
Untuk pertama kalinya Mala bertemu dan berbincang-bincang dengan Alya istri Alan. Laki-laki itu sore tadi tidak jadi ke Jogja menemui Tias sesuai rencana awalnya. Alya menghubungi Alan dan meminta suaminya itu menjempunya di bandara.
Disinilah sekarang mereka berempat menikmati suasana malam di kota Solo, berbaur dengan pengunjung lain di alun-alun kota Solo. Suasananya tidak jauh berbeda dari alun-alun di Jogja, itu yang Mala dan Alya rasakan. Galih sebenarnya tidak begitu suka keramaian seperti ini, kalau boleh memilih dia lebih suka menghabiskan waktu bersama Mala dikamar. Namun karena Eyang Retno yang mememerintahkan dia dan Alan untuk mengajak istri masing-masing berkeliling kota Solo, mau tidak mau akhirnya Galih menyetujuinya.
Sebenarnya tujuan mereka bukan Alun-alun, karena Mala melihat pedagang kacang rebus yang ada di Alun-alun maka mereka menghentikan kendaraan mereka disana. Alya yang menemani Mala menghampiri penjual kacang rebus tersebut, sementara Galih dan Alan menunggu tidak jauh dari kendaraan mereka sambil berbincang dengan pandangan memperatikan istri masing-masing.
"Kamu tahu, apa yang membuat aku menyusul Mas Alan?" tanya Alya saat mereka berjalan menuju pedagang kacang rebus.
Mala menggeleng, jujur dia memang tidak tahu maksud dan tujuan Alya yang tiba-tiba ikut datang ke Solo. Bahkan Eyang Retno tidak percaya saat mendengar suara Alya yang mengucap salam. Tapi wanita tua itu tidak ingin menunjukkan keterkejutannya dengan melukiskan senyum di wajahnya menyambut kedatangan Alya.
"Karena kamu dan Galih" Alya menjawab pertanyaannya sendiri.
"Aku dan Mas Galih?" pertanyaan Mala mendapat anggukkan dari Alya.
Mala tidak tahu saja jika Alya menyusul Alan karena di provokasi oleh Tari, niat sepupu suaminya itu baik hanya saja caranya sedikit berbeda.
Pagi tadi Tari sedang berjalan-jalan keliling komplek di temani suaminya, usia kehamilannya sudah masuk semester kedua, membuat calon ibu itu sudah tidak lagi merasakan lemas dan mual-mual seperti di awal kehamilannya. Karena kediamannya satu komplek dengan kediaman Alan dan Alya, Tari membelokkan langkahnya memasuki kediaman kakak sepupunya itu yang lebih tua hanya beberapa bulan saja.
"Kamu tidak ikut ke kediaman Eyang Retno?" tanya Tari begitu menemukan Alya yang sedang sarapan seorang diri. Alya menggelengkan kepalanya, hal yang dia hindari adalah berkunjung ke kediaman orang yang paling dihormati di keluarga suaminya. Bukan tidak suka atau membenci wanita yang di panggil eyang itu, hanya saja setelah empat tahun menikah dia belum memiliki keturunan. Pertanyaan itu yang Alya hindari.
"Mbak Tari sendiri tidak ke Solo? tanya Alya pada sepupu suaminya itu.
"Perutku sedang besar seperti ini, malas kalau mau pergi jauh" jawab Tari sambil mengelus perutnya.
Ada rasa nyeri di dada Alya melihatnya Tari. Sebagai wanita, Alya merasa belum bisa dikatakan sempurna karena belum memiliki anak. Hanya saja ada hal yang membuatnya menahan keinginan itu. Sementara Alan tidak menuntut hal itu, karena suaminya merasa sudah memiliki keturunan dari wanita lain. Semakin mengingat itu semakin Alya merasakan sakit.
"Kamu tidak curiga dengan kepergian Alan ke Solo?" tanya Tari lagi.
__ADS_1
"Mau apa lagi memangnya dia ke Solo, kalau bukan menemui Eyang Retno seperti biasanya" jawab Alya pertanyaan Tari yang menurutnya tidak penting.
"Apa lagi kalau bukan ingin meganggu Gali dan istrinya" kalimat pemberitahuan dari Tari membuat Alya kembali bertanya.
"Galih dan Mala ada di Solo?" Tari mengangguk.
"Tidak bisa dibiarkan" sambung Alya ucapannya.
"Itu maksud mbak ngasih tahu kamu. Jadi, tunggu apa lagi, kamu pesan tiket dan menyusul kesana" perintah Tari.
Alya memperhatikan Alan dan Galih dari kejauhan, kedua sepupu itu tampak berbincang seperti tidak pernah ada masalah diantara meraka. Tapi Alya tahu persis apa yang melatar belakangi suaminya selalu mengusik hidup Galih dengan merebut Kiara dan juga bermain-main dengan Rania. Selebihnya Alan tidak pernah bermain-main dengan wanita lain.
"Kamu beruntung mendapatkan suami seperti Galih, dia laki-laki yang setia, tidak seperti Mas Alan" ucap Alya membuat Mala mengalihkan perhatiannya kearah pandangan Alya.
"Seperti yang kamu ketahui, Mas Alan itu selalu mengganggu Galih melalui kekasihnya. Aku takut..." Alya tidak meneruskan ucapannya, dia melirik Mala dan baru menyadari jika wanita disampingnya ini sangat cantik. Galih pasti akan menjaga istrinya kali ini, jadi Alya seharusnya tidak terlalu sekhawatir ini.
"Mas Alan ke Solo untuk menemui Eyang Retno, kebetulan sekali aku dan Mas Galih juga sedang mengunjungi eyang, karena beberapa hari ini kami ada pekerjaan di Jogja" Mala mencoba menjelaskan pada Alya.
"Sebenarnya tadi sore Mas Alan pamit mau ke Jogja, malam ini rencanaya akan menginap di Jogja karena besok pagi ada pertemuan dengan rekan bisnisnya" lanjut Mala ucapannya memberi tahu Alya.
"Ke Jogja?" tanya Alya untuk meyakinkan kalau dia tidak salah mendengarkan. Tidak ada rekan bisnis Alan di Jogja, lalu siapa yang di tuju suaminya disana.
"Apa ada sesuatu yang baru, yang aku lewatkan?" batin Alya.
Penjelasan Mala, memberi informasi yang penting untuk Alya. Dia harus segera mencari tahu siapa yang ingin ditemui Alan disana. Benarkah rekan bisnis atau ada wanita baru lagi yang belum dia ketahui.
"Iya, tadi sore pamitnya seperti itu pada Eyang" Mala meyakinkan Alya.
__ADS_1
Alya bersyukur, tidak sia-sia perjalanannya menyusul Alan. Dia bisa mengetahui apa yang dilakukan suaminya itu. Inilah yang membuat Alya ragu memiliki anak bersama Alan, jika pada akhirnya dia memutuskan untuk berpisah dengan laki-laki itu, maka tidak ada jiwa lain yang akan tersakiti hatinya selain dirinya sendiri. Selama ini Alya masih meragu mempertahankan pernikahannya atau melepaskannya. Alan memang tidak pernah mencintainya, tapi Alan juga tidak mencintai Kiara apa lagi Rania. Hal itulah yang membuat Alya masih berusaha bertahan bersama Alan dengan segala kelakuan pria itu.
"Ayo Mbak Alya" ajakan Mala menarik Alya dari lamunannya.
Keduanya meninggalkan penjual kacang rebus tersebut dan melangkah kembali menuju dimana para suami menunggu mereka. Masih setengah jalan untuk sampai dimana suami mereka berada, tiba-tiba seorang wanita menyapa kedua saudara sepupu yang tengah berbincang itu.
"Mas Alan, Galih. Kalian sedang mengunjungi Eyang Retno?" sapa wanita itu dengan pertanyaan.
Mala dan Alya menghentikan langksh mereka, keduanya saling berpandangan. Melihat cara wanita itu menyapa sepertinya dia sudah sangat akrab dengan kedua pria itu. Tidak ingin menganggu keduanya berdiri ditempat mereka berhenti dan cukup memperhatikan dari jauh.
Galih melihat Mala yang berdiam di tempat sambil melihat ke arahnya membuat laki-laki itu melangkah menghampirinya.
"Mengapa berhenti disini?" tanya Galih begitu dia mendekati Mala. Tanganya langsung merengkuh tubuh istrinya, sejak tadi pandangan Galih tidak berpaling dari Mala walau dia sedang berbincang dengan Alan.
"Kenapa kalian hanya berdiri disini?" tanya Alan begitu mendekati mereka bertiga.
"Ayo lanjutkan perjalanan, Tika akan memandu kita" sambung Alan ucapannya dengan ajakan dan memberitahu.
"Mala ingin langsung pulang" ucap Galih membuat Mala menatap suaminya.
"Iyakan sayang? Kamu tadi bilang ingin pulang dan istirahat" lanjut Galih ucapanya sambil tersenyum penuh arti.
"Aku juga mau pulang mas" Alya yang mengerti maksud Galih ikut menimpali.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1