BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Terlambat


__ADS_3

Telepon Galih berdering, pria itu baru saja akan menghubungi istrinya yang masih berada di warung abah Husen. Seperti laporan yang dikirim orang kepercayaannya yang sudah satu bulan ini dia perintahkan untuk menjaga dan mengikuti kemanapun sang istri pergi. Bukan tidak percaya pada Mala, hanya saja Galih tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.


Tapi apa yang dia dengar sekarang, Mala sedang dilarikan kerumah sakit. Ardi orang yang menghubunginya, mengabarkan jika sesuatu terjadi pada Mala dan istrinya sedang tidak sadakan diri saat ini.


Langkah Galih yang terburu-buru menjadi perhatian Leo, mereka baru saja selesai meeting dengan orang-orang yang memiliki jabatan penting di perusahaan Andromega.


Leo sangat yakin jika ini ada hubungannya dengan Mala. Siapa lagi yang bisa menarik perhatian pria itu jika bukan istrinya. Tanpa bertanya pada Galih, Leo mengikuti kemana Galih melangkah, dia yakin jika sesuatu terjadi pada istri bos yang juga sahabatnya itu.


"Biar aku yang menyetir" ucap Leo begitu Galih akan mengendarai kendaraannya.


Tanpa penolakan Galih menyerahkan kunci kendaraannya pada Leo. Dia membiarkan Leo ikut bersamanya, Galih butuh asistennya itu nanti.


"Kemana?" tanya Leo, begitu dia sudah ada di balik kemudi.


"Rumah sakit Harapan"


"Rumah sakit" beo Leo. Ternyata benar apa yang dia pikirkan, jika sesuatu terjadi pada Mala.


Tidak banyak bertanya, Leo segera menjalankan kendaraan milik Galih menuju rumah sakit yang Galih sebutkan.


flashback


"Saya tertipu apa?" tanya Abi yang tidak mendengar cerita Mala dari awal.


"Kak Abi" panggil Mala terkejut.


Abi melihat bergantian pada keempat sahabat tersebut. Tujuannya datang untuk bertemu Mala. Abi tidak sengaja mendengar percakapan Tias di telepon tadi pagi saat dia mengunjungi kediaman orang tuanya.


Setelah tahu istri dari Galih itu akan makan siang bersama Tias, Zoya dan Ardi, maka Abi menyempatkan diri untuk bergabung. Dia sudah memberi tahu Zoya dan juga Tias tentang hubungannya dengan Kiara dan Saras, kali ini dia ingin bicara dan memberitahu Mala. Dia punya hutang penjelasan pada Mala, seperti janjinya waktu itu, saat mereka bertemu di warung mie ayam.


Tidak mudah bagi Abi menemukan waktu yang tepat untuk bisa bicara berdua Mala, setelah kemarin terhalang oleh Tias yang sakit serta Galih yang selalu ada disisi istrinya setiap mereka bertemu, membuat Abi kesulitan menentukan waktu yang tepat.


"Duduklah Kak" pinta Tias pada kakaknya.


"Kalian membicarakan saya?" tanya Abi setelah dia duduk disisi Tias.


"Bukan bicara hal yang buruk Kak" sahut Ardi yang tidak ingin Abi salah faham.


"Kami baru saja berbagi cerita" jawab Zoya.


"Dan Mala menyampaikan hal penting yang harus Kakak ketahui" lanjut Tias ucapan Zoya.

__ADS_1


Abi menatap Mala yang membalasnya dengan senyum, senyum yang Abi rindukan. Senyum yang ditujukan untuknya, hanya untuknya.


"Ini menentukan keputusan penting yang harus Kak Abi ambil." Tias kembali bicara untuk memberitahu Abi.


"Maksud kamu?" tanya Abi tidak mengerti.


"Bukankah tadi kakak ingin tahu, kakak tertipu apa?" ulang Tias pertanyaan Abi.


"Bukan tertipu apa? Tapi kakak harus tahu, siapa yang menipu kakak?" lanjut Tias ucapannya.


Mala mengeluarkan sebuah flashdisk yang tersimpan di tasnya, dia baru ingat kalau Arfan saat itu diam-diam merekam percakapan tersebut. Mala bisa bernafas lega melihat benda itu, setidaknya dia tidak perlu mengulang kembali apa yang tadi dia ceritakan pada ketiga sahabatnya.


"Zoy, putar ini" ucap Mala sambil memberikan flashdisk pada sahabatnya itu.


"Apa ini?" tanya Zoya.


"Gue lupa, mas Arfan kemaren merekam lewat video" jawab Mala sambil menyengir kuda, mengakui kebodohannya yang mengapa tidak sejak awal dia menyuruh sahabatnya mendengar dan melihat langsung apa yang dibicarakan Kiara dan Saras.


"Kak Abi, silakan di simak dengan baik" ucap Mala setelah Zoya menghadapkan layar laptopnya pada Abi.


Dialog demi dialog mereka dengarkan tanpa terlewatkan. Abi yang awalnya tidak mengerti kini mulai mengikuti percakapan itu. Ternyata mendengar pecakapan Kiara dan Saras secara langsung membuat ketiga sahabat Mala semakin gemas, rasanya ingin sekali langsung menunjuk wajah keduanya.


Abi terkejut saat Saras istrinya tahu tentang siapa ayah biolgis putra Kiara yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Bayangan ayahnya tiba-tiba melintas dalam ingatannya, laki-laki yang dia benci, kini semakin dibencinya.


"Ayah masih hidup" gumam Abi begitu mendengar kelanjutan percakapan Kiara dan Saras.


Bagaimana dia dan ibunya bisa dibohongi bertahun-tahun lamanya. Siapa jasad yang dia tangisi saat itu?


Abi menatapa Mala. Rasa menyesal, kecewa dan cinta berbaur jadi satu menyesakkan dadanya.


"Mengapa tidak langsung memberi tahu Kakak, La?" tanya Abi.


"Maaf, saat itu perhatian Mala teralihkan pada kondisi Tias"


Mala tidak berbohong, dia memang berniat ingin memberi tahu Abi, dan Mala sudah membicarakannya pada Arfan. Kakanya setuju, karena itulah Arfan menyimpa hasil rekamannya agar bisa menjadi bukti. Bukti bahwa semua ini adalah kebenarannya, dan Abi harus tahu.


Sayangnya masalah Tias membuat Mala lupa dengan tujuannya. Baru hari ini, dia kembali mengingat jika dia tahu sebuah kebenaran.


"Apakah kamu tahu, jika masalah ini yang menghalangi hubungan kita?" tanya Abi.


Mala tidak megerti apa maksud pembicaraan Abi, hubungan apa antara mereka. Selama ini Abi tidak pernah menyatakan apapun padanya selain perhatian dan sikapnya yang membuat Mala jatuh cinta dan merasa mencinta sendiri.

__ADS_1


"Kakak mencintaimu Mala"


Duarrr.


Bagai tersambar pertir, Mala merasakan sesuatu menusuk tepat di hatinya. Dia menggelengkan kepalanya, tidak ingin kata itu keluar dari mulut Abi saat ini.


Terlambat, semua sudah terlambat. Mala sudah menjatuhkan hatinya pada Galih, sosok pria yang berani mengungkapkan isi hatinya. Laki-laki yang menyayanginya sepenuh hati tanpa ragu hingga mampu meyakinkan Mala jika dia adalah pria yang Mala butuhkan. Seperti saat ini. Iya, Mala butuh Galih di sisinya saat ini.


"Sejak dulu, hinga detik ini" lanjut Abi ucapannya sambil mencoba meraih tangan Mala yang langsung menghindar.


"Mala, bisakah kita bersama?" pinta Abi setelah melihat reaksi Mala yang menolak.


"KAK ABI!" Tias yang memanggil nama kakaknya dengan keras.


"Jangan sakiti Mala" ucapnya lirih.


Cukup sudah Tias yang pernah mencoba merusak hubungan Mala dan Galih, tapi tidak dengan kakaknya. Walau pernah ada cinta di hati Mala untuk kakaknya itu, tapi tidak lagi saat ini.


"Jangan pernah menyatakan cinta diwaktu yang tidak tepat Kak" lirih Mala.


Sakit, kata cinta yang diucapkan terasa sakit bagi Mala. Tidakkah Abi tahu, jika selama ini hatinya tertahan untuk mencintai laki-laki lain karena cintanya pada Abi? Mengapa disaat dia sudah melepaskannya, Abi menyatakan rasa yang sejak dulu dia inginkan.


"Biarkan aku bahagia" pinta Mala lalu berdiri dan berjalan meninggalkan semua.


"Mala" panggil Abi sambil mengejar Mala yang tidak ingin memperdulikan panggilan Abi.


Mala ingin pulang, berlari dalam pelukan Galih yang bisa menenagkanya. Mala butuh sosok suaminya saat ini.


BRUK. DUAR


Suara keras terdengar didepan warung abah Husen. Zoya yang ikut mengejar Mala berhambur memeluk sahabatnya yang sudah tidak sadarkan diri, darah mengalir dari tubuh sahabatnya itu membuat Zoya berteriak.


"MALA"


Ardi dan Tias segera menghampiri Zoya yang berteriak histeris memanggil Mala.


Orang-orang yang diperintahkan Galih untuk menjaga Mala berbagi tugas. Salah satu dari mereka segera menghampiri Mala dan langsung membawa istri bosya itu ke rumah sakit, yang diikuti Ardi dan Zoya. Yang dua lagi segera mengejar kendaraan yang mencelakai Mala.


Abi mengepalkan tangannya, dia mengenali mobil yang menabrak Mala. Begitupun Tias, dia tidak akan membiarkan wanita penghancur kehidupan kakanya itu lepas begitu saja.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2