
Melihat Zoya sudah kembali bergabung bersama Mala dan Tari, Vivi langsung mengajukan pertanyaan pada Zoya.
"Kamu beneran wawancara kerja?" tanya Vivi.
Zoya yang tidak mengerti apa-apa terlihat binggung mendengar pertanyaan Vivi. Untung saja dia melihat keara Mala dan Tari yang memberi kode untuk menjawab iya pada Vivi.
"Iya" jawab Zoya akhirnya.
"Kamu melamar dibagian apa?" tanya Vivi lagi.
"Saya tidak melamar pekerjaan disini, tapi saya di tawarkan langsung oleh pemilik perusahaan untuk jadi sekertaris pak Galih selama bu Tari cuti" jawab Zoya.
Entah mengapa ide itu tiba-tiba saja melintas di kepalanya.
"Bu Tari kapan mengajukan cuti? Biar saya mempersiapkan diri" tanya dan jelas Zoya.
"Bulan depan" jawab Tari.
"Berarti bulan depan, saudari Vivi akan menjadi bawahan saya" ucap Zola menahan tawa melihat wajah tidak suka Vivi.
"Seharusnya saya yang jadi atasan kamu" seru Vivi.
"Suka-suka yang punya perusahaan dong." balas Zoya lagi sambil melihat ponselnya yang berbunyi.
Nama dokter Erick yang tertera. Melihat nama itu Zoya langsung mengeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
"Dokter Erick" ucap Zoya tanpa suara memberi tahu Mala.
"Iya dok, gimana operasinya Tias, lancar?" tanya Zoya.
"Ini gue, Zoy" Tias yang menjawab.
"Yas, lo udah sadar? Bukannya sekarang harusnya lo masih operasi."
"Di mundurkan besok, hari ini belum bisa melakukan operasi." jawab Tias me jelaskan.
Zoya menganti panggilan telepon Tias menjadi panggilan Video. Dia ingin melihat langsung sahabatnya itu, apakah baik-baik saja atau sebaliknya.
"Hai Tias" Tari yang menyapa Tias.
"Mbak Tari" pamggil Tias membalas sapaan Tari.
"Gimana kabar kamu disana?" tanya Tari.
"Beginilah Mbak, berbaring di tempat tidur" jawab Tias.
"Tidak apa-apa, nanti setelah operasi kamu bisa sehat lagi"
"Ternyata lo lagi dikantor, Zoy" ujar Tias.
__ADS_1
"Iya nih, Yas. Gue nemenin ibu negara sidak" jawab Zoya membuat Tias terkekeh.
"Mana ibu negara kita?" tanya Tias mencari keberadan Mala.
"Hai Yas" sapa Mala begitu Zoya mengarahkan ponsel miliknya pada Mala.
"Gimana kabar keponakan gue?" tanya Tias.
"Dedek baik-baik aja Aunty." jawab Mala menirukan suara anak kecil.
"Aunty Tias cepat sembuh dan cepat kembali ke Indonesia." lanjut Mala ucapanya.
"Terima kasih doanya untuk Aunty" balas Tias ucapan Mala.
"Yas...."
"Gue baik-baik aja, La"
Mala tahu, Tias berbohong. Jika dia baik-baik saja tidak mungkin operasinya di tunda. Tanpa Tias tahu, tadi subuh Mala dan Galih sudah menghubungi dokter Erick untuk menayakan keadaan Tias. Siapkah sahabatnya itu melakukan operasi pagi ini, sayangnya Mala menerima kabar tidak baik. Menurut penjelasan dokter Erick, kondisi kesehatan Tias belum bisa untuk menjalani operasi hari ini.
Mala tidak memberi tahu Zoya masalah ini, dia tidak ingin pikiran Zoya terganggu dengan masalah sakitnya Tias dan ikut sedih. Zoya yang sangat halus perasaanya diantara mereka, sahabatnya itu sangat mudah terbawa suasana haru, dan Mala tidak ingin Zoya sedih.
"Gue kangen, Ardi" ucap Tias. Merasa ada yang kurang jika mereka hanya bicara bertiga.
Bukan hanya itu, Tias juga ingin bicara banyak dengan ketiganya.
"Ardi, Mala, Zoya, Mbak Tari" panggil Tias setelah melihat wajah keempatnya.
"Maafin semua kesalahan gue." ucap Tias.
"Terutama sama lo La dan lo juga Di" lanjut Tias.
Tampak dokter Erick mengusap punggung Tias, meminta sahabat mereka itu untuk tenang dan tidak menagis. Sejak pagi Tias sudah merengek padanya untuk menghubungi ketiga sahabatnya dan juga Abi.
"Lo kenapa Yas, jangan minta maaf seperti ini. Lo nakutin gue, tau." Zoya mengusap kasar air matanya.
"Lo pasti sehat Yas. Lo udah janji hadir di pernikahan gue" ucap Zoya dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
Bukan hanya Zoya yang menangis, Mala, Tari dan Ardi juga ikut meneteskan air mata. Mereka tahu, permintaan maaf Tias seakan-akan sebuah kata pamit yang ingin diucapakan Tias.
Vivi dari meja kerjanya hanya bisa diam memperhatikan Mala, Zoya dan Tari. Tidak mengerti apa yang terjadi dan juga tidak ingin tahu. Namun saat melihat kehadiran Galih dan Leo dia langsung berdiri dan mendekat.
"Mereka membuat keributan di kantor, Pak" adu Vivi.
Menghiraukan aduan Vivi, Galih mendekati Mala yang menagis. "Sayang" panggilnya.
"Ada apa?" tanya Galih yang belum mengerti sambil mengusap air mata istrinya.
Vivi mendengus kesal melihat itu, sudah dua kali dalam satu hari laki-laki itu tidak menangapi sapaannya.
__ADS_1
"Pak Galih" panggil Tias begitu melihat sosok Galih didekat Mala.
Galih berbalik, kini dia baru mengerti apa yang menyebabkan Mala, Zoya dan Tari menangis.
"Saya minta maaf, terlalu banyak salah yang saya lakukan pada Bapak dan Mala" ucap Tias.
"Yas...." panggil Mala menggelengkan kepalanya.
Meminta Tias untuk tidak bicara lagi, semua sudah berlalu. Galih dan Mala sudah sepakat untuk melupakan masalah Tias yang sempat ingin mengganggu rumah tangga mereka.
Tias tersenyum, ada perasaan lega setelah meminta maaf pada semuanya. Wajahnya semakin terlihat pucat, Tias tidak kuat menahan sakit yang kini dia rasakan. Tias memejamkan matanya.
"TIAS" panggil Mala, Zoya dan Ardi begitu melihat Tias menutup matanya.
Tidak ada jawaban dari sahabat mereka itu, Tias juga tidak membuka matanya. Hanya tampak dokter Erick yang terlihat sibuk memeriksa Tias.
"Dokter Erick, Tias kenapa?" tanya Mala.
Dokter Erick tidak menjawab, dia juga tidak peduli dengan laptopnya yang masih terhubung dengan Zoya dan Ardi. Yang dia pikirkan saat ini bagaimana menolong Tias, wanita yang kini mengisi hatinya. Dokter Erick tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, dia terus berusaha untuk mengembalikan kesadaran Tias.
Mala masuk kedalam pelukan Galih yang langsung mengeratkan pelukannya, dia menagisi Tias yang tidak baik-baik saja. Di dada suaminya, Mala bersandar. Galih kembali mengeratkan pelukannya, dia bisa ikut merasakan kesedihan yang Mala rasakan.
Tidak berbeda dengan Mala, Zoya dan Tari saling berpelukan dan menangis bersama.
Leo yang melihat Zoya menagis hanya bisa mengusap punggung Zoya untuk menenagkan calon istrinya. Ingin rasanya dia memeluk Zoya dan menenangkannya seperti yang dilakukan Galih pada Mala, tapi Leo sadar, dia belum bisa melakukan itu.
Vivi terpaku melihat apa yang terjadi di hadapannya. Ada apa dengan mereka? Wanita itu mendekat.
"Tolong ambilkan air putih untuk mereka" Leo yang memberi perintah pada Vivi.
Sambil mengerutu di dalam hati, Vivi tetap melangkah ke pantry yang ada di lantai ini.
"Siapa mereka, kenapa gue yang harus mengambilkan mereka minum" rutuk Vivi.
"Pake acara nangis-nangis segala. Sengaja cari perhatian biar dipeluk-peluk."
Drtt... drtt... ponsel Vivi bergetar, tanda masuknya sebuah pesan.
Mr X [Cepat selesaikan tugasmu]
Vivi menghelah nafas kasar, orang yang baru saja mengirim pesan padanya tidak mau peduli dengan kesulitanya. Menaklukan hati Galih tidak semudah yang dia bayangkan. Laki-laki itu bukan tipe laki-laki yang midah tergoda. Bagaimana bisa masuk jika laki-laki itu memasang tembok tinggi dengan pintu yang tertutup rapat.
Vivi kembali ke ruang kerjanya sambil membawa beberapa botol air mineral. Dia menemukan ruangan yang kosong, tidak ada satupun orang disana.
"Kemana mereka?" gumam Vivi.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1