
Bersama bunda Sarah, Mala mengujungi mama Vina. Walau beberapa hal yang dilakukan ibu tiri Galih itu berdampak buruk bagi Mala, tapi dia tidak bisa membenci wanita yang kini ada di hadapannya. Semua yang dia lakukan adalah karena tekanan dari seseorang. Mala tahu jika mama Vina sebenarnya sayang padanya dan Galih, hanya saja seseorang menjadikannya seperti sekarang ini.
"Mala, Sarah." panggil mama Vina begitu melihat orang yang mengunjunginya adalah mantan menantu dan besannya.
"Bagaimana kabar Mama?" tanya Mala.
"Seperti yang kamu lihat, Nak." jawab mama Vina sambil menunjukkan dirinya yang terlihat lebih kurus.
"Ma, Mala dan Bunda datang kesini ingin membantu Mama agar segera bebas." ucap Mala.
"Maksud kamu apa, Mala?" tanya mama Vina tidak mengerti.
Mala tersenyum, lalu dia meraih tangan wanita yang sampai sekarang masih dia hormati.
"Aku tahu Mama tidak bersalah atas kematian mama Sandra, juga peristiwa-peristiwa lainnya" jelas Mala.
Mama Vina menatap lekat Mala, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Bagaimana Mala bisa mengatakan hal itu, apa yang sudah terjadi diluar sana yang tidak dia ketahui.
"Tapi tidak ada yang percaya pada mama kamu ini, Nak. Termasuk papa kamu dan Galih." sahut mama Vina.
Papa Andro tidak mau mendengar penjelasan mama Vina saat itu. Begitu dia mengetahui bahwa ibu yang melahirkan Galih pergi untuk selamanya karena pembunuhan berencana, mertua mala itu marah dan langsung pergi begitu saja membuat laporan tentang kejahatan mama Vina. Kejahatan yang sebenarnya tidak pernah mama Vina lakukan.
"Maafkan mas Galih dan papa, Ma. Saat itu mereka masih merasa sangat terpukul, begitu tahu mama Sandra meninggal secara tidak wajar." jelas Mala.
"Papa bahkan sampai sakit." tambah Mala penjelasannya.
"Bisa jeng Vina ceritakan pada kami, apa sebenarnya yang terjadi?" bunda Sarah yang bertanya.
"Kalian tahu siapa pelaku sebenarnya?" tanya mama Vina.
Mala mengangguk, begitupun bunda Sarah. "Iya kami tahu." jawab Mala.
"Dari mana kalian tahu masalah ini? Bertahun-tahun masalah ini tidak terendus siapapun, jika bukan karena saya yang di jadikan korban dia seperti sekarang ini."
__ADS_1
"Seseorang membeberkan siapa dalang dari masalah yang selalu datang di keluarga mas Andro dan juga keluarga kami." jelas bunda Sarah menjawab pertanyaan mama Vina.
"Toni juga banyak memberi keterangan pada kami." tambah Mala ucapan bunda Sarah.
"Selama ini hanya Toni, orang yang tulus membantu saya." sahut mama Vina.
"Kami sama-sama menjadi korban laki-laki itu, bahkan kami harus mengikuti semua keinginan dan perintahnya."
"Mama dibuat seakan-akan berselingkuh dengannya. Pada kenyataanya kami tidak memiliki hubungan apa-apa."
"Toni selama ini sering menyelamatkan perusahaan Andromega dari ancaman laki-laki itu." jelas mama Vina.
Mala membenarkan ucapan mama Vina, karena itu Toni dipertahankan di perusahaan. Kinerjanya sangat baik meski dia dituduh memiliki skandal dengan mama Vina.
"Laki-laki itu, laki-laki kejam. Dia bisa mengorbankan siapa saja tanpa peduli saudara, istri bahkan anaknya sendiri" ucap mama Vina lagi, mengawali cerita sebenarnya.
Satu persatu cerita mengalir dari mulut mama Vina, dia menceritakan semua kejadian sebenarnya tentang kematian Sandra ibu kandung Galih itu. Dia juga menceritakan bagaimana Kiara di jadikan umpan untuk memisahkan Galih dan Mala, juga Alan yang diadu domba dengan Galih. Semua yang diketahui oleh mama Vina dia ceritakan tanpa terlewatkan satupun.
Sementara itu, di Solo eyang Retno dalam keadaan kritis. Nafasnya sempat terhenti saat Galih baru saja tiba di ruang ICU dimana eyang Retno dirawat. Mendengar suara pendeteksi detak jantung berubah, suster segera memanggil dokter yang akhirnya bisa menyelamatkan eyang Retno.
Pesawat yang ditumpangi Galih dan Alan mendarat mulus. Keluar dari pintu kedatangan Galih dan Alan sudah di tunggu oleh orang-orang ayah Alan yang bertugas di Solo.
"Kita langsung menuju lokasi." perintah Galih pada sopir yang juga orang kepercayaan ayah Alan.
Bangunan tua itu terlihat sepi bagi mereka orang biasa, tapi tidak bagi mereka yang biasa menjadi mata-mata. Penjaga dibangunan tua itu tidak terlihat seperti pasukan keamanan. Mereka menyamar seperti rakyat biasa, tapi mata dan telinga mereka waspada.
"Ganti pakaian." ucap Alan mengajak Galih sebelum mereka turun dari mobil yang juga bukan mobil mewah biasa mereka kendarai.
Sebagian orang-orang mereka juga sudah bergabung disana ikut menyamar jadi masyarakat biasa. Mereka sudah mengatur strategi, jika musuh menyamar agar tidak dikenali, Galih dan Alan juga akan melakukan hal yang sama.
Galih dan Alan turun lalu masuk kedalam rumah tepat di hadapan bangunan tua itu. Rumah yang mendadak mereka sewa sejak tadi malam untuk mengintai.
"Sepertinya kita harus menunggu sampai malam, Pak." ucap sopir yang menemani Galih dan Alan di dalam rumah.
__ADS_1
"Ya, lingkungan disini terlalu ramai untuk bertindak siang hari" sahut Galih.
Malam tiba, Alan menerima laporan jika Yamin sudah berada di rumah. Laki-laki itu tadi pergi ke rumah sakit, seperti laporan orang mereka yang mengikuti kemana Yamin pergi. Sepertinya laki-laki itu ingin melihat dan memantau langsung kondisi eyang Retno.
Menyelinap, satu persatu Galih dan Alan diikuti orang-orang mereka menyingkirkan para penjaga bangunan tua itu. Bertarung dengan tangan kosong membuat Galih harus lebih banyak mengeluarkan tenaga.
Yamin tengah bergelut dengan wanita bayarannya saat Galih dan Alan masuk kekamar itu.
"Ceroboh." ucap Alan menghina Yamin lalu memberi kode pada orang kepecayaanya untuk membawa Yamin ke markas mereka.
Pantas saja, laki-laki tua itu tidak mendengar keributan yang mereka ciptakan diluar. Dia sedang bercinta, bukan hanya satu wanita, tapi ada dua wanita yang tengah melayani nafsu birahinya.
Galih yang melihatnya langsung memalingkan wajah, berbeda degan Alan yang tampak biasa saja. Dia seorang player, tentu saja dia juga pernah melakukan hal gila seperti ini dimasa lalu untuk bersenang-senang.
Ponsel Galih berdering, cukup mengejutkan Galih yang tengah menatap kosong pada eyang Retno dari balik kaca. Mala yang menghubunginya, membuat laki-laki itu tidak bisa menolak untuk menerima panggilan itu.
"Iya sayang." jawab Galih begitu di menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Mas, Mala dan bunda sudah menemui mama." lapor Mala.
"Kamu sampaikan permintaan maaf Mas pada mama?" tanya Galih.
"Sudah. Oma bagaimana?" jawab dan tanya Mala untuk mengalihkan pembicaraan. Mala tidak ingin Galih sedih membicarakan mama Vina, suaminya itu merasa sangat bersalah sempat kasar pada wanita yang merawatnya selama ini.
"Oma sempat kritis, sekarang sudah baik-baik saja." jawab Galih.
"Mas Galih dimana sekarang?" tanya Mala.
"Di rumah sakit"
Mendengar jawaban Galih, Mala merubah panggilan teleponnya menjadi panggilan video. Wajah lelah suaminya yang pertama terlihat dilayar pipih milik Mala. Meski Galih tersenyum tetap saja tidak bisa menyembunyikan kelelahan dan kesedihan dari wajah tampan itu.
Melihat itu, Mala hanya bisa berdoa dan beharap. Semoga semua masalah yang menimpa mereka dan keluarga segera berlalu, dan dia menjalani hidup bahagia berdua Galih dan buah hati mereka.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...