BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Salah Memilih Lawan


__ADS_3

Terlelap dalam dekapan Arfan, itulah yang Galih lihat saat menemukan istrinya. Jadwal pertemuan dengan klien yang cukup padat dan tidak bisa dia wakilkan pada Leo, membuat Galih abai memperhatikan keadaan istrinya. Terlebih lagi, keberadaan Arfan di samping adiknya membuat Galih merasa lebih tenang dan bisa bekerja dengan baik tanpa takut terjadi sesuatu pada wanita yang dicintainya.


"Sudah selesai semua?" tanya Galih pada Tari, orang yang dipercaya mengatur dan faham tentang jadwalnya.


"Sudah, kamu bisa istirahat sekarang" jawab Tari sambil menatap wajah lelah Galih.


Salah saudara sepupunya itu sendiri yang membatalkan beberapa pertemuan dengan klien beberapa hari yang lalu, sehingga dia harus mengganti pertemuan itu di hari ini, dimana sudah terjadwal pertemuan dengan klien yang lainnya.


"Gue nyusul Mala ke rumah sakit sekarang" jawab Galih dengan wajah panik.


"Ada apa?" tanya Tari sambil mengejar Galih yang melangkah dengan cepat keluar ruangannya menuju lift.


Sejak rapat dimulai, Galih mengnonaktifkan suara smart phonenya. Baru saat ini dia memegang smart phonenya untuk mengecek pesan yang masuk sambil berbincang dengan Tari.


Tring... tring... tring... sangat banyak notifikasi pesan dan panggilan telepon yang masuk ke nomor wa miliknya.


"Tidak biasanya" Galih bergumam.


Nama yang pertama Galih lihat adalah milik istrinya, tidak ada pesan yang penting. Mala hanya mengabarkan kalau istrinya itu sudah tiba di rumah sakit, setelahnya istrinya tidak mengirim pesan lagi dan juga tidak menelponya. Galih merasa lega, itu berarti Mala baik-baik saja.


Panggilan dari Rafi tak luput dari perhatian Galih, sahabat masa kecilnya itu tidak biasa menghubungiya berkali-kali seperti ini. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Rafi, disusul Ardi yang juga menghubunginya berkali-kali.


"Ada sesuatu yang pentingkah?" pikir Galih dalam hatinya sambil membuka satu persatu pesan yang masuk.


Satu nomor yang sudah tidak lama menghubunginya mengirim pesan.


[Inikah istri yang baik? Bersandar di bahu laki-laki lain]


[Mengirim foto Mala yang sedang dirangkul seorang pria dengan kepala istrinya yang bersandar di bahu pria tersebut]


Bukan karena cemburu melihat foto Mala bersama pria lain, sehingga Galih bergegas untuk menemui istrinya di rumah sakit dimana Tias dirawat. Melainkan dia khawatir dengan Mala yang terlihat tidak baik-baik saja di foto tersebut. Galih sangat faham, hanya Arfan dan Rafi tempat Mala bersandar selama ini jika sedang tidak baik-baik saja. Bukan hal baru jika dia melihat Mala bersandar di bahu Rafi sahabatnya.


"Ada apa dengan Mala?" tanya Tari lagi, karena Galih mengabaikannya.

__ADS_1


Galih menyerahkan smart phone miliknya yang langsung diterima oleh Tari.


"Ini Mala dan Rafi. Mala kenapa?" ucap dan tanya Tari yang langsung mendapat gelengan kepala dari Galih.


Galih tidak tahu apa yang terjadi pada Mala, tidak ada yang mengabari kondisi istrinya. Galih mengusap wajahnya dengan kasar begitu dia sudah berada di dalam lift. Bukan tidak ada yang mengabarinya, tapi suara ponselnya yang dia senyapkan membuatnya tidak mendengar jika banyak panggilan masuk menghubunginya. Sekarang Galih mengerti, kenapa Rafi menghubunginya berkali-kali. Sahabatnya itu ingin mengabari kondisi istrinya yang sudah pasti tidak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi?" tanya Galih begitu dia sudah berdiri di dekat Arfan dan Mala.


"Duduk dan gantiin gue" perintah Arfan pada adik iparnya.


Sejak tadi dia menahan diri untuk menuntaskan hajatnya. Tidak ada yang bisa mengantikannya memeluk Mala, dan dia tidak tega membangunkan adiknya yang kelelahan karena menangis. Rafi dan Widya sudah pamit pulang karena ada keperluan lain, sedangkan Ardi menemani Tias yang masih belum sadarkan diri.


Galih mengikuti perintah Arfan, dia duduk disamping Mala dan mengambil alih memeluk istrinya. Mata Mala yang terlihat sedikit bengkak membuat Galih tidak tega mengusik tidur istrinya.


"Apa yang terjadi?" ulang Galih pertanyaannya.


"Sabar, gue ke tolilet dulu" tanpa menunggu jawaban Galih, Arfan segera berlalu dari hadapan adik iparnya.


Orang yang mengirim foto Mala dalam rangkulan pria lain pada Galih merasa puas dengan yang dia lakukan, dia yakin apa yang ditunjukkannya mampu membuat Galih terbakar emosi karena cemburu. Tujuannya hanya satu, jika dia tidak bisa memiliki laki-laki itu, maka tidak boleh ada yang lain yang bisa memilikinya juga.


Sayangnya dia salah memilih lawan, Mala bukan wanita yang mudah di kalahkan. Galih pun akan lebih percaya pada istrinya dari pada berita yang dia sampaikan. Pengirim foto tidak tahu itu, dia juga tidak tahu jika Mala sekarang menyimpan kartu as untuk mengalahkannya.


"Apa yang kamu lakukan, sepertinya sangat senang?" Suara Alan mengejutkan Kiara.


"Tentu, dan ini rahasia" jawab Kiara sambil menyungingkan senyum mencibir pada laki-laki itu.


Dia tidak peduli dengan Alan yang sudah lama tidak mengunjunginya, walau dia sempat curiga jika sepupu Galih tersebut memiliki wanita simpanan lain selain dirinya. Hanya saja kehadiran Alan tidak pada waktu yang tepat.


"Masih ingat sama anak kamu" ucap Kiara ketus.


"Dia anakku atau anak Abiansyah?" bukan menjawab, Alan balik bertanya.


Kiara tersentak mendengar pertanyaan Alan, baru tadi pagi Saras mengingatkannya tentang Alan yang mungkin sudah tahu tentang putranya.

__ADS_1


"Tentu saja dia putramu, kamu tahu sendiri aku tidak pernah bersama laki-laki lain sejak bersamamu, Alan" jawab Kiara meyakinkan Alan.


"Bisa saja itu putra Abi, karena dia yang menidurimu sebelum aku" Alan menatap Kiara.


"Aku menemuimu karena ingin menyerahkan ini"


Alan melemparkan sebuah amplop coklat yang bertuliskan nama rumah sakit.


"Buka dan bacalah" perintah Alan pada Kiara.


Kiara mengikuti apa yang di perintahkan Alan, dengan berlahan dia mengeluarkan isi amplop tersebut dan membaca apa yang tertulis dalam selembar kertas tersebut. Wajah Kiara memucat, dia tidak menyangka jika Alan diam-diam melakukan tes DNA pada putranya.


"Apa perlu bukti yang lain?" tanya Alan. Kiara tidak menjawab, dia diam seribu bahasa. Kiara belum siap jika Alan menghentikan subsidi keuangan untuknya yang selama ini laki-laki itu berikan untuk menghidupinya dan putranya.


"Mulai sekarang kita tidak ada hububugan apa-apa lagi. Minta biaya hidup pada ayah kandung anakmu, bukan memanfaatkan aku lagi" ucap Alan sambil berdiri hendak meninggalkan Kiara.


"Bukankah ayah biologisnya harus tahu tentang putranya? Atau perlu bantuan untuk menyampaikan padanya" tanya dan tawar Alan.


"Satu hal lagi, jika tidak mengenal Mala dengan baik jangan coba-coba mengusiknya. Kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya" ucap Alan mengingatkan Kiara.


"Galih tidak akan cemburu melihat istrinya bersama mantan bosmu itu" lanjut Alan ucapannya sambil berlalu.


Kiara merobek hasil DNA putranya yang tadi diberikan Alan, lalu menghamburkannya sehingga berserakan dilantai. Dia kesal dengan dirinya sendiri, satu kesalahannya adalah meninggalkan Galih.


Dia sengaja memperalat Alan, seakan-akan laki-laki itulah yang merayunya terlebih dulu sehingga kelak Galih bisa memaafkan dan menerimanya kembali. Kiara sengaja tidur dengan laki-laki itu untuk menutupi aibnya yang mengandung putra dari suami ibunya sendiri.


Namun, karena kehadiran Mala sampai saat ini dia belum bisa mendapatkan Galih kembali. Rafi mantan bosnyapun tidak bisa dia taklukan, itu karena kehadiran Mala. Kini Alanpun membela Mala terang-terangan di hadapannya. Kiara tidak suka itu, tidak ada yang boleh memuji dan membela Mala dihadapannya. Kiara membenci Mala, dia tidak akan membiarkan istri Galih itu bahagia.


"Semua karena KAMU!" ucap Kiara sambil membulatkan matanya menatap foto Mala bersama mantan bosnya.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2