BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
27. Jalan Jalan


__ADS_3

"Seperti ungkapan banyak orang, tidak lengkap bila kita ke Yogyakarta tapi tidak mengunjungi Malioboro"


Itulah yang Mala ucapkan pada Galih saat mereka tadi siang mengunjungi kotagede membeli kerajinan perak pesanan Mama Vina. Untuk menuruti keinginan istrinya, malam ini Galih mengajak Mala berjalan menyusuri jalan Malioboro, lalu menikmati suasana malam hari di kota gudeg ini sambil makan malam dengan duduk lesehan di salah satu tempat makan yang cukup ramai pengunjungnya.


Kehadiran Galih di lesehan tersebut menarik perhatian seseorang yang mengenalinya, mengusik kesenangan Mala dan Galih yang sedang menikmati makan romantis, dimana Galih mengambil alih untuk menyuapi istrinya. Galih menganggap ini adalah kencan kedua mereka dan laki-laki itu ingin memanjakan istrinya.


Orang yang mengenali Galih itu adalah seorang wartawan, dia memperkenalkan diri sebelum mengajukan pertanyaan pada Galih. Wartawan itu tertarik dengan kehadiran Galih disana, dimana seorang Ceo perusahaan besar mau makan malam lesehan di pinggir jalan Malioboro layaknya orang biasa, tentu ini akan menjadi berita yang menarik perhatian bila dia terbitkan. Apalagi namanya akhir-akhir ini kembali jadi berita karena kasus perselingkuhan sepupunya yang melibatkan mantan kekasihnya yang seorang artis. Bukan hanya Galih yang menarik perhatiannya, tapi juga wanita yang menemani Ceo itu, dia mengenali wanita itu, tapi takut jika salah menyapa orang. Untuk memastikannya dia menghampiri meja dimana Mala dan Galih sedang menikmati makan malam mereka.


"Pak Galih, boleh saya tahu apa yang membawa anda makan malam di pingir jalan seperti ini? Dan maaf yang menemani anda ini ...."


"Indra, kamu Indrakan?" tanya Mala memotong pertanyaan wartawan tersebut saat dia mengenali orang yang bertanya pada suaminya itu seperti temannya waktu sekolah.


"Nurmala Azhara" Indra menyebut nama lengkap Mala, nama yang selalu diingatnya walau sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Masih kenal saya ternyata kamu In" balas Mala.


"Tentu saja, siapa yang bisa lupa sama gadis idola di sekolah. Gimana kabar lo sekarang Nurma?" Indra memanggil Mala dengan nama yang biasa teman-teman dan guru memanggil Mala disekolah.


"Kabar baik In, sudah lama banget gue nggak dengar orang panggil gue dengan panggilan Nurma" jawab dan terang Mala tentang panggilan Indra padanya.


"Gue juga udah lama nggak dipangggil dengan panggilan In, karena hanya lo yang suka panggil gue gitu" balas Indra.


"Ya karena hanya gue yang nggak lo larang manggil In" keduanya terkekeh, melupakan Galih yang duduk di samping Mala.


"Hemm" Galih berdehem untuk menyadarkan keduanya.


"Hubby, kenalin ini Indra teman aku sekolah dari SD sampai SMP" Mala memperkenalkan Indra pada Galih, begitu mendengar deheman dari suaminya.


"In, kamu pasti udah kenal sama pria yang ada disampingku kan?" Indra mengangguk sambil berseru.

__ADS_1


"Hubby?"


"Oh aku ingat, kamu yang diberitakan sebagai calon istri Pak Galih? Aku kira hanya wajahnya aja yang mirip kamu, ternyata emang beneran kamu Nur" lanjut Indra ucapannya setelah mengingat berita yang pernah tersebar beberapa bulan yang lalu.


"Kalian sudah menikah?" tanya Indra lagi.


"Satu bulan setelah berita itu" Galih yang menjawab sambil menggenggam erat tangan Mala dan juga menatap penuh cinta pada Mala yang dibalas senyum oleh sang istri.


"Sepertinya akan ada patah hati satu angkatan nih" seru Indra lagi melihat kemesraan itu.


"Apaan sih In, lho terlalu berlebihan" sahut Mala.


"Lo aja yang kagak tahu Nur, gimana para teman laki-laki sering ngomongin lo di WAG alumni"


"Termasuk lo ya" sela Mala. Indra tertawa.


"Itu kerjaan Tias, dia yang ngeluarin gue dari group. Biar nggak ada yang resehen gue sih katanya" jawab Mala memberi tahu.


"Lo masih dekat sama dia?" Mala mengangguk menjawab pertanyaan Indra.


"Awet ya, tapi lo tahukan kalau Tias..."


"Maaf, ngobrolnya dilanjut lain kali saja. Sudah larut, istri saya butuh istirahat" potong Galih sambil memberi alasan.


Sebenarnya dia hanya ingin mengalihkan pembahasan tentang Tias. Terlebih lagi teman Mala ini akan bertanya sesuatu yang sepertinya sesuatu yang tidak diketahui Mala. Seperti yang Zoya katakan, Mala tidak tahu masalalu Tias yang berantakan. Dimata Mala, Tias sahabatnya itu sahabat yang baik. Dulu mungkin iya, Tias sahabat yang baik, tapi mungkin tidak lagi untuk saat ini. Andai saja Mala tahu, tapi Galih takut jika Mala tahu karena itu pasti akan menyakiti hati istrinya.


"Mas apaan sih" sela Mala.


"Silakan Pak Galih, maaf mengganggu waktu kalian. Anda bisa membawa istri anda untuk istirahat" jawab Indra lalu beralih ke Mala.

__ADS_1


"Mala, senang gue bisa ketemu lo disini. Semoga kalian berdua samawa" ucap dan doa Indra untuk Mala dan juga Galih.


"Makasih In. Maaf ya" balas Mala.


Indra memperhatikan pasangan suami istri itu. Indra tidak berbohong tentang anak-anak cowok yang sering membicarakan kecantikan Mala, termasuk dia yang sejak dulu sudah mengagumi sosok Mala yang sederhana dan cantik alami. Sayangnya mereka tidak bisa mendekati Mala lebih jauh sejak dia bersahabat dengan Tias. Tias hadir seperti bodyguard yang melindungi Mala dari anak-anak cowok yang dulu pada menyatakan cinta pada Mala.


Melihat Galih yang memperlakukan Mala dengan lembut membuat Indra tersenyum melihatnya. Tidak sedikit cerita yang memberitakan bagaimana sikap seorang Galih pada wanita, tapi apa yang dia lihat sangatlah berbeda, Galih pria yang penyayang dan itu sangat terlihat dari perhatian yang Galih berikan pada Mala.


Indra mengirim foto kemesraan suami istri itu di WAG alumni sekolahnya saat SMP. Seperti yang dia katakan, akan ada patah hati satu angkatan termasuk dirinya. Indra tidak ingin patah hati sendirian, untuk itu dia membaginya bersama teman-temannya.


Tias yang sedang memeriksa ponselnya melihat notifikasi masuknya sebuah foto di WAG alumni SMP. Tias tidak tertarik untuk melihatnya, sampai dia membaca lagi notifikasi yang menyebut nama Mala disana. Bukan hal baru yang Tias lihat jika Mala menjadi bahan percakapan mereka, terkadang dia cemburu melihat Mala yang disukai banyak orang, tapi dia bisa apa, semua orang yang mengenal Mala pasti akan langsung menyukainya termasuk papanya dan Abi kakak tirinya.


Namun saat nama Galih juga terlihat di notifikasinya, Tias langsung membuka dan membaca isi pesan di group alumninya. Dia ingin tahu, apa yang sedang dibahas teman-temannya? Foto Galih yang sedang menyuapi Mala yang tadi sempat diabadikan Indra terpampang jelas di WAG.


Tias sudah kembali ke Jakarta setelah dia kehilangan Galih dan di paksa pulang oleh Ardi yang menyusulnya ke Surabaya. Dia sudah kembali magang di Andromega, tinggal satu minggu lagi keberadaannya dan tiga sahabatnya magang di perusahaan tersebut. Selanjutnya dia dan yang lain akan kembali sibuk di kampus serta mengerjakan laporan selama magang dan juga membuat skripsi. Lalu bagaimana nanti dia akan mendekati Galih? Apa lagi dia tetap tidak bisa menemukan Galih di kantor begitu kembali magang, begitu juga Mala sahabatnya. Kedua sahabatnyapun tidak memberitahu dia dimana keberadaan sepasang suami istri itu. Tapi kini Tias sudah punya rencana baru begitu tahu dimana keberadaan Mala dan Galih.


Sebenarnya malan belum terlalu larut, waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam. Hanya saja selain mengalihkan percakapan tentang Tias, Galih juga cemburu melihat keakraban Mala dan Indra. Resiko memiliki istri cantik, itu yang Galih tekankan untuk mengatasi rasa cemburunya.


"Sayang, kamu kelihatanya sangat dekat dengan teman kamu itu" ucap Galih sambil memasangkan sabuk pengaman istrinya, mereka sekarang sudah berada di mobil perusahaan yang disiapkan untuk Galih pakai selama di Jogja.


"Tidak terlalu, tapi beberapa kali kami satu kelas, jadi sering ngobrol bareng" jawab Mala jujur.


"Kenapa?" lanjut Mala dengan pertanyaan.


Galih memilih diam lalu menyalakan mesin mobil, tidak mungkin dia jujur mengatakan kalau dia cemburu.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia--...

__ADS_1


__ADS_2