BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
91. Kania dan Arkarna


__ADS_3

Sepuluh tahun kemudian.


"Bunda, mulai besok Kakak pergi sekolah sama sopir aja." ucap Kania membuat Mala menatap heran.


"Kania nggak mau kalau sekolah diantar sama ayah lagi." jelas Kania alasannya .


Galih yang baru saja bergabung duduk di ruang keluarga langsung mendapatkan tatapan penuh pertanyaan oleh sang istri.


"Ada apa sayang?" tanya Galih yang juga heran melihat Mala bertanya melalui kontak mata.


Mala mengabaikan pertanyaan suaminya, "Kakak, sini Nak." panggil Mala agar Kania mendekat.


"Nia enggak mau dekat-dekat sama Ayah." tolak Kania yang membuat Mala semakin heran. Sementara Galih mengulum senyum sudah tahu apa penyebab putri kesayangannya marah.


"Ada apa Mas?" tanya Mala.


"Lho kok nanya nya ke Ayah." jawab Galih sambil menahan tawa.


"Nggak apa-apa kalau Kak Nia nggak mau sekolah di antar sama Ayah, biar adik Emir saja yang Ayah antar ya sayang." jawab Galih sambil mengelus rambut putranya yang baru berusia lima tahun, putra yang akan dia didik untuk menggantikan dia kelak memimpin Andromega.


"Ayah berdua Bunda." jawab Emir.


"Oh... Iya dong." sahut Galih membuat Kania menatap tidak suka pada sang Ayah.


"Sebenarnya ada apa antara kalian berdua?" tanya Mala.


"Kakak malu sudah besar masih di antar sama Ayah. Kakak sama sopir, biar Ayah yang ke kantor bawa mobil sendiri." jawab Kania.


Mala tersenyum setelah tahu alasan sang putri. "Kenapa malu, harusnya Kakak senang masih diantar orang tua." jawab Mala mencoba menasehati putrinya.


"Tapi ayahnya reseh, Bunda."


"Reseh gimana?" Mala bertanya seolah-olah dia tidak mengerti sifat suaminya. Apa lagi kalau bukan super protektif, seperti yang juga Galih lakukan pada Mala. Biarpun pernikahan mereka sudah memilik dua anak, tetap saja Galih tidak berubah dengan sifat protektif nya.


"Ayah melarang Nia main sama teman Nia yang laki-laki di sekolah." lanjut Kania mengadu pada sang bunda.


Seperti dugaan Mala, jika Galih membatasi pertemanan Kania.


"Kakak bolehnya berteman sama mas Rayen dan Arkarna aja, padahal mereka berdua juga reseh sama seperti ayah." lanjut Kania lagi.


"Lho mas Rayen reseh gimana?" tanya Mala yang kembali pura-pura tidak mengerti.


Mala tahu sejak kecil Rayen sudah menunjukkan sifat protektif nya pada Kania sama seperti Galih. Tidak mengijinkan teman-temanya mendekati Kania apa lagi mengganggunya.

__ADS_1


"Ya gitu deh, sama seperti Ayah." jawab Kania.


"Sini." panggil Mala sambil menepuk tempat kosong disampingnya agar Kania mau duduk disana.


Mengikuti keinginan sang bunda, Kania duduk di samping Mala.


"Sayang Bunda, itu karena ayah sama mas Rayen sayang sama Kakak. Harusnya kak Nia senang dong di sayang." jawab Mala memberi nasihat dengan mengelus rambut panjang putrinya.


"Bunda kenapa belain ayah sama mas Rayen, belain Kakak dong." protes Kania.


"Bukan membela, tapi bunda memberi tahu Kakak kalau mereka seperti itu bukan reseh melainkan sayang sama Kak Nia." jawab Mala menenangkan putrinya untuk mengerti, meskipun dia juga merasa Galih dan Rayen sering berlebihan dalam melindungi Kania.


"Sudah tidak ada yang ribut lagi, Kakak sekolah tetap Ayah yang antar, pulangnya dijemput bunda." ucap Galih yang tidak bisa di ganggu gugat.


"Bunda." Kania meminta pada Mala agar Galih merubah keputusannya.


Mala menjawab dengan gelengan, biar saja Kania tetap Galih yang mengantarnya ke sekolah karena sekolah Kania satu arah dengan Amdromega. Tapi Mala akan menasehati suaminya agar jangan terlalu protektif pada sang putri.


Keesokan harinya Galih dan Kania sudah siap untuk berangkat.


"Mas, jangan lupa pesan bunda." ucap Mala mengingatkan Galih.


Sebelum tidur, Mala mengajak Galih bicara tentang putri mereka. Bukan satu atau dua kali Mala mencoba memberi tahu Galih untuk tidak terlalu protektif pada putrinya, tapi Galih tetaplah Galih yang selalu ingin menjaga dan melindungi orang-orang yang disayanginya.


"Mas, ada anak-anak." protes yang selalu Mala lontarkan. Galih tidak menghiraukan protes sang istri, setiap hari sejak dulu hingga saat ini dia tetap melakukannya. Rasa sayang dan cintanya tidak pernah berkurang, bahkan semakin bertambah setiap harinya.


"Ayah... jangan cium-cium Bunda terus." protes Emir.


"Tuh kan Yah, diprotes sama anaknya." tegur Mala yang hanya mendapatkan kekehan dari Galih.


Galih merendahkan tubuhnya untuk bicara pada Emir. "Ingat jagoan Ayah harus sayang sama Bunda, sayang sama guru...."


"Sayang sama teman-teman di sekolah dan jadi anak baik." lanjut Emir memotong perkataan sang ayah yang setiap pagi diucapkan sampai dia hapal di luar kepala.


"Good boy." ucap Galih lalu mencium kening putranya.


"Ayo Kak." ajak Galih pada Kania.


"Kakak berangkat Bunda." pamit Kania pada Mala.


"Iya sayang, hati-hati dan bekalnya jangan lupa dimakan." jawab Mala yang diangguki sang putri.


"Dah Adek." ucap Kania melambaikan tangannya pada sang adik setelah mendapat ciuman di pipi kanan dan kiri serta kening dari sang bunda.

__ADS_1


Mala melepas kepergian putri dan suaminya hingga kendaraan yang di tumpangi keduanya menghilang di balik pagar kediaman mereka.


"Ayo, sekarang Adek yang siap-siap ke sekolah." ajak Mala yang diangguki Emir dengan semangat.


Mala tersenyum melihat semangat putranya, Emir sejak usia tiga tahun sudah terlihat memilik kecerdasan diatas rata-rata. Mala bersyukur Tuhan telah mengabulkan doanya untuk bahagia bersama keluarganya.


Tiba di gerbang sekolah, seperti biasa Galih ikut turun mengantar putrinya hingga masuk ke halaman sekolah. Tapi dia tidak lagi memberikan wejangan yang melarang sang putri untuk berteman dekat dengan anak laki-laki seperti janjinya pada Mala.


"Pagi Ayah." sapa Rayen yang baru tiba pada Galih.


"Pagi juga jagoan Ayah, kesayangannya bunda." jawab Galih yang membuat Rayen terkekeh. Dia di ceritakan oleh Tari mamanya, waktu bayi dia jadi kesayangan bunda Mala yang membuat ayah Galih cemburu.


"Pagi Om."


"Pagi Arka." balas Galih pada Arkana putra Ezra dan Almaira yang dijodohkan oleh kakeknya denga Kania.


"Hai Kania." sapa Arkarna pada Kania yang di jawab Kania dengan mendengus, yang membuat Galih menatap tajam putrinya.


"Arka nyebelin." jawab Kania yang mengerti arti tatapan sang ayah.


"Kok gue yang nyebelin, yang ada juga elo yang nyebelin." jawab Arkarna membuat Galih mengurut keningnya.


Bukan sekali dua kali kedua anak ini berdebat, tidak sekali dua kali juga Galih menasehati Kania agar berteman baik dengan Arkarna. Tapi selalu saja keduanya seperti anjing dan kucing yang kembali bertengkar setelah didamaikan.


Lalu bagaimana jika keduanya tahu bahwa mereka telah dijodohkan sejak bayi. Galih menarik nafas panjang, kembali berpikir apa bisa kelak keduanya bersatu? Kasus putrinya dan Arkarna berbeda dengan kasus dirinya dan Mala. Meskipun sama-sama tidak tahu jika di jodohkan, Mala dan Galih tidak pernah bertengkar seperti Kania dan Arkarna.


"Kania, Arkarna. Berdamai." ucap Galih memberi perintah.


Mau tidak mau keduanya mengulurkan tangan untuk meminta maaf.


"Ayah tidak mau dengar Kakak ribut dengan Arkarna lagi." ucap Galih pada Kania.


"Arkarna, Om juga tidak mau kamu bertengkar lagi sama Kania." ucap Galih pada Arkarna.


"Kalau cowok ribut sama cewek nggak level, nggak kelihatan jagoan." bisik Galih pada Arkarna.


"Siap Om." jawab Arkarna.


"Sudah sana, sekarang kalian bertiga masuk kedalam kelas masing-masing." ucap Galih lagi memberi perintah pada ketiga anak sekolah dasar itu.


Galih memandang punggung Kania, Arkarna dan Rayen hingga ketiganya tak terlihat lagi, barulah Galih kembali masuk kedalam kendaraannya. Dia masih harus menunggu beberapa hari untuk melihat hasil bisikannya pada Arkarna. Jika menasehati Kania sulit, maka Galih harus bisa menasehati Arkarna untuk tidak mengajak Kania bertengkar.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2