
Hari ini Mala kembali melakukan bimbingan skripsi. Dengan ditemani Zoya atas perintah suaminya, Mala menghadap sang dosen. Galih tidak mengijinkan jika istrinya bertemu Dito hanya empat mata, biarpun itu di kampus dan di ruang dosen sekalipun.
"Kamu sudah bisa melanjutkan bab selanjutnya" ucap Dito mengakhiri pertemuan hari ini.
"Terima kasih, Pak" balas Mala sambil beranjak dari bangku yang dia duduki.
Melihat Mala berdiri, Zoya ikut berdiri dan pamit pada Dito dengan hanya menganggukan kepala.
"Zoy..." panggil Dito, membuat Zoya kembali berbalik menghadap laki-laki itu.
"Saya ada acara sabtu malam, bisa kamu menemani saya?" jelas dan tanya Dito pada Zoya.
"Maaf Pak, saya tidak bisa. Ada acara penting keluarga yang harus saya hadiri" jawab Zoya.
Dito diam sesaat lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, tidak apa-apa kalau tidak bisa" Dito menjawab dengan tersenyum, tapi tidak bisa menutupi kekecewaan yang terlihat di raut wajahnya.
Mala bisa melihat kekecewaan di wajah dosennya itu, tapi dia tidak tahu pasti apa penyebabnya. Penolakan Zoya atau karena tidak ada yang menemaninya menghadiri sebuah acara seperti yang laki-laki itu katakan.
"Semoga acaranya lancar" ucap Dito memberikan doanya.
Zoya terkejut. "Bapak tahu acara apa yang saya maksud?" tanya Zoya penasaran.
Dito menggeleng. "Hanya memberikan doa, apa salah?" Dito balik bertanya.
Zoya menarik nafas lega, sambil menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Dito. Dia sudah salah mengartikan doa yang diberikan dosennya itu.
"Tidak apa-apa kalau kamu mau memberitahu saya acara penting apa yang kamu maksud?"
Zoya melirik Mala setelah mendengar pertanyaan Dito. Sahabatnya itu mengangguk sambil mengarahkan dagunya kearah Dito, menyuruh Zoya untuk memberi tahu sang dosen.
"Acara lamaran untuk saya, Pak" jelas Zoya.
"Selamat kalau begitu" jawab Dito cepat.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi" ucap Zoya.
Mala memperhatikan keduanya. Saat laki-laki itu mengangguk menjawab Zoya yang pamit, wajah kecewa Dito kini terlihat lebih jelas olehnya.
Sama-sama diam setelah keluar dari ruangan Dito. Baik Mala maupun Zoya sama-sama berpikir dengan pikiran mereka masing-masing.
Zoya dengan keyakinannya melepas Dito dan menerima Leo. Sementara Mala terus memikirkan apa yang sebenarnya ada di benak Dito. Apa mungkin dosennya itu sudah memiliki rasa pada Zoya? Jika benar sayang sekali dia terlambat.
__ADS_1
"Kita jadi ke kantor Andromega?" tanya Zoya pada Mala yang sibuk melihat telepon genggamnya.
"Iya, aku ingin bertemu asisten baru mbak Tari" jawab Mala.
"Aku juga penasaran" balas Zoya.
Keduanya sama-sama tersenyum sambil melangkah masuk kedalam mobil yang sudah menunggu mereka didepan lobby. Tanpa keduanya tahu jika Dito terus melihat dan memperhatikan mereka.
Terlalu banyak berpikir dan menimang untuk memutuskan, kini dia kembali terlambat. Itulah yang Dito alami.
Dulu disaat Zoya terus mendekat dan mengharap cintanya, Dito seakan tidak peduli kehadiran gadis itu. Kini saat gadis itu mulai menjaga jarak dan menjauh, Dito merasa dia rindu Zoya yang selalu menggodanya. Dito kembali kalah untuk kedua kalinya. Bukan Mala atau Zoya yang salah, tapi dirinya sendiri yang salah. Dito sadar itu.
"Zoy, bagaimana kalau kamu saja yang jadi asisten mbak Tari." Bukan sebuah pertanyaan tapi ini merupakan tawaran untuk Zoya.
Mereka masih dalam perjalanan ke kantor Andromega, menggunakan kendaraan milik Galih yang dikendarai sopir. Galih sengaja memerintahkan sopirnya untuk mengantar jemput Mala hari ini. Apa lagi tadi pagi Mala memberi tahunya ingin mampir ke kantor. Tentu saja Galih senang dengan kehadiran istrinya di kantor, tanpa dia tahu tujuan Mala sebenarnya.
"Gue emang berencana mundur jadi asisten Pak Dito. Udah nggak nyama aja, nggak enak juga sama bang Leo" jawab Zoya.
"Bagus kalau lo udah berpikir ke arah sana, tadinya gue nawarin lo jadi asisten mbak Tari biar lo berhenti jadi asisten Dito"
"Asisten mbak Tari yang sekarang gimana?" tanya Zoya.
"Dia masih training, belum diangkat. Mbak Tari juga nggak cocok sama anak itu, kemarin dia telpon gue minta gue datang biar ketemu langsung wanita itu." jawab Mala menjelaskan.
"Wanita itu kurang sopan, Bu" Pak Ali yang ikut menyimak pembicaraan Mala dan zoya menimpali.
"Maaf kalau saya lancang ikut bicara." Pak Ali sadar jika dia juga bersikap tidak sopan dengan menguping pembicaraan keduanya.
"Tidak apa-apa, Pak. Katakan saja kalau ada yang ingin Bapak sampaikan"
Pak Ali diam sesaat sambil melihat istri majikannya dari kaca spion.
"Maaf Bu, saya hanya tidak suka kalau ada yang menganggu rumah tangga ibu sama bapak" ucapan pak Ali membuat Mala tersenyum.
Mentari sedikit banyak menceritakan tentang asisten sekertaris yang baru yang menggantikan Mala. Dia paham apa yang disampaikan pak Ali, wajar saja kalau sopir suaminya ini tidak suka.
"Apa terjadi sesuatu, Pak?" tanya Mala.
"Iya Bu. Kemarin bapak mau bertemu klien. Pak Leo tidak bisa ikut, sehingga hanya asisten ibu Mentari yang menemani."
"Seperti biasa, bapak duduk di belakang. Wanita itu ikutan duduk di belakang, Bu" adu pak Ali pada Mala.
"Terus Pak" Zoya yang penasaran tidak sabar menunggu kelanjutan cerita pak Ali.
__ADS_1
"Pak Galih kaget, tanpa bicara apa-apa pak Galih keluar dan pindah ke depan"
Zoya tertawa mendengar cerita pak Ali, menertawakan asisten Tari yang mencari perhatian suami sahabatnya. Belum tahu bagaimana bucinnya bos Andromega itu pada istrinya.
"Tidak sama pak Galih saja, Bu. Tapi sama pak Leo juga suka cari perhatian."
Berganti Mala yang tertawa sambil menepuk bahu Zoya yang langsung terdiam.
"Jadi gimana? Elo aja yang jadi asisten mbak Tari" tanya dan saran Mala.
Memasuki lobby perusahaan Andromega, Mala dan Zoya seketika menjadi pusat perhatian. Bukan tanpa sebab, tapi penampilan baru istri pimpinan Andromega itu yang menarik perhatian bagi para karyawan.
Mala hanya tersenyum pada setiap karyawan yang melihatnya hingga dia hilang dibalik pintu lift.
"Maaf ini bukan tempat umum, kalian jika ada perlu harap melapor terlebih dahulu dibagian resepsionis, bukan langsung naik dan main masuk ruangan seenaknya." tegur seorang wanita pada Mala dan Zoya.
Mala tersenyum, menilai penampilan wanita dihadapannya. Wanita dengan postur tubuh yang tinggi dan langsing, rambut panjang sebahu dengan pakaian cukup ketat dan sedikit terbuka di bagian dada. Terlihat wanita ini niat sekali untuk menggoda suaminya.
"Saya ada perlu dengan ibu Mentari" jawab Mala yang langsung duduk di depan meja Tari diikuti Zoya.
"Ibu Mentari sedang ikut rapat, silakan tunggu dibawah." jawab wanita itu.
"Kami akan menunggu disini. Beliau sudah tahu, kami akan datang hari ini" Zoya yang menjawab.
Calon istri Leo itu jengah dengan wanita di hadapannya ini. Sangat terlihat sombong dan angkuh, tidak memiliki sopan santun dalam bicara. Seenaknya main usir, belum tahu siapa yang di hadapannya sekarang ini? Seseorang yang bisa menentukan karirnya berlanjut atau berhenti sampai disini.
"Sayang aku udah datang!" teriak Tari begitu melihat Mala dan langsung memeluk istri sepupunya itu.
"Jalannya hati-hati, Mbak. Perutmu udah besar begini" tegur Mala, melihat Tari yang sedikit berlari saat melihatnya.
"Udah nggak sabar peluk kamu" jawab Tari sambil terkekeh.
"Vivi" Tari memanggil asistenya.
"Ini Nurmala yang selama magang disini jadi asisten saya." ucap Tari memperkenalkan Mala.
"Ini Zoya, dia di bagian administrasi" lanjut Tari.
"La, Zoy. ini Vivi"
Zoya dan Mala mengulurkan tangan mereka yang dibalas cepat Vivi dengan angkuh. "Hanya magang, kan" ucapnya.
Baik Tari, Mala dan Zoya sama-sama terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Vivi.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...