BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
8. Memutuskan


__ADS_3

Hari ini hari dimana Mala harus menentukan keputusannya untuk menerima atau tidak lamaran dari Pak Andro untuk putranya. Sahabat ayahnya itu memang tidak memaksa tapi sangat terlihat berharap, itu yang Mala lihat.


"Kamu sudah memutuskan?" tanya Arfan.


Kakak laki-laki Mala itu sengaja pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Dia ingin tahu jawaban adiknya untuk malam ini, kebetulan juga karena menghadiri rapat pemegang saham Mala sejak siang sudah berada dirumah.


"Menurut Mas Arfan, Mala sebaiknya bagaimana?" tanya Mala ingin tahu pendapat kakaknya.


Bunda Sarah sendiri sudah menyerahkan keputusan pada putrinya, karena Mala yang akan menjalani pernikahan ini. Tapi Bunda memberi pandanganya tentang keluarga Pak Andro terutama tentang Galih.


"Yang bunda tahu, Pak Andro itu teman terbaik ayah, mereka bahkan sudah seperti saudara. Sejak mereka masih kuliah mereka sudah merintis mendirikan perusahaan bersama, dengan mengumpulkan modal dari kerja paruh waktu yang mereka lakukan" Bunda Sarah memberitahu Mala.


"Sampai ayah tiadapun Pak Andro tetap menjaga amanah dengan baik, karena itu kehidupan kita tetap stabil walau ayah sudah tiada" lanjut Bunda Sarah.


"Galih juga anak yang baik sejauh bunda mengenalnya. Prestasinya juga bagus, hanya beberapa gosip membuatnya sedikit cacat. Tapi bunda yakin Galih tidak seperti yang dibicarakan orang. Waktu kecil samapi dia SMP masih suka bermain dengan Mas Arfan dan kamu juga sering ikut bersama mereka"


Itu benar, karena hubungan baik orang tua mereka, Galih sering bermain dengan Arfan sampai mereka lulus SMP. Keduanya melanjutkan SMA diluar negeri, Galih melanjutkan ke Australia sementara Arfan ke Singapura. Semenjak itu mereka tidak pernah lagi bertemu.


Dari cerita Bunda Sarah, Mala bisa menyimpulkan kalau tidak ada niatan dari Pak Andro yang ingin menikahkan Mala dan Galih karena ingin menguasai saham yang dimiliki keluarga mereka seperti dugaan Tias.


Setelah tahu Mala dan keluarganya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan Andromega sama seperti Pak Andro, Tias berpikir kalau perjodohan ini karena keluarga Pak Andro ingin menguasai saham lebih banyak lagi. Bila Mala menikah dengan Galih, kedudukan pria itu sebagai direktur utama bisa dipertahankan. Kalau tidak bisa saja kekuasaan tersebut diambil alih Arfan atau Mala. Itu yang sempat di ungkapkan Tias pada Mala.


"Ayah tidak akan sembarangan menyerahkan putrinya kesembarangan orang" jawab Arfan.


Mala mengerti maksud Arfan, ayahnya sangat sayang dengan Mala tentu saja dia ingin putrinya bersanding dengan orang yang tepat. Sayangnya Mala bisa memenuhi keinginan ayahnya dengan hanya nikah kontrak.


Hanya itu yang diucapkan Arfan untuk Mala, dia yakin sebenarnya adiknya sudah mempunyai keputusan hanya saja belum yakin sepenuhnya. Mala akan menuruti semua keinginan ayah mereka semasa beliau masih hidup, Arfan yakin kali ini Malapun akan menjalankan keinginan terakhir ayah mereka.


Yang ingin Arfan ketahui saat ini adalah hubungan Mala dan Dito, tidak biasa seorang dosen mengajak mahasiswinya makan diluar jika hanya membahas perkuliahan. Terlebih lagi Dito masih muda dan juga tampan, mungkin saja adiknya memiliki perasaan pada dosen pembimbingnya itu.


"Boleh mas tanya sesuatu?" tanya Arfan.


"Tanyakan saja mas, masalah apa?" Mala balik bertanya.


"Apa kamu ragu karena Dito?" tanya Arfan.


Mala menyatukan alisnya lalu tertawa. Dia yakin Mas Arfanya sudah salah mengerti antara dia dan Dito. Tapi Mala tidak bisa menyalahkan Arfan, memang hal yang tidak wajar seorang dosen mengajak mahasiswinya makan diluar kalau tidak ada maksud lain.


"Mala dan Pak Dito tidak ada hubungan apa-apa mas" jawab Mala setelah menghentikan tawanya karena Arfan terus menatapnya.

__ADS_1


"Memang dia pernah menyatakan perasaannya tapi Mala tidak memiliki rasa apapun padanya" lanjut Mala memberi tahu Arfan.


"Bagus kalau begitu" ucap Arfan.


"Jadi?" tanya Arfan lagi.


"Kalau Mala terima lamaran ini menurut Mas Arfan bagaimana?"


"Jadi kamu menerimanya? Kenapa?" Arfan balik bertanya.


"Menurut mas gimana?" Arfan mendesah. Mala tidak akan menjawab kalau pertanyaanya belum dijawab.


"Tidak buruk. Seperti mas bilang Galih pria yang baik, dia juga laki-laki setia" jawaban Arfan tentang kesetiaan Galih sedikit menganjal dipikiran Mala.


Mala teringat cerita Tari bagaimana Arfan begitu setia dan mencintai Rania sampai akhirnya dia merasakan sangat sakit setelah tahu gadis itu berpaling.


"Kenapa adik mas yang cantik ini mau menerima perjodohan ini?" tanya Arfan.


"Mungkin ini cara Mala berbakti pada ayah" jawab Mala jujur, karena inilah tujuannya menyetujui nikah kontrak yang ditawarkan Galih.


"Kamu yakin?" tanya Arfan lagi. Malah menggeleng ragu.


"Tinggal menunggu beberapa jam lagi" ucap Arfan mengingatkan.


Waktu yang ditunggupun akhirnya tiba, Pak Andro datang bersama istri dan putranya. Mereka disambut Bunda Sarah dengan ramah, dia sudah menyiapkan jamuan makan malam untuk keluarga tersebut sebelum Mala memberikan jawabannya.


Sementara Mala masih dikamarnya sambil kembali membaca isi perjanjian dari surat nikah kontrak yang dibuat Galih. Bimbang dan ragu mengalahkan keyakinan yang dia putuskan sebelumnya.


"Bismilah" ucap Mala lalu menyimpan kembali surat itu setelah mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Neng sudah ditunggu dimeja makan" ucap Bi Inah begitu Mala membuka pintu kamarnya.


Bi Ina tampak senyum-senyum membuat Mala bertanya-tanya ada apa dengan asisten rumah tangga bundanya ini. Tidak biasanya Bi Ina seperti ini.


"Ada apa bi?" tanya Mala.


"Anu neng, calon suaminya neng Mala ganteng pisan. Cocok sama Neng Mala yang cantik" jawab Bi Ina membuat Mala menggeleng-gelengkan keplanya.


Mala segera keluar dan menuju meja makan dimana ketiga tamunya sudah duduk disana. Galih memang tampan seperti yang di katakan Bi Ina, sayangnya hati Mala terkunci pada cinta pertamanya dan sulit berpaling.

__ADS_1


Mala langsung menghampiri Pak Andro dan istrinya yang sudah duduk di meja makan, dia menyalimi kedua tangan suami istri itu. Mala hanya menundukkan kepalanya memberi hormat pada Galih.


Malam ini Mala tampil sedehana seperti biasanya, tidak ada riasan berlebih yang dia gunakan agar terlihat cantik karena dia memang tidak suka dengan namanya yang berlebihan. Biarpun Mala tampil apa adanya, tetap membuat Galih terpesona pada gadis itu.


Arfan bisa menagkap tatapan kagum Galih pada adiknya, membuat kakak Mala tersebut yakin kalau Galih sudah jatuhh cinta pada Mala meskipun adiknya belum memiliki rasa apapun pada pria itu.


Mereka mulai makan malam, sesekali Pak Andro dan Bu Vina bicara masa lalu bersama Bunda Sarah. Sementara Galih, Arfan dan Mala hanya menyimak dan sesekali ikut tertawa apa yang ditertawakan para orang tua sampai akhirnya mereka menyelesaikan acara makan malam tersebut.


Meja sudah dibersihkan oleh Bi Ina dan putrinya yang sedang ikut menginap di kediaman mereka. Menu berganti makanan ringan untuk pencuci mulut sambil menemani mereka berbincang.


Bunda Sarah sengaja tidak mengajak tamunya kembali keruang tamu, dia membiarkan mereka bicara di ruang makan biar terkesan lebih santai walau menentukan keputusan yang besar.


"Hemm"


Pak Andro sengaja berdehem untuk menarik perhatian semua yang ada disana.


"Bisa kita mulai?" tanyanya dan mendapat anggukan dari semuanya kecuali Mala.


"Seperti yang sudah kita ketahui, kunjungan kami malam ini untuk menindak lanjuti kunjungan kami sebelumnya" ucap Pak Andro membuka percakapan ini.


"Tiga hari ini Galih dan Mala sudah sering berkomunikasi bahkan mereka sudah jalan berdua. Itu sangat baik, setidaknya mereka bisa saling mengenal" lanjut Pak Andro.


"Jadi nak Mala"


Pak Andro melihat kearah Mala, sementara yang dilihat tidak berani melihat kemanapun kecuali menundukkan kepala.


"Apa kamu sudah siapa menjawab?" tanya Pak Andro.


Mala mengangkat kepalanya melihat kearah Pak Andro dan Bu Vina sejenak lalu beralih kearah Galih dan mendapati pria itu yang sedang tesenyum padanya.


"Kenapa dia memasang senyum semanis itu. Apa dia berusaha menggodaku?" Mala bicara dalam hatinya dan kembali teringat dengan ucapan Bi Ina.


Kini Mala melihat kearah Bunda Sarah dan Arfan. Dia menari nafas panjang dan menahannya sesaat lalu menghembuskannya dengan pelahan.


"Saya sudah bicara dengan Mas Arfan, jadi saya serahkan jawabannya kepada Mas Arfan sebagai wali saya menggantikan ayah" jawab Mala.


Ya Mala tidak bisa memutuskan, karena itu dia menyerahkan pada Arfan. Dari yang Mala lihat Bunda Sarah dan Arfan mendukung perjodohan ini, Arfan juga tahu alasan Mala jika menerima perjodohan ini dan alasan bila menolak peejodohan ini. Berdasarkan itu semua dan surat perjanjiannya dengan Galih, Mala siap jika Arfan menerima lamaran ini.


...⚘⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2