BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
23. Kencan


__ADS_3

Mala masuk keruangan Galih dimana sudah ada Tari disana, sementara Zoya kembali keruangannya terlebih dahulu untuk mencari Ardi yang juga tiba-tiba menghilang, baru nanti dia akan menghadap Galih.


"Mas, kenapa pulang lebih awal?" tanya Mala dengan pertanyaan yang sama saat di cafe, berharap kali ini dia akan mendapat jawaban yang sebenarnya.


"Sudah mas bilang kalau kangen kamu" jawab Galih dengan jawaban yang sama membuat Mala mencebikan mulutnya.


Tari yang melihatnya menggelengkan kepala sambil terkekeh. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan Galih dari pada akan jadi nyamuk antara sepasang suami istri ini, lagi pula urusannya dengan Galih sudah selesai.


"Siapa wanita yang bersamamu tadi?" tanya Galih yang penasaran mengapa wanita itu mendekati Mala? Galih tahu siapa wanita itu setelah dia mencari tahu kehidupan dari seorang Abiansyah, karena itu dia takut jika wanita dari pria yang disukai Mala itu akan menyakiti istrinya.


"Oh itu, namanya Saras. Tadi tidak ada kursi kosong lagi, jadi dia ikut bergabung bersama aku dan Zoya" jawab Mala jujur.


"Mas, apa pekerjaannya sudah selesai? Mana Pak Leo?" Mala kembali ke topik mengapa Galih sudah kembali tidak sesuai jadwal. Galih mendesah, Mala tidak akan berhenti bertanya bila belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Ada sesuatu yang harus segera dikerjakan disini, karena itu mas pulang. Disana ada Leo, biar dia yang melanjutkan pekerjaan disana. Lagi pula pekerjaan yang penting-penting sudah mas selesaikan" jelas Galih walau tidak sepenuhnya jujur, karena alasan utamanya pulang karena ingin menghindari Tias.


"Ayo" Galih menarik tangan Mala untuk berdiri.


"Mau kemana mas?" tanya Mala heran. Dia baru saja berada diruangan suaminya ini tapi sudah mau diajak pergi. Dia belum siap apa lagi kalau untuk bertemu klien.


"Kencan" jawab Galih cepat.


"Kencan?" Mala membeo.


"Mas waktu itu bilang kalau kita bisa memulai hubungan ini dari awal. Jadi kita awali dengan kencan. Kita belum pernah bekencan bukan?" jelas dan tanya Galih.


Mala tertawa membayangkan dia kencan dengan seorang Galih. Kecan seperti apa yang ditawarkan suaminya ini? Galih terpana melihat wajah Mala yang tertawa, tawa yang dulu membuat Galih jatuh cinta untuk pertama kali pada sosok seorang Mala. Tawa yang mampu melukiskan senyum di wajahnya, walau saat itu Mala tertawa bersama Rafi.


"Kamu cantik sayang. Sejak dulu hingga detik ini"


Blushh, Mala langsung menundukan kepalanya, dia tidak bisa membayangkan wajahnya yang merona karena pujian seorang Galih akan terlihat oleh pria itu. karena itu dia segera menundudukan kepala menyembunyikannya, tapi terlambat, Galih sudah lebih dulu melihatnya.


"Hei" Galih menarik dagu Mala agar wajah cantik itu menatapnya.

__ADS_1


Cup. Galih tidak bisa menahan untuk tidak mengecup pipi Mala yang merona. Dia akan terus membuat Mala bisa merasakan apa yang dia rasakan. Seperti lagu Risalah Hati milik Dewa itulah yang Galih lakukan.


Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Cintaku tanpa sambutmu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


Ku harus milikimu


Lirik itulah yang membuat Galih mengajukan pernikahan kontrak, menjadikan Mala sebagai miliknya seperti yang dia inginkan walau caranya sedikit memaksa.


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena telah terbiasa


Lirik inilah yang kini sedang Galih perjuangakan. Bahkan dia sering sengaja menyanyikan lagu ini di hadapan Mala, atau akan memutar lagu ini dalam perjalanan mereka kekantor ataupun pulang dari kantor.


Simpan mawar yang kuberi


Mungkin wanginya mengilhami


Sudikah dirimu untuk


Kenali aku dulu


Sebelum kau ludahi aku

__ADS_1


Sebelum kau robek hatiku


Lirik diataspun pernah Galih lakukan, dia membawakan Mala satu buket bunga mawar dan ingin mengajak Mala yang saat itu sudah bisa dikatakan calon istrinya makan malam. Sayangnya bunga itu terpaksa dia titipkan pada asisten rumah tangga Bunda Sarah, karena malam itu Galih melihat Mala pergi bersama laki-laki lain yang tak lain adalah Dito.


Galih tersenyum kini dia pemenang yang bisa memiliki Mala, walau belum dengan hatinya. Galih mengusap wajah Mala dengan jarinya, tepat dimana tadi dia mengecup pipi yang merona itu. Wajah cantik istrinya semakin merona dan Galih menyukainya. Mungkin saja usahanya untuk memenangkan hati Mala sedikit lagi berhasil.


"Boleh cium?" Galih bertanya.


Mala tidak tahu harus menjawab apa? Dia tidak bisa mengahadapi Galih dengan sikapnya yang seperti saat ini, semua itu membuatnya gugup dan gemetar. Dia bisa merasakan jatungnya berdebar dan tubuhnya tak bisa berbohong, saat bibirnya akan berkata tidak akan tetapi kepalanya megangguk.


Galih tersenyum, tidak ingin Mala berubah pikiran, dia segera melu mat bibir merah delima dengan warna alami itu untuk dinikmatinya. Ada gelenyer aneh yang kini Mala rasakan, tubuhnya bereaksi menjawab sentuhan Galih. Mala membalas dengan kesadaran penuh, dia menginginkannya.


Nonton sebuah film adalah pilihan mereka untuk kencan pertama ini. Diluar dugaan Mala, Galih mengajaknya kencan layaknya anak-anak muda berpacaran. Bedanya mereka berpacaran dengan pasangan yang halal, tidak dilarang untuk terus bergandengan tangan seperti saat ini, dimana gengaman tangan itupun tak pernah terlepas, Galih ingin menunjukkan pada dunia kalau dia bisa bersama wanita yang dicintainya.


Keluar dari bioskop, Galih mengajak Mala berkelilitng. Menyuruh istrinya untuk membeli apapun yang diinginkan wanita yang dicintainya itu. Wanita suka belanja itulah yang Galih tahu. Ketiga pacarnya terdahulu seperti itu, hanya dengan memberi uang untuk belanja mereka akan berhenti menganggu Galih. Catatan hanya memberi uang tanpa pernah menemani ketiganya belanja seperti yang sekarang dia lakukan bersama Mala. Apa yang dipikirkan Galih salah, yang dilihatnya sangat berbeda dengan kenyataannya. Berbelanja yang bukan kebutuhan bukanlah gaya Mala menghabiskan uangnya, kali ini dia hanya melihat-lihat sekedar tahu kualitas barang itu tanpa ingin membelinya. Tadi Gali sudah membelikan beberapa lembar pakaian dan juga kosmetik yang Mala butuhkan. Itu sudah cukup baginya sekadar untuk menghormati Galih yang berusaha menjadi suami yang baik.


"Kenapa dikembilkan lagi?" tanya Galih heran. Tidak ada satupun tas yang dipajang di toko ini yang diminati istrinya, padahal Galih sudah mengajak Mala di toko tas yang nama brandnya disukai banyak wanita.


"Aku tidak butuh tas baru mas. Yang belum terpakai saja masih banyak tersimpan dilemari" jawab Mala jujur. Tiap Bunda Sarah, Arfan dan saudaranya pulang dari luar negeri dia akan kebagian oleh-oleh karena itu tidak sedikit koleksi tas, sepatu dan pakaiannya semuanya branded langsung dari luar negeri.


Satu hal yang baru Galih ketahui, kalau istrinya bukan wanita yang suka menghamburkan uang untuk belanja, berbeda dengan wanita pada umumnya. Poin tambahan yang membuat Galih semakin jatuh cinta. Galih kembali meraih tangan Mala dan mengandengnya keluar dari outlet tersebut dan mengajak istrinya masuk kesebuah restoran. Tapi Galih menyesalinya begitu mereka berada di restoran tersebut.


Galih ingin mengajak Mala kembali keluar restoran begitu dia melihat sosok Celine, tapi sayangnya wanita itu sudah lebih dulu melihat dan menghampiri mereka. Dengan menatap tajam Celine memindai Mala dari atas sampai ke bawah. Tidak ada yang salah dalam penampilan istri Galih itu, pakaian yang dikenakanya sangat serasi dan bukan produk murahan sehingga tidak ada satupun yang dapat Celine komentari. Apa yang Celine dengar tentang siapa Mala benar adanya. Sementara Mala yang tahu wanita yang ada dihadapannya ini adalah kekasih Galih, yang suaminya putuskan karena akan menikah dengannya. Hal itu menyadarkan Mala untuk tidak menyalakan Celine kalau wanita itu akan membencinya.


"Dia istrimu?" tanya Celine tanpa menyapa terlebih dahulu.


"Ayo sayang" Galih tidak menjawab, dia lebih memilih mengajak Mala berlalu meninggalkan Celine begitu saja. Mala ingin protes tapi tidak berani, takut Galih tidak terima dan akhirnya mereka ribut di tempat umum. Mala tidak suka hal yang seperti itu.


Sikap Galih yang mesrah dan memanjakan Mala membuat Celine jengah melihatnya. Selama bersamanya Galih tidak pernah tersenyum, tidak pernah memanjakannya bahkan menatapnya penuh cinta seperti yang dia lihat saat ini. Memang dia yang memaksa Galih untuk menerima cintanya, itupun harus menggunakan banyak cara agar pria itu luluh. Sayangnya hubungannya hanya bertahan tiga bulan dan Galih memutuskannya karena akan menikahi wanita yang kini sedang di manjakan mantan kekasihnya itu.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2