BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
82. Kejutan.


__ADS_3

Masa kritis eyang Retno sudah berlalu, setelah tiga hari yang lalu nafasnya sempat berhenti sejenak. Sekarang eyang Retno sudah di pindahkan kekamar rawat inap dan Galih sang cucu kesayangan eyang Retno itupun masih setia menjaga orang yang sangat di hormatinya itu.


Galih juga sudah meminta ijin pada Mala, yang sudah pasti mengijinkan suaminya untuk tetap menemani eyang Retno hingga terjaga dari tidur panjangnya. Mala tidak akan kesepian, ada bunda Sarah dan Arfan yang menemani dan menjaganya, juga ada Zoya sahabat yang selalu setia berada di sisi Mala. Hal ini juga yang membuat Galih sedikit tenang jauh dari Mala.


Bukan Mala yang perlu di khawatirkan Galih, seharusnya dia khawatir dengan kondisi dia sendiri. Hampir setiap pagi Galih mengalami mual dan muntah, dia seperti wanita hamil yang mengalami morning sickness. Kondisi yang juga pernah Galih alami saat Mala diculik, lalu sembuh dengan sendirinya saat Mala sudah ada disampingnya. Sepertinya Galih mengalami sindrom kehamilan simpatik, yang terjadi padanya di saat dia jauh dari Mala.


"Mas, gimana keadaanmu?" tanya Mala khawatir. Sejak Galih di Solo, suami Mala itu telah memberitahu apa yang terjadi padanya.


"Tidak apa-apa sayang, Mas baik-baik saja." jawab Galih menenangkan Mala.


Ini sudah pukul delapan pagi, matahari sudah memberikan sinarnya sedikit lebih tinggi membuat rasa mual yang Galih rasakan hilang begitu saja.


"Sayang, kamu dimana?" tanya Galih heran begitu menyadari Mala saat ini tidak berada di rumah.


"Kenapa suaranya berisik sekali?" lanjut Galih pertanyaannya.


Sesuai jadwal yang sudah Mala berikan padanya, hari ini istrinya itu hanya akan berdiam diri di rumah saja. Tari sepupunya hari ini akan main kekediaman mereka. Sekertarisnya itu sudah mengambil cuti untuk melahirkan, menurut perkiraan kurang dua minggu lagi sepupunya itu akan melahirkan.


"Mala di rumah sakit, Mas."


"Rumah sakit" beo Galih.


"Kamu kenapa sayang? Sakit? Apanya yang sakit? Mas pulang sekarang, ya." tanya Galih panik begitu mendengar kata rumah sakit.


"Mala nggak apa-apa. Mas Galih nggak usah panik gitu." jawab Mala mencoba menenangkan Galih.


"Mala dirumah sakit, mengantar mbak Tari. Sepertinya dia akan melahirkan." jelas Mala, membuat Galih menarik nafas lega.


Pasalnya Galih baru saja memikirkan Mala, dia sedang merindukan istrinya itu. Sudah empat hari mereka terpisah, membuat Galih menahan rindu pada Mala. Saat mendengar Mala mengucapkan kata dirumah sakit, yang terlintas dikepala Galih sudah terjadi sesuatu pada istrinya.


"Bagaimana keadaan Tari sekarang?" tanya Galih setelah merasa lega karena Mala baik-baik saja.


"Mbak Tari masih diperiksa dokter Mery. Mala juga sudah mengabari bang Rian dan tante Lia. Mereka sedang dalam perjalanan kesini." jawab Mala.


"Kamu mengantar Tari kerumah sakit dengan siapa, sayang?" tanya Galih lagi.

__ADS_1


"Sama saya pak bos." sahut Zoya yang ikut mendengarkan percakapan Mala dan Galih.


"Titip Mala, Zoy." ucap Galih pada Zoya.


"Tenang pak bos, Mala aman di tangan Zoya." jawab Zoya.


"Iya, iya. Saya percaya sama kamu." sahut Galih lagi, membuat Zoya tersenyum lebar meskipun suami sahabatnya itu tidak bisa melihatnya.


"Eyang bagaimana, Mas?" tanya Mala.


"Masih belum sadarkan diri." jawab Galih sambil melihat eyang Retno yang masih betah memejamkan matanya.


Hendra, ayah dari Alan datang membawakan sarapan untuk keponakannya itu. Dia tahu kondisi Galih di pagi hari, yang selalu mual dan muntah. Dia sudah menyarankan Galih untuk pulang ke Jakarta, tapi keponakannya itu menolak dan bertahan di Solo.Tinggal mereka berdua yang bergantian menjaga eyang Retno saat ini, itu juga alasan mengapan Galih tetap bertahan di solo.


Lia, mama dari Tari itu harus pulang ke Jakarta karena Tari yang akan melahirkan tinggal menunggu waktu. Begitupun Papa Andro, dia juga harus kembali ke Jakarta untuk membuat laporan terkait kejahatan yang dilakukan Yamin pada keluarganya, serta mencabut laporan papa Andro terhadap mama Vina yang ternyata tidak bersalah. Dia juga kembali memipin Andromega untuk sementara, selama Galih di Solo.


"Le." panggil eyang Retno begitu membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah sosok Galih.


"Eyang, syukurlah eyang sudah sadar." ucap Galih begitu melihat eyang Retno yang memanggilnya.


"Alhamdulillah, Mas." jawab Mala senang.


Mala segera mengganti panggilannya dengan panggilan video, dia ingin melihat kondisi wanita yang sangat dihormati suaminya itu. Mala bisa melihat eyang Retno yang tengah bicara dengan Hendra, ayah Alan. Tidak lama suster yang dihubungi Galih masuk untuk memeriksa eyang Retno. Barulah setelah melihat kesibukan di kamar rawat inap eyang Retno, Mala mengakhiri pangilannya dengan Galih.


"Dimana Tari?" tanya Rian pada Mala tepat setelah Mala menutup panggilannya dengan Galih.


Rian segera meluncur kerumah sakit setelah Mala mengabari keadaan istrinya, Mala dan Zoya saat itu segera membawa Tari ke rumah sakit setelah Rian meminta tolong mereka untuk mengantarkan Tari. Sepupu dari Galih itu sudah merasakan sakit diperutnya yang mulai kontraksi.


"Masih di periksa dokter, Bang." jawab Mala.


"Keluarga ibu Mentari?" tanya suster yang baru keluar dari ruang pemeriksaan.


"Saya suaminya, Sus." jawab Rian.


"Bapak silakan masuk, ibu Tari minta ditemani keluarga atau suaminya." ucap suster itu memberi tahu.

__ADS_1


Sepeninggal Rian, sambil menungu diluar ruang persalinan, Mala dan Zoya sama-sama berdoa. Berharap proses persalinan Tari berjalan dengan lancar.


Melihat Dokter Mery keluar dari ruang persalinan, Mala segera mendekati dokter tersebut dan bertanya keadaan Tari.


"Bagaimana keadaan mbak Tari, dok?" tanya Mala setelah dia berdiri di hadapan dokter Mery.


"Ibu dan anak semuanya baik dan sehat. Ibu Tari baru saja melahirkan seorang putra." jawab dokter Mery yang memberikan kabar bahagia ini.


Mala mengucap syukur, Tari sudah melahirkan putranya dengan selamat. Eyang Retno juga sudah kembali sadarkan diri.


Tiga hari kemudian.


Eyang Retno kondisinya semakin membaik, dia sudah diijinkan pulang dan istirahat dirumah. Galih dan Hendra memutuskan untuk membawa eyang Retno ke Jakarta, disana mereka bisa memberikan perawatan yang lebih baik lagi pada eyang Retno. Selain itu, Hendra dan Galih tidak bisa lebih lama lagi meninggalkan perusahaan mereka.


Galih yang pulang ke Jakarta sengaja tidak memberi kabar pada Mala, dia ingin memberi kejutan pada istrinya itu. Dan disinilah sekarang dia berada, di kediaman miliknya.


"Mas Galih." ucap Mala tidak percaya melihat kehadiran sosok laki-laki yang dia rindukan selama satu minggu ini.


Galih tersenyum melihat Mala yang terkejut sambil berjalan mendekat.


"Apa kabar sayang?" sapa Galih.


Mala yang merasa dipermainkan Galih tidak menjawab sapaan suaminya itu, dia bahkan memasang wajah kesal. Bagaimana tidak, Galih baru saja menutup panggilan telepon mereka setengah jam yang lalu dan mengatakan padanya kalau suaminya itu masih berada di Solo.


"Sayang." panggil Galih.


"Mas Galih nyebelin." sahut Mala.


Ucapan Mala membuat Galih terkekeh sambil merengkuh tubuh istrinya untuk di peluk. Dia sudah sangat-sangat merindukan Mala. Tidak puas hanya dengan memeluk, Galih memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya.


"I miss you." ucap Galih.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2