
Indra masih saja sibuk memperhatikan wanita yang sekarang tampak sedang dimarahi oleh pria yang merebut bukunya. Tanpa dia sadari, Tias yang berada di dekatnya kini menahan hidungnya yang terus mengalirkan darah. Ini bukan untuk pertama kalinya Tias alami, akhir-akhir ini sering sekali hidungnya mengeluarkan darah, tapi tidak sebanyak kali ini.
"Tias, lo kenapa?" tanya Indra begitu laki-laki itu menyadari kondisi Tias, karena temannya itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Tolongin gue, Ndra. Ini tidak mau berhenti" tunjuk Tias pada hidungnya yang terus mengeluarkan darah.
Tanpa banyak bicara, Indra menyetop taxi dan meminta diantarkan ke rumah sakit terdekat.
"Teman saya kenapa dok?" tanya Indra begitu dokter yang merawat Tias keluar dari ruang pemeriksaan.
"Apa dia sering mengalami ini?" tanya dokter tersebut.
"Saya tidak tahu dok. Saya baru bertemu dia hari ini." jelas Indra pada dokter itu.
"Bisa meminta keluarganya datang?" tanya dokter itu lagi.
"Bisa saya yang mewakili keluarganya?" Indra balik bertanya.
"Kami berdua dari Jakarta" lanjut Indra ucapannya untuk menjelaskan.
"Saya belum yakin, tapi melihat tanda-tandanya kemungkinan teman anda terkena kanker darah atau sering disebut leukemia." jelas dokter tersebut pada Indra.
"Sebaiknya teman anda diperiksa secara lengkap untuk memastikannya lagi, supaya bisa mendapatkan pengobatan yang tepat."
"Apa dia sudah bisa saya bawa pulang ke Jakarta dok?" tanya Indra lagi.
"Kita lihat kondisinya saat dia bangun" Dokter itu menjawab pertanyaan Indra, lalu pamit untuk memeriksa pasien yang lain.
Begitu Tias sadar, kondisinya sudah terlihat stabil. Sudah tidak ada darah yang mengalir dari hidungnya, hanya saja pakaian yang dikenakan banyak terkena noda darah.
Indra membawa Tias kembali ke hotel tempat Tias menginap lalu memesan tiket pesawat dan membawa Tias pulang ke Jakarta. Agar temannya itu bisa di temani keluarganya saat memeriksakan diri. Karena menurut Indra itulah yang terbaik.
Sayangnya apa yang ada dipikirkan Indra tidak sejalan dengan yang dipikirkan Tias. Temannya itu tidak ingin keluarga dan sahabatnya tahu, jika dia benar-benar terkena kanker darah. Sehingga Indra harus menyimpan rahasia besar Tias tersebut seorang diri. Tapi tidak kali ini, dia harus memberi tahu Mala dan Zoya.
"Begitu ceritanya" ucap Indra mengakhiri cerita bagaimana dia bisa menjadi orang yang pertama tahu tentang penyakit Tias.
"Jadi Tias, kena kanker darah?" tanya Zoya begitu Indra sudah mengakhiri ceritanya.
__ADS_1
"Gue udah curiga, Tias pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi bukan hal sebesar ini" ucap Mala sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
Kecurigaanya berawal saat Tias, tiba-tiba pamit ke toilet. Sementara makanan dihadapanya belum habis, dan Tias paling pantang meninggalkan makanan yang belum habis ke toilet. Saat itu Mala berpikir mungkin Tias sudah tidak tahan untuk membuang hajatnya, yang kini dia sadari, mungkin saat itu, Tias tidak ingin Mala tahu jika hidung sahabatnya itu berdarah. Tidak hanya itu, banyak hal-hal mencurigai terjadi selama dua minggu ini. Salah satunya, Tias sudah tidak mengkonsumsi minuman berkafein, dan dia sering minum kapsul atau pil yang Tias katakan itu adalah vitamin kulit.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya, In?" tanya Mala pada temanya itu.
"Menjaganya untuk tidak kelelahan, menyenangkan hati dan pikirannya, memberi suport dan mengawal pengobatannya" ucap Indra seperti yang disarankan dokter padanya.
"Aku ingin bertemu dokter In"
"Tias masih ditangani. Kita tunggu saja." jawab Indra keinginan Mala.
"La, kita harus memberi tahu papanya dan kak Abi" ucap Zoya mengingatkan Mala.
"Sebenarnya, Tias ingin tidak ada yang boleh tahu tentang kondisinya." sahut Indra mengingatkan pesan Tias.
"Tapi keluarga harus tahu, In. Tias pasti akan sering di opname" ucap Mala yang dibenarkan Zoya.
"Betul itu. keluarganya berhak tahu, Tias pasti akan menerima keputusan kita" sahut Zoya.
Mala yang berada di rumah sakit sampai di telinga Galih, laki-laki itu segera memutuskan untuk menyusul istrinya. Dia ingin tahu yang sebenarnya, walau sudah di jelaskan oleh sopir yang mengantar Mala.
"Tias" panggil Zoya dan Mala dengan lirih dan hampir bersamaan saat sahabat mereka itu mulai membuka mata.
"Kalian?" tanya Tias tidak percaya.
Mala segera memeluk dan menciumi setiap sudut wajah Tias sambil menangis. Tak kalah dengan Mala, Zoyapun melakukan hal yang sama.
"Kenapa Lo jahat sama gue dan Zoya? Kenapa Lo harus rahasiain semua ini dari kita berdua? Kenapa?" tanya Mala beruntun sambil menangis.
"Gue minta maaf, gue jahat sama lo, La"
"Yas, kita sahabatan udah lama, lo udah gue anggap saudara. Jangan pernah sembunyiin apapun lagi dari gue"
Ucapan Mala, menyentuh hati Tias yang paling dalam. Dia merasa bersalah dan berdosa pada Mala. Bahkan dia akan melakukan berbagai cara agar Galih beralih padanya. Sementara sahabatnya selalu saja memiliki hati yang bersih.
"Tuhan sekarang lagi kasih hukuman ke gue, lewat penyakit ini. Karena gue seorang pendosa dan gue udah jahat sama lo, La" ucap Tias mencoba jujur.
__ADS_1
"Lo, nggak pernah jahat sama gue" jawab Mala lagi.
"Lo salah, gue bukan sahabat yang baik buat lo" balas Tias lagi.
Zoya yang tahu apa yang dimaksud dengan ucapan Tias mencoba untuk mengalihkan perdebatan mereka. Tidak akan ada yang mengalah bila sudah begini, dan dia satu-satunya yang harus menghentikan perdebatan ini.
"La, biar Tias istirahat" ucap Zoya, sambil menepuk bahu Mala untuk menyadarkan sahabatnya itu, supaya tidak berdebat dengan Tias.
"Iya, Zoy. Maaf, gue terlalu emosi" Mala mulai menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya dia menekan Tias dalam keadaan seperti ini.
Sementara Indra dan Galih memperhatikan ketiganya dari jendela kaca yang hordengnya terbuka. Galih sudah tiba sejak tadi, tapi dia membiarkan istrinya untuk meluapkan emosinya terlebih dahulu. Galih pernah merasakan apa yang dirasakan Mala saat ini, mengetahui sahabat dekat yang ternyata menderita penyakit keras. Bahkan dia kehilangan sahabatnya tersebut untuk selama-lamanya.
Papa Tias dan ibunya Abi memutuskan untuk segera datang kerumah sakit, begitu Mala menghubungi mereka dan memberi tahu tentang kondisi Tias.
Mala sedang tertidur dan bersandar di bahu Galih, saat papa Tias dan ibu Abi masuk ke ruang rawat inap putri mereka. Mala sengaja menunggu kehadiran papa Tias dan ibunya Abi, sebelum pulang ke rumah. Sementara Zoya dan Indra keluar untuk mencari makan malam mereka berempat. Tias sendiri juga sedang tidur setelah diberi obat.
"Sayang" Galih mencoba membangunkan Mala, begitu melihat kehadiran orang tua Tias.
"La, maaf. Papa selalu merepotkan kamu" ucap papa Tias begitu Mala membuka matanya.
"Tidak apa-apa, Pa. Mala juga putri Papa bukan?" jawab dan tanya Mala.
"Iya, kalian berdua adalah putri Papa" jawab papa Tias.
"Sejak kapan?" tanya pria paruh baya itu lagi.
"Dua minggu yang lalu, saat Tias di Jogja"
"Tias ke Jogja?" Ibu Abi yang bertanya.
Sebenarnya itu juga menjadi pertanyaan Mala, saat dia tahu Tias mengetahui penyakitnya disaat sahabatnya itu berada di Jogja. Itu adalah hari yang sama saat Mala meninggalkan Jogja menuju Solo, ke kediaman eyang Retno. Apa Tias menyusulnya? Itu pertanyaan yang terlintas di kepala Mala. Untuk apa? Sayangnya hanya Mala yang tidak tahu jawabannya.
( Harusnya Mala bertanya pada readers disini, yang sudah pasti tahu tujuan Tias ke Jogja. 😃 )
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1