melihat tepat didepan matanya walau dari seberang jalan peristiwa penabrakan yang dilakukan Wina pada Mala.


"Kakak harus ke kantor polisi, Kak." saran Tias pada laki-laki itu.


"Kakak akan kekantor polisi setelah mengantar kamu pulang."


"Aku ingin kerumah sakit, Kak. Ingin melihat keadaan Mala" sahut Tias.


Abi terdiam, haruskah dia menemui Mala sekarang? Abi ragu jika Mala akan menerimanya dengan baik setelah kejadian tadi. Abi sadar semua kejadian ini ada andil dia didalamnya, andai saja dia bisa menahan ungkapan perasaannya seperti biasanya, Mala tidak akan mengalami ini semua.


"Kenapa?" tanya Tias.


"Tidak apa-apa. Kamu yakin mau menjenguk Mala?" jawab dan tanya Abi.


"Iya, besok aku masih ada jadwal pemeriksaan dengan dokter Erick, kemungkinan opname satu malam. Takut tidak ada waktu lagi untuk mengunjungi Mala.


Abi tidak bisa menolak kalau sudah begini. Dia akan mengantarkan Tias ke rumah sakit tempat dimana Mala di rawat.


Berbeda dengan Tias, Zoya dan Ardi langsung ikut ke kantor polisi bersama Arfan, Rafi dan Leo.


"Aku bisa jadi saksi, Kak." ucap Zoya.


Tadinya Arfan menyuruh Zoya kembali saja bersama Galih ke rumah sakit, tapi sahabat Mala itu menolak. Keputusan Zoya membuat wajah Leo kembali melukiskan senyum, senyum yang hanya dirinya sendiri yang tahu maknanya.


"Kamu benar, kau bisa jadi saksi, Zoy."


"Zoya nggak sangka kalau yang menabrak Mala ternyata ibunya Saras dan Kiara." ucapan Zoya menarik perhatian Arfan.


"Maksud kamu?" tanya Arfan.


"Tias tadi yang kasih tahu aku, Kak. Wanita itu ibu tiri Kak Abi" jawab Zoya.

__ADS_1


"Kenapa, Kak?" tanya Zoya lagi begitu melihat Arfan tampak memikirkan sesuatu.


"Menurut Galih ini ada hubungannya dengan masalah keluarga yang belum selesai di masa lalu." Arfan memberi tahu apa yang tadi Galih bisikkan padanya.


"Kalau itu masalah keluarga dimasa lalu, kenapa Mala yang harus jadi korban?" tanya Zoya lagi.


"Itu yang Kakak tidak mengerti" sahut Arfan.


"Mungkin sebenarnya ini ada kaitannya dengan kisah masa lalu Kiara dan Galih, atau masalah tante Vina" Kali ini Leo yang bicara.


"Yang Bang Leo katakan bisa jadi benar, wanita itu tidak suka hubungan Galih dan Mala."


"Haruskah sampai ibunya yang turun tangan?" Semua diam, mencoba mencari jawaban yang diajukan Rafi.


Abi dan Tias tiba di rumah sakit. Tias turun setelah Abi mengatakan kalau dia akan langsung ke kantor polisi. Tias sudah bertanya pada Zoya, kamar berapa yang di tempati Mala. Sayangnya samapi disana, dia hanya menemukan eyang Retno, Widya dan Alya.


"Mala kemana, Wid?" tanya Tias yang hanya mengenal Widya disana. Tadi dia sempat berpikir jika Zoya salah memberi nomor kamar yang di tempati Mala.


"Sedang diperiksa dokter" jawab Widya.


Widya memperkenalkan Tias sebagai sahabat Mala pada eyang Retno dan Alya. Awalnya Tias bersikap biasa saja diperkenalkan sebagai sahabat Mala. Namun saat Widya memperkenalkan Alya sebagai istri Alan, Tias seketika pucat. Dia tidak menyangka akan bertemu istri laki-laki itu disini, laki-laki yang sempat memaksa dia untuk menjadi kekasih gelapnya.


"Duduk, Yas" Widya mempersilakan Tias. Sahabat Mala itu mengangguk.


Baru saja Tias akan duduk, terdengar suara bunda Sarah memberi salam sambil berjalan masuk ke kamar dengan senyum mengembang diwajahnya. Tampak Mala dibelakang bunda Sarah yang duduk di kursi roda dengan Galih yang mendorongnya.


"Bagaimana hasil pemeriksaanya?" tanya eyang Retno yang ingin segera tahu keadaan cucu menantunya.


"Semuanya baik-baik saja, Bu" Bunda Sarah yang menjawab pertanyaan eyang Retno.


"Bahkan sangat baik" lanjut bunda Sarah ucapannya sambil memberi sebuah buku hasil pemeriksan Mala pada eyang Retno.


"Ini" ucap eyang Retno.


Eyang Retno terkejut saat membaca judul sampul buku yang bunda Sarah berikan, tertulis jelas disana buku untuk pemeriksaan kandungan.


"Kamu hamil sayang?"


Pertanyaan eyang Retno pada Mala menarik perhatian mereka yang ada disana dengan pikiran masing-masing. Widya yang tersenyum bahagia, dan bersyukur dengan kehamilan Mala. Alya yang merasa sedih melihat eyang retno yang sangat bahagia. Harusnya dia yang pertama memberikan kebahagiaan ini untuk orang tua itu dan mendapati ciuman sayang seperti yang sekarang Mala dapatkan. Tias yang menagis haru, tidak menyangka akan secepat ini sahabatnya akan menjadi seorang ibu.

__ADS_1


"Selamat sayang aku" ucap Widya sambil memeluk Mala.


"Selamat, Mas. Sudah mau jadi ayah" ucap Widya yang kini beralih pada Galih. Laki-laki itu tersenyum, tampak jelas kebahagiaan terpancar di wajahnya.


"Aku ikut bahagia mendengar berita ini" ucap Alya tulus.


"Terimakasih, Mbak Alya" jawab Mala.


"Mbak cepat nyusul" bisik Mala begitu wanita itu memeluknya. Alya tersenyum, Mala tahu banyak tentang rumah tangganya setelah beberapa hari yang lalu mereka bertemu dan Alya berbagi cerita pada Mala dan meminta saran dari istri Galih itu.


"Maafin gue" hanya itu yang bisa Tias ucapkan dihadapan Mala, selebihnya dia hanya terisak.


"Ada apa ini?" suara papa Andro menggema. Calon opa itu datang dengan tangannya yang penuh membawa banyak makanan. Widya dan Alya yang melihatnya langsung mengambil alih bungkusan yang dibawa papa Andro.


"Andro, putra semata wayangmu akan menjadi seorang ayah" ucapan eyang Retno membuat pria paruh baya itu melihat putranya.


Galih tersenyum lebar saat papa Andro melihatnya. Mereka sama-sama bahagia. Papa Andro yang telah menduga sebelumnya menitikkan air mata bahagia. Bukan hanya janji pada sahabatnya yang terpenuhi, tapi keinginan istrinya kini terwujud. Mama Sandra sangat ingin memiliki cucu yang terlahir dari rahim Mala. Dipeluknya Galih dengan erat, sebagai rasa syukur dan terima kasih pada putranya.


"Mas, aku mau berbaring" pinta Mala, karena dia sudah merasa tidak nyaman duduk di kursi roda.


Galih segera menuruti keinginan istrinya, dia membaringkan Mala di tepat tidur. Di kecupnya kening dan bibir istrinya sekilas. Wajah Mala memerah, dia malu dilihat banyak orang dengan apa yang Galih lakukan.


"Hubby, Malu" Galih terkekeh dengan kejujuran Mala, membuat wajah istrinya semakin merona.


Kebahagiaan sepasang suami istri tertangkap indra penglihatan Abi. Dia memutuskan untuk menemui Mala dan meminta maaf sebelum kembali kekantor polisi. Ada rasa nyeri saat melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain. Tapi tidak ada yang bisa merubah jalan yang sudah di tetapkan oleh yang maha kuasa, Abi sangat menyadari itu. Dia tidak berjodoh dengan Mala.


"Maafkan Kakak." ucap Abi.


Kata sakti itu yang terucap dari mulut Abi saat dia pamit pada Mala. Mata mereka sempat bertemu yang langsung diputus oleh Mala. Tidak ada lagi rasa di hatinya untuk Abi, bahkan rasa kecewa yang kini hadir dibenaknya. Kecewa pada sikap Abi yang tidak tegas, yang telah mempermainkan perasaannya selama ini. Mala tidak membenci Abi, berharap laki-laki itupun tidak membenci dengan jalan yang Mala pilih, yang memilih berada di sisi Galih.


Abi tidak bisa berharap banyak pada Mala, terlebih lagi dia telah menggoreskan luka. Kata maaf yang dia ucapkan tidak mampu membayar kesalahannya selama ini. Abi mengakui dia kalah. Kini dia beralih menghadap Galih.


"Selamat" Abi mengucapkannya sambil menjabat tangan Galih.


"Terima kasih" jawab Galih tulus. Walau hanya kata terima kasih menjadi jawaban Galih, namun bayak mengandung makna didalamnya. Tidak perlu dia permasalahkan lagi jika dulu ada rasa antara Abi dan Mala. Bukankah dia yang kini jadi pemengnya.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2