BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Memilih Diam


__ADS_3

Ibu dari Kiara dan Saras itu hanya diam saat di tanya mengapa dia menabrak Mala. Tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari orang yang menahannya. Apapun yang terjadi setelah ini akan dia hadapi, selama ini dia sudah berusaha membuat keluarga besar papa Andro bercerai berai, namun usahanya selalu gagal.


Awalnya bukan Mala yang menjadi targetnya, namun tidak sengaja dia mendengar percakapan antara Mala dan sahabat-sahabatnya.


Wina mampir di warung makan abah Husen. Niatnya ingin menanyakan alamat seseorang yang pernah dia lihat membantu di warung ini, tapi matanya tidak sengaja melihat sosok Mala. Akhirnya dia memutuskan untuk membeli makanan dan minuman ringan lalu duduk tidak jauh dari keempat sahabat yang sedang berbincang.


Mala menceritakan kebenaran tentang kedua putrinya. Wina tidak menyangka jika istri dari Galih itu tahu banyak hal tentang dia dan kedua putrinya. Wina marah dan kesal, semua karena kecerobohan Saras dan Kiara yang berbicara masalah pribadi di tempat umum. Dia sudah sering menasihati kedua putrinya untuk hati-hati saat mereka berdebat terlebih lagi di tempat umum. Apa yang Wina takutkan kini terjadi, rahasia keluarganya terkuak.


Wina melihat kehadiran Abi, dengan menutupi wajahnya, dia segera pergi meninggalkan warung abah Husen. Dia masuk kedalam kendaraan milik Saras yang saat ini dia gunakan, untungnya dia parkir sedikit jauh sehingga Abi tidak menyadari ada mobil istrinya.


Wina segera meninggalkan tempat itu, tapi setelah memikirkan beberapa hal, dia berbalik arah. Jalanan yang cukup sepi, membuat Wina bisa melihat dengan jelas Mala yang sedang menyeberang jalanan menuju kendaraannya. Tanpa pikir panjang, Wina yang sedang dalam keadaan marah dan kesal, menginjak dalam gas mobilnya.


BRUAK. DUAAR.


Suara keras tabrakan itu terdengar. Bukan suara karena menabrak Mala, tapi mobilnya yang menabrak kendaraan lain yang sedang terparkir. Dengan panik Wina meninggalkan tempat kejadian, berusaha untuk menyelamatkan diri. Dia menepikan kendaraannya setelah berjalan jauh dan mengecoh mobil yang mengejarnya. Vina berbelok ditempat yang jarang dilalui kendaraan, jalan menuju pemakaman.


Wina segera menghubungi Saras dan memberi tahu putrinya apa yang baru saja terjadi. Tanpa dia sadari, jika posisinya saat ini tidak seaman yang dia kira, Abi dan Tias sedang memantaunya dengan jarak yang cukup dekat dari dalam mobil. Abi sangat mengenali kendaraan yang dikendarai Wina, tentu saja karena itu dulu kendaraan yang selalu Abi gunakan sebelum dia pergi ke Amerika. Apa lagi setelah Saras yang mengendarainya, Abi memasang GPS pada kendaraan itu, karena itu sangat mudah baginya untuk melacak keberadaan Wina yang Abi sangka adalah Saras saat mereka kehilangan jejak.


"Hubungi Zoya, tanyakan kondisi Mala" perintah Abi pada Tias.


"Katakan juga, kita sudah menemukan pelaku. Tapi jangan katakan jika itu Saras" lanjut Abi ucapannya.


Tias mengangguk mengerti, dia segera menghubungi Zoya.


"Halo Yas" sapa Zoya dari seberang sana.


"Zoy, bagaimana keadaan Mala?"


"Dia masih ditangani dokter. Pak Galih juga sudah ada disini" jawab dan beri tahu Zoya.


"Lo yang kasih kabar dia?" tanya Tias.


"Bukan, gue juga enggak tahu siapa" jawab Zoya.


Tias memberi tahu Zoya kalau dia sedang memantau orang yang menabrak Mala dan posisi mereka berada. Tidak menunggu lama, Zoya segera memberi tahu Galih, Leo dan Ardi yang sedang berbincang.


Galih segera menghunbungi orang kepercayaannnya yang kehilangan jejak untuk segera tiba di lokasi yang tadi disebutkan Tias.

__ADS_1


Leo, Ardi, Zoya dan orang kepercayaan Galih tiba dilokasi dimana Tias dan Abi berada.


"Bagaimana?" tanya Leo pada Ardi yang tiba lebih dulu.


"Dia masih didalam mobil" Abi menunjuk pada mobil yang terparkir paling ujung.


"Kita dekati" perintah Leo pada orang-orang kepercayaan Galih.


Tanpa menolak mereka mengikuti perintah Leo, Ardi ikut bersama mereka. Sementara Zoya, Tias dan Abi menunggu dan melihat dari jauh.


"Kak, itu bukannya mobil kakak?" tanya Zoya yang baru menyadari jika mobil itu milik Abi.


"Hemmm" jawab Abi.


"Jadi... Apa di Saras?" tanya Zoya lagi.


"Mungkin" jawab Tias.


"Bagaimana ini kak? Mala pasti..." belum selesai Zoya bicara dia sudah melihat Ardi, Leo dan yang lain mengiring seseorang yang Zoya tidak kenal.


"Bukan Saras" gumam Zoya.


"Ada apa kak?" tanya Zoya yang tidak mengerti.


"Dia ibu tiri Kak Abi" jawab Tias.


"Ibu Saras dan Kiara?" tanya Zoya untuk memastikan. Tias mengangguk menjawab pertanyaan Zoya.


Zoya memijat kepalanya, apa yang sebenarnya terjadi? Mala tidak pernah memiliki musuh selama ini, dia gadis yang tidak suka ada masalah dengan orang lain, karena itu juga Mala sering menyembunyikan identitas pribadinya pada orang yang tidak begitu dia kenal. Sayangnya pernikahannya dengan Galih membuat banyak orang tahu siapa Mala sekarang ini. Apa yang sering Mala takutkanpun terjadi, orang-orang yang tidak suka dengannya, dengan Galih atau pada keluarganya, akan menyerang seperti sekarang.


"Belum ingin bicara?" tanya Leo pada orang kepercayaan Galih yang baru saja keluar dari kamar dimana Wina mereka tahan.


"Belum Pak"


Mendengar suara Leo yang bertanya, membuat Zoya menarik nafas panjang, sejak tadi dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ada apa?" tanya Leo.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bang" Zoya berusaha menetralkan pikirannya. Namun perhatian Leo membuat Zoya berpikir yang lain.


Galih, Arfan dan Rafi tiba ditempat dimana Wina diamankan Leo dan yang lain. Belum juga menyapa mereka yang ada disana, Galih menerima panggilan dari papa Andro.


Disaat bersamaan Abi juga menerima panggilan dari Saras. Dengan tenang Abi mengangkat panggilan itu. Terdengar suara Saras yang mengadu tentang peristiwa yang terjadi pada mamanya yang menabrak seseorang. Hanya saja Saras tidak menyebutkan nama Mala yang menjadi korbannya.


"Kamu tetap di rumah, jangan kemana-mana, kalau tidak ingin sesuatu terjadi sama kamu" Abi memberi tahu Saras.


Tentu saja dia menyuruh Saras untuk diam di rumah, karena setelah selesai urusan dengan ibu mertuanya yang juga ibu tirinya, Abi akan menyelesaikan masalahnya dengan Saras. Video yang diperlihatkan Mala padanya menjawab semua keraguan Abi selama ini, Namun sayangnya tadi dia tidak bisa mengontrol perasaannya, menyebabkan peristiwa tabrak lari pada Mala terjadi.


"Apa yang dikatakan om Andro?" tanya Arfan begitu Galih mengakhiri pembicaraanya dengan sang papa.


"Papa menyuruh kalian membawanya ke kantor polisi. Sudah ada Alan yang mengurus laporan disana dan membawa bukti visum milik Mala" jawab Galih.


"Kaliaan? Kamu tidak?" Rafi yang bertanya.


"Mala sudah bangun, dia cariin gue"


"Kembalilah ke rumah sakit" ucap Arfan menyuruh adik iparnya.


Mala lebih membutuhkan Galih dari pada suami adiknya itu berada bersama mereka. Biar urusan ini Arfan dan yang lain yang akan mengambil alih menyelesaikannya.


"Gue mau ketemu pelakunya terlebih dulu. Hanya untuk memastikan apa yang dikatakan papa benar" jawab Galih yang mendapat persetujuan dari Arfan.


Galih melangkah menuju kamar dimana Wina ditahan, dia diikuti Arfan, Rafi dan Leo. Sementara Abi masih belum ingin menunjukkan wajahnya pada Wina.


"Ternyata benar anda yang melakukannya" ucap Galih begitu mengenali Wina.


Wina tetap memilih diam, dia tidak peduli Galih akan melakukan apapun padanya. Tidak ada penyesalan yang dia rasakan karena telah mencelakai Mala. Dia bersyukur, karena Galih tampak tidak baik-baik saja, dan itu sudah pasti karena kondisi istrinya yang juga tidak baik-baik saja. Selama ini dia selalu gagal mengobrak abrik keluarga besar papa Andro, terutama pada Galih.


Galih keluar dari kamar dimana Wina ditahan, cukup untuk memastikan apa yang diperkirakan papa Andro benar.


"Kalian bawa kekantor polisi. Temui Alan disana." ucap Galih.


"Ini masalah keluarga dimasa lalu yang belum usai" bisik Galih pada Arfan membuat kakak dari Mala itu menatap adik iparnya.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2