
Sudah hampir tengah malam saat Galih pulang dan menemukan Mala yang masih terjaga di ruang tengah menunggu kepulangannya. Ada perasaan bersalah dan menyesal begitu melihat wanita yang dicintainya dengan setia menunggu hingga larut malam. Galih tidak segera pulang setelah menemui mama Vina, dia menghabiskan waktu bersama pengacara keluarganya dan juga Alan yang ikut bergabung, setelah mendengar kabar mama Vina di tangkap dan di tahan pihak yang bewajib. Galih lupa jika Mala tidak bisa tidur tanpa guling atau dipeluk olehnya, yang sekarang menyesal telah meninggalkan istrinya terlalu lama.
"Mas, mau Mala siapkan makan malam?" tanya Mala begitu dia selesai mencium punggung tangan suaminya.
"Tidak usah, Mas sudah makan. Kamu sudah makan?" jawab dan tanya Galih.
"Sudah, tadi berdua papa" jawab Mala sambil menjauh dari Galih.
Terkejut dengan sikap Mala yang menjauhinya, Galih langsung menarik tangan Mala dan membawa istrinya kedalam dekapannya. Mala berontak, bukan tidak ingin dipeluk suaminya, tapi Mala tidak suka dengan aroma tubuh Galih yang tidak biasanya. Galih mengira Mala merajuk karena terlalu lama ditinggal, sehingga istrinya itu tidak ingin dekat dan dipeluk olehnya.
"Kenapa?" tanya Galih begitu melihat Mala menutup hidung dan mulutnya.
"Mas bau rokok" jawab Mala yang kembali menjauh begitu Galih melepaskan pelukannya.
"Mas ngeroko?" tanya Mala. Galih menggeleng.
"Kenapa bau rokok?" tanya Mala lagi.
"Pak Roni yang merokok, bukan Mas" jawab Galih memberi tahu Mala.
"Mandi Mas, Mala tidak kuat mencium baunya" perintah Mala pada Galih.
Laki-laki itu menuruti apa yang menjadi keinginan Mala, dia segera berlalu dan masuk ke kamar untuk membersihkan diri setelah mencuri cium di pipi Mala. Sementara Mala terduduk di sofa dengan lemas, sejak dulu dia memang tidak suka aroma rokok, tapi tidak separah saat ini. Biasanya hanya merasa sedikit pusing, tidak sampai mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya seperti tadi.
Tanpa Mala dan Galih sadari, jika yang terjadi diantara mereka di saksikan oleh papa Andro, terlukis senyum diwajahnya melihat apa yang terjadi dengan anak dan menantunya.
"Riadi, apa yang kita impikan sebetar lagi akan terwujud" gumam papa Andro sambil kembali menutup pintu kamarnya.
Tadinya papa Andro ingin bicara dengan Galih tentang kasus mama Vina yang dia laporkan pada pihak yang berwajib, namun langkahnya terhenti begitu melihat dan mendengar percakapan anak dan menantunya. Melihat keduanya mengingatkan masa lalu papa Andro bersama Sandra, wanita yang dicintainya hingga detik ini.
"Mas, Mala itu semakin besar semakin cantik ya." Puji Sandra pada putri sahabat mereka, Riadi dan Sarah.
"Bagaimana kalau kita jodohkan dengan Galih? Aku sangat ingin memiliki seorang putri seperti Mala, sayangnya itu tidak mungkin terjadi." tanya dan keluh Sandra pada Andro.
"Mas dan Riadi sudah membicarakan masalah ini"
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Sandra lagi, karena tidak menyangka jika suaminya dan sahabat suaminya itu sudah punya rencana seperti yang dia pikirkan.
"Kami ingin menjadikan persahabatan ini menjadi ikatan keluarga dengan menjodohkan Galih dan Mala" jelas Andro pada istrinya.
"Aku akan sangat bahagia jika memang keduanya bisa bersama kelak" Sandra mengungkapkan perasaannya.
Papa Andro mengusap foto mama Sandra tepat diwajah istrinya yang tersenyum, senyum yang mampu memberikan ketenangan bagi papa Andro.
"Sayang, apa yang kamu inginkan sudah Mas penuhi. Putra kita menikah dengan Mala, satu-satunya menantu yang kamu inginkan. Kamu bisa bahagia sekarang." ucap Papa Andro yang bicara dengan foto mama Sandra.
Mala menyusul Galih masuk kekamar setelah dia menghilangkan rasa pusing dan mualnya karena bau rokok yang melekat di tubuh dan pakaian Galih. Seperti biasa, Mala menyiapkan pakaian suaminya. Perhatian Mala teralihkan pada laci yang ada didalam lemari pakaian milik Galih. Bukan karena posisinya yang sedikit terbuka, melainkan sesuatu yang Mala kenali.
"Ini" gumam Mala begitu mengenali kalung yang kini ada ditangannya.
Sebuah kalung yang pernah Mala berikan pada Galih sebagai hadiah ucapan terima kasih pada laki-laki itu. Ada perasan haru yang Mala rasakan, mengingat waktu kejadian yang sudah sangat lama, tapi suaminya masih menyimpan benda kesayangan yang Mala miliki saat itu.
"Kamu mau apa?" tanya Mala saat seseorang mendorongnya di tembok lorong sekolah.
"Hei anak manja, jangan berani-berani kamu mengadu pada guru lagi kalau tidak ingin kami sakiti." ucap salah satu anak laki-laki yang berada di belakang anak perempuan yang sedang mencengkram kerah baju seragam sekolah yang Mala kenakan.
"Tidak ada yang mengadu, Ibu Sri hanya bertanya sama aku karena melihat sendiri apa yang kalian lakukan pada Ridho." Jelas Mala pada keempat anak yang sedang membullynya.
Belum sempat anak perempuan yang lain mejambak rambut Mala, suara seseorang menghentikan aksi anak perempuan tersebut. Yang mencengkram kerah pakaian Mala juga ikut melepaskan cengkramannya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya seorang siswa yang mengenakan seragam SMP itu.
"Tidak ada kak, kami sedang merapikan pakaian Mala" jawab anak perempuan yang tadi mencengkram kerah pakaian Mala.
"Benar kak, kami ini berteman. Iyakan La?" Anak laki-laki yang tadi mengancam Mala yang menjawab.
Mala hanya diam, tidak ingin mejawab pertanyaan anak laki-laki itu yang jelas berbohong. Galih tidak dapat dibohongi, dia tahu jika Mala saat ini sedang diganggu teman-temannya.
"Kalau sampai kalian menyakiti Mala, kalian akan berhadapan dengan saya" ancam Galih pada keempat anak tersebut.
Mendengar ancaman dari Galih, mereka pergi begitu saja meninggalkan Mala dan Galih.
__ADS_1
"Terima kasih Mas" ucap Mala tulus, karena Galih dia terbebas dari keempat kakak kelasnya yang terkenal nakal di sekolah.
"Ayo pulang" ajak Galih.
"Mas Arfan?" Bukan mengikuti ajakan Galih, Mala malah balik bertanya.
"Arfan tadi jatuh saat olah raga, dia masih ada di UKS SMP. Sekarang kamu ikut aku ke tempat Arfan" jawab Galih sambil menjelaskan.
"Naik" Galih memerintahkan Mala naik ke punggungnya.
Mala yang menganggap Galih sama seperti Arfan kakaknya, tanpa menolak dia naik ke punggung Galih. Tanpa Mala tahu, saat itulah Galih merasakan hatinya bahagia dan bergetar. Jarak antara gedung SD dan SMP lumayan jauh walau mereka dalam satu lingkungan, hal itulah yang menyebabkan Galih menyuruh Mala naik kepunggungnya seperti yang biasa Arfan lakukan pada Mala.
"Mas Galih, terima kasih" ucap Mala begitu mereka tiba di depan UKS dimana Arfan istirahat disana.
"Ayo masuk" ajak Galih pada Mala. Tapi langkahnya terhenti saat Mala menahannya.
"Sebentar" ucap Mala, lalu dia mengeluarkan sebuah kalung yang biasa dia kenakan. Mala melepas kalung itu dan menyerahkannya pada Galih.
"Ini buat Mas Galih, sebagai tanda ucapan terima kasih" Ucap Mala sambil menyerahkan kalung itu pada Galih.
"Terima kasih. Boleh aku pakai?" jawab dan tanya Galih. Mala mengangguk sambil tersenyum. Tanpa dia sadari jika senyum itu membuat Galih selalu mengingat kisah antara mereka.
"Mas" ucap Mala pelan saat Galih tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Mas masih menyimpan ini?" tanya Mala.
"Hemm, itu satu-satunya hadiah yang pernah kamu berikan untuk Mas" jawab Galih setelah melihat benda yang dipegang Mala tanpa melepaskan pelukannya.
"Itu kalung kesayanganmu bukan?" Mala mengangguk menjawab pertanyaan Galih.
Tanpa memberi aba-aba, Galih mengangkat tubuh istrinya lalu membaringkannya di tempat tidur. Galih menginginkan Mala malam ini. Kalung itu selalu mengingatkan Galih dimana pertama kali dia dan Mala terlihat akrab dan dekat, walau setelahnya mereka kembali seperti dua orang asing yang jarang bicara. Sekarang itu tidak akan terjadi lagi, Galih tidak akan melepaskan Mala untuk kedua kalinya.
"Sayang" panggil Galih pelan sambil menatap mata istrinya.
Mala mengangguk mengijinkan, dia faham apa yang diinginkan Galih bila memanggilnya seperti itu. Suaminya sedang menginginkan mereka bersatu, dan Galih selalu meminta ijin padanya terlebih dulu.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...