
Mala menyerahkan keputusan pada papa Andro tentang perjodohan Kania putrinya. Menurut Mala tidak ada yang salah dengan ide perjodohan itu, dia dan Galih menikah juga karena dijodohkan dan mereka bahagia walau diawali dengan drama penandatanganan nikah kontrak yang diajukan Galih.
"Baiklah kalau kamu setuju, sayang." ucap Galih setelah mendengar penjelasan Mala.
"Pendapat Mas sendiri bagaimana?" tanya Mala ingin tahu pendapat suaminya.
"Mas juga tidak masalah sayang. Keluarga Harley keluarga yang disegani banyak orang, mereka keluarga yang mengedepankan kebersamaan dan saling menghormati satu sama lain. Tidak egois untuk menguasai perusahaan yang dibangun tuan Harley nenek buyut mereka. Karena itu tidak pernah ada skandal perebutan kekuasaan." jawab Galih.
"Ya intinya mereka keluarga baik-baik, dan keturunan mereka selama ini semua juga orang-orang baik." lanjut Galih ucapannya.
"Jadi kalian setuju?" tanya bunda Sarah yang baru saja tiba.
"Bunda buat Mala kaget, deh." sahut Mala pertanyaan bunda Sarah. Bunda Sarah terkekeh mendengar ucapan Mala, putrinya terlalu serius mendengar ucapan Galih sehingga tidak memperhatikan dia yang masuk dan mendengarkan percakapan keduanya.
"Bunda sendiri bagaimana?" Galih yang bertanya, menurutnya pendapat bunda Sarah juga harus menjadi pertimbangan.
"Bunda juga tidak masalah, apa lagi putranya Almaira dan Ezra sangat lucu dan tampan, sama seperti Kania yang lucu dan cantik, mereka berdua sama-sama menggemaskan menurut Bunda" jawab bunda Sarah.
"Bunda tadi ke kamar sebelah untuk menengok Almaira dan putranya. Semoga saja Kania berjodoh dengan Arkarna." jelas dan doa bunda Sarah.
Satu Bulan kemudian.
Hari ini Mala dan Galih mengadakan acara syukuran untuk Kania. Tidak banyak tamu yang diundang, mereka hanya mengundang anak yatim dari beberapa panti asuhan, saudara dan kerabat dekat, serta sahabat dari keduanya dan keluarga mereka.
Ulah Zoya dan Widya membuat Mala menggelengkan kepala begitu melihat kamar putrinya, keduanya menghiasi kamar Kania denga balon warna warni serta memajang banyak mainan, sehingga kamar yang luas itu terlihat penuh.
Tapi Mala tidak bisa protes, semua ini adalah bentuk perhatian mereka pada Kania.
__ADS_1
"Bagaimana Bunda Mala?" tanya Zoya memperlihatkan hasil karyanya.
"Cantik, terimakasih aunty Zoya, mama Widya." jawab Mala.
"Sayang, apa semua sudah siap?" tanya Galih berbisik yang sejak tadi mencari keberadaan istrinya.
"Kenapa jadi penuh seperti ini?" tanya Galih berbisik pada Mala begitu melihat kamar putrinya penuh dengan balon dan juga boneka.
Mala menyikut tangan Galih untuk tidak banyak berkomentar. Zoya akhir-akhir ini cukup sensitif jika orang-orang sekitarnya tidak mendukung apa yang dia lakukan, dan itu disebabkan karena hormon kehamilannya. Galih yang mengerti jika ini adalah ulah Zoya langsung diam.
"Semuanya sudah siap, Mas. Ayo kita turun, sebentar lagi para tamu akan datang." jawab dan ajak Mala sambil menggandeng tangan suaminya untuk meninggalkan kamar sang putri.
Satu persatu tamu undangan datang memenuhi kediaman Mala dan Galih. Ardi datang bersama Lela yang juga mengajak beberapa santri dari pesantren tempat Ardi menuntut ilmu.
Mala tersenyum melihat Ardi dan Lela, usaha dia dan Zoya membawa hasil, Ardi akan segera melangsungkan pernikahannya dengan Lela dalam waktu dekat ini.
Acara berjalan lancar, Kania bahkan terlelap saat Arfan menggendong keponakannya itu untuk mengikuti beberapa acara yang menghadirkan Kania untuk ikut prosesi acara.
"Sayang." Galih memanggil Mala yang sedang menyusui putrinya di kamar mereka. Kania terjaga dari tidurnya bagitu acara selesai, putri mereka itu baru bisa diam setelah Mala memberikan asi untuk putrinya.
"Sebentar lagi Mas, biar Kania kenyang dulu." jawab Mala.
"Jangan lama-lama, ada tamu yang ingin bertemu kamu dan Kania." ucap Galih memberi tahu.
Keluar dari kamarnya, Mala menemukan Galih sedang berbincang dengan seseorang yang Mala kenal. Cukup membuat Mala terkejut melihat siapa yang datang dan ingin bertemu dengannya, karena mereka sudah cukup lama tidak ada kontak.
"Dokter." panggil Mala pada dokter Erick.
__ADS_1
"Maaf saya datang terlambat." ucap dokter Erick menjawab panggilan Mala.
Entah apa maksud ucapan dokter Erick, Mala tidak mengerti. Mala merasa dia dan Galih tidak mengudang dokter Erick, lalu mengapa dokter Erick meminta maaf karena datang terlambat?
"Saya membawa ini, titipan dari seseorang yang menyayangi Kania." ucap dokter Erick sambil memberikan sesuatu pada Mala.
"Seseorang itu siapa?" tanya Mala penasaran.
"Kamu bisa mengetahuinya setelah membukanya. Maaf seharusnya saat Kania lahir saya menyerahkan titipan ini." ucap dokter Erick.
"Tapi saya sedang tidak ada di Indonesia saat itu." lanjut Erick ucapannya dan langsung pamit pada Mala dan Galih.
Mala membaringkan Kania ditempat tidurnya. Untuk saat ini, putri kecilnya itu masih tidur dikamar yang sama dengannya. Setelah memastikan putrinya baik-baik saja, Mala pergi ke kamar Kania dimana bingkisan yang tadi dibawakan Erick dia simpan.
"Sayang ada apa?" tanya Galih begitu menemukan Mala sedang duduk di lantai dan terlihat lesu.
"Tidak ada apa-apa Mas, Mala baru saja selesai membuka bingkisan yang dibawa dokter Erick." jawab Mala.
Tapi Mala tidak bisa membohongi Galih kalau dia baik-baik saja, suaminya itu bisa melihat jejak sisa air mata di pipi Mala.
"Ayo kita kembali ke kamar, Mas. Kasihan Kania sendirian." ucap Mala mengajak Galih untuk kembali ke kamar mereka sambil mengulurkan tangannya meminta sang suami untuk menyambutnya.
Galih menyambut uluran tangan Mala untuk membantu istrinya itu berdiri, saat posisi mereka sudah berhadapan Galih langsung memeluk Mala. Sudah dapat dia duga siapa yang menitipkan bingkisan itu pada Erick yang bisa membuat Mala sedih jika mengingatnya.
"Dia sudah tenang disana." ucap Galih sambil mengusap punggung istrinya.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagia...