BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Cinta Sepahit Ini


__ADS_3

Hari ini jadwal Mala bimbingan skripsi, sebelum kecelakaan Mala sudah mempersiapkan semuanya, sampai dia kekurangan waktu istirahat dan tidur.


Bukan Galih jika tidak menghawatirkan istrinya, dengan banyak wejangan dan peringatan dari laki-laki itu, Mala akhirnya diijinkan ke kampus menemui Dito, dengan catatan dia harus di dampingi Zoya dan para pengawal yang biasa Galih perintahkan untuk menjaga istrinya. Keputusan tidak dapat di tolak jika ingin mendapatkan ijin.


Disinilah Mala sekarang berada, di ruangan dosen tepat di depan meja Dito, ditemani Zoya sang sahabat.


"Apa yang terjadi sama Kamu, Nurmala?" tanya Dito begitu melihat luka di kepala Mala.


"Habis berkelahi dia, Pak," jawab Zoya.


Dito menatap Mala tidak percaya, sementara Mala menahan tawa mendengar jawaban Zoya sambil menyenggol sahabatnya itu dengan sikutnya.


"Bercanda Pak," ucap Zoya sambil terkekeh.


"Mala kecelakaan, tiga hari yang lalu," lanjut Zoya ucapannya, memberi tahu Dito.


"Kamu baik-baik saja, kan?" Dito memalingkan pandangannya dari Zoya dan langsung menatap Mala. Tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan Dito, Mala sedikit menundukkan kepalanya.


Sorot mata penuh cinta itu sangat terlihat, Zoya yang memandang Dito, menatap kecewa pada laki-laki itu. Cinta laki-laki itu untuk Mala belum padam, bagaimana bisa Zoya masuk kesana?


"Mengapa tidak ada yang memberi tahu saya?" tanya Dito sedikit kecewa.


"Harusnya kamu juga tidak perlu memaksakan diri untuk datang hari ini," lanjut Dito ucapannya, setelah sadar pertanyaan yang dia ajukan sebelumnya sebuah kesalahan. Siapa dirinya bagi Mala, sehingga wanita yang dihadapannya ini harus memberitahu keadaanya.


"Saya baik-baik saja, Pak. Kalau saya tidak sanggup pasti saya akan minta waktu ulang untuk bimbingan," jawab Mala.


"Ini Pak, tolong dikoreksi."


Mala menyerahkan hasil kerjanya selama satu minggu terakhir. Dito mengambil tumpukan kertas yang Mala berikan padanya. Tidak bisa berkonsentrasi seperti biasanya, Dito menyusun kembali lembaran kertas tersebut.


"Akan saya periksa nanti" ucapnya.


"Jangan lama-lama, Pak. Saya ingin cepat selesai. Sebelum..." Mala ragu melanjutkan perkataannya.


"Sebelum kandungan Mala membesar, Pak" lanjut Zoya ucapan Mala.


"Oh" hanya kata itu yang keluar dari mulut Dito.


Ada rasa kecewa yang hadir begitu saja dibenak Dito, begitu Zoya memberitahu tentang kehamilan Mala. Kalah, bukankah Dito sudah kalah sejak Mala menerima perjodohannya. Dengan kesadaran penuh Dito mengakuinya.


"Besok akan saya titipkan sama Zoya" jawab Dito.


Mala mengangguk. "Permisi Pak" ucap Mala, dia langsung berdiri begitupun dengan Zoya yang mengikutinya.


"Selamat... selamat atas kehamilannya" ucap Dito dengan suara yang sedikit bergetar.


"Terima kasih." Seulas senyum Mala berikan pada pria itu.

__ADS_1


Dito menatap punggung Mala yang menghilang dibalik pintu. Dengan berat hati walau sulit, Dito harus merelakan hatinya pergi. Dito lelah sendiri, berusaha untuk melepaskan dengan ikhlas hati, tapi tetap saja dia merasakan sakit tak bisa memiliki. Cintanya sepahit ini.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Mala pada Zoya begitu mereka sudah duduk ditaman yang ada depan gedung fakutas ekonomi.


Sebagai sahabat, Mala faham apa yang dirasakan Zoya. Inilah sebab mengapa Mala menolak usulan Galih saat laki-laki itu mewajibkan Zoya menemaninya menemui Dito.


"Maaf Zoy" ucap Mala setelah Zoya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.


"Mengapa harus minta maaf? Bukan salah kamu, juga bukan salah siapa-siapa."


Zoya sudah biasa sakit melihat Dito yang menatap Mala penuh cinta. Bukan salah laki-laki itu, bukan juga salah sahabatnya. Bukan salah dia juga yang jatuh cinta pada hati yang salah.


"Zoya" Zoya melihat Mala yang memanggilnya.


"Kamu tahu? Selama ini ada seseorang yang mengagumi kamu, Zoy"


"Pak Leo" jawab Zoya.


Mala tersenyum. Sahabatnya bukan wanita yang tidak peka, tentu saja Zoya bisa membaca sinyal-sinyal yang diberikan sahabat suaminya itu pada sahabatnya.


"Dia baik Zoy" Zoya mengangguk setuju.


"Sangat Baik" jawab Zoya sambil mengingat kedekatannya beberapa hari ini dengan Leo.


"Lebih baik di cintai dari pada mencintai tapi sakit." ucap Mala.


"Dicintai membuat kita merasa sangat dihargai, Zoy. Pada akhirnya kitapun akan jatuh pada hatinya yang tulus mencintai."


"Iya, gue bisa lihat itu di elo" jawab Zoya.


Bercermin pada sahabatnya, Zoya akan melakukan hal yang sama. Dia berhak untuk bahagia, membuka hatinya untuk dia yang mencintainya.


"Aku ingin bahagia dan biarkan aku bahagia" ucap Zoya menyemangati dirinya sendiri. Mala tersenyum senang, Zoya sering terbawa emosi, tapi dia juga cepat melupakannya.


"Gue langsung pulang Zoy" pamit Mala pada Zoya.


"Tias dirawat lagi. Sory, gue lupa baru ngomong sekarang," ucap Zoya memberitahu Mala.


"Sejak kapan?"


"Baru kemarin sore. Mau nenggok?" tanya Zoya.


"Gue ijin dulu."


"Iya deh yang punya suami." Goda Zoya sambil tertawa.


Tias kelelahan saat Mala kecelakaan, daya tahan tubuhnya turun meskipun sudah mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter Erick. Dua hari istirahat di rumah tidak membuatnya lebih baik. Disinilah dia sekarang, berbaring di ranjang rumah sakit dengan jarum infus yang tertancap di tangannya.

__ADS_1


"Saya sudah bilang sama kamu, berhenti melakukan kegiatan apapun jika sudah lelah" ucap dokter Eric mengingatkan Tias.


"Maaf, Dok" jawab Tias. Dia memang salah, Abi kakaknya sudah mengingatkanya waktu itu. Tapi Tias dengan segala keinginannya merasa kuat dan baik-baik saja.


Dokter Erick tersenyum sambil mengusap lembut pipi Tias. Wajah Tias mengingatkan dia dengan sosok wanita yang dulu dia cintai.


"Saya punya kabar baik untuk kamu," ucap dokter Erick.


"Untuk saya atau Dokter? Saya melihat sepertinya Dokter yang sangat bahagia. Dokter baru dapat pacar ya?" goda Tias.


"Baru mau dapat, belum dapat" jawab dokter Erick.


"Tapi yang ingin saya sampaikan ini kabar baik untuk kamu"


Dokter Erick mengembalikan topik pembicaraan mereka. Masalah hatinya, dokter muda itu membiarkan waktu yang nanti akan menjawabnya. Sekarang kesehatan Tias jauh lebih penting baginya.


"Sudah ada pendonor yang ingin mendonor untuk kamu"


"Benarkah, Dok?" Dokter Erick mengangguk.


"Sehatkan dulu kondisi tubuhmu, setelahnya kita persiapkan fisikmu untuk bisa operasi sebelum kita terbang ke Singapura"


Tias tidak dapat menyembunyikan kebahagiannya, rasa bahagia yang sekarang dia rasakan menghilangkan rasa sakit yang dua hari ini menyiksanya. Tias akan sangat berterima kasih pada pendonor itu.


"Kamu siap?" tanya dokter Erick.


"Sangat siap, Dok" sahut Tias.


Mala menarik nafas panjang, sudah tiga kali dia menghubungi Galih tapi tidak ada jawaban dari seberang sana.


"Bagaimana?" tanya Zoya.


"Tidak diangkat" jawab Mala dengan sedikit kecewa.


Bahkan Galih juga belum menghubunginya sejak terakhir mereka berbicara saat tadi Mala tiba di kampus. Biasanya suaminya rajin mengirimkan pesan atau menghubunginya sebelum beralih melakukan aktifitas yang lain.


Drett... drett. Ponsel Mala bergetar, senyumnya mengembang, Galih yang menghubunginya.


"Hallo Mas"


Bukan suara Galih yang balik menyapanya, melainkan suara ******* kenikmatan wanita dan pria. Apa yang dilakukan suaminya? Sakit, Mala merasa dadanya sesak, perutnya bergejolak dan tangannya bergetar membayangkan suaminya bergumul bersama wanita lain.


"Mas Galih..." panggil Mala lirih.


Brukk


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2