
"Selamat siang Pak Galih, terima kasih sudah bersedia menerima undangan dari kami" ucap asisten pimpinan perusahaan Permata.
"Silakan dinikmati hidangannya, saya akan menemui tamu yang lainnya." lanjut asisten itu ucapannya.
Galih tersenyum dan mengangguk membalas sapaan asisten pimpinan permata tersebut. Tapi tidak dengan Mala yang tampak mengamati dan memperhatikan seseorang yang seperti dia kenal.
"Ada apa?" tanya Galih begitu melihat wajah istrinya yang tampak memperhatikan seseorang.
"Tidak ada apa-apa, Mas" jawab Mala, sambil mencoba menepis jika wanita yang duduk tidak jauh dari mereka adalah kekasih Mas Arfannya.
Mala belum pernah berkenalan secara langsung dengan kekasih kakaknya, tapi Mala pernah melihatnya dari jauh saat Arfan memberi tahunya. Waktu itu Arfan Arfan sedang menemaninya ke toko buku dan Arfan sempat menghampiri kekasihnya itu yang juga ada di toko buku yang sama.
"Mungkin hanya mirip" gumam Mala yang melihat wanita itu tampak mesrah dengan seorang pria. Gumaman Mala bisa terdengar di telinga Galih.
"Siapa yang mirip?" tanya Galih.
Mala melihat kearah suaminya. "Wanita yang disana" tunjuk Mala pada Syifa.
Galih mengikuti arah yang di tunjuk istrinya, dia mengenal Syifa sebagai adik kelasnya waktu SMP. Arfan juga sempat mengenalkannya sebagai kekasih kakak iparnya itu, saat itu mereka tidak sengaja bertemu dan Syifa yang menyapa Galih terlebih dahulu.
"Bukan mirip, Dia memang Syifa" jawab Galih.
"Tapi..." Mala tidak meneruskan ucapannya.
"Tanyakan saja nanti sama Mas Arfanmu" ucap Galih yang mengerti maksud perkataan Mala.
"Mas kenal pria itu?" tanya Mala yang masih penasaran.
"Hemm, dia yang mengundang kita." jawab Galih memberi tahu istrinya.
"Ohhh" ujar Mala.
"Tapi seingat saya, dia itu suami kakaknya Lila"
"Kalian menggosipkan saya?"
"Mbak Lila" sapa Mala terkejut.
"Boleh gabung bersama kalian saja?" tanya Lila.
__ADS_1
"Tentu Mbak, ayo duduk" Mala yang menjawab.
"Sebenarnya makan siang ini acara untuk apa?" tanya Galih. Tadi dia lupa menanyakannya pada Tari, langsung menyetujuinya saja karena berfikir dia bisa menghadirinya bersama Mala.
"Pengumuman pertunagan mereka" tunjuk Lila pada Syifa dan Dirga.
"Kakak kamu?" tanya Galih.
Lila tersenyum. Tadi malam kakaknya sudah menceritakan masalah rumah tangganya. Dirga suaminya di jodohkan dengan wanita bernama Syifa oleh kedua orang tuanya yang sejak awal memang tidak menyukai kakaknya, dengan alasan sang kakak yang tak kunjung memberikan keturunan. Nita sang kakak akan dimadu, tapi dia memilih untuk berpisah. Satu minggu yang lalu suaminya menjatuhkan talaknya, karena itu dia kembali ke kediaman orang tuanya.
"Hanya karena belum memiliki keturunan mereka menyarankan putra mereka berpoligami?" tanya Mala tidak percaya.
"Apa putra mereka sudah memenuhi syarat untuk berpoligami. Tidak mudah bagi seorang pria bisa bersikap adil pada kedua istrinya. Adil bukan hanya materi tapi adil dalam semua aspek." jelas Mala karena sedikit kesal mendengar ketidak adilan yang di alami Nita.
"Apa kakak Mbak Lila memiliki suatu penyakit hingga tidak bisa memiliki keturunan, membuat keluarga suaminya memutuskan untuk menjodohkan suaminya dengan wanita lain?" tanya Mala lagi. Lila menggelengkan kepala.
"Itu hanya alasan keluarganya saja. Usia pernikahan mereka baru satu tahun, masih hal wajar jika belum memiliki keturunan." jawab Lila.
"Bukan hanya istri yang bermasalah jika tidak memiliki keturunan, suamipun bisa" sahut Mala.
"Harusnya mereka berusaha dahulu, banyak cara untuk bisa mendapatkan keturunan. Bila perlu mereka cek kesehatan masing-masing siapa disini yang bermasalah. Mereka juga bisa ikut program promil atau bayi tabung."
"Kakak saya sudah menyarankan itu, tapi di tolak" jawab Lila.
"Ya, saya juga berpikir begitu"
"Hemm"
Deheman Galih menarik perhatian Mala dan Lila yang sibuk bicara berdua dan mengabaikan kehadiran laki-laki itu.
"Maaf Mas, Mala terbawa emosi" ucap Mala yang lupa kondisi dan keadaan meluapkan rasa kesalnya.
"Hai Lila, kita bertemu lagi. Terima kasih sudah mau datang" Syifa yang melihat kehadiran Lila langsung menyapa.
"Galih, terima kasih juga sudah mau hadir bersama istri. Silakan di nikmati" Syifa berlalu meninggalkan mereka setelah menyapa.
"Mbak Lila kenal dia"
"Semalam saat makan malam bersama mas Arfan, kami bertemu. Dia memperkenalkan Dirga sebagai calon suaminya pada mas Arfan dan berkenalan dengan saya" jawab Lila.
__ADS_1
Mala dan Galih saling berpandangan, sekarang mereka tahu hubungan Arfan dan Syifa sudah berakhir.
Materi kelas mata pelajaran perpajakan hari ini disampaikan sendiri oleh Dito dengan Zoya yang juga hadir sebagai asistennya.
"Zoya, saya ingin mengajak kamu makan siang" ucap Dito sambil melihat Zoya yang membantunya membereskan hasil kerja mahasiwanya.
"Saya..." belum selesai Zoya bicara ponselnya berdering.
"Sebentar Pak" Zoya meminta ijin untuk mengangkat telepon. Dito mengangguk mengijinkan.
"Maaf Pak, saya tidak bisa. Saya sudah di tunggu diparkiran." jawab Zoya.
"Baiklah tidak apa-apa, mungkin lain kali saya bisa mentraktir kamu." balas Dito walau sebenarnya dia cukup kecewa.
Zoya berjalan keluar gedung, dia cukup terkejut karena Leo menunggunya bukan di parkiran tapi tepat didepan lobby gedung fakultas ekonomi dimana Zoya berada.
"Bang, Zoya kira diparkiran" ucap Zoya begitu dia mendekati Leo yang berdiri didekat pintu. Leo tersenyum menanggapi ucapan Zoya.
"Ayo" ajaknya yang disetujui Zoya.
Tanpa Zoya tahu jika Dito memperhatikannya dari jauh. Laki-laki itu tidak bisa mengerti dengan perasaannya sendiri, mengapa dia merasa kecewa saat melihat Zoya tersenyum bahagia melihat kehadiran Leo. Apakah dia sudah memiliki rasa pada asistennya itu?
Zoya mungkin tidak tahu jika Dito memperhatikan mereka, tapi tidak dengan Leo. Laki-laki itu bermata elang dan tajam, terbiasa menenemani Galih dan memantau keadaan membuatnya terlatih untuk memindai. Leo bisa berbangga hati karena Zoya lebih memilih menemaninya dari pada bersama Dito.
Lima belas menit lagi Zoya menyelesaikan tugasnya sebagai asisten dosen. Leo sudah hapal jadwal kegiatan gadis itu. Setelah menyelesaikan tugas kantornya, Leo langsung menuju kampus dimana Zoya berada. Tiba disana dia ingin memberi kejutan dengan menjemput gadis itu tepat di depan kelasnya. Sayangnya dia mendengar ucapan Dito yang mengajak Zoya untuk makan siang bersama. Tidak ingin rencananya gagal, Leo segera menghubungi Zoya dan kembali turun kelantai bawah. Berdiri di dekat pintu lobby agar gadis itu dengan cepat menemukannya.
Kejutannya mungkin gagal, tapi tidak dengan rencana lainya yang sudah Leo persiapkan. Laki-laki itu tersenyum tipis sambil bersorak riang didalam dadanya. Kali ini dia jadi pemenangnya.
Melihat Leo membuka pintu kendaraan milik laki-laki itu untuknya membuat Zoya tersenyum pada Leo. Saat Zoya menundukkan kepalanya, dia melihat setangkai bunga mawar merah di bangku mobil yang akan dia duduki. Repleks, Zoya mengambil bunga itu.
"Ini..." Zoya menghentikan ucapannya saat membaca kartu ucapan yang tertuliskan untuk Zoya wanita yang istimewah.
Hati Zoya merekah seperti bunga mawar yang kini ada di tangannya.
"Terima kasih" ucap Zoya dengan wajah yang merona merah.
Wanita mana yang tidak luluh dengan perlakuan romantis seperti ini. Zoya mengakui Leo bukan laki-laki yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, tapi sikap laki-laki itu sangat jelas jika dia punya rasa padanya. Salahkah Zoya berpikir seperti itu?
Sambil berjalan menuju pintu kemudi, Leo mengepalkan tangannya sambil berteriak "Yes" dalam hati. Wajahnya terus melukiskan senyum dan berkata, "Biarkan aku bahagia"
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...