BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
11. Satu Kamar


__ADS_3

Sepulang dari hotel Galih langsung membawa Mala ke kediaman yang akan mereka tempati, kediaman yang tadinya akan dijadikan mas kawin oleh Galih. Tapi ditolak Mala, dia minta rumah itu hanya sebagai hadiah pernikahan untuknya.


Begitu mereka sampai di kediaman mereka, keduanya disambut oleh Mama Vina dan Bunda Sarah yang memang sengaja menunggu kepulangan pengantin baru tersebut.


"Tunggu"


Galih meminta Mala untuk tidak keluar dari mobil yang dikendarainya. Mala menurut sambil mengamati apa yang akan suaminya lakukan. Ternyata pria itu turun lalu membukakan pintu mobil untuk Mala keluar.


"Ayo turun sayang" ucap Galih yang sejak semalam memanggil Mala dengan panggilan sayang.


Mala sempat protes dengan panggilan yang disematkan Galih padanya, tapi dengan santai pria itu menjawab.


"Aku memang sayang" jawab Galih dengan senyum diwajahnya. Senyum yang tidak dia diberikan kesembarang orang.


Mala hanya bisa diam mendengar jawaban Galih, akhirnya dia membiarkan Galih untuk memanggilnya dengan panggilan yang pria itu sukai.


Galih mengulurkan tangannya untuk membantu Mala turun dari mobil.


"Ada mama sama bunda, kita harus terlihat romantis" ucap Galih saat Mala tidak ingin menyambut uluran tangannya.


Mala terpaksa menautkan jemarinya dengan Galih, memulai drama rumah tangganya agar terlihat harmonis dan bahagia.


"Kalian beneran nggak mau bulan madu dulu?" tanya Mama Vina. Mereka sedang duduk diruang keluarga, ini pertanyaan yang sudah kesekian kali wanita itu tanyakan sejak Arfan menerima lamaran Galih untuk Mala.


"Mala harus menyelesaikan magang ma" jawab Mala. Dan ini jawaban yang selalu Mala berikan setiap ditanya rencana bulan madu.


Mala tersenyum, tapi pikirannya jauh melangkah. Kalau saja dia menikah dengan pria yang dia cintai, tentu dia akan sangat senang dengan tawaran bulan madu, dimana dia akan menghabiskan waktu berdua, selama dua puluh empat jam bersama kekasih hatinya.


"Nanti kalau Mala sudah selesai magang, kami akan langsung bulan madu" Galih menambahkan jawaban Mala yang pria itu yakin istrinya tidak suka dengan jawabannya.


Galih punya keyakinan, tiga bulan kedepan Mala akan mencintainya. Galih akan terus dan terus berusaha. Semalam saja dia berhasil membuat Mala membalas ciumannya, jika itu sering dia lakukan tentu saja Mala istrinya itu lama-lama akan terbuai dengan kasih sayang dan perhatianya.

__ADS_1


"Mama dan bunda ingin cepat punya cucu" ucap Mama vina.


Mala yang sedang meneguk air langsung tersedak. Bagaimana dia mau memberikan cucu kalau mereka tidak akan melakukan proses pembuatannya. Galih yang duduk disamping Mala langsung membantu dengan mengelus punggung Mala.


"Hati-hati minumnya sayang" kali ini Bunda Sarah yang berucap.


"Soal cucu itu bukan masalah ma, biar tidak bulan madu kami masih tetap bisa melakukan proses pembuatannya" jawab Galih dengan santai membuat pria itu meringis karena mendapat cubitan dari Mala di pinggangnya.


Bukan teriak kesakitan Galih malah tersenyum menatap istrinya yang membulatkan matanya, kesal karena ucapan Galih.


"Bukan begitu sayang?" tanya Galih pada Mala, membuat gadis itu berakting bak artis pemeran wanita dalam sebuah film.


Mala memasang senyum terbaiknya sambil mengangguk membenarkan jawaban Galih yang menurutnya tidak masuk akal, mereka terikat kontrak dan salah satu poinnya mereka tidak akan berhubungan suami istri. Hal itulah yang membuat Mala mau menandatangani kontrak tersebut.


"Ya sudah, ayo kita makan" ajak Mama Vina, karena ini memang sudah waktunya makan siang.


Begitu sampai dimeja makan, Mala melihat sudah ada makanan yang tersaji. Makanan itu masih mengeluarkan uap panas dan itu berarti baru saja dimasak.


"Siapa yang masak?" batin Mala. sementara kedua ibunya sejak tadi berbincang dengan mereka. Itu berarti ada orang lain dirumah ini yang masak.


"Ini Bu Asih yang masak. Dia mama tugaskan membantu disini karena dari semua asisten rumah tangga yang ada di rumah hanya Bi Asih yang dekat dengan Galih" jawab Mama Vina dengan sejelas-jelasnya.


Galih tersenyum senang, Mama Vina menuruti keinginan Galih untuk membawa Bi Asih ke kediamannya. Bukan tanpa sebab, tentu saja Galih sudah merencanakan sesuatu.


"Mas kamu ingkar janji" ucap Mala.


Mereka sekarang ada di kamar utama, yang akan menjadi kamar mereka. Mala protes karena mereka tidur satu kamar tidak sesuai dengan surat perjanjian yang mereka tanda tangani.


"Mau gimana lagi? Ada Bi Asih yang bisa memberi laporan pada mama kalau kita tidur terpisah" jawab Galih.


Mala tidak tahu saja, Galih sudah merencanakan semuanya sebelum dia membuat perjanjian yang dia ajukan pada Mala. Masalah mereka satu kamar seakan bukan dia yang mengingkarinya, tapi keadaanlah yang membuatnya tidak sesuai perjanjian.

__ADS_1


Saat memutuskan menerima perjanjian yang diajukan Galih, tidak terpikirkan oleh Mala kalau hal ini akan terjadi. Harusnya dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, bukan menerima perjanjian itu begitu saja.


Mala mendesah, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Saat ini dia sudah sah menjadi istri Galih, mau tidak mau dia harus tidur sekamar dengan pria itu. Hanya saja Mala tidak bisa membayangkan jika hal seperti semalam akan terjadi lagi, satu tahun bukan waktu yang sebetar. Bagaimana kalau Galih khilaf seperti yang dipikirkan Ardi saat pertama kali Mala memberi tahu masalah perjanjian tersebut?


Mala tidak menemukan Galih dikamar mereka saat dia keluar dari kamar mandi.Tadi Mala meninggalkan pria itu begitu saja kekamar mandi setelah dia protes, Tidak peduli kemana pria yang kemarin menjadi suaminya, Mala langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur setelah selesai melakukan ibadah wajibnya.


Banyak ucapan selamat atas pernikahan Galih dan Mala yang dikirimkan teman-temannya di media sosial miliknya. Banyak yang memberi doa dan ada juga yang nyinyir, Mala tidak bisa membalas satu-satu ucapan itu. Hanya orang-orang dia kenal dekat saja yang dia balas salah satunya ucapan selamat dari Abiansyah.


"Kak Abi, andai saja kamu tahu kalau hati ini untukmu" gumam Mala lirih.


Selama ini Mala dan Abiasyah memiliki hubungan yang sangat baik. Persahabatannya dengan Tias membuatnya sering bertemu dengan Abiansyah, sosok pria penyayang yang dia kagumi setelah ayah dan Mas Arfannya. Mala mencintai pria itu dalam diam, tidak ingin memberitahu siapapun, cukup dirinya saja yang tahu walau dia harus menahan sakit mencinta sendiri.


Pesan masuk dari Zoya menarik lamunam Mala tentang Abianyah serta perubahan Tias dan Ardi.


Zoya [La, gue bete]


Mala [Kenapa? Mana Tias sama Ardi?]


Mala baru sadar Zoya mengirim chat pribadi dengannya. Biasanya kalau ada masalah dia mengirim pesan di group sehingga Mala dan sahabat yang lain bisa memberikan saran atau menghiburnya. Seketika Mala merasa ada yang tidak beres


Zoya [Nggak usah tanya mereka sama gue. Tadi mereka menghilang saat makan siang, gue sendirian nggak ada temen dikantor. Lo kapan masuk? Jangan bilang lo masih mau cuti lama karena keenakan buat anak]


Mala menggelengkan kepalanya, itu yang dia suka dari seorang Zoya. Dia memang mudah marah dan kesal, tapi dia juga mudah melupakan. Buktinya saja, dalam keadaan marah pada dua sahabatnya tapi dia bisa menuliskan kata-kata yang membuat Mala bergidik ngeri.


Mala [Besok gue masuk]


Zoya [Hehehe, bukan karena gue kan?]


Baru akan membalas pesan dari Zoya, Mala melihat Galih masuk kekamar. Tanpa bicara apapun Pria itu berjalan masuk ke kamar mandi dan hilang di balik pintu begitu saja.


"Ada apa dengan dia?"

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2