
Mengusir sepi dan kesendirianya Tias berjalan tanpa arah di sepanjang jalan Malioboro, dia menikmati keramaian kota Jogja menghilangkan kesal dan sesak di dadanya. Cinta buta membuatnya terlalu terobsesi pada sosok Galih, entah apa yang membuatnya begitu saja menaruh hati pada laki-laki itu. Padahal pertemuan pertama tidak ada sapa apa lagi senyum dari laki-laki itu, namun hatinya bergetar dan menginkan laki-laki itu menjadi milikinya. Dia terlalu mencintai laki-laki itu. Jangan tanyakan mengapa? karena Tiaspun tidak tahu jawabannya.
Masa lalu yang buruk tidak membuat Tias merasa tidak pantas untuk pria seperti Galih, apa lagi dia sudah melakukan operasi mengembalikan keperawanannya, sayangnya hal itu kembali terengut oleh Ardi sahabatnya sendiri karena rasa kecewanya yang berlebihan pada Mala dan Galih.
Disaat seperti ini sosok Alan tiba-tiba hadir dalam pikirannya, setidaknya laki-laki itu bisa membuatnya bahagia walau sesaat. Tapi kali ini Alan benar-benar tidak mengusiknya, padahal pagi tadi saat di bandara pria itu masih menunjukkan tanda-tanda kalau dia ingin meghabiskan waktu bersenang-senang dengannya.
BRUK
"Akhh" teriak Tias saat seseorang menabraknya.
"Maaf mbak, maaf saya tidak senga..., Tias?" permintaan maaf Indra terhenti saat menyadari yang ditabraknya adalah Tias.
"Sory Yas, gue sibuk moto, jadi lupa kalau lagi di jalan" lanjut Indra ucapnya.
"Untung gue yang lo tabrak, kalau nenek-nenek gimana? Bisa-bisa remuk di tabrak sama orang yang punya badan besar tinggi kayak lo" hardik Tias pada teman SMP nya itu.
Indra terkekeh mendengar jawaban Tias, tapi benar juga yang dikatakan temanya itu. Ini kali kedua dia menabrak orang di hari yang sama. Terlalu fokus sama objek fotonya, membuat Indra sering lupa dimana dia berada. Hobinya yang mengarahkan lensa kamera pada sesuatu yang menarik baginya sudah dia lakukan sejak dulu, dan itu bisa membuatnya lupa tempat dan waktu, terlebih lagi saat hatinya ingin melupakan orang yang tidak mungkin bisa dimilikinya. Sementara sebagai pemburu berita, dia lakukan hanya sebagai pengisi waktu kosongnya.
"Lo sendirian Yas?"
"Mau sama siapa lagi, pacar gue nggak punya. Sahabat gue juga udah lupa sama gue" jawaban Tias membuat Indra tersenyum mendengarnya.
"Terus ngapain ke Jogja sendirian? Jangan-jangan lo ngutit Mala sama suaminya?"
"Ya enggaklah" elak Tias namun dalam hatinya membenarkan ucapan Indra.
__ADS_1
"Gue lagi ngejar cinta pertama gue, sayangnya hilang lagi jejaknya"
Ucapan Tias membuat Indra menatap lekat teman sekolahnya itu, tidak ada kebohongan disana, Tias benar-benar mengungkapkan apa yang dia rasakan.
"Kalau sulit bisa cari yang lainkan? Tidak harus dengan cinta pertama. Bukankah cinta tak harus memiliki?"
"Dengan mengikhlaskan dia bahagia itu menandakan cinta kita benar-benar tulus"
"Kalau bicara itu enak, tapi bagi yang merasakanya itu sulit" jawab Tias yang merasa tidak sependapat dengan Indra.
"Gue nggak asal bicara, semua itu lagi gue lakuin sekarang"
Berganti Tias yang menatap Indra, laki-laki ini terlihat banyak perubahannya setelah dewasa seperti sekarang, dulu tubuhnya yang kurus kini sudah terlihat berisi dan atletis. Indra yang memiliki kulit sawo matang itu sekarang terlihat lebih bersih dibanding saat mereka masih sekolah. Aura ketampanannya terpancar dan matanya yang besar tidak terlalu terlihat, karena terhalang kaca mata yang modelnya cocok dengan wajahnya yang sedikit bulat.
"Hei" Indra menggerak-gerakkan telapak tangannya didepan mata Tias yang terpaku melihatnya.
Indra terkekeh, Tias tidak tahu saja bagaimana perjuangannya bisa mendapatkan tubuh seperti sekarang ini serta menjaga kebersihannya agar terlihat tampan. Semua hanya karena satu hal, dia ingin terlihat pantas saat menyatakan isi hatinya pada Mala. Sayangnya kerja kerasnya tidak membuahkan hasil, dia kalah sebelum berperang.
"Jangan bilang lo kagum sama gue sekarang" Indra bicara sambil kembali mengarahkan kameranya kesuatu tempat, dimana disana ada seorang wanita yang sejak tadi masih betah duduk disana sambil membaca buku.
"Gue hanya menilai lo, antara dulu dan sekarang"
Indra tidak menjawab ucapan Tias, fokusnya pada wanita yang ada diseberang sana. Wanita itu terlihat terkejut tapi tidak marah saat seseorang menarik bukunya dengan paksa.
"Lo lagi memperhatikan cewek itu?" tanya Tias sambil memukul bahu Indra.
__ADS_1
"Iya, cewek itu terlalu asik dengan bacaanya tanpa peduli lingkungan sejak tadi. Tapi cara cowok itu mengambil bukunya terlalu kasar, dan dia hanya diam saja"
"Lo nggak berubah ya Ndra, suka banget memperhatikan orang dengan segala sikap dan tingkah laku mereka"
"Gue suka aja, dengan begitu kita bisa melihat mana yang baik yang bisa kita tiru dan mana yang buruk untuk tidak kita lakukan"
"Semakin banyak melihat apa yang dilakukan orang lain semakin menyadari kalau gue suka tidak sengaja membuat orang lain kesal dan akhirnya berbuat kasar pada diri kita"
"Gue sama kayak cewek itu, sering terlalu fokus sama objek yang gue foto sampai lupa waktu dan tempat yang suka membuat orang sekitar gue kesal dan pada akhirnya mereka pergi meninggalkan gue, karena merasa kalau keberadaan mereka tidak dibutuhkan oleh gue"
Tias menyimak setiap kata yang diucapkan Indra, apa yang dikatakan temannya itu tidak salah. Sekarang dia merasakan kesendirian itu, hari-hari yang biasanya cerah menjadi gelap. Terlalu fokus mengejar Galih membuat teman dan sahabatnya satu-satu menjauh. Bahkan Ardi yang biasa bisa di ajak bersenang-senangpun mulai menjauh. Kalau saja dia tidak nekat ke Jogja, mungkin sekarang dia bisa menghabiskan waktu bersama Zoya, nonton film di bioskop atau sekedar menemani sahabatnya itu bergadang menghabiskan serial drama korea walau dia tidak terlalu suka tapi dia tidak kesepian. Belanja menghabiskan isi dompet mereka yang pada akhirnya menerima peringatan keras dari Mala dengan segala ceramah yang diberikan sahabat terbaiknya dan Tias bahagia dengan itu semua, dia merasa Mala menhelma menjadi soaok ibu yang megomeli anaknya yang susah lama tidak lagi dia rasakan. Terkadang dia dan sahabat-sahabatnya itu melakukan hal-hal yang bisa membuatnya tertawa lepas. Lalu semua itu hilang dalam sejejap karena persaanya pada Galih yang selama ini dia cari. Tapi apakah dia salah dengan mengejar cinta pertamanya?
Sementara itu, Alan baru saja merasakan kenikmatan yang diberikan istrinya. Sudah lama tidak menyentuh wanita yang halal untuknya membuat Alan merasa kalau Alya sekarang jauh lebih mengairahkan dari pada Tias dan Kiara. Mungkinkah karena niatnya yang ingin memperbaiki rumah tangganya?
Sepulang dari alun-alun kota, mereka menikmati kacang rebus yang dibeli Mala dan Alya di teras belakang kediaman Eyang Retno dan ditemani segelas kopi untuk para pria sedangkan para istri lebih memilih meminum coklat hangat.
Pernyataan Galih yang tiba-tiba mengajak mereka kembali ke kediaman Eyang Retno adalah cara sepupunya itu membentengi dirinya dari wanita lain yang jelas-jelas dulu pernah menyatakan perasaanya pada Galih. Hal itu membuat Alan mengerti, Galih tidak ingin melukai perasaan Mala jika mereka tetap pergi dimana ada Tika disana, wanita itu pasti akan mencari cara mendekati Galih seperti biasanya. Alan harusnya bisa melakukan apa yang Galih lakukan jika ingin bahagia dalam pernikahanya. Dia harus bisa membentengi diri dari wanita lain seperti Kiara dan Tias. Alan menyadari, apa yang sebenarnya dia cari selama ini hanya kenikmatan sesaat.
"Maaf" bisik Alan yang masih bisa didengar Alya.
"Maaf untuk semua kesalahanku selama ini" sambung Alan kata-katanya sambil mengecup pucuk kepala Alya yang dia kira terlelap dalam dekapannya.
Ucapan Alan membuat air mata Alya mengalir, dia dari tadi menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu. Permintaan maaf Alan yang tulus seperti ini sudah lama Alya tunggu-tunggu, tapi mengapa suaminya tidak bisa mengatakan langsung di hadapannya? Bukan disaat laki-laki itu menyangka dirinya yang sudah terlelap.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagia...