
Jenazah Tias baru bisa di bawa pulang ke tanah air besok subuh, kabar itu di sampaikan oleh papa Tias pada istrinya. Galih mengajak Mala untuk pulang terlebih dulu ke kediaman bunda Sarah mengingat kediaman orang tua Tias dimana Mala dan Galih sekarang berada sangat dekat dengan kediaman bunda Sarah. Mala segera butuh istirahat, itu yang dipikirkan Galih, agar istrinya itu bisa mengikuti pemakaman Tias esok hari dengan kondisi tubuh yang fit.
"Mas, maafkan semua kesalahan Tias" ucap Mala pelan.
Keduanya sedang berbaring di tempat tidur, sama-sama menghadap langit-langit kamar. Mendengar ucapan istrinya, Galih berbalik menghadap Mala.
"Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya, bukan?" Mala mengangguk. Dia hanya ingin memastikan jika suaminya ikhlas memaafkan Tias.
"Mas sudah memaafkannya" lanjut Galih ucapannya.
"Terima kasih, Mas." ucap Mala yang ikut berbalik menghadap Galih.
Mata Mala masih terlihat sembab dan lelah, dia juga sudah mengantuk, tapi pikiranya tentang Tias, kembali membuatnya terjaga. Kenangan berdua satu persatu bermain di pelupuk matanya. Ada gelak canda tawa bersama, ada juga kala mereka menangis bersama dan ada juga kala mereka bertengkar.
"Tidurlah sayang, besok kita harus bersiap setelah subuh" ucap Galih sambil meletakkan tangannya diperut Mala.
"Dedek, juga bobo ya sama mama" ucap Galih mengusap perut istrinya membuat Mala terkekeh merasa geli.
"Dedek udah bobo, dengar papa bicara jadi bangun nih" jawab Mala menggoda suaminya.
Galih ikut terkekeh, setidaknya dia bisa membuat Mala kembali tersenyum dan tertawa. Galih bangun mengecup perut istrinya.
"Selamat bobo anak papa" ucapnya lagi.
Setelah mengucapkan kata-kata untuk buah hatinya, Galih kembali membaringkan tubuhnya dan menarik Mala untuk masuk kedalam rengkuhannya.
"Selamat tidur, sayang" kecup Gali pada kening Mala dan bibir istrinya.
Keduanya terlelap bersama, saling berpelukan. Hari ini cukup melelahkan bagi Mala dan Galih. Laki-laki itu bahkan membatalkan beberapa janjinya bertemu dengan klien tadi siang hingga dua hari kedepan. Tujuannya hanya satu, menemani Mala. Galih belum bisa meninggalkan Mala dalam kesendirian, dia takut istrinya terus menagisi kepergian Tias bila sendiri.
Suasana rumah duka sudah ramai di kunjungi para pelayat. Kabar kepergian Tias cepat sekali tersebar dan diketahui para saudara, kerabat dan teman-teman mereka.
Saat ini mereka yang ada di rumah duka sedang menanti kedatangan jenazah Tias bersama papanya dan juga dokter Erick. Laki-laki itu mengurus segalanya untuk kepulangan Tias, sementara Ardi dan Arfan yang sibuk mengurus pemakaman untuk Tias.
Dari tempat duduknya bersama bunda Sarah, Mala bisa melihat Galih sedang berbincang bersama Indra. Keduanya menjadi dekat setelah Indra membantu meredam berita keterlibatan Galih dan Mala, dalam kasus Rania.
Suaminya juga yang mengabarkan kepergian Tias pada Indra, yang dilanjutkan laki-laki itu menginformasikan pada teman-teman sekolah mereka.
__ADS_1
Tidak hanya teman sekolah, Mala juga melihat kehadiran teman-teman kuliah mereka. Bahkan Mala juga bisa melihat kehadiran Dito, laki-laki itu yang berperan memberi tahu pihak kampus setelah Zoya meminta ijin tidak bisa mengikuti Dito masuk kekelas mahasiswa baru.
Jenazah Tias tiba di rumah duka, tampak Abi dan juga Kiara turun dari kendaraan yang sama dengan papa Tias dan dokter Erick. Terlihat kesedihan diwajah Abi.
Abi langsung berlari begitu selesai menerima telepon, meninggalkan Kiara yang kebingungan.
"Kak, ada apa?" tanya Kiara sambil mengatur nafanya yang terengah mengejar Abi.
Mereka baru saja tiba dari Jeman. Sengaja tidak langsung kembali ke Indonesia melainkan ke Singapura untuk menemai Tias yang akan operasi. Begitu terkejutnya Abi saat ibunya memberi kabar tentang kepergian Tias.
"Tias, sudah pergi" jawab Abi pelan.
Sedih, tentu saja sedih, itu yang dirasakan Abi. Biarpun mereka tidak ada hubungan darah, tapi mereka sudah hidup di satu atap cukup lama. Rasa sayang sebagai saudara sudah tumbuh dihati mereka masing-masing.
Mala dan Zoya kembali terisak. Mereka diijinkan melihat wajah Tias untuk yang terakhir kalinya. Menahan air mata, Mala dan Zoya mencium kening Tias bergantian.
Pemakaman sudah selesai, Galih memapah tubuh Mala untuk masuk kedalam mobil. Mereka berpasan dengan Alan. Mala cukup terkejut dengan kehadiran sepupu suaminya itu. Seingat Mala, Alan tidak pernah mengenal Tias. Berbeda dengan Galih yang mengerti maksud dan tujuan Alan ikut hadir di pemakaman ini.
Alan bersimpuh di mahkam Tias, laki-laki itu mengumamkan kata meminta maaf. Dia menyesali apa yang pernah terjadi diantara mereka. Apa yang dilakukan alan terlihat dimata Kiara.
"Assalamualaikum, Pa" jawab Mala.
"Dimana suamimu, Nak?" tanya papa Andro.
"Mas Galih masih mandi, Pa. Kami baru pulang dari pemakaman" jawab Mala sambil menjelaskan.
"Siapa sayang?" tanya Galih begitu melihat istrinya sedang bicara dengan seseorang menggunakan ponsel miliknya.
"Pa, ini Mas Galih sudah selesai" ucap Mala memberi tahu papa Andro.
"Papa, Mas" beritahu Mala sambil menyerahkan ponsel Galih pada pemiliknya.
Entah apa yang dibicarakan anak dan bapak itu, tapi Mala bisa melihat jika itu sesuatu yang penting.
"Baik Pa, aku akan segera kekantor" jawab Galih mengakhiri panggilannya dengan papa Andro.
"Ada apa, Mas?" tanya Mala.
__ADS_1
"Seseorang mencari masalah dengan kita, dia bahkan berani memasukkan orang-orangnya di perusahaan kita." jawab Galih.
"Siapa dia, Mas?" tanya Mala lagi.
"Mas kekantor dulu untuk mencari tahu" jawab Galih yang mendapat anggukan dari Mala.
"Pergilah Mas" jawab Mala.
Galih menatap istrinya, seharusnya dia menenani istrinya yang masih berduka. Tapi masalah di perusahaan tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.
"Mas akan meminta Widya untuk menenani kamu di sini" ucap Galih.
"Tidak perlu, Mas. Aku tidak apa-apa sendiri." tolak Mala keiginan Galih untuk menghubungi sepupunya.
Widya tadi juga hadir di pemakaman Tias, tentu saja sepupunya juga ingin istirahat. Mala tidak mungkin mengganggu istirahat sepupunya.
Papa Andro menerima kabar dari Leo jika Galih, Leo dan juga Tari tidak ada di perusahaan untuk mengghadiri pemakaman sahabat Mala. Laki-laki paruhbaya itu sebenarnya menghubungi Leo untuk menayakan jadwal putranya. Ada sesuatu yang ingin dia bahas bersama Galih dan Arfan sebagai kedua pewaris perusahaan Andromega.
Mendengar berita itu, papa Andro memutuskan untuk datang keperusahaannya. Seperti biasa kehadirannya tetap menjadi sorotan para karyawan, mereka yakin ada sesuatu yang terjadi jika pendiri perusahaan tersebut datang ke perusahaan.
Naik kelantai atas, papa Andro tidak menemukan satupun orang disana.
"Bukankah seharusnya ada asisten Tari disini?" gumam papa andro sambil melanjutkan langkahnya keruangan miliknya.
Namun langkah papa Andro terhenti dipintu ruangan milik Galih. Terdengar suara didalam yang membuat papa Andro mendorong pintu yang tidak terkunci tersebut.
Papa Andro melihat seseorang tengah berdiri di depan lemari yang berisi berkas-berkas perusahaan. Orang itu tampak sibuk memeriksa satu persatu berkas.
Diam-diam papa Andro berjalan kemeja milik lagi dan menekan tombol darurat yang ada disana. Dengan begitu pihak keamanan akan segera keruangan Galih.
Siapapun orang yang ada didepannya tidak akan papa Andro lepaskan. Dengan memasuki ruangan pimpinan perusahaan tanpa ijin saja dia sudah salah, apa lagi sampai memeriksa berkas-berkas yang ada disana.
"Siapa kamu?" tanya papa Andro. Membuat orang tersebut terkejut karena tidak menyadari kehadiran papa Andro.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagi...
__ADS_1