
"Ardi ada perlu apa ya ke pesantren?" Mala bertanya pada kedua sahabatnya.
"Sepertinya, Ardi mau ikut jejak kak Abi."
"Maksud Lo?" Tias yang bertanya menanggapi jawaban Zoya yang menyebut nama Abi.
"Mau jadi laki-laki soleh. Apa lagi?" jawab dan tanya Zoya, menutupi kalau dia salah bicara. Namun jawaban Zoya mampu membuat Tias diam.
Tidak ada yang tahu jika Zoya tahu banyak hal tentang Abi, bahkan Tias sekalipun tidak mengetahui lebih banyak tentang Abi dari pada Zoya, apa lagi Mala yang memang tidak tahu apa-apa tentang Abi.
"Semoga saja itu benar, dan bisa membuat Ardi jauh lebih baik lagi" ucap Mala mendoakan kebaikan untuk Ardi.
"Tadi gue ketemu kak Abi, dia bilang Lo semalam di serang nenek lampir." ucap Tias mengalihkan pembicaraan.
Apa yang dikatakan Zoya tentang Ardi itu benar, sahabat laki-laki satu-satunya itu menemui Tias dan meminta maaf telah terlalu jauh melakukan banyak hal padanya. Sahabatnya itu ingin bertobat karena itu mengasingkan diri ke pesantren dimana dulu seorang Abi pernah melakukan hal yang sama. Apa Tias juga bertobat seperti Ardi, sehingga dia kembali menjadi Tias yang Mala dan Zoya kenal?
"Iya, tapi dia seperti orang yang ketakutan saat gue perhatiin." jelas Mala apa yang dia lihat.
"Maaf saya tidak sengaja."
Saat Kiara mengucapkan kata itu, Mala bisa melihat mulut mantan kekasih suaminya itu bergetar. Mala yakin jika itu adalah kesengajaan yang dilakukan Kiara, hanya saja wanita itu tampak sedang mengalami ancaman dari seseorang. Mata Mala mengikuti kemana arah pandang Kiara, yang ternyata tertuju pada seorang wanita yang baru Mala kenal. Mungkinkah Kiara melakukan peritah wanita itu?
"Maksud lo apa?" Zoya yang bertanya, karena sebelumnya Mala tidak mengatakan apa-apa saat tadi dia cerita.
"Mata Kiara saat itu tertuju pada Saras dan seorang wanita paruh baya. Sepertinya wanita itu ibunya." jawab Mala yang membuat Tias menyatukan alisnya.
"Saras" beo Tias.
"Kamu kenal yang namanya Saras?" Tias melanjutkan ucapannya dengan bertanya.
"Kenal. Aku dan Zoya bertemu dia di cafe kantor saat makan siang"
"Kalian kenal hanya sebatas itu?" tanya Tias lagi.
"Iya" jawab Mala dan Zoya bersamaan.
Mereka tidak begitu mengenal saras hanya saja mereka tahu siapa Saras yang ternyata istri Abi. Masalahnya apakah Tias tahu apa yang mereka ketahui?
"Gue sarani sebaiknya kalian jangan terlalu dekat dengan dia" Tias mencoba menasehati.
Tanpa Tias pintapun, Mala dan Zoya tidak ingin terlibat hubungan apapun dengan istri Abi itu. Terlebih lagi Zoya yang sudah tahu banyak bagaimana liciknya Saras.
Mala dan Zoya meluncur ke toko tas yang di tuju Zoya, setelah mereka melakukan perawatan di salon milik Vanya. Tias tidak ikut bersama kedua sahabatnya, dia mengatakan ada keperluan dan janji dengan temannya yang lain. Tanpa keduanya tahu jika Itu hanya alasan yang dikatakan Tias pada Mala dan Zoya, dimana kedua sahabatnya itu bisa menerima alasan itu begitu saja. Bukan hanya kali ini Tias seperti itu, sehingga sudah tidak aneh bagi Mala dan Zoya.
__ADS_1
"Zoy, menurut gue ada yang berbeda sama Tias."
"Iya, gue juga merasa begitu, terutama setelah gue perhatiin dia yang terlihat lebih kurus seperti yang di katakan Vanya." Zoya menjawab ucapan Mala.
"Sepertinya dia sakit, tapi tidak ingin memberi tahu kita." lanjut Zoya ucapannya.
Keduanya kini sama-sama diam, larut dalam pemikiran masing-masing sambil melihat-lihat koleksi tas yang ada di toko ini. Mala terpisah dari Zoya, dan dia baru menyadarinya saat mendengar suara sahabatnya itu seperti sedang berdebat dengan seseorang.
"Zoy, ada apa?"
"Nurma" suara yang sangat dikenal Mala akhir-akhir ini memanggilnya.
"in, lo disini juga?" tanya Mala heran, bisa bertemu Indra disini.
"Gue lagi beliin mama tas yang dia mau, tapi mbaknya ini..."
"Zoya, dia sahabat gue dan Tias" potong Mala ucapan Indra dan mengenalkan sahabatnya itu.
"Zoy, ini yang namanya Indra." Mala memberi tahu Zoya, pasalnya sahabatnya itu tadi sempat penasaran dengan sosok Indra.
"Tasnya buat kamu aja, nih." ucap Zoya, sambil menyerahkan tas yang tadi dia perebutkan dengan Indra. Dia mengalah tidak jadi membeli tas yang dia inginkan sejak kemarin itu, setelah tahu kalau pria itu yang bernama Indra, orang yang tadi pagi membuatnya penasaran.
"Terima kasih." jawab Indra.
Laki-laki itu langsung membawa tas yang diiginkan mamanya ke kasir. Dalam perjalanannya ke kasir Indra menerima panggilan telepon yang langsung diagkatnya saat tahu siapa yang menghubunginya.
"Nurma, Zoya, gue duluan ya. Sebenarnya gue masih ingin ngobrol banyak sama kalian, tapi ada sesuatu yang harus gue kerjakan." Indra pamit pada Mala dan Zoya.
"Sekali lagi, terimakasih udah ngasih tasnya ke gue." lanjut Indra ucapannya yang ditujukan pada Zoya.
"Iya Ndra, sama-sama. Gue bisa cari model yang lain kok" jawab Zoya sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Sampai ketemu lagi." ucap Indra lalu meninggalkan kedua sahabat itu.
Mala menatap punggung Indra yang menghilang karena berjalan semakin jauh meninggalkan mereka. Ada sesuatu yang dia pikirkan tentang Indra saat ini.
"Lo kenapa?" tanya Zoya, membuat Mala tersadar dari lamunannya.
"Belanja tasnya nanti aja, Lo ikut gue sekarang" Mala menarik tangan Zoya keluar dari toko tas tersebut.
Dalam perjalannanya, Indra tidak dapat tenang. Ini bukan kali pertama Tias menghubunginya dalam keadaan seperti sekarang. Hal ini tentu saja membuat Indra khawatir, sahabat orang yang dicintainya itu harus segera mendapatkan pertolongan. Untung saja lokasi tempat dia berada tidak jauh dari lokasi Tias berada.
"Yas, lo masih kuat kan?" Tias mengangguk.
__ADS_1
"Ayo pindah ke mobil gue" Indra memopong Tias keluar dari mobilnya dan mengiring temannya itu ke mobilnya.
Indra segera melajukan kendaraannya kerumah sakit dimana Tias biasa di rawat setelah pulang dari Jogja. Dialah satu-satunya orang yang tahu apa yang terjadi pada Tias.
"Suster, tolong teman saya sudah banyak kehabisan darah" ucap Indra pada suster yang kebetulan sudah mengenalnya.
"Pendarahan lagi?" tanya suster itu, yang sudah paham dengan penyakit Tias.
"Iya sus, seperti kemarin." jawab Indra membenarkan.
Tias segera mendapatkan pertolongan, begitu dia sudah berada di ruang UGD. Sementara Indra segera mengurus administrasi, karena Tias harus menginap di rumah sakit satu malam seperti kemarin-kemarin saat dia menolong temannya itu.
"Kita mau kemana, La?" tanya Zoya begitu Mala menarik tangannya.
"Kita ikuti Indra."
"WHAT?" teriak Zoya tidak percaya, sejak kapan sahabatnya ini suka kepo dengan urusan orang lain.
"Firasatku mengatakan Indra menemui Tias."
"Lalu?" Zoya kembali bertanya, dia belum mengerti tujuan Mala.
"Pasti ada hal penting, karena itu Indra terburu-buru."
"Bukan berarti bertemu Tias, kan?"
"Apa aku suka salah bila merasakan sesuatu?" Mala menjawab dengan pertanyaan.
Zoya diam, Mala hampir selalu benar bila dia sedang merasakan sesuatu. Bukan sekali atau dua kali Zoya mendapatinya, terutama menyangkut orang-orang yang dekat dengannya. Sama seperti saat Mala gelisah di malam pesta pernikahannya, dimana sahabatnya itu tidak bisa menemukan keberadaan Ardi dan Tias. Dan apa yang membuat Mala gelisah terjawab saat mereka tahu apa yang terjadi. Tanpa banyak pertanyaan Zoya mengikuti kemanapun Mala membawanya, dan ternyata sahabatnya itu benar-benar mengikuti Indra.
"Pak ikuti mobil itu" pinta Mala pada sopir yang di perintahkan Galih mengawal istrinya itu, sambil menunjuk mobil yang dikendarai Indra.
Seperti apa yang Mala rasakan, itulah yang kini dilihatnya. Mulai Indra membawa Tias pindah ke mobil laki-laki itu sampai Indra berhenti di rumah sakit.
Zoya sebenarnya ingin langsung menghampiri Tias yang di bawa ke ruang UGD, namun langkahnya terhenti karena ditahan Mala.
"In." Suara yang sangat dihapal Indra dan hanya satu-satunya orang yang memanggilnya seperti itu membuatnya cukup terkejut. Pasalnya dia tidak menyangka Mala akan menemukannya disini. Bukankah temannya itu masih dintoko tas saat dia pamit?
"Ada apa dengan Tias?" Mala melanjutkan ucapannya dengan bertanya pada Indra.
Indra terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi dia sudah berjanji pada Tias untuk merahasiakan penyakit yang diderita wanita itu dari keluarga dan sahabatnya. Di sisi lain, Indra tisak bisa diam saja disaat dia sudah ketahuan seperti ini.
"Ikut bersamaku." jawab Indra dengan mengajak Mala dan Zoya untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...