BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Baru Tahu


__ADS_3

Hari ini Mala mengunjungi Tias yang masih dirawat di rumah sakit, setelah dua hari dia absen karena harus menemani papa Andro di kediamannya. Bersama Arfan yang juga ingin mengunjungi Tias, Mala berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat inap Tias.


"Kosong" ucap Arfan setelah membuka pintu dan tidak menemukan siapapun didalam kamar tempat Tias dirawat.


"Kita tanya suster jaga, Mas" ajak Mala pada kakaknya. Keduanya lalu keluar dari kamar rawat inap Tias menuju meja suster jaga.


"Sebentar Mas" tahan Mala langkah Arfan begitu dia melihat dua sosok wanita yang dia kenal.


"Ada apa?" tanya Arfan yang tidak mengerti maksud adiknya.


Mala menempelkan jari telunjuk di mulutnya, meminta Arfan untuk tidak bersuara. Keduanya berjalan berlahan mendekati dua sosok wanita tersebut, tidak lupa Mala memasang masker pada wajahnya agar tidak dikenali, lalu ikut duduk di bangku barisan belakang dimana kedua sosok tersebut sedang berbicang.


Menyimak apa yang dibicarakan keduanya adalah tujuan Mala. Kejadian saat pesta dimana Kiara berulah, membuat Mala merasa penasaran dengan isi percakapan antara Kiara dan Saras. Apa lagi malam itu Kiara seakan takut dengan apa yang dia lakukan dihadapan Saras. Mala ingin tahu, ada apa antara mereka berdua dan hubungan seperti apa yan terjalin diantara keduanya.


"Kamu ingin melihat adik iparmu atau ingin memata-matai suamimu yang akan bertemu Mala?" tanya Kiara pada Saras yang dapat didengar jelas oleh Arfan dan Mala.


"Kamu sendiri?" tanya Saras pada Kiara.


"Masih curiga jika wanita lain Alan sekarang adalah Tias?" lanjut Saras ucapannya.


"Sampai kapan kamu ingin membohongi Alan dengan mengatakan putramu adalah putranya, Kiara?"


"Suatu hari dia akan tahu, atau mungkin dia sudah tahu jika putramu bukan putranya, melainkan putra ayah tirimu sendiri"


"Dia juga ayah tirimu merangkap ayah mertuamu sekarang"


Mala terkejut dengan apa yang dia dengar, tapi Arfan menahan Mala untuk tidak bersuara. Arfan sudah lebih dulu tahu tentang putra Kiara yang ternyata bukan putra Alan, dia sudah menyelidikinya sejak Galih menceritakan apa yang terjadi antara dia, Kiara dan Alan. Arfan sudah memberi tahu Alan kebenaran ini, dan menyuruh sepupu Galih itu untuk mencari tahu sendiri siapa ayah biologis putra Kiara sebenarnya. Dugaan kuat mereka tertuju pada Abiansyah sebagai orang yang pernah meniduri Kiara seperti penyelidikan yang Alan lakukan. Karena itulah Alan meberi tahu Galih saat di Solo.


Tidak ada yang mengira, termasuk Arfan dan Alan, jika ternyata putra Kiara adalah putra dari ayah tirinya sendiri yaitu ayah dari Abi.


"Jangan sibuk mengurusi masalahku, urus saja masalahmu sendiri" jawab Kiara pernyataan Saras.


"Bukankah kamu juga dalam masalah jika kak Abi tahu kalau putramu bukan putranya"


"Kamu bahkan lebih licik dari pada aku, Mbak Saras yang terhormat. Kita berdua itu sama, kamu membohongi Abi dan aku membohongi Alan. Sama seperti ibu kita bukan? Yang membohongi semu orang jika ayah tiri kita sudah tiada"


"Kamu bahkan memanfaatkan rambut putraku untuk melakukan tes DNA agar hasilnya menyatakan kalau putramu adalah putra Abi"


"KAMU!" bentak Saras pada adik satu ibu beda ayah itu. Tias menertawakan Saras yang marah padanya.

__ADS_1


"Jika Abi tahu, tentu dia akan melepaskanmu dan kembali mengejar Mala" ucap Kiara sambil tertawa senang.


"Dan aku yang akan mendapatkan kesempatan untuk kembali pada Galih, jika Mala meninggalkannya karena memilih Abi" lanjut Kiara ucapannya sambil terkekeh.


Malah dan Arfan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar percakapan keduanya. Sungguh tidak disangka jika keduanya saudara satu ibu.


"Jangan terlalu senang, pendukungmu sekarang ada dalam jeruji besi" ucapan Saras menghentikan tawa Kiara.


"Bukankah tante Vina yang menyuruhmu untuk mempermalukan Mala di pesta malam itu?"


"Aku dan mama sudah memperingatkanmu Kiara, jangan terlibat dengan adik bungsu mama kita. Tapi kamu tidak mau mendengarkan kami. Sekarang apa hasilnya? Dia hanya memanfaatkan kamu, tentu saja Rania putrinya yang akan dia jodohkan dengan Galih, bukan kamu yang hanya keponakan." Jelas Saras memberitahu adiknya itu.


"Mana mungkin Galih mau kembali denganmu, sekalipun Mala pergi meninggalkannya." lanjut Saras ucapanya.


Menunggu Tias sadar dari obat biusnya, Mala menghabiskan waktunya merenung sambil melihat taman dari balik jendela. Perbincangan antara Tias dan Saras membuat Mala sekarang tahu semua hubungan mereka, termasuk mama Vina yang dia hormati sebagai ibu mertuanya. Yang tanpa Mala duga ternyata memiliki niat buruk padanya. Mala mengingat ucapan Tari, jika mama Vina sangat menyayangi Rania meskipun wanita itu telah menyakiti Galih.


"Mala"


Suara Tias yang memanggil Mala, menariknya dari lamunan. Mala berbalik menghadap Tias, dia memasang wajah tersenyum meskipun pikirannya sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu sudah sadar, Yas" ucap Mala sambil melangkah mendekat.


"Aku ingin bicara denganmu" jawab Tias menolak apa yang akan dilakukan Mala.


"Setelah dokter memeriksamu" jawab Mala lagi. Tias menggeleng.


"Waktuku tidak banyak"


"Jangan bicara seperti itu" pinta Mala dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku minta maaf" ucap Tias.


"Kamu tidak pernah melakukan kesalahan padaku, Yas" Mala membantah ucapan sahabatnya itu. Tias menggeleng menjawab bantahan Mala.


"Aku jahat padamu, aku selalu berusaha mencelakaimu sejak kamu menikah, Mala" Balik Mala yang menggeleng, dia merasa jika Tias tidak pernah berbuat jahat padanya.


"Kamu ingat cerita laki-laki yang aku tabrak di bandara?" tanya Tias.


Mala mengangguk, tidak mungkin dia melupakan kejadian yang selalu Tias ceritakan berkali-kali karena sahabatnya jatuh cinta pada laki-laki itu. Mengapa? Jangan tanyakan pada Tias mengapa dia mencintai laki-laki itu, karena Tias tidak pernah tahu jawabannya.

__ADS_1


"Laki-laki itu adalah Galih, suamimu"


"Yas" panggil Mala lirih. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana, begitu banyak hal yang baru dia ketahui hari ini. Tentang Tias dan Saras, juga tentang mama Vina, dan sekarang Tias yang memberitahunya tentang Galih.


"Aku hampir mencelakaimu karena cinta butaku. Maafkan aku, Mala." lanjut Tias ucapannya membuat Mala tersentak. Mala menggeleng tidak percaya dengan pengakuan Tias.


"Tidak ada yang salah, Yas. Kita sama-sama tidak pernah tahu kemana hati kita akan jatuh. Jika sejak awal kamu mengatakannya, aku tidak akan menerima lamaran itu dan menikah dengan mas Galih."


"Tidak ada yang bisa merubah takdir" Ardi yang bicara memotong perdebatan kedua sahabatnya yang tidak akan selesai.


Tanpa Mala dan Tias ketahui, Ardi sejak tadi mendengarkan dan menyimak percakapan mereka berdua. Sebagai sahabat keduanya, dia harus berada dijalan tengah


"Kamu yang ditakdirkan berjodoh dengan Galih, La. Bukan Tias, meskipun dia memberitahumu sejak awal. Karena Galih mencintaimu, bukan Tias"


Mala terdiam, apa yang dikatakan Ardi adalah benar. Bahkan dia sudah jatuh cinta pada Galih, bukan sekarang bahkan sejak dulu. Tanpa Mala sadari, sejak dia memberi kalung kesayangannya pada Galih, sebenarnya sejak saat itu dia sudah mengagumi sosok Galih yang rela melakukan apapun untuk dirinya.


"Maafkan aku, La. Aku tidak akan tenang jika kamu belum memaafkan aku" lirih Tias.


"Jangan bicara seakan-akan kamu akan meninggalkan aku, Yas."


"Berjanjilah padaku, kamu akan berjuang untuk sembuh. Baru aku akan memaafkanmu" pinta dan ancam Mala.


"Aku akan berjuang untuk sembuh. Maafkan aku" ucap Tias menuruti keinginan Mala.


"Aku memaafkanmu" ucap Mala akhirnya, kata-kata yang diinginkan Tias terucap dari mulutnya.


"Terima kasih" ucap Tias lirih, sambil berlahan menutup matanya.


"TIAS" Mala memangil nama sahabatnya dengan keras.


"Tidak, kamu tidak akan pergi. Kamu baru saja berjanji untuk berjuang."


"Tias buka matamu" pinta Mala.


"Ardi, panggil dokter"


"CEPAT"


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2