
Pagi ini, Mala ditemani Galih mengunjungi Tias yang masih berada di rumah sakit. Sudah ada Zoya dan Ardi yang menemani sahabatnya itu saat dia tiba disana.
"Hei bumil, cantik sekali hari ini." ucap Zoya menaggapi penampilan baru Mala yang berbeda hari ini.
Istri Galih itu memutuskan untuk mengenakan hijab, tentu saja Galih sangat mendukungnya. Ucapan Zoya ditanggapi Mala dengan senyum.
"Bagaimana keadaanmu, Yas?" tanya Mala.
"Kamu lebih cantik mengenakan hijab" puji Tias.
"Tias sudah dapat pendonor" Zoya yang memberi tahu.
"Benarkah?" tanya Mala sambil terharu, merasa beryukur. Itu berarti Tias akan cepat pulih.
"Siapa pendonornya?"
"Dia tidak ingin kita tahu siapa dia" jawab Tias.
..."Dia melakukanya karena butuh uang?" Tias menggeleng....
"Aneh" gumam Mala yang masih bisa di dengar Tias dan Zoya.
"Gue juga berpikir begitu" sahut Zoya.
Ardi tampak tidak nyaman dengan perbincangan ketiga sahabatnya, Mala bisa melihatnya. Kenapa dengan Ardi? Pertanyaan itu yang terlintas dibenak Mala.
Karena harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, Mala tidak bisa lama menemani Tias di rumah sakit. Tapi Mala berjanji akan menemani Tias saat sahabatnya nanti akan melakukan operasi.
"Tidak perlu La, kamu sedang hamil. Rumah sakit tidak terlalu baik untuk orang hamil" tolak Tias dengan halus.
Galih hanya diam sambil memperhatikan istrinya. Sekali lagi dia jatuh cinta pada Mala. Bagaimana tidak dia kembali jatuh cinta? Mala memiliki hati yang begitu lapang dan mulia, membuat Galih semakin mengagumi istrinya. Mala bahkan tidak ingin mengingat kesalahan dan kejahatan Tias sahabatnya itu padanya.
Suaminya sudah memberi kode kalau mereka harus segera ke kantor polisi. Mala segera pamit pada Tias, Zoya dan Ardi diikuti Galih. Mala meminta Ardi sahabatnya itu untuk mengantarnya dan Galih sampai ke luar kamar rawat Tias.
"Ada apa?" tanya Ardi yang mengerti maksud dan tujuan Mala.
"Kamu pasti tahu orang yang akan mendonor untuk Tias"
Ardi menghembuskan nafas kasar, sudah dia tebak kemana arah pembicaraan mereka.
"Iya, tapi aku sudah berjanji untuk tidak memberi tahu pada siapapun"
"Baiklah, tolong sampaikan pada dia, sebaiknya dia jujur. Tias menantikan waktu ini sangat lama, Tias rindu perhatian dan kasih sayangnya. Jika Tias tahu siapa dia, maka Tias pasti akan sangat bahagia" ujar Mala menaggapi jawaban Ardi.
"Gue pulang" pamit Mala.
"Bagaimana lo tahu, La?" tanya Ardi. Mala hanya membalasnya dengan senyum.
Ardi tertegun, Mala itu sering bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Tapi tidak sekali dua kali sahabatnya itu bisa mengetahui banyak hal. Ardi seharusnya berpikir yang sama dengan Mala, tentu Tias akan sangat senang jika tahu siapa pendonor yang berkorban untuknya.
"Ardi"
Ardi membalikkan tubunnya saat mendengar namanya di panggil.
"Anda mengenal saya?" tanya Ardi pada wanita berhijab lengkap dengan cadarnya.
__ADS_1
"Sangat mengenal kamu sebagai sahabat Tias" jawab wanita itu.
"Apa Tias dan saya menggenal anda?" tanya Ardi lagi.
"Bisa kita bicara di tempat lain?" bukan menjawab pertanyaa Ardi wanita bercadar itu memintanya menjauh dari kamar rawat Tias.
"Tias mengenal saya sejak lahir, mungkin sekarang dia lupa bahkan membenci saya" ucap wanita itu saat mereka sudah duduk di taman saling berhadapan.
"Anda..."
"Iya, saya mamanya Tias. Saya datang setelah mendengar kabar tentang dia yang sakit"
"Apa yang sebenarnya terjadi dengam anda? Mengapa sangat berbeda dengan yang Tias ceritakan?"
Mama Tias tersenyum, tentu saja Ardi tidak dapat melihatnya.
"Tidak perlu membahas tentang saya. Saya ingin tahu tentang sakitnya Tias. Bisa membantu saya?"
"Apa yang ingin anda ketahui?" Ardi balik bertanya.
"Semuanya" jawab mama Tias cepat.
Ardi menceritakan tentang sakitnya Tias yang butuh pendonor agar Tias bisa melakukan operasi tulang sumsum.
"Antarkan saya pada dokter yang merawat Tias" pinta mama Tias pada Ardi setelah sahabat putrinya itu meceritakan semuanya.
"Saya ingin diperiksa untuk jadi pendonor"
Mendengar itu, tentu saja dengan senang hati Ardi mengantarkan mama Tias menemui dokter Erick.
Tiba di kantor polisi Mala bertemu Lila yang sudah menunggunya disana.
"Maaf, membuat Mbak Lila menunggu lama" ucap Mala.
"Saya juga baru sampai, baru lima belas menit yang lalu" jawab Lila sambil memandang kemesraan sepasang suami istri ini. Galih tidak ingin sekalipun melepaskan genggaman tanganya pada sang istri.
"Mbak Lila, kalau saya tarik tuntutan saya pada ibu Wina dan Rania bagaimana?" tanya Mala.
Mereka sedang duduk di bangku tunggu sebelum di panggil untuk memberikan keterangan.
"Sayang" panggil Galih tidak percaya.
"Kenapa?" tanya Lila.
"Entahlah, saya merasa akan banyak menghabiskan waktu untuk menghadiri persidangan. Saya hanya ingin ketenagan selama hamil." jawab Mala.
"Bagaimana Pak Galih?" tanya Lila pada Galih.
"Saya tidak setuju, mereka berdua hampir saja membuat nyawa anak dan istri saya dalam bahaya" jawab Galih dengan tegas.
Mala diam menundukkan kepalanya, kali ini mungkin Galih tidak bisa memahami keinginannya. Mala juga tidak bisa menyalahkan suaminya.
"Bagaimana, La?" Lila balik bertanya pada Mala.
"Ikuti keinginan suami saya saja, Mbak" putus Mala akhirnya.
__ADS_1
Galih tersenyum mendegar jawaban Mala, dirangkul dan dikecupnya kening istrinya.
"Mas akan selalu menemani kamu, sayang. Kamu juga tidak selalu harus menghadiri persidangan." bisik Galih. Mala mengangguk mengerti.
"Mala... sayang aku" panggil Tari dengan suara yang bisa didengar semua orang yang ada di lantai atas ini.
Mala menggelengkan kepala, sudah sangat paham dengan sekertaris suaminya ini jika memanggil nama seseorang tidak bisa pelan.
Dia baru saja tiba di perusahaan dan langsung ke lantai lima dimana ruangan Gslih berada yang disambut dengan suara Tari yang memanggilnya. Tari segera memeluk Mala begitu istri sepupunya itu berdiri tepat dihadapannya.
"Selamat ya sayang" ucap Tari.
"Kemarin Mbak Tari udah kasih aku selamat lewat telepon" jawab Mala.
"Nggak afdol kalau nggak ucapin langsung sambil peluk kamu." balas Tari jawaban Mala.
"Kamu juga cantik sekali mengenakan hijab begini" ucap Tari begitu menyadari penampilan Mala yang berbeda.
"Lukamu bagaimana?"
Tari yang ingat kalau Mala baru saja kecelakaan segera memeriksa dengan memindai seluruh tubuh Mala dari atas sampai ke bawah.
"Aku baik-baik aja Mbak" jawab Mala.
"Tari, bacakan jadwalku hari ini" ucap Galih memotong percakapan sekertarisnya dengan istrinya.
"Ishhh" sungut Tari sambil mengambil agenda jadwal sepupunya itu.
Mala terkekeh, dua saudara sepupu ini selalu saja berselisih tapi Mala tahu jika mereka saling menyayangi.
"Mbak heran deh sama kamu, kok betah si sama laki-laki kayak gitu"
"Tari... lo jangan meracuni pikiran istri gue!" teriak Galih.
Mala jadi tertawa melihat Tari yang semakin kesal.
"Dia itu, laki-laki yang menyebalkan" bisik Tari pada Mala agar Galih tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.
"Mala setuju Mbak, tapi itu dulu. Sekarang udah enggak" jawab Mala.
"Bukan Mbak yang ngeracuni pikiran kamu La, tapi sepertinya dia" tunjuk Tari pada Galih.
"Tari..." panggil Galih lagi.
"Iya, ini gue bacaain" sahut Tari.
"Pagi ini semua sudah diambil alih Leo. Sebentar lagi ada undangan makan dari perusahaan Permata. Setelahnya kosong"
"Aku akan datang bersama Mala menghadiri undangan itu" jawab Galih.
"Kamu mau kan, sayang?" tanya Galih. Mala mengangguk.
Disinilah Galih dan Mala berada, di sebuah restoran yang cukup mewah dengan desain gaya Eropa. Seperti biasa Galih tidak akan melepaskan gengaman tangannya pada sang istri. Semenjak hamil, aura kecantikan Mala semakin terlihat.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagia...