
Alya menyembunyikan keterkejutannya begitu melihat Alan pulang lebih awal dari biasanya. Suaminya itu mulai berubah sejak mereka pulang dari Solo. Alya bersyukur dia mengikuti saran yang Tari berikan padanya tempo hari. Sepupu Alan dan Galih itu selalu bisa memberikan solusi yang baik untuk rumah tangganya, walau terkadang caranya yang tidak biasa.
"Mas Alan mau langsung mandi?" tanya Alya begitu dia menghampiri suaminya.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Alan memeluk Alya dan menciumi setiap sudut wajah istrinya. Baru kali ini dia merasa lega, sudah tidak ada lagi beban yang dia bawa dalam pernikahannya bersama Alya. Kiara dan putranya bukan lagi jadi penghalang untuk Alan bahagia.
Alan menyadari kebodohannya sendiri. Dia ingin merusak kebahagiaan Galih karena iri, tapi dia sendiri yang tidak bisa bahagia. Alan yang mengira bisa memanfaatkan Kiara ternyata salah, dialah yang sebenarnya di manfaatkan Kiara. Alan berhutang pada Arfan yang membongkar rahasia ini, dia berjanji akan membalas kebaikan kakak laki-laki Mala tersebut.
"Mas" panggil Alya yang tidak siap dengan perlakuan Alan.
"Mas mandi dulu" jawab Alan begitu dia sudah puas meluapkan rasa bahagianya.
Bertahun-tahun bertahan dengan rumah tangga tanpa cinta dari suaminya, kini Alya bisa tersenyum lebar. Alan sudah menjelaskan pada Alya jika putra Kiara bukanlah putranya setelah mereka selesai makan malam.
"Maafkan Mas, Alya" ucap Alan tulus.
Haruskah Alya memaafkan Alan begitu saja? Tidak, Alya ingin melihat kesungguhan laki-laki itu dan merasakan perjuangan untuk mendapatkan cintanya kembali.
"Bisakah kita kembali memulai dari awal lagi?" tanya Alan menatap Alya yang sejak tadi hanya diam.
"Sayang" panggil Alan lirih.
"Aku belum bisa yakin sepenuhnya padamu, Mas" jawab Alya.
Alan tidak menyalakan Alya, bertahun-tahun dia menyia-nyiakan istrinya untuk hal yang sia-sia. Tapi Alan tidak akan melepaskan wanita sebaik dan sesabar Alya, apapun caranya dia akan mempertahankan Alya berada disisinya.
"Mas ingin kita memiliki keturunan, Alya" ucap Alan dengan yakin.
Alya menginginkan hal yang sama, hanya saja dia masih butuh waktu untuk mewujudkan keinginannya itu. Alya ingin bahagia tidak hanya saat ini, tapi untuk selamanya. Dia ingin dicintai seperti Galih mencintai Mala walau mereka dijodohkan sama sepertinya dan Alan. Alya juga ingin Alan seperti Rian yang mencintai Tari dengan tulus.
"Sayang" panggil Alan sambil melangkah lebar mengejar Alya yang pergi meninggalkannya.
"Mas" Kini Alya yang berteriak karena Alan tiba-tiba sudah menggendongnya.
"Kita habiskan malam ini berdua, dan memulainya dari awal" bisik Alan.
Mala, Zoya dan Ardi bisa tersenyum saat Tias membuka mata dan memanggil mereka bertiga. Mala dan Zoya segera mendekat, keduanya tidak bisa menahan genangan air mata yang jatuh begitu saja. Air mata bahagia yang mereka keluarkan, karena Tias sudah sadarkan diri.
Bukan hanya ketiga sahabat itu yang bisa tersenyum bahagia, papa Tias dan ibunya Abi juga merasakan hal yang sama, mereka tersenyum bahagia dan langsung mendekati Tias.
__ADS_1
"Pa, Bu" panggil Tias pada kedua orang tuanya.
"Tias mau operasi" jawaban Tias membuat sang papa langsung memeluk putrinya.
Dokter menyarankan Tias untuk melakukan transplantasi sumsum tulang.
"Sumsum tulang sehat yang ditransplantfasikan dapat mengembalikan kemampuan memproduksi sel-sel darah yang pasien perlukan. Apabila berhasil dilakukan transplantasi sumsum tulang, kemungkinan pasien seperti Tias sembuh sebesar 70-80 persen" ucap dokter Erick memberitahu papa Tias.
Tias sempat menolak saat dia diminta untuk menjalani operasi, dia tidak memiliki semangat untuk hidup lagi. Terlebih lagi dia harus menjalaninya diluar negeri, jauh dari sahabat dan keluarga dengan waktu yang cukup lama. Apa lagi Tias merasa dunia ini tidak adil dan terlalu kejam untuknya. Ibu yang tidak memperdulikannya, serta cinta yang tak dapat diraihnya membuat Tias putus harapan.
Namun janjinya pada Mala untuk berjuang membuat Tias ingin melakukan operasi transplantasi sumsum tulang. Tidak hanya itu, papanya yang memohon agar Tias mau dioperasi juga menjadi pertimbangan Tias berubah pikiran. Satu hal lagi yang membuat Tias mau menjalani operasi ini di luar negeri, dokter Erik yang merawatnya mau menemaninya ke Singapura.
"Dok, saya takut menjalaninya" ucap Tias jujur pada dokter Erick.
Dokter itu tersenyum mendengar pengakuan Tias. "Apa yang kamu takutkan?" tanyanya.
"Jauh dari sahabat dan keluarga" Tias kembali menjawab dengan jujur.
"Kalau saya temani bagaimana?" Dokter Erick balik bertanya.
"Benarkah? Dokter janji?" tanya Tias lagi.
"Saya janji akan menemani selama kamu disana" jawab dokter Erick dengan senyumnya yang mampu mengetarkan hati Tias.
"Kamu mau?" tanya dokter Erick lagi tanpa melepaskan genggaman tanganya.
Tias belum menjawab tapi seorang suster mengetuk ruangan dokter Erick dan memberi tahu Erick, ada pasien yang butuh pertolongannya segera.
"Dokter kenapa sangat baik padaku?" tanya Tias pelan, namun masih bisa didengar oleh Erick yang akan melangkah menjauh meninggalkan Tias.
Erick kembali berbalik menghadap Tias. "Karena saya masih ingin terus melihatmu tersenyum"
Dokter muda itu berlalu meninggalkan Tias yang memegang dadanya, ada sesuatu yang membuatnya bahagia dengan ucapan Erick.
"Terima kasih nak, Papa senang mendengarnya" ucap Papa Tias lirih.
Ketika Mala dan Zoya keluar dari kamar rawat inap Tias, mereka melihat Galih dan Dito masih setia menunggu, duduk di bangku yang ada di luar kamar inap Tias. Melihat dua wanita itu, Galih dan Dito sama-sama berdiri dan mendekati keduanya.
"Bagaimana keadaan Tias?" Dito yang bertanya lebih dulu.
__ADS_1
"Dia sudah sadarkan diri" Zoya yang menjawab.
"Keadaannya?" Mala tersenyum pada Galih yang bertanya.
"Tias mau di operasi, Mas" Adu Mala memberitahu Galih.
Tadi saat Galih menemaninya makan di kantin, Mala sudah menceritakan tentang Tias yang menolak di operasi. Salah satu hal yang membuat Mala tidak tenang, ditambah permintaan maaf Tias yang seakan-akan ingin meninggalkannya jauh. Karena itulah, Mala meminta Tias berjanji untuk berjuang sebelum memaafkan sahabatnya itu. Mala tidak tahu saja, jika yang dia lakukan adalah salah satu yang mampu merubah pikiran Tias hingga mau menjalani operasi.
"Itu bagus sayang" jawab Galih.
"Iya, Mas. Mala senang Tias mau menjalaninya" ucap Mala sambil memeluk Galih dan menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya.
Galih tersenyum senang melihat Mala yang kembali ceria sambil mengecup pucuk kepala istrinya. Ditambah sikap Mala yang manja padanya, membuat Galih mengeratkan pelukannya.
"Mau pulang sekarang?" tanya Galih yang langsung mendapat anggukan dari Mala.
"Tapi cari makan dulu ya, Mas." Galih menatap tidak percaya pada istrinya.
"Mala sama Zoya sudah lapar" jelas Mala menjawab keheranan diwajah Galih.
'Lapar?' batin Galih. 'Bukankah istrinya baru dua jam yang lalu dia temani makan dan sekarang bilang sudah lapar'
"Mau makan dimana?"
"Mala bilang dia lagi ingin makan steak" Zoya yang menjawab pertanyaan Galih, seperti yang sahabatnya katakan tadi saat masih di dalam kamar rawat inap Tias.
"Baiklah" jawab Galih lalu memasang lengannya untuk dirangkul Mala.
Dito yang berdiri disana hanya bisa diam terpaku tanpa ikut bicara. Dia yang biasanya banyak bicara di dalam kelas saat mengajar, tiba-tiba diam seribu bahasa. Bagaimana dia bisa menyembuhkan luka hatinya, bila harus terus melihat kemesraan orang yang dicintainya.
"Ayo Pak" ajakan Zoya membuat Dito menarik dirinya dari lamunan.
'Haruskah dia ikut makan bersama sepasang suami istri itu?'
"Pak" panggil Zoya lagi, membuat Dito melangkahkan kakinya mengikuti Zoya.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1