BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
84. Pernikahan Zoya dan Leo


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Zoya dan Leo. Sudah sejak malam, Mala dan Galih datang ke hotel untuk menginap. Hotel di mana akad nikah dan pesta pernikahan Zoya dan Leo akan di gelar.


Selesai sarapan bersama Galih, Mala ikut menemani Zoya. Sahabatnya itu akan di rias oleh Vanya, sepupu Ardi yang punya salon kecantikan tempat mereka biasa memanjakan diri.


"Apa yang terjadi sama kamu, Zoya?" tanya Vanya begitu melihat mata Zoya terlihat sedikit bengkak.


"Kamu menangisi apa?" tebak Vanya yang yakin mata Zoya membengkak karena menangis.


"Gue semalam ingat Tias Mbak." jawab Zoya yang dibenarkan Mala.


Semalam Mala dan Zoya mengenang masa pertama kali mereka bertemu, mengenang masa itu tentu saja mereka tidak bisa menghilangkan sosok Tias yang juga ada dalam peesahabatan mereka.


"Tias janji ke gue, dia akan menghadiri pernikahan gue, La." ucap Zoya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tias datang Zoy, dia akan menepati janjinya sama elo. Dia selalu ada bersama kita." jawab Mala.


Mendengar jawaban Mala, Zoya menangis, dia merindukan Tias. Sahabat yang tidak bisa mereka lupakan, selamanya ada dibenak mereka.


"Dia sudah tenang Zoy, biarkan dia bahagia disana." ucap Mala lagi, dia juga sama seperti Zoya yang merindukan Tias.


Vanya hanya bisa diam mendengar cerita Mala, dia juga mengenal Tias. Tentu saja dia bisa mengerti perasaan Zoya dan Mala pada sahabat mereka itu.


Untung saja Vanya ahli dalam menghias wajah seseorang, mata bengkak Zoya bukan jadi penghalang. Sahabat Mala itu tetap terlihat cantik hari ini, di hari yang bersejarah untuk Zoya. Bukan hanya Zoya, Mala juga tak kalah dibuat cantik oleh Vanya, membuat Galih tidak bisa berpaling menatap wajah istrinya.


"Sana, Mas Galih temani Kak Leo aja." usir Mala saat Galih mengikutinya ke ruangan dimana Zoya berada.


"Saat acara akad selesai jangan jauh-jauh dari Mas." pesan Galih sebelum meninggalkan Mala.


Keluarga dan orang-orang terdekat Zoya dan Leo sudah menunggu di ballroom hotel, dimana pagi ini Leo akan mengucapkan akad untuk mengesankan Zoya menjadi istrinya.


Mala masih setia menemani Zoya di ruang tunggu untuk mempelai wanita. Sementara Galih duduk menemani Leo, dia diminta oleh asisten dan juga sahabatnya itu untuk menjadi saksi pernikahan.


"Sah." ucap Galih dan para saksi yang lain, begitu Leo mengucapkan ijab kabul dengan lancar.


Mendengar kata sah diluar sana, Mala langsung memeluk Zoya. "Selamat sayangku." ucap Mala.


Kini sahabatnya itu sudah sah menjadi istri seorang Leo, laki-laki yang mencintai Zoya tanpa syarat. Keputusan Zoya untuk menerima Leo sangat di dukung oleh Mala, dia yakin Zoya akan bahagia bersama Leo. Dari pada sahabatnya itu harus terus mengharapkan cinta Dito yang tak kunjung terlihat hilalnya.


"Peluknya jangan kencang-kencang, Mala." tegur Vanya. Dia sudah mendandani Zoya dengan sempurna, tidak ingin riasan dan kebaya yang dikenakan Zoya rusak.


Mala terkekeh, dia lupa Zoya sudah cantik dan rapi. Sebentar lagi sahabatnya itu akan dipanggil keluar untuk menemui Leo, yang sudah sah menjadi suami Zoya.


"Lupa Mbak" jawab Mala yang mendapat gelengan kepala dari Vanya.

__ADS_1


"Mempelai wanitanya bisa keluar sekarang dan langsng duduk disamping mempelai pria." ucap salah satu WO yang menangani acara akad nikah Zoya dan Leo.


Mala ikut mengiringi Zoya yang keluar dari ruang tunggu. Tiba di ballroom, Mala bisa melihat Galih dan Leo yang ada di meja yang disiapkan untuk acara akad nikah.


"Zoya, kak Leo ganteng banget lho." bisik Mala Menggoda Zoya, membuat sahabatnya itu yang sejak diruang tunggu merasa gugup semakin gugup.


"La..." jawab Zoya pelan.


"Jangan tegang begitu makanya."


Apa yang diucapkan Mala disetujui oleh tante Zoya yang ikut mengiringi Zoya keluar.


"Benar Zoy, ini tangan kamu dingin banget lho." timpal tante Zoya.


"Tante..." panggil Zoya adik dari ibunya itu dengan nada manja.


"Sttt jangan sok manja, lihat tuh kak Leo dari tadi nggak berpaling ngelihat elo, Zoy."


"Laki lu juga sama" jawab Zoya membuat tante Zoya yang bisa mendengar bisik-bisik dua sahabat itu menggelengkan kepala.


"Sudah jangan debat lagi." tante Zoya mengingatkan keduanya. Saat ini mereka jadi sorotan banyak mata.


Acara akad nikah sudah selesai dan berjalan lancar, setelah Zoya dan Leo menandatangani buku nikah keduanya. Acara akan langsung dilanjutkan dengan pesta pernikahan, yang digelar di tempat yang sama.


Zoya sudah duduk di pelaminan bersama Leo, sementara Mala sudah duduk bersama Galih. Seperti pesan suaminya, Mala tidak boleh jauh dari Galih.


"Sayang, jangan terlalu murah senyum." bisik Galih membuat Mala menatap heran.


Ada apa dengan Galih? Selama ini suaminya itu tidak pernah mempermasalahkan Mala tersenyum pada siapa saja. Rasanya tidak mungkin suaminya itu cemburu pada Dito yang membalas senyumnya. Galih tahu banyak tentang Dito yang selalu Mala tolak setiap laki-laki itu menyatakan cinta.


Belum sempat Mala menjawab ucapan Galih, Dito sudah menyapa mereka lebih dulu.


"Apa kabar, Pak Galih?" sapa Dito pada Galih sambil mengulurkan tangannya.


"Baik Pak Dito" jawab Galih sambil membalas uluran tangan Dito.


"Pak, saya masih punya jadwal satu kali pertemuan lagi." ucap Mala saat Dito akan menjabat tangan Mala yang hanya dibalas Mala dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Seharusnya itu satu bulan yang lalu." jawab Dito setelah laki-laki itu memperkenalkan wanita yang menemaninya siang ini.


"Apa ada masalah dengan perbaikan yang saya sarankan?" tanya Dito lagi. Dia tidak tahu dan tidak ada yang memberi tahunya jika Mala di culik saat jadwal bimbingan skripsi dengannya.


"Tidak Pak, semua sudah selesai tinggal Bapak koreksi."

__ADS_1


"Satu minggu ini saya ada di kampus, kamu bisa datang kapan saja." jawab Dito.


Mala hanya mengangguk menyetujui ucapan Dito, dia bisa melihat jika wanita yang ada disamping Dito tampak tidak suka melihatnya berbincang dengan Dito. Mala salah, wanita itu tidak mempermasalahkan dia yang bicara dengan Dito, tapi wanita itu tidak nyaman berhadapan dengan Galih. Apa lagi suami dari Mala itu menunjukkan tidak suka dengan kehadirannya.


"Besok saat kamu bimbingan, katakan pada Dito untuk tidak memilih wanita itu jadi pendampingnya." ucap Galih.


"Mas kenal wanita itu?" tanya Mala penasaran. Dia baru saja merasa bersyukur Dito sudah memiliki pasangan, tapi mengapa Galih tampak tidak suka. Apa ini juga yang membuat Galih melarangnya tersenyum? Bukan cemburu pada Dito tapi Galih tidak suka dia bersikap ramah pada wanita yang datang bersama Dito.


"Hemm." jawab Galih singkat.


Mala tidak akan memperpanjang percakapan mereka kalau Galih sudah mengeluarkan jawaban pamungkasnya, dia akan membahasnya nanti, diwaktu yang tepat.


Sementara itu yang mereka bicarakan sudah berada di pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada Zoya dan Leo. Senyum yang ditebarkan Leo sejak pesta dimulai seketika lenyap, Zoya sempat memperhatikan perubahan sikap laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu. Zoya berpikir Leo cemburu pada Dito, tapi Zoya salah menduga. Wanita yang ada disamping Dito yang menjadi penyebabnya.


"Selamat." ucap Dito menjabat tangan Leo.


"Cepat menyusul ya, Pak." ucap Zoya membalas ucapan selamat Dito sambil melirikan matanya pada wanita yang ada di samping Dito.


Dito hanya tersenyum mendengar ucapan Zoya, secepat inikah Zoya melupakannya? Dito salah, bukan Zoya yang mudah berpaling, tapi dia lelah mengharapkan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bersama Leo Zoya merasa dihargai dan dicintai, tidak salah jika Zoya akhirnya memilih Leo menjadi suaminya.


"Kamu kenal sama wanita itu?" tanya Leo disela sela menerima tamu yang lain.


"Enggak, kenapa?"


"Bukan apa-apa." jawab Leo yang tidak ingin memperpanjang percakapan mereka tentang wanita yang datang bersama Dito.


Mala yang baru saja keluar dari bilik toilet terkejut saat melihat wanita yang datang bersama Dito sudah menunggunya dan langsung memberikan ancaman.


"Jangan coba-coba mencampuri hubunganku dengan Dito."


"Saya tidak mengerti maksud anda." jawab Mala ancaman wanita itu.


"Galih pasti bicara buruk tentang saya."


"Suami saya bukan orang yang suka membicarakan orang lain, apalagi jika orang itu bukan orang yang penting baginya." beritahu Mala membuat wanita itu terdiam mendengar jawaban Mala.


"Jika ingin mempertahankan hubungan anda dengan pak Dito, bersikaplah menjadi wanita yang layak dipertahankan oleh seorang pria."


"Pantaskah diri anda untuk menjadi pendamping laki-laki baik seperti pak Dito." lanjut Mala.


"Jangan takut terlihat buruk jika anda tidak melakukan keburukan." Mala mengakhiri nasehatnya dan berlalu dari hadapan wanita itu.


Pesan Galih untuk Dito sepertinya harus Mala sampaikan pada dosen pembimbingnya itu. Tapi Mala harus mencari tahu dulu siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2