BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
12. Kembali Bekerja


__ADS_3

Hari ini Mala dan Galih kembali berativitas dikantor. Keduanya berjalan beriringan, banyak mata yang memandang kehadiran mereka. Sejak Mala turun dari mobil, pria itu terus menggandeng tangan istrinya. Mala tidak bisa berbuat apa-apa dengan sikap Galih. Awalnya dia protes tidak mau Galih memperlakukannya seperti ini, bukan Galih kalau tidak punya alasan yang tepat membuat Mala menuruti keinginannya.


Mala melepaskan genggaman tangan Galih begitu mereka berada didalam lift.


"Tidak perlu akting lagi mas" ucap Mala.


"Hanya gandengan tangan sayang, dikamar aja kamu peluk aku terus" jawab Galih.


"Itu karena tidak ada guling dikamar" jawab Mala.


Galih menahan senyum, dia tahu rahasia Mala saat tidur dari ibu mertuanya. Istrinya itu selalu mencari guling saat tidur, tentu saja itu berita yang sangat baik bagi Galih yang bisa dia manfaatkan.


"Sebenarnya mau kamu apa sih mas?" tanya Mala begitu masuk kekamar, setelah dia tidak menemukan guling disetiap kamar yang ada dikediaman mereka.


"Ada apa sayang? Datang-datang kok marah" tanya Galih pura-pura tidak mengerti.


"Kenapa tidak ada guling disetiap kamar?" Mala balik bertanya.


"Oh, karena mas tidak suka guling" jawab Galih, kali ini dia jujur.


Mala tidak percaya dengan jawaban Galih, mana ada orang yang tidak suka guling. Mala yakin itu hanya alasan Galih, sementara bagi Mala guling adalah segalanya saat dia tidur.


"Tidak ada orang yang tidak suka Guling" rutuk Mala.


"Ada, mas" sahut Galih cepat.


"Kenapa?"


"Karena terlihat seperti..." Galih tidak melanjutkan ucapannya, dia takut Mala menertawakan dirinya kalau tahu alasan Galih yang tidak suka guling.


"Seperti pocong" tebak Mala melanjutkan ucapan Galih.


"Iya, mas tidak suka"


Apa yang ditakutkan Galih terjadi, Mala tertawa keras saat tahu suaminya takut guling karena terlihat seperti pocong. Mala tidak habis pikir, pria gagah dengan tinggi diatas rata-rata tersebut takut dengan guling karena bentuknya yang menyerupai pocong.


"Udah dong tertawanya sayang, mas punya alasan kenapa tidak suka"


Galih menceritakan kisah masa kecilnya yang menyebabkannya sampai sekarang tidak suka melihat guling, bukan karena takut seperti yang dituduhkan Mala.


Ting, lift terbuka. Galih kembali menggandeng tangan Mala dan mengantarkan istrinya sampai di meja kerja.


"So sweet banget sih pengantin baru" goda Tari pada pasangan suami istri itu.


Mala tersenyum sambil duduk dimeja kerjanya, sedangkan Galih berlau setelah mengecup pucuk kepala istrinya. Mala hanya bisa diam, dia tahu Galih mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menyentuhnya.Tapi dia tidak bisa menolak. Sesuai perjanjian mereka harus terlihat mesrah didepan orang untuk menutupi nikah kontrak yang mereka lakukan.


"Gimana rasanya?" Tari bertanya sambil berbisik.


"Rasa apanya mbak?" tanya Mala lugu.


"Ishhh" Tari mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Galih gagah nggak? Habis berapa ronde?" tanya Tari beruntun.


Belum sempat Mala menjawab, telepon yang ada diatas meja Tari berbunyi. Galih yang menelpon, karena Tari belum masuk ke ruangannya untuk membacakan kegiatannya hari ini.


"Jangan coba-coba ngerusak pikiran bini gue" ucap Galih begitu Tari masuk ke ruangnya.


Tari menyengir kuda karena ketahuan oleh Galih kalau dia ingin bergosip tentang pria itu.


"Bacain jadwal hari ini" lanjut Galih memberi perintah.


Tari memang lebih tua dua tahun dari Galih, tapi dia tidak mempermasalahkan perbedaan usia tersebut sehingga Tari meminta Galih memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel mbak didepanya.


Bagi Tari saudara sepupu laki-laki yang dekat dengannya hanya Galih, biar terlihat dingin, jutek dan arogan, Galih pria yang baik dan penyayang. Begitupun Galih, baginya Tari bukan saudara sepupu melainkan sudah seperti saudara kandung. Sifat Galih yang pendiam membuat saudara yang lain engan untuk mendekat padanya dan hanya Tari yang bisa mengimbangi sifat pendiam Galih.


"Cih, sifat arogan lo nggak berubah biarpun udah nikah" gerutu Tari. Galih terkekeh.


"Ini kantor Ibu Mentari Larasati Mandala" jawab Galih dengan menyebut nama lengkap sepupunya.


"Baiklah Bapak Galih Aarav Mandala yang terhormat" keduanya terkekeh bersama.


Tari senang dengan sikap Galih yang sekarang, pria itu sudah bisa kembali bercanda walau candaan mereka sebenarnya biasa saja bahkan terdengar garing. Sudah lama sekali dia tidak melihat Galih yang tertawa seperti sekarang, bahkan dengan Raniapun, Galih tidak sebahagia sekarang.


"La, kamu dipanggil suamimu" ucap Tari begitu dia duduk disamping Mala yang masih sibuk dengan komputer yang ada dihadapannya.


"Ada perlu apa mbak?"


"Perlu disayang kayaknya" jawab Tari asal.


Tari terkekeh sambil mencubit kedua pipi Mala dengan gemas. Mungkin sikap Mala seperti ini yang membuat Galih mulai bisa tertawa lagi, pikir Tari.


"Dia minta temenin kamu nemuin kliennya" jawab Tari memberitahu apa maksud dan tujuan Galih.


"Kok Mala mbak? Bukannya pertemuannya di kantor. Itu berarti Mbak Tari yang Ikut" tanya dan jawab Mala.


"Maunya bos istrinya yang temani gimana" jawab Tari sambil terkekeh.


Mala mengkerucutkan bibirnya tanda tidak suka dengan jawaban Tari, bukan berhenti terkekeh, Tari semakin tertawa keras mengiringi langkah Mala menuju ruangan Galih.


"Pak kenapa harus saya yang ikut bertemu klien hari ini. itu tugas Bu Tari bukan saya?" tanya Mala begitu dia menghadap Galih.


"Ayo keruang meeting" bukan menjawab Galih malah menarik tangan Mala untuk ikut dengannya.


"Minta berkasnya sama Tari" Galih memberi perintah pada Mala.


Galih melanjutkan langkahnya menuju ruang yang biasa digunakan untuk meeting bersama Leo asisten dan juga sahabatnya yang baru kembali bertugas dua minggu ini setelah di kirim Galih ke perusahaan cabang yang bermasalah.


"Kamu sudah tahu siapa perwakilan yang dikirim klien kita?" Galih menggeleng tidak tahu.


"Siapa?" tanya Galih penasaran, tidak biasanya Leo bertanya.


"Lihat saja sendiri" jawab Leo sambil membukakan pintu ruangan meeting.

__ADS_1


Galih menghentikan langkahnya saat tahu siapa perwakilan yang menemuinya hari ini. Seorang wanita dengan rambut sebahu berwarna kuning keemasan, mengenakan pakaian kerja yang bisa dibilang cukup terbuka dan bisa menggoda lawan jenis.


Dengan memasang wajah datarnya, tanpa senyum dan basa basi, Galih duduk di kursi yang selalu disediakan untuknya diikuti Leo di sebelah kananya.


"Apa kabar Galih?" tanya wanita itu sambil mengulurkan tangannya.


"Baik" jawab Galih tanpa menerima uluran tangan kliennya.


"Jadi begini cara pimpinan Andromega menghargai tamunya?" ucap wanita itu.


"Anda tidak suka?" Galih balik bertanya.


"Ayolah Galih, jangan libatkan masalah pribadi kita dengan urusan perusahaan" ucap wanita itu.


"Anda terlalu percaya diri, tidak ada masalah pribadi dalam sikap saya. Saya hanya ingin menjaga sikap karena ada hati yang harus saya jaga"


Baru saja wanita itu ingin menjawab ucapan Galih. Mala masuk membawa berkas yang disiapkan Tari untuk pertemuan pagi ini. Tanpa tahu apa yang terjadi sebelumnya di ruangan ini, Mala melangkah mendekati Galih dan memberikan berkasnya.


"Ini berkas yang diperlukan pak" ucap Mala.


Galih menerima berkas itu sambil tersenyum pada istrinya dan meminta Mala duduk disampingnya. Galih yang bersikap lembut pada sekertarisnya menjadi perhatian sang wanita tamu kliennya. Dulu senyum itu diberikan Galih hanya untuknya sampai akhirnya sesuatu terjadi padanya dan meninggalkan Galih tanpa kabar berita.


"Bisakah kita bicara berdua sebelum kita melakukan kerja sama?" tanya wanita itu dan memerintahkan asisten dan sekertarisnya keluar.


Leo meminta ijin pada Galih, apa yang harus dia lakukan, tetap duduk disana atau keluar seperti asisten dan sekertaris wanita itu. Galih memberi tanda Leo untuk keluar, melihat Leo yang berdiri hendak keluar, Mala ikut berdiri untuk meninggalkan Galih bersama klien mereka.


Belum sempat Mala berdiri, Galih menahannya dengan menggengam tangan Mala.


"Tetap disini" ucap Galih memberi perintah, walau kecil tapi masih bisa didengar wanita yang ada dihadapan mereka.


"Galih aku hanya ingin bicara berdua bersama kamu, menyelesaikan masalah kita yang belum selesai" protes wanita itu.


"Silakan bicara, istriku perlu tahu apa yang ingin kamu bicarakan"


"Istri? Dia hanya sekertarismu" tanya dan sangah wanita itu.


"Dia berlaku sebagai sekertaris saat yang dibicarakann pekerjaan, dan dia akan jadi istri saya saat yang ingin dibicarakan masalah pribadi"


"Seorang Galih menikahi sekertaris? Cihh tidak bisa dipercaya" wanita itu menatap Mala dan merendahkannya.


"Aku yakin dia memberikan tubuhnya terlebih dulu dan membuatmu terpaksa menikahinya" lanjut wanita itu menuduh Mala wanita murahan.


"Jaga mulutmu nona, dia wanita baik-baik. Bukan sepertimu yang tidur dengan pria lain yang tak lain saudara dari kekasihnya sampai melahirkan seorang anak"


Mala yang mendengar perdebatan itu merasa risih, dia yang tidak mengerti ada hubungan apa diantara mereka hanya bisa diam dan menyimak, walau sebenarnya dia juga sakit hati direndahkan wanita itu.


"Apa karena akan bertemu wanita ini Mas Galih meminta aku yang menemaninya?" batin Mala.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2