BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
29. Kunjungan Ke Solo


__ADS_3

"Mau kemana sayang?" sapa Alan, saat menemukan Tias berada di ruang tunggu bandara.


Tias mendesah saat tahu suara siapa yang bertanya padanya. Laki-laki itu selalu saja bisa menemukan dimanapun keberadaannya. Bahkan di bandara sekalipun seperti saat ini.


"Bukan urusan anda tuan Alan yang terhormat" jawab Tias dengan kesal.


Bagaimana bisa laki-laki itu juga berada disini, Tias sedang menunggu keberangkatan pesawatnya yang delay. Tiga puluh menit yang lalu harusnya dia sudah terbang ke Yogyakarta menyusul Galih dan Mala seperti informasi yang dia dapat dari Indra di WAG alumni.


HarusnyaTias sudah tidak perlu heran lagi mengapa Alan selalu tahu dimana dia berada, karena sejak malam itu, dimana mereka telah menghabiskan malam bersama dan berbagi kenikmatan, Alan tidak akan pernah melepaskan Tias. Diam-diam laki-laki itu mencari tahu siapa Tias dan bagaimana kehidupannya, begitupun hari ini, dia juga tahu kalau Tias akan terbang ke Jogja. Tapi dia tidak tahu kalau pesawat yang akan membawa Tias terbang itu delay sehingga mereka bertemu disini, diruang tunggu bandara dengan tujuan yang berbeda.


"Ayolah sayang, aku sudah katakan, sejak malam itu kita adalah sepasang kekasih" jawab Alan sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Aku tidak pernah menyetujuinya, dengar itu" Tias bicara sambil menunjuk wajah Alan. Bukan marah, Alan malah terkekeh lalu menarik tangan Tias dan membawa sahabat Mala itu kedalaman dekapannya.


"Sayangnya kamu harus setuju" bisik Alan tepat ditelinga Tias.


"Dengan kamu yang sudah punya istri dan simpanan? Aku tidak suka jadi selingkuhan" jawab Tias dengan pertanyaan dan pernyataan sambil melepaskan diri dari Alan.


Sejak infotaiment menayangkan berita perselingkuhan Alan, Tias sedikit banyak jadi tahu siapa laki-laki itu. Awalnya tidak jadi masalah bagi Tias memiliki hubungan dengan Alan, mereka melakukanya hanya untuk bersenang-senang, sama seperti saat dia berhubungan bersama Ardi, terlebih lagi laki-laki itu tidak kalah tampan dari Galih, bahkan Tias sempat mengira malam itu adalah Galih yang bersamanya. Keduanya memiliki garis wajah yang hampir sama, yang akhirnya Tias ketahui kalau mereka memang bersaudara. Tapi Tias tidak suka berhubungan dengan orang yang sudah memiliki istri, terkecuali Galih.


"Tidak suka jadi selingkuhanku? atau masih ingin mengejar Galih dan jadi selingkuhannya?"


"Sudah ku katakan aku hanya ingin jadi satu-satunya. Bukan menjadi selingkuhannya" tegas Tias tuduhan Alan. Setelahnya Tias menyadari kalau Alan baru saja menyebut nama Galih yang berarti laki-laki itu tahu tentang dia yang menyukai Galih.


"Dengan cara apa? Memberi obat perangsang seperti yang kamu lakukan malam itu"

__ADS_1


Tanya dan pernyataan Alan membuat Tias terdiam, tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan malam itu. Lalu dari mana Alan bisa tahu? Tias menatap menyelidik pada Alan, sementara yang dilihat tampak tersenyum penuh arti.


"Galih tidak akan membiarkan orang-orang menyentuhnya tanpa ijin" jelas Alan yang sangat tahu bagaimana sepupunya itu.


"Sebenarnya apa yang kamu sukai dari dia? Dia bukan laki-laki yang mudah untuk di dapatkan. Seandainyapun kamu bisa dekat dengannya, hanya akan membuatmu terluka dengan sikapnya" tanya dan jelas Alan.


"Bagaimana? Bukankah lebih baik jadi kekasihku yang bisa kamu sentuh sesuka hatimu sayang" tanya dan lanjut Alan ucapannya, membuat Tias jengah dengan keinginan Alan yang terus memintanya jadi kekasih laki-laki itu.


Sementara itu, Mala dan Galih sedang dalam perjalanan ke Solo seperti rencana mereka yang akan mengunjungi eyang putri Galih dari Papa Andro. Hanya saja, apa yang diperkirakan Mala benar-benar terjadi, suaminya itu sangat suka mengubah jadwal sesuai keinginannya. Seperti pagi ini jadwal mereka ke Solo jadi terlambat karena ulah Galih.


Melihat istrinya yang masih malu dengan apa yang terjadi antara mereka, Galih semakin gemas. Sejak tadi dia menginginkan kembali istrinya. Tanpa persetujuan Mala, laki-laki itu kembali mencumbu Mala dan kembali memasuki istrinya untuk kedua kalinya. Tidak hanya itu, setelah penyatuan, Galih menggendong Mala kekamar mandi.


"Kita mandi berdua" bisik Galih tepat ditelinga istrinya dengan lembut.


Mala di baringkan Galih di bathtub lalu mengisi air hangat untuk istrinya berendam. Galih ikut masuk, dia membantu Mala dengan mengosok punggung istrinya yang putih bersih itu dengan posisi dia duduk dibelakang Mala. Sesekali dia mengecup pipi dan pucuk kepala istrinya.


Kini Mala benar-benar jatuh cinta dengan sikap dan perbuatan Galih padanya. Membuang jauh rasa perih yang beberapa hari lalu dia rasakan, terobati dengan kelembutan suaminya. Kini Mala bisa berucap dia ingin selalu seperti ini, berdoa dan memohon 'Biarkan aku bahagia'


"Sayang kita sudah sampai"


Ucapan Galih mengejutkan Mala terlebih lagi saat menemukan wajah suaminya itu sudah berada tepat dihadapannya. Cup, Galih mengecup pipi istrinya yang merona alami itu.


"Ngelamunin apa? Dari tadi mas panggil diam aja" Mala menggeleng menjawab pertanyaan Galih.


"Ya sudah, ayo turun. Eyang pasti sudah menunggu kita" perintah Galih sambil mengeusap wajah istrinya yang tadi dia kecup.

__ADS_1


Kehadiran Mala dan Galih memang sudah di tunggu Eyang Retno, nenek Galih dari papanya itu terlihat bahagia di kunjungi cucu dan cucu menantunya. Galih adalah cucu laki-laki kesayangnya, sejak cucunya kecil Eyang Retno sudah tahu jika Galih menyukai Mala. Beberapa kali Eyang Retno berkunjung dan menginap di kediaman Andro putranya, Galih selalu menyebut nama Mala disetiap ceritanya. Eyang Retno juga menyangi Mala sejak dulu, dia bahkan sudah menganggap Arfan dan Mala seperti cucunya sendiri. Keakraban Andro putranya dan Riadi ayah Mala, membuatnya mengenal baik keluarga sahabat anaknya itu. Saat mendengar Galih akan menikah dengan Mala, Eyang Retnolah orang pertama yang langsung menyetujuinya.


"Kamu sampai juga nduk di kediaman Eyang" ucap Eyang Retno saat Mala menyalimi tangannya.


"Maaf eyang, kami kesiangan" jawab Mala.


"Tidak apa-apa, eyang paham. Ya kan le?" jawab Eyang Retno permintaan maaf Mala lalu bertanya pada Galih yang dijawab dengan cengiran kuda oleh sang cucu, karena eyangnya faham apa yang terjadi.


"Eyang juga pernah muda" lanjut Eyang Retno ucapannya. Mala yang mengerti kemana arah pembicaraan eyang suaminya itu hanya bisa menunduk malu.


Ini bukan kali pertama kunjungan Mala ke kediaman Eyang Retno. Dulu waktu masih ada ayahnya, Mala sering diajak berkunjung ke kediaman ini. Karena itu, Mala merasa tidak asing berada disini. Kediaman Eyang Retno tidak ada yang berubah dari terakhir dia berkunjung tiga tahun yang lalu. Tapi ini kunjungan pertamanya sebagai cucu menantu.


"Semoga kalian cepat memberikan cicit untuk eyang" ucapan Eyang Retno membuat Mala semakin menundukkan wajahnya.


"Tenang saja eyang, kami akan terus usaha. Iyakan sayang?" jawab Galih doa dari eyangnya dan bertanya pada Mala untuk membenarkan jawabannya.


Eyang Retno hanya bisa terkekeh lalu mengajak keduanya menuju meja makan. Dia sudah memerintahkan asisten rumah tangganya untuk memasak makanan kesukaan Galih dan Mala. Jangan ditanya dari mana Eyang Retno tahu makanan kesukaan Mala, beberapa kali Mala dan keluarganya berkunjung di kediamannya, membuat Eyang Retno cukup tahu makanan keksuakaan cucu menantunya itu.


"Ayo makan, Eyang sudah siapkan makan kesukaan kalian" ucap Eyang Retno sambil mengiring Mala ke meja makan yang di ikuti Galih dari belakang.


"Eyang tahu aja makanan kesukaan aku" ujar Galih begitu melihat menu yang ada di meja makan.


"Tentu saja, apa lagi kesukaan kalian berdua itu sama. Sama-sama penggemar semur daging dan sup iga"


Pernyataan Eyang Retno membuat sepasang suami istri itu saling menatap. Mereka berdua baru sama-sama tahu jika makanan kesukaan mereka ternyata sama. Tidak ingin Eyang Retno mengetahuinya, Galih menarik kursi untuk Eyang Retno dan Mala agar segera duduk dan mereka bisa langsung menyantap hidangan yang tersedia. Baru saja akan memulai makan siang, kehadiran seseorang mengejutkan Mala dan Galih.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2