BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
41. Saya Pikirkan Dulu


__ADS_3

Hati Zoya berteriak bahagia. Bukan tanpa sebab, melainkan saat ini dia bisa bersama laki-laki yang mengisi relung hatinya. Andai saja Zoya sedang berada di kamarnya seorang diri, sudah dapat dipastikan dia akan melompat kegirangan sambil berucap 'Biarkan Aku Bahagia' walau mungkin ini hanya terjadi sekali saja.


Ingin rasanya Zoya terus menyungingkan senyum, hanya saja dia takut terlihat aneh di mata dosen kesayangannya. Cukup baginya berbahagia dalam diam, sambil melirik sang pujaan hati yang konsentrasi dengan kemudinya. Ya, Zoya saat ini berada dikursi penumpang bagian depan kendaraan milik Dito, setelah laki-laki itu menawarkan untuk mengantar Zoya ke rumah sakit mengunjungi Tias.


"Mala, kenapa nggak bilang kalau pak bos yang jemput." Keluh Zoya begitu melihat sosok Galih berjalan dari parkiran ke arah mereka berdiri.


"Aku lupa, Mas Galih mau mengajak aku ke kediaman orang tuanya. Mbak Suti tadi mengabarkan, kalau papa Andro sedang sakit. Kamu mau ikut?" jawab dan tanya Mala pada Zoya.


"Nggak deh. Gue kerumah sakit aja"


"Siapa yang sakit?" Suara Dito yang bertanya membuat Mala membulatkan matanya pada Zoya. Sementara sahabatnya itu hanya bisa menunduk merasa bersalah sudah kelepasan bicara. Mereka sudah sepakat untuk tidak memberi tahu pada siapapun tentang Tias yang sakit, selain keluarga dan sahabat, seperti keinginan sahabat mereka itu.


"Tias, Pak" Mau tidak mau, Zoya harus menjawab. Dia bukan orang yang bisa berbohong dan akan sulit menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi.


"Kalau begitu, biar kamu saya antar" ucap Dito, yang mengejutkan Mala dan Zoya.


"Bapak tidak salah bicarakan?" tanya Zoya tidak percaya dengan tawaran Dito.


"Apa terlihat seperti itu?" Dito balik bertanya.


"Sayang." Panggilan Galih pada Mala menghentikan perdebatan Dito dan Zoya.


"Sudah selesai?" tanya Galih melanjutkan ucapanya.


"Sudah" jawab Mala sambil meraih punggung tangan suaminya untuk di salimi. Seperti biasa, Galih akan membalas dengan mengecup kening wanita yang dicintainya itu.


Dito yang melihat adengan mesrah dihadapannya hanya bisa memalingkan muka. Cemburu? Tentu saja rasa cemburu itu tetap ada, tapi dia bisa apa? Mala bukan jodohnya. Kata-kata itulah yang selalu jadi penguat bagi Dito.


"Pergi sekarang?" Pertanyaan Galih mendapat anggukan dari Mala.


"Zoy?" Cukup dengan menyebut namanya Zoya sudah mengerti maksud Mala yang bertanya padanya.


"Aku kerumah sakit dengan pak Dito" putus Zoya yang memilih bersama Dito, walau mungkin Tias akan marah padanya. Nasi sudah memjadi bubur, mau bagaimana lagi? Dia bisa menjelaskan pada Tias, nanti.


"Tias sakit apa?" tanya Dito setelah sekian lama mereka berdua hanya berdiam diri. Zoya yang biasanya suka banyak bicara, tiba-tiba diam seribu bahasa.


"Leukemia"

__ADS_1


"Sudah lama?" tanya Dito lagi.


"Baru tahu dua minggu yang lalu" Dito hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Zoya.


"Saya juga tidak melihat Ardi, dia kemana?" tanya Dito lagi.


"Ohh, Ardi sedang mengasingkan diri, Pak"


"Mengasingkan diri?" beo Dito. Zoya terkekeh, melihat ekspresi wajah Dito yang menurutnya lucu, karena tidak percaya dengan ucapannya.


"Ardi lagi mondok di pesantren, Pak." jelas Zoya, setelah menghentikan kekehannya.


"Oh ya?" Dito kembali tidak percaya.


"Kenapa Bapak seperti tidak percaya?"


"Tidak, bukan begitu maksud saya, hanya saja..., sudahlah. Semoga Ardi menjadi lebih baik lagi" Dito tidak melanjutkan ucapannya,


"Semoga" jawab Zoya yang juga ingin mendoakan sahabatnya itu.


Keduanya kembali diam dengan pikiran masing-masing. Zoya dengan hayalannya dan Dito dengan keinginannya untuk bicara sesuatu yang penting pada Zoya.


"Saya butuh asisten untuk membantu saya mengisi materi di kelas." Akhirnya Dito menawarkan hal penting itu. Dia melirik sekilas pada Zoya, lalu kembali melihat lurus ke jalanan. Berharap Zoya mau menerima, jika tidak? Untuk kedua kalinya dia ditolak.


"Apa kamu bersedia?"


"Saya?" Zoya balik bertanya.


Degup jantung Zoya tiba-tiba berdetak lebih cepat karena berdebar keras. Benarkah tawaran ini murni dari Dito? Jika dia menerima tawaran ini, bisa jadi ini langkah pertama untuknya bisa dekat dengan sang dosen? Tapi Zoya ragu. Apa yang harus Zoya katakan, terima atau tidak?


"Akan saya pikirkan dulu" jawab Zoya akhirnya.


Dito hanya diam, pandangannya kembali fokus pada jalanan. Ternyata apa yang Mala sarankan padanya, tak semudah yang dia bayangkan.


"Nurmala, apa kamu bersedia jika saya meminta kamu jadi asisten saya untuk mengisi materi dikelas?" tanya Dito setelah bahasan judul laporan magang dan skripsi yang Mala ajukan sudah dipilih.


"Maaf Pak, sepertinya tidak bisa. Suami saya pasti tidak akan mengijinkan"

__ADS_1


Jawaban Mala menyadarkan Dito, jika sosok wanita yang ada dihadapannya ini sudah menikah dan bukan wanita bebas. Dito melupakan itu, harusnya tidak dia lontarkan permintaannya pada Mala.


"Bagaimana kalau Zoya? Dia lebih teliti dari pada saya tentang perhitungan pajak, Pak."


"Saya dan yang lain sering meminta Zoya yang mengoreksi hasil perhitungan yang kami kerjakan" lanjut Mala ucapannya untuk menjelaskan.


"Apa Bapak ragu karena sikap Zoya?" tanya Mala, begitu melihat reaksi Dito hanya diam.


Tanpa menjawab pertanyaan Mala, Dito mengakhiri bimbingannya, membuat Mala segera pamit dari hadapan laki-laki itu.


Selepas kepergian Mala, Dito memikirkan apa yang disarankan dan apa yang ditanyakan mahasiswinya itu. Mala benar, Zoya mahasiswinya yang bisa dia andalkan, mahasiswinya itu sangat memahami materi perpajakan yang dia ajarkan, selain Mala.


Setelah memikirkan baik dan buruknya, akhirnya Dito mencoba menawarkan posisi itu pada Zoya. Dengan keyakinan tinggi Zoya akan langsung memerima tawarannya, tapi kenyataanya dia salah. Gadis itu tidak seperti yang dia pikirkan, dia pikir rasa suka Zoya dengannya, akan membuat gadis itu langsung menerima tawarannya. Tapi apa yang dia dengar, gadis itu meminta waktu.


Pikiran Zoya berdebat dikepalanya antara menyesal dan mendukung keputusanya. Bagaimana jika Dito tidak memberikan waktu padanya dan langsung mencari yg lain?


"Saya tunggu keputusan kamu sampai besok" ucap Dito, setelah mereka sama-sama diam.


Zoya bisa menarik nafas lega setelah mendengar ucapan Dito. Setidaknya ada harapan bagi Zoya untuk menjawab iya. Senyum kembali mengembang di wajahnya sambil mengangguk setuju pada Dito saat laki-laki itu melihat padanya. Tanpa Zoya tahu jika senyum yang dia berikan mampu mengetarkan hati Dito.


Mala dan Galih baru saja sampai di kediaman papa Andro. Pria paruh baya itu terlihat sedikit pucat saat keduanya menemuinya di kamar, dimana papa Andro tengah berbaring.


"Apa yang Papa rasakan?" tanya Galih begitu dia sudah berdiri di samping papanya.


"Dimana mama ?" tanya Galih lagi, begitu dia tidak menemukan mama Vina dikediaman orang tuanya.


"Duduklah" Papa Andro menepuk kasur disisinya, memerintahkan putranya untuk duduk.


"Kamu juga Nduk" Perintah Papa Andro pada Mala, sambil menunjuk bangku yang ada di samping tempat tidurnya.


Papa Andro bergantian melihat pada Galih dan Mala, dia tersenyum pada anak dan menantunya. Berharap keduanya akan hidup rukun dan bahagia, tidak seperti dirinya yang harus kehilangan orang yang dicintainya lebih cepat dari yang dia bayangnkan. Galih putranya itulah sumber kebahagiaannya, sayangnya kebahagian itu akan dirusak oleh orang yang tidak pernah dia sangka. Senyum bahagia di wajah papa Andro seketika menghilang, begitu dia mengingat hal yang menyesakkan dada membuatnya lemah seperti saat ini.


"Ada apa Pa?" tanya Mala begitu menyadari perubahan wajah papa Andro.


Laki-laki yang terlihat lemah itu mendesah. "Ada hal penting yang harus kalian ketahui."


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2