BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
28. Pada Akhirnya


__ADS_3

Begitu sampai di hotel, Mala langsung membersihhkan diri, sejak pertanyaannya tidak di jawab Galih, Mala memilih untuk diam. Ada perasaan kesal pada suaminya, tapi seperti biasa Mala akan segera melupakan kekesalannya. Apa lagi saat ini Galih sedang memeluknya dari belakang sambil berbisik.


"Maaf" satu kata yang Mala suka dari Galih, pria itu mau menurunkan egonya demi meminta maaf padanya.


Galih membalik tubuh Mala agar mengahadapnya, menatap wajah yang selalu cantik dimata Galih. Di kecupnya bibir merah delima yang selalu jadi candunya. Kembali menatap Mala yang kini tersenyum. Menggemaskan, itulah yang terlihat dimata Galih wajah dari istrinya.


"Di maafkan" jawaban Mala melukiskan senyum di wajah Galih.


"Besok kita jadi ke Solo mas?" tanya Mala untuk memastikan lagi


"Iya. Kenapa?" jawab dan tanya Galih.


"Hanya memastikan saja, soalnya mas suka ganti jadwal sesuka hati"


Galih terkekeh, Mala itu kalau bicara terlalu jujur. Hal itu membuat Galih semakin menyukai istrinya. Jika orang lain yang protes mungkin dia tidak peduli atau bahkan marah, tapi tidak pada Mala. Kepolosan istrinya sering membuat Galih merasa lucu melihat sosok Mala, istrinya itu benar-benar bisa merubah dirinya yang pendiam jadi lebih suka tersenyum dan tertawa. Karena itu juga, dulu Rafi sering tertawa bila sedang berbicara dengan Mala, dan Galih hanya bisa melihat dan mendengarnya dari jauh. Kepolosan Mala juga sering di manfaatkan oleh teman dan sahabatnya, seperti yang dilakukan Tias.


"Dikasih tahu malah tertawa" protes Mala membuat Galih semakin gemas karena Mala mengkrucutkan bibirnya.


Tidak ingin melewatkan kesempatan, Galih menangkup wajah Mala dan mengecup bibir istrinya.


"Kamu itu selalu mengemaskan" ucap Galih jujur sambil menggember pipi Malah.


"MAS" teriak Mala merasa kesakitan pada pipinya.


"Kok mas lagi manggilnya" protes Galih panggilan Mala untuknya.


"Soalnya hubby nyebelin" Mala mengembungkan kedua pipinya.


Galih tertawa dan semakin gemas pada wajah Mala, dia langsung mengecup bibir istrinya berkali-kali. Tidak ada protes dari Mala, dia tahu dan bisa merasakan rasa gemas Galih karena pria itu sayang padanya. Mala merasa sangat bersalah bila sudah begini, belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri. Mala masih menata hatinya untuk siap menyerahkan jiwa dan raganya, walau dia sudah mulai merasa jatuh cinta apalagi Galih sering memberikan kenyamanan seperti saat ini, Galih tengah memeluknya erat dan Mala menyukai ini. Tenang dan damai, itu yang dia rasakan.


Galih merenggangkan pelukanya lalu mengusap lembut wajah Mala yang selalu membuatnya bersyukur bisa memiliki si cantik ini walau belum seutuhnya. Galih kembali mencium lembut bibir Mala, kali ini cukup lama membuat Mala membalas ciuman itu, akhirnya mereka saling menyecap dan berbagi saliva. Tanpa melepaskan ciumannya, Galih menggendong Mala dan membaringkan istri yang dicintainya itu ke tempat tidur.


"Sekarang waktunya tidur" ucap Galih setelah melepaskan tautan mereka.


Galih ikut berbaring dan kini mereka saling berhadapan saling menatap lekat satu sama lain. Saling menyelami isi hati masing-masing. Malah menundukkan pandangannya, dia takut jika berlama-lama menatap wajah Galih. Saat ini dia sedang menata hati mencoba membuka hati pada Galih seutuhnya. Dia lebih memilih untuk masuk dalam pelukan suaminya dan mencari kedamaian di dalam dekapan dada bidang milik Galih.

__ADS_1


"I love you" ucap Galih, sebelum menyusul Mala yang sudah terlelap dalam pelukanya. Tanpa Galih sadari Mala masih bisa mendengar ucapan cintanya.


"I love you too" balas Mala seperti janjinya, membuat Galih kembali membuka mata dan menatap tidak percaya.


"Sayang" lirih Galih saat menemukan mata Mala yang kembali terbuka.


"I love you" Mala mengulangi ungkapan cintanya.


"Bukan mimpikan?" tanya Galih tidak percaya. Mala mengeleng menjawab pertanyaan suaminya, apa yang didengar Galih itu nyata, ungkapan dari hati kecilnya.


"Terima kasih, terima kasih sudah mau mencintai suamimu ini" Galih bicara sambil membelai wajah Mala dengan jarinya.


"Hubby maaf" Mala berucap dengan lirih.


"Untuk?" Galih menaikan sebelah alisnya tanda tidak mengerti.


"Untuk semua hal yang aku lakuin, yang menyakiti hubby" jelas Mala.


"Kamu tidak pernah menyakiti suamimu ini sayang. Tapi membuatnya gila" Mala menaikan alisnya tidak mengerti.


"Hubby, Mala serius"


"Hubby juga serius sayang. Serius buat memenuhi janji kita ke bunda sama mama"


"Memangnya kita janji apa sama mereka?" kedua alis Mala menyatu mencoba mengingat. karena tidak merasa punya janji pada Bunda Sarah dan Mama Vina.


"Janji kasih mereka cucu" Galih mencubit hidung Mala dengan gemas.


"Hubby... hidung aku sakit, seneneng bener sih nyubit, ya pipi ya hidung" Mala mengerucutkan bibirnya. Cup, Galih tidak tahan untuk tidak mencium bibir merah delima itu.


"Kalau nggak nyubit, main nyosor aja" Galih terkekeh.


"Sudah boleh belum?" tanyanya.


"Boleh apaan?" Mala balik bertanya.

__ADS_1


"Buat anak"


Wajah Mala seketika memerah, Galih menagih haknya. Mala berbalik membelakangi Galih, bukan belum siap menjalankan kewajibannya, hanya saja Mala malu walau sekedar mengangguk mengijinkan permintaan Galih.


"Belum boleh ya?" tanya Galih sambil memeluk Mala dari belakang dengan erat.


Galih tidak akan memaksa, dia akan menunggu sampai Mala siap. Ungkapan cinta dari istrinya sudah cukup membuatnya bahagia hari ini.


"Terima kasih sayang" ucap Galih berulang-ulang sambil mengecup setiap sudut wajah istrinya, setelah empat bulan pernikahan akhirnya mereka melakukan yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri. Keduanya menyatu untuk pertama kali, pada akhirnya Mala mengijinkan Galih untuk memenuhi kewajibannya memberi nafkah batin. Jangan ditanya bagaimana bahagianya seorang Galih, kini dia benar-benar memiliki Mala seutuhnya. Wajahnya terus melukiskan senyum, hatinya tak berhenti berucap syukur telah di jodohkan dengan wanita yang bisa menjaga kehormatanya, Galih bisa merasakan dan melihat dialah yang pertama kali memasuki istrinya.


"Selamat pagi Masya" sapa Galih begitu Mala membuka mata.


"Masya?" beo Mala heran.


"Hemm Masya. Mala sayang" jelas Galih maksud panggilannya.


"Boleh deh" jawab Mala walau merasa lucu jika Galih nanti benar-benar memanggilnya Masya.


Mala hendak turun dari tempat tidur, namun dia terpaksa mengurungkan niatnya saat menyadari kalau dia tidak mengenakan pakain. Seketika wajahnya kembali memerah, ingatanya kembali pada kejadian semalam dimana pada akhirnya dia menyerahkan kehormatanya pada Galih.


Galih tidak hanya memeluknya erat dari belakang seperti bissanya, tapi suaminya itu mengecupi lehernya, memberikan sentuhan disana membuat Mala merasakan gelenyer aneh dalam dirinya.


"Sayang..." ucap Galih begitu Mala membalikkan tubuh menghadap padanya.


Galih tidak bisa meneruskan kata-katanya saat pandangannya tertuju pada gunung kembar milik Mala yang tidak pernah mengenakan bra bila tidur dan itu sangat menganggu Galih selama ini menyembul sedikit memperlihatlan belahannya. Kini Galih tidak bisa menahannya lagi, dan berharap kali ini Mala mengijinkannya. Galih meraup bibir istrinya, melu matnya, lalu kembali beralih keleher, setiap sentuhan yang Galih berikan direspon dengan baik oleh tubuh milik istrinya membuat Galih berani melakukan lebih. Dia melepaskan gaun tidur milik istrinya dan memposisikan dirinya diatas Mala, mengulum daging pink didada istrinya yang selama ini mengganggunya.


"Hubby" suara Mala yang memanggilnya dengan mendesah semakin membuat Galih bergairah.


Akhirnya penantian Galih memiliki Mala seutuhnya tersampaikan. Mala mengangguk begitu tubuhnya sudah tidak bisa menahan gejolak yang belum pernah dia rasakan dari setiap sentuhan lembut tangan dan bibir suaminya. Mala menyerahkan apa yang dijaganya selama ini, terasa sakit saat pertama Galih mencoba memasukinya, namun setelahnya dia bisa merasakan suatu kenikmatan yang tidak bisa dia gambarkan.


Galihpun melakukannya dengan lembut, dia tidak ingin terburu-buru dan menyakiti Mala. Mereka harus bisa menikmatinya bersama-sama, dan mencapai pelepasan bersama.


"Kenapa tidak jadi turun?" goda Galih. Malah menggeleng sambil menutupi wajahnya. Galih mengulum senyum, bagaimana bisa istrinya itu masih malu padanya setelah apa yang terjadi dengan mereka tadi malam.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2