
Terdengar suara keributan di luar, Mala yang baru saja keluar dari kamar mandi mencoba melihat dari jendela. Terlihat seorang wanita sedang bersitegang dengan seorang penjaga. Tidak puas dengan hanya melihat dari jendela, Mala melangkahkan kakinya ke balkon yang ada di kamarnya.
"Sudah saya katakan saya hanya ingin mengambil barang-barang saya yang masih tertinggal di rumah ini." ucap wanita itu
"Maaf nyonya, anda sudah tidak ada hak lagi di rumah ini." jawab pengawal yang mengenali siapa wanita di hadapannya saat ini.
"Saya tahu, tapi apa tidak bisa saya mengambil barang-barang saya" tanya wanita itu dengan kesal.
Mata wanita itu menangkap sosok Mala yang berdiri diatas balkon, rencananya berhasil, dia bisa melihat Mala dengan membuat keributan.
"Katakan pada tuan kalian, saya Nita mantan istrinya meminta ijin masuk untuk mengambil barang-barangnya yang masih tertingal dirumah ini." ucap Nita dengan keras, dia ingin Mala bisa mendengar ucapannya.
Seperti yang Lila dan Nita rencanakan, Mala merasa mengenali nama Nita yang di sebutkan wanita itu.
"Nita?" beo Mala, mencoba menginggat dimana dia mengenal nama Nita akhir-akhir ini.
Mala menarik nafas lega, dia ingat nama itu, nama kakak dari Lila yang diceraikan suaminya. Dan ini kediaman suami Nita, Mala menggelengkan kepalanya.
"Jadi..." ucap Mala yang kini mulai tahu siapa yang membawanya ke kediaman ini.
"Non." panggil bibi yang melayani Mala.
"Bi, dimana Dirga?" tanya Mala.
"Non sudah tahu?" bibi itu balik bertanya.
Tentu saja Mala tahu nama Dirga, dia tidak akan lupa dengan pria itu. Pria yang menghampirinya saat dia berada di toilet, di luar dugaan Dirga mendorongnya ke tembok dan mengunci Mala dengan kedua tangannya.
"Cantik. Kamu semakin cantik sekarang." ucap Dirga pada Mala sambil tersenyum mengagumi.
Bukan takut atau tersipu dengan pujian Dirga, Mala memberanikan diri untuk menantang laki-laki itu.
"Jangan bersikap kurang ajar, saya bisa melaporkan anda dengan kasus pelecehan." ucap Mala mengancam Dirga.
"Kamu tidak berubah ternyata, sayangnya sikap pemberanimu ini yang membuat aku semakin suka kamu, Azhara." ucap Dirga.
Deg. Satu orang yang Mala kenal yang suka memanggilnya Azhara, seorang pemuda yang dulu menjadi pengagum rahasianya. Mala menatap tajam Dirga, mencoba mengingat wajah yang menurutnya memang tidak asing itu.
"Tama." ucap Mala.
__ADS_1
Senyum diwajah Dirga mengembang, tidak disangka Mala masih mengenali dirinya. Hanya pada Mala dia memperkenalkan diri sebagai Tama
"Apa kabar, sayangku?" jawab Dirga sambil berbisik di telinga Mala, membuat istri Galih itu memalingkan wajahnya tidak suka.
"Ternyata kamu masih mengingat pengagum rahasiamu ini." lanjut Dirga ucapannya sambil tersenyum senang.
"Senang bisa melihatmu lagi, Azhara. Selama ini aku mencarimu, gadis kecilku."
"Sayangnya kita bertemu di waktu yang tidak tepat." lanjut Dirga ucapannya sambil menatap lekat wajah Mala yang dia angkat agar bisa membalas tatapannya.
Mata mereka bertemu yang langsung diputus Mala dengan kembali memalingkan wajahnya. Cup, Dirga mengecup pipi Mala, dia tertawa kecil lalu berlalu dari hadapan istri Galih itu.
"Aku tidak akan keberatan kalau kamu ingin melaporkan ini sebagai pelecehan." ucap Dirga sebelum hilang dibalik pintu toilet.
Mala memegang pipi yang tadi dikecup Dirga, dia merasa dejavu. Dirga pernah melakukan hal ini, dulu dikala terakhir mereka bertemu. Laki-laki itu pamit akan pegi ke luar negeri padanya. Saat itu, Dirga tiba-tiba mengecup pipi Mala sebagai kecupan perpisahan.
Semoga saja ini juga sebagai kecupan perpisahan dan laki-laki itu kembali hilang dari kehidupannya. Sayangnya harapan Mala kini tidak menjadi kenyataan, nyatanya laki-laki itu kini menculik dan mengurungnya di kediaman ini.
Dia harus bertemu Dirga dan menanyakan pada laki-laki itu apa yang di inginkannya? Bukankah Dirga bertunangan dengan Syifa? Bagaimana wanita itu jika tahu Dirga menyanderanya disini?
Bukan itu yang jadi masalah bagi Mala, dia tidak peduli dengan mantan kekasih kakaknya itu. Yang dia pikirkan saat ini, dia harus bisa keluar dari kediaman ini.
"Saya hanya menebak" jawab Mala berbohong.
Terlintas dalam pikiran Mala, dia tidak boleh menunjukkan apa yang dia ketahui. Mala sempat melihat Nita yang melirik padanya. Mala berharap Nita memberi tahu Lila, lalu pengacara keluarganya itu akan memberi tahu Galih dan Arfan.
Karena itu Mala berbohong, dia harus lebih sabar lagi terperangkap di kediaman ini sampai Galih dan Arfan membebaskannya. Setidaknya Mala sudah tahu motif apa yang membawanya sampai disini. Dirga laki-laki yang sulit di tebak, sejak dulu Mala tidak bisa memahami laki-laki itu.
"Siapa wanita itu, Bi?" tanya Mala pura-pura tidak tahu siapa Nita.
"Bukan siapa-siapa, Non." jawab asisten rumah tangga itu.
Mala tersenyum, wanita ini sangat setia pada Dirga. Sepertinya Dirga juga sangat memberi kepercayaan pada wanita ini.
"Saya sudah menyiapkan susu dan sarapan untuk Non. Sebaiknya Non masuk." ucap bibi itu.
Mala mengerti mengapa dia diminta masuk, mungkin Dirga ingin menemui Nita dan tidak ingin dia melihat laki-laki itu.
Lila menemui Arfan dan Galih untuk memberikan laporan pada kedua pria itu.
__ADS_1
"Mala memang ada di kediaman itu." ucap Lila.
Rencananya untuk meminta bantuan Nita berhasil, kecurigaan kakak Mala itu ternyata benar. Bermula dari Arfan yang mengingat jika dia merasa mengenal Dirga, tapi dia lupa dimana dia mengenal laki-laki itu.
Saat Lila bercerita, dia, Mala dan juga Galih menghadiri undangan pertunangan Dirga dan Syifa. Lila melihat jika pandangan Dirga tidak pernah lepas dari Mala. Yang lebih membuat Lila penasaran adalah saat Mala ijin pada Galih ke toilet, tiba-tiba Dirga juga berjalan ke arah yang sama.
Merasa tingkah Dirga mencurigakan, Lila menyusul Mala ke toilet. Benar saja, laki-laki itu masuk ke toilet wanita di mana Mala berada. Sayangnya Lila tidak bisa masuk, karena ada penjaga yang berdiri didepan pintu toilet yang Lila tahu jika itu adalah orang yang biasa menemani Dirga.
"Apa yang Dirga lakukan padamu di dalam sana?" tanya Lila begitu Mala keluar dari toilet.
"Tidak ada, dia hanya menyapaku sebagai teman lama." jawab Mala.
"Kamu kenal dia?" tanya Lila lagi.
"Saat aku masih SMP."
Jawaban Mala membuat Lila merasa jika Dirga merasa mengenal Mala saja, dan itu berarti bukan sebuah hal penting. Terlebih lagi dia melihat Mala baik-baik saja.
Mendengar cerita Lila, Arfan mengingat pengagum rahasia Mala. Saat itu Mala baru saja masuk sekolah menengah pertama, adiknya itu sering mendapat kiriman bunga segar yang akhirnya Arfan dan Mala tahu jika itu pemberian dari pemuda bernama Tama, tetangga yang tinggal di ujung jalan dekat rumah mereka.
"Tapi pemuda itu namanya Tama." ucap Arfan.
"Dirga Pratama" ucap Lila.
"Mama dan neneknya juga memanggil Dirga dengan panggilan Tama." lanjut Lila ucapannya memberi tahu Arfan.
"Mungkin saja Dirga yang menculik Mala. Laki-laki itu sulit di tebak sikap dan tindakannya." ucap Arfan.
"Itu memang benar, mbak Nita juga sering mengeluh tentang sifat Dirga yang seperti itu." timpal Lila ucapan Arfan.
Mengingat Dirga mantan saudara iparnya, maka Lila meminta bantuan Nita untuk membuktikan keberadaan Mala di kediaman Dirga.
Bukan hanya Nita yang bisa melihat keberadaan Mala, Lila yang menunggu Nita di dalam kendaraannya juga bisa melihat Mala yang berdiri di balkon. Istri Galih itu tampak baik-baik saja, membuat Lila sedikit lega.
"Rencanaku untuk menemukan keberadaan Mala sudah berhasin. Selanjutnya aku serahkan pada kalian berdua." ucap Lila.
"Kita secepatnya harus bertindak, sebelum laki-laki itu bertindak lebih jauh." Galih yang bicara dan mendapat anggukan dari Arfan dan Lila.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagi...