
Mala membuka matanya saat dokter jaga sedang memeriksa luka yang dialaminya akibat insiden tabrak lari, dia mengeluh sakit dibagian kepala dan melihat dunia ini seakan terus berputar. Benturan yang terjadi cukup keras, karena itu Mala merasa sakit disekujur tubuhnya. Setelah lukanya dibersihkan, dokter memutuskan untuk memberi obat tidur pada Mala. Tujuannya agar istri Galih itu bisa beristirahat lebih lama dan nyaman tanpa perlu merasakan sakitnya, dan saat dia bangun, tentu saja dokter berharap kondisinya akan lebih baik lagi.
Untuk saat ini tidak ada luka yang serius yang dialami Mala, hanya saja dokter masih menghawatirkan jika ada luka dalam yang membahayakan. Sayangnya untuk saat ini, Mala belum siap untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter akan memeriksanya nanti, setelah istri Galih itu bisa membuka mata dengan baik tanpa mengeluh sakit di kepalanya lagi.
Galih menyetujui apa yang di katakan dokter, dia meminta perawatan yang terbaik untuk istrinya. Dan disinilah Galih berada saat ini, disisi ranjang dimana Mala terlelap. Dia tidak ingin meninggalkan Mala walau sedetikpun, Galih ingin jadi orang pertama yang dilihat istrinya saat terjaga.
Tadi saat Mala sadar, Galih baru saja sampai di rumah sakit. Sehingga dia tidak bisa bertemu dan bicara dengan istrinya. Galih tidak akan memaafkan dan membiarkan orang yang sudah menabrak istrinya lepas begitu saja.
Galih sudah menerima penjelasan kronologi kejadian saat Mala tertabrak dari orang kepercayaannya yang melihat langsung kejadian itu. Orang kepercayaannya itu memceritakan kronologi kejadian, dia melihat Mala saat itu sedang berdiri di sisi jalan dan akan menyeberang menuju keberadaan nuna, mobil kesayangan Mala. Baru saja akan membuka pintu mobilnya, sebuah mobil SUV melaju kencang, mendorong tubuh Mala hingga kedepan nuna yang sedang terparkir.
Baik Zoya maupun Ardi tidak ada yang berani memberitahu Galih, apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu. Keduanya tidak ingin suasana duka yang menimpa Mala menjadi amarah Galih pada Abi. Biarlah untuk sementara ini jadi rahasia mereka, apa lagi mereka belum tahu siapa pelaku dan apa motifnya melakukan ini pada Mala.
Galih tidak ingin meninggalkan Mala sendiri dirumah sakit, karena itu dia meminta Leo yang mengkoodinator orang-orangnya yang sedang mengejar pelaku. Leo menyetujui permintaan Galih dan segera pergi bersama orang kepercayaan Galih.
"Kami ikut" ucap Zoya yang tidak ingin hanya berdiam diri dirumah sakit.
Leo melihat pada Zoya, laki-laki itu memberikan senyumnya sambil mengangguk menyetujui.
Menggengam erat jemari istrinya yang sejak tadi Galih lakukan, sesekali dia akan mengecupnya mengalirkan rasa sayangnya. Sampai tanpa sadar dia ikut terlelap disisi Mala, tanpa melepaskan genggamannya.
Bunda Sarah yang melihatnya hanya bisa menyungingkan senyum, bersyukur memiliki menantu yang sangat menyayangi putrinya. Ingatan bunda Sarah kembali ke masa lalu.
"Jangan diciumin terus, dia adik aku" larang Arfan pada Galih yang terus mencium pipi chubby bayi usia enam bulan tersebut.
Galih yang saat itu baru berusia enam tahun merasa gemas dengan pipi chubby sang bayi, dia menganggap bayi perempuan itu seperti boneka milik sepupunya. Dicium, diusap, dicium lagi, diusap lagi membuat Arfan kesal. Sementara sang bayi merasa senang dengan perlakukan Galih kecil, dia sesekali akan tertawa keras membuat Arfan cemburu dengan kedekatan keduanya.
"Bunda" suara Arfan menarik bunda Sarah dari lamunanya.
"Apa yang Bunda pikirkan?" tanya Arfan.
Dia baru saja sampai di kamar rawat inap Mala. Arfan sedang perjalanan keluar kota saat bunda Sarah memberi tahu apa yang terjadi pada adiknya. Arfan memutuskan untuk berbalik arah dan langsung menuju rumah sakit.
Diluar Arfan bertemu Zoya dan Ardi, keduanya menjelaskan pada Arfan apa yang terjadi pada Mala. Jika pada Galih mereka membungkam tidak berani bicara masalah Abi, berbeda dengan Arfan. Zoya dan Ardi menceritakan apa yang terjadi antara Mala dan Abi sebelum istri Galih itu meninggalkan mereka yang akhirnya terjadi penabrakan itu.
"Dimana Abi dan Tias sekarang?" tanya Arfan. Mendengar penjelasan Zoya dan Ardi , harusnya keduanya ikut dan ada dirumah sakit.
"Mereka ikut orang-orangnya Pak Galih mengejar si penabrak" Ardi mencoba memberi tahu dan menjelaskan.
"Kami juga akan menyusul mereka" sahut Zoya. Dia tadi diminta Leo untuk menunggunya dirumah sakit bersama Ardi sebelum ikut menyusul mengejar pelaku yang menabrak. Dan tanpa Zoya sangka, laki-laki itu kembali dengan membawakan pakaian ganti untuknya yang penuh dengan noda darah milik Mala.
__ADS_1
Setelah Ardi dan Zoya pamit ikut Leo dan orang kepercayaan Galih, Arfan masuk keruang rawat inap Mala dan mememukan Bunda yang tampak melamun dengan pandangan yang menyorot pada sepasang suami istri yang sama-sama terlelap.
Bunda Sarah menggelengkan kepalanya. "Bunda tidak memikirkan apa-apa, tadi Bunda teringat masa kecil Galih yang begitu menyayangi Mala sampai kamu merajuk karena cemburu" jawab bunda Sarah memberi tahu Arfan, membuat kakak Mala itu tersenyum sambil menggaruk tengkuknya karena malu sendiri jika mengingat itu.
"Lihatlah sekarang" tunjuk bunda pada sepasang suami istri itu.
"Bahkan saat tidurpun Galih tidak ingin melepaskan adikmu" lanjut bunda Sarah ucapannya.
"Ayah memilihkan jodoh yang tepat buat adik, Galih sejak dulu memang sudah menyayangi si pipi chubby" jawab Arfan sambil terkekeh.
"Bagaimana denganmu Mas?"
Pertanyaan bunda hanya dijawab gelengan dari Arfan. Wanita yang kini jadi kekasihnya belum bersedia menikah, sang kekasih selalu saja menolak saat Arfan memawarkanya untuk bertemu bunda Sarah dan adiknya.
"Masih belum mau diajak menikah?" tanya bunda Sarah. Arfan mendesah sambil mengangguk.
"Usiamu semakin bertambah Mas, jika dia selalu menolak ada kemungkinan dia sebenarnya tidak ingin menikah denganmu" Arfan terdiam, mendengar ucapan bunda Sarah. Bundanya benar, itu juga yang sempat dia pikirkan.
"Apa lagi dia tidak mau dipertemukan pada Bunda dan adikmu" lanjut bunda Sarah ucapannya.
"Bagaimana keadaan adik, Bun?" tanya Arfan mengalihkan pembicaraan mengenai kekasihnya.
"Dokter akan memeriksa bagian dalam, nanti setelah adikmu bangun dan sudah tidak pusing lagi saat membuka mata" jawab bunda Sarah seperti penjelasan Galih padanya tadi.
"Lukanya?" tanya Arfan lagi. Dia tidak bisa memeriksa langsung mendekati adiknya, Arfan takut mengganggu Galih yang tampak kelelahan.
"Banyak luka di kaki dan tanganya, sudah dibersihkan dan di beri salep" jawab bunda Sarah.
"Menurut orang yang Galih perintahkan menjaga adikmu, kejadiannya begitu cepat. Tidak ada yang mengira kalau tiba-tiba ada mobil yang sengaja menabrak adikmu." Bunda mengulangi penjelasan orang kepercayaan Galih.
"Tapi mereka melihat adikmu langsung melindungi kepalanya, karena itu tangannya yang banyak mengalami luka" lanjut bunda Sarah penjelasannya.
Ponsel Arfan berbunyi. Melihat nama Ardi yang tertera di layar ponselnya, Arfan segera menerima panggilan tersebut.
"Apa sudah ketemu penabraknya?" tanya Arfan setelah dia menekan tombol hijau.
"Iya mereka sudah mengamankan pelakunya bersama orang-orangnya pak Galih. Sekarang meminta keputusan Mas Arfan dan pak Galih" jawab Ardi.
"Mereka tidaj bisa menghubungi pak Galih" lanjut Ardi ucapannya.
__ADS_1
"Hemm" jawab Arfan.
Galih membuka matanya begitu merasakan guncangan dibahunya dan mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ikut gue" ucap Arfan.
"Mereka sudah mengamankan pelakunya dan menunggu keputusan lo dan gue" Jelas Arfan agar Galih bergegas ikut dengannya.
"Mala?" tanya Galih yang tidak ingin meninggalkan istrinya.
"Ada Bunda" Bunda yang ikut mendekat menjawab pertanyaan Galih.
"Ada saya juga, Mas" Widya yang baru tiba ikut menjawab.
Widya dan Rafi mendapat kabar kecelakaan Mala dari Tari, keduanya tadi tidak sengaja bertemu sekertaris Galih itu. Tari yang saat itu baru saja menerima kabar dari Leo, segera saja memberi tahu keduanya. Tanpa menunda, mereka langsung meluncur kerumah sakit dimana Mala berada.
"Bunda, bagaimana keadaan Mala?" tanya Widya yang langsung menghampiri bunda Sarah.
"Dia masih tidur" jawab bunda Sarah sambil menunjuk Mala yang berbaring.
Galih mengecup tangan Mala yang masih berada dalam genggamannya, lalu berdiri dan mengecup kepala Mala yang dikelilingi perban. Walau Mala melindungi kepalnya dengan tangan, tetap saja ada luka di bagian kepalanya. Hanya saja tidak sebanyak luka ditangannya. Tidak bisa dibayangkan jika Mala tidak melindungi kepalanya dengan tangan, tentu saja luka di kepalanya akan lebih banyak.
"Mas pergi sebentar ya sayang" ucap Galih pamit pada istrinya sambil berbisik tepat ditelingga Mala.
"Bun, titip Mala"
"Pergilah, selesaikan dengan baik. Jangan khawatir bunda akan menjaga istrimu." jawab bunda yang mendapat anggukan dari Galih.
"Kalian mau kemana?" Tanya Rafi pada Galih dan Arfan.
"Ayo ikut" ajak Arfan pada sahabatnya itu.
"Orang-orang Galih sudah menahan pelakunya" lanjut Arfan menjelaskan pada Rafi.
Tanpa penolakan, Rafi segera menyetujui ajakan Arfan. Mereka sudah biasa meyelesaikan masalah bersama, tidak ada salahnya kali ini Rafi kembali ikut membantu Galih dan Arfan. Terlebih lagi yang terluka saat ini orang yang juga Rafi sayangi.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1