BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
32. Pertemuan Zoya dan Abi


__ADS_3

Kepergian ayahnya yang menikah lagi meninggalkan luka dan sakit hati bagi anak laki-laki itu dan juga bagi ibunya. Pasalnya mereka berdua ditinggalkan dan dilupakan begitu saja oleh sang ayah, terlebih lagi ayahnyapun sudah tidak memberikan nafkah lagi. Padahal status ibunya masih istri sah ayahnya, tapi sang ayah lebih memilih istri muda dan putri tirinya yang dinafkahi.


Mengandalkan ijazah diploma tiga yang dimiliki sang ibu, ibunya diterima bekerja sebagai karyawan disalah satu perusahaan swasta. Walau gajinya kecil tapi cukup untuk membiayai hidup mereka dan sekolah anak laki-lakinya yang tidak boleh putus karena keadaan.


Tiga tahun berlalu setelah ditinggal sang ayah, mereka berdua sudah terbiasa tanpa kehadiran sosok laki-laki yang mereka panggil ayah dan suami. Namun ditengah ketenagan hidup yang mereka jalani, anak laki-laki itu dan ibunya menerima kabar kalau sang ayah telah pergi untuk selama-lamanya. Walau masih merasakan sesak dan sakit hati sang ibu tetap mengajak putranya untuk menghadiri pemakaman laki-laki yang sampai sekarang masih berstatus suaminya, karena tidak pernah ada kata cerai walau ditinggalkan begitu saja, sebagai bentuk penghormatan terakhir seorang istri dan anak.


Kepergian sang ayah untuk selama-lamanya membuat kehidupan mereka yang sudah tenang kembali terguncang bahkan lebih menyakitkan. Malam kedua setelah pemakaman, disaat anak dan ibu itu sudah siap untuk tidur mengistirahatkan tubuh mereka setelah satu hari beraktivitas, pintu rumah mereka diketuk. Tamunya adalah istri kedua sang ayah, dan mereka dipaksa pergi dari rumah yang mereka tempati selama ini malam itu juga. Ayahnya telah memberikan hak rumah itu pada istri mudanya tanpa membaginya sedikitpun pada istri sah dan putra kandungnya.


Di malam yang sudah larut, hanya membawa pakaian seadanya, anak laki-laki itu dan ibunya meninggalkan kediaman yang mereka tempati selama ini tanpa tujuan, tidak tahu harus kemana. Anak laki-laki itu dan ibunya terus melangkah berjalan kaki, semakin jauh dari kediaman mereka. Mereka terpaksa hanya jalan kaki, kendaraan roda dua hadiah ulang tahun dari ayahnya untuk sang ibu turut di hak miliki oleh istri muda ayahnya. Peristiwa ini membuat anak laki-laki itu sangat membenci istri muda dari ayahnya itu, dan berjanji suatu saat dia akan membalaskan dendamnya dan membuat susah hidup wanita itu.


Saat mereka akan menyebrang jalan, kebetulan sekali ada seorang laki-laki lewat dan melihat mereka. Merasa kenal dengan wanita yang berjalan bersama anaknya itu, laki-laki itu turun dan menghampiri mereka.


"Kamu bukannya Ratna karyawan saya?!" tanya laki-laki itu.


"Mau kemana?" tanyanya lagi setelah melihat koper yang dibawa keduanya.


"Kalian bawa koper mau pergi atau dari bepergian?" tanya laki-laki itu lagi.


"Kami tidak tahu mau kemana?" anak laki-laki itu yang menjawab.


"Maaf pak, saya dan putra saya baru saja di usir istri muda suami saya" jawab ibunya menjelaskan pada laki-laki yang ternyata pemilik perusahan dimana dia bekerja.


"Suami kamu?" laki-laki itu kembali bertanya.


"Ayah sudah meninggal" kembali anak laki-laki itu yang menjawab.


"Maaf" ucap laki-laki itu menyesali pertanyaannya.


"Tidak apa-apa pak. Maaf saya dan putra saya harus mencari tempat tinggal" ibu anak itu mohon pamit.


"Tunggu, saya ada rumah yang tidak ditempati, untuk sementara kalian boleh tinggal disana" ucap laki-laki itu membuat anak laki-laki itu berucap syukur, merasa senang karena laki-laki pimpinan tempat ibunya bekerja ini mau menolong mereka.

__ADS_1


Sejak hari itu, laki-laki pimpinan perusahaan tempat ibunya bekerja itu sering berkunjung, dia tidak datang sendiri melainkan bersama putrinya. Mereka berempat sering pergi bersama walau hanya sekedar makan malam, terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia, padahal mereka tidak ada ikatan apapun. Hal itu membuat mereka menjadi dekat dan saling menyayangi.


Satu tahun berlalu, laki-laki itu akhirnya menikahi ibunya dan menjadikan dia sebagai putra tertuanya. Kehidupannya jauh lebih baik, ayah tirinya itu tidak membedakan antara dirinya dan adik tirinya. Hubungan mereka juga sangat baik, bahkan tidak ada istilah anak tiri dan ayah tiri di keluarga mereka.


"OMG, ternyata Kak Abi dan Tias bukan saudara kandung" ucap Zoya setelah Abi menyelesaikan cerita tentang bagaimana dia bertemu dengan papa Tias dan menjadi saudara tiri Tias.


Sesuai janji Abi pada Zoya yang ingin memberi penjelasan tentang pernikahannya dengan Saras. Sore ini Abi dan Zoya janji bertemu di sebuah cafe yang tidak jauh dari kediaman Zoya.


"Lalu, bagaimana cerita kakak bisa menikah dengan Saras?" tanya Zoya penasaran.


"Sebelum sampai cerita kakak menikahi Saras, kakak ingin cerita tentang hubungan kakak dengan Mala" jawab Abi yang ingin jujur tentang perasaannya pada Mala.


"Kakak menyukai Mala?" tanya Zoya lagi. Abi mengangguk membenarkan.


Zoya menepuk keningnya, hari ini dia benar-benar mendapatkan banyak kejutan dari Abi. Zoya memang tidak begitu dekat dengan Kakak sahabatnya ini, berbeda dengan Mala yang sudah kenal dengan Abi sejak SMP. Baru kenal dengan Abi beberapa bulan, pria itu hijrah menjadi laki-laki yang sangat menghormati wanita. Karena itu Zoya tidak bisa melihat perhatian lebih seorang Abi pada Mala.


"Kamu pasti tahu keburukan masa lalu Tias" ucap Abi. Zoya mengangguk. Dia belum lama ini tahu jika Tias sejak masuk SMP dan berteman dengan salah orang membuat hidupnya berantakan, tanpa perhatian seorang ibu dan ayah yang sibuk bekerja membuat Tias menjadi anak yang bebas dan akhirnya mencari kesenangan dengan jalan yang salah. Sejak lulus sekolah dasar, Tias sudah mengenal yang namanya narkoba, awalnya dia menggunakan itu untuk mengusir kesepian dan rasa sakit hati pada sang ibu. Namun saat dia tidak sadar dia bukan hanya nge-fly tapi juga bercinta dengan teman-teman prianya yang sama-sama mengkonsumsi obat terlarang itu.


Zoya mengangguk setuju, dia juga tahu itu. Kehadiran Mala membuat Tias menjadi jauh lebih baik dan berlahan menjauhi obat terlarang dan berhubungan bebas dengan lawan jenis.


"Itu juga membuat kakak bertemu Mala dan jatuh cinta untuk pertama kalinya" Abi mengakui perasaannya.


"Kakak dekat dengan Mala?" tanya Zoya penasaran seperti apa dulu Abi dan Mala.


"Bisa dibilang seperti itu" jawab Abi.


"Kenapa kalian tidak jadian?" tanya Zoya.


"Mala tidak terlalu merespon segala bentuk perhatian dari kakak" jawab Abi sambil mendesah.


"Maksud kak Abi, Mala tidak ada perasaan pada kakak?" tanya Zoya lagi.

__ADS_1


"Hemmm" jawab Abi dengan deheman.


"Kakak yakin?" tanya Zoya lagi. Belum sempat Abi menjawab, Zoya sudah bicara lagi.


"Bagaimana kakak bisa yakin kalau Mala tidak punya perasaan pada Kakak. Harusnya kakak mencoba memberi tahu secara langsung, bukan hanya melalui perhatian. Mala itu bukan wanita yang suka menebak dari perhatian orang lain. Tapi butuh ungkapan langsung" jelas Zoya menjawab pertanyaannya sendiri.


"Kakak sama saja seperti Ardi, mencintai Mala hanya dengan memberi perhatian tanpa pernah mengungkapkannya"


"Tapi Ardi punya alasan mengapa dia memilih mencintai dalam diam. Dia merasa tidak pantas bersama wanita baik-baik seperti Mala" Zoya memberitahu Abi.


"Ardi?" tanya Abi.


"Bukannya dia dan Tias..." Abi tidak melanjutkan ucapannya.


"Mereka tidak ada hubungan apa-apa, melakukanya hanya sekedar suka sama suka saja" jelas Zoya.


"Kamu tahu mereka sejauh itu?" tanya Abi. Laki-laki itu tidak tahu saja, kalau Zoya menyaksikan permainan keduanya didepan mata.


"Mala juga tahu" jawab Zoya.


"Sekarang Mala merasa dia gagal menjadi sahabat yang baik untuk Tias, Mala tidak tahu saja kalau Tias sebenarnya mencintai suaminya dan menjadikan Ardi sebagai pelampiasannya" lanjut Zoya ucapannya lalu menutup mulut dengan kedua tangan. Dia kelepasan bicara, harusnya ini rahasia antara dia, Ardi dan Galih.


"Kakak juga bukan laki baik-baik" sahut Abi setelah diam sejenak setelah mendengar ucapan Zoya yang mengatakan kalau adik tirinya itu memcintai suami Mala.


Abi tahu sifat Tias seperti apa, jika menginginkan sesuatu dia harus mendapatkannya dengan cara apapun. Pantas saja adiknya itu meminta Abi segera pulang ke Indonesia setelah mendengar Mala akan menikah. Bukan karena ingin membantu Abi mendapatkan Mala, tapi dia menginginkan Galih.


"Maksud Kak Abi?"


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2