BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Musuh Lama Kembali


__ADS_3

Galih berlari kecil begitu melihat Mala tampak tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar. Terdengar di telinga Galih, Mala memanggil namanya dengan lirih.


Bruukk


"Sayang" panggil Galih.


Laki-laki itu langsung menyangah tubuh istrinya agar tidak terhempas ke tanah.


"Mas, kamu disini?" tanya Mala dengan berbisik, ada rasa lega saat mendengar suara Galih yang memanggilnya.


"Iya Mas disini" jawab Galih ikut berbisik.


"Lalu...."


"Lalu apa, sayang?"


Mala menyerahkan ponselnya pada Galih dan meminta suaminya itu untuk mendengarkan suara yang ada diseberang sana. Mendengar suara yang membuat Galih langsung menjauhkan ponsel Mala dari telinganya.


"Itu nomor kamu, Mas" jelas Mala kembali dengan suara pelan agar suaranya tidak terdengar di seberang sana.


Inilah yang Galih takutkan sejak tadi, sejak sadar ponselnya hilang tak berjejak. Galih takut ponselnya digunakan untuk sesuatu yang tidak baik.


"Lacak" ucap Galih pelan sambil memberikan ponsel istrinya pada Leo, meminta asistennya itu segera mencari tahu dimana posisi ponselnya berada.


Siapa lagi yang berani bermain-main dengannya kali ini?


Galih baru saja mengakhiri panggilan teleponnya pada sang istri saat Tari masuk keruangannya.


"Klien kita sudah menunggu di ruang meeting" ucap Tari memberi tahu.


Galih segera meninggalkan ruangan dan langsung menemui kliennya. Sudah ada Leo disana yang akan menemaninya.


"Kami akan pelajari lagi poin-poin penting dalam kontrak ini" ucap Galih karena merasa tidak sesuai dengan prosedur yang ada.


"Setelah ada keputusan kami akan kembali menghubungi Anda" ucap Galih mengakhri pembahasan dengan kliennya


"Tidak masalah, kami pasti akan menunggu keputusan dari perusahaan Andromega dan semoga itu kabar baik untuk kami"


Galih berjabat tangan dengan kliennya. Tidak hanya berjabat tangan, kliennya menarik Galih untuk memeluknya. Tentu saja suami Mala itu cukup terkejut, namun dia membiarkan saja sebagai sikap menghargai rekanannya.


"Aku rasa kita tidak bisa bekerja sama dengan mereka" Galih memberi tahu saat berjalan menuju ruangannya.


"Aku seperti mengenali sorot mata itu dan entah mengapa saat tadi dia memeluk aku merasa sesuatu yang tidak baik" lanjut Galih lagi.


"Aku juga tidak begitu suka dengan caranya bersikap." jawab Leo.


Sudah jadi kebiasaan Galih untuk mengirim pesan pada Mala, memberi kabar pada istrinya tentang dimana dia berada dan dengan siapa dia bertemu. Namun benda pipih miliknya itu entah kemana.


"Ada apa?" tanya Leo begitu melihat sahabatnya itu seperti kehilangan sesuatu.


"Lo lihat ponsel Gue?" tanya Galih. Leo menggeleng.


"Di mobil mungkin?"

__ADS_1


"Enggak mungkin, sebelum meeting gue baru selesai menghubungi Mala" jawab Galih sambil mengingat-ingat terakhir dia menyentuh benda pipih tersebut.


"Tapi gue lupa, gue taruh di meja atau gue simpan di saku seperti biasanya." lanjut Galih ucapannya.


"Apa ada yang berani diam-diam masuk ke ruangan gue?" tanya Galih.


"Gue periksa cctv dulu" sahut Leo sambil melangkah pergi keluar dari ruangan Galih.


Leo tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan ataupun orang luar yang masuk ke ruangan Galih.


"Ada apa?" Tari yang baru saja masuk ke ruangan Galih bertanya.


"Gue kehilangan handphone"


"Handphone" beo Tari.


"Enggak ada tamu atau siapapun yang masuk ruangn ini selama lo meeting." terang Tari.


"Gue nggak nemuin apa-apa" Leo yang baru masuk langsung memberi tahu Galih.


"Gue pergi dulu"


"Kemana, Boss?" Tari yang bertanya.


"Kampus" jawab Galih.


Tari dan Leo berpandangan menahan tawa. Sebuncin itu bos mereka sekarang.


"Gue Ikut" teriak Leo sambil mengejar Galih.


Menggunakan handphone Leo, Galih menghubungi orang-orang yang dia tugaskan menjaga istrinya untuk bertanya dimana keberadan istrinya.


"Kamu tidak apa-apa kan, sayang" tanya Galih sambil merapikan rambut istrinya.


Mereka masih di taman yang ada di fakultas ekonomi, menunggu Leo mencari tahu dimana posisi pelaku yang hampir saja melukai Mala.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja tadi rasanya...."


"Mas sayang sama kamu, Mala. Jangan pernah berpikir kalau Mas akan menghianati kamu"


"Hubby... perut Mala sakit"


Galih langsung menggendong Mala. Leo yang melihatnya langsung membukakan pintu mobil.


"Kenapa?" tanya Leo.


"Kita ke rumah sakit" ucap Galih.


Tidak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya, Zoya hanya terdiam di tempatnya. Dia memang berdiri didekat Mala sejak tadi, tapi dia tidak mendengarkan apa yang didengar Mala di telepon. Zoya terkejut saat melihat tangan Mala bergetar dan sahabatnya itu akan terjatuh. Baru saja Zoya akan memegangi Mala, Galih sudah lebih dulu mengambil alih menopang tubuh Istrinya.


"Ayo ikut" ajak Leo.


Leo yang melihat Zoya hanya diam saja langsung meraih tangan gadis itu, untuk diajaknya masuk kedalam mobil milik Galih mengantar Mala kerumah sakit.

__ADS_1


"Hubby, jangan tinggalin Mala" pinta Mala pada Galih.


Meskipun dia tahu suara yang ada di handphonenya tadi bukan Galih, tapi Mala masih merasa takut Galih jauh darinya. Takut sesuatu terjadi lagi padanya dan juga Galih. Mala takut, mengapa suara itu terus terngiang di telinganya.


"Iya, Mas disini. Jangan takut" ucap Galih sambil mengusap kepala istrinya.


Galih ingat pesan dokter saat tadi dia membawa Mala kerumah sakit. Untuk memberikan kenyamanan pada Mala, menjaga istrinya agar tidak stress dan juga


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dokter?" tanya Galih.


"Ibu Mala dan bayinya baik-baik saja. Istri bapak tadi mengalami kram perut, ini biasa terjadi pada ibu hamil. Tidak perlu khawatir." jawab dokter Mery.


"Tapi usahakan ibunya jangan stress ya, Pak. Buat istri bapak senyaman mungkin."


Jika kehadirannya disisi Mala membuat istrinya itu nyaman, tentu Galih akan dengan senang hati menuruti keinginan istrinya.


Sementara itu di tempat lain, sepasang kekasih merayakan keberhasilan mereka.


"Si bodoh itu, bagaimana dia tidak bisa mengenali kamu" ucap sang wanita yang disambut tawa dari sang pria.


"Dia terlalu sibuk mengurus istrinya, lupa jika ada kita yang akan menghancurkan karir dan keluarganya."


"Haa...haa" tawa mereka menggema merasa kemenangan akan berpihak pada mereka kali ini.


"Kamu pintar dan sangat pintar, Sayang. Idemu berhasil kali ini" puji laki-laki itu pada sang wanita.


"Tentu saja, dan wanita sombong itu pasti sedang menderita saat ini." jawabnya sambil kembali tertawa.


"Setelah kita berhasil kita akan membebaskan ibumu"


"Tidak perlu, setelah aku pikir-pikir biarkan saja wanita tua itu di penjara. Dulu dia juga membuangku" jawab wanita itu.


"Tidak ada yang tahu hubungan kami. Jika aku membantunya, karirku akan hancur" lanjutnya ucapannya.


"Iya kamu benar" jawab pria itu sambil menciumi punggung dan leher kekasihnya.


"Ahh... sayang" wanita itu meremang.


"Kita ulangi lagi. Kita hubungi lagi wanita itu. Biarkan dia sedih, kesakitan dan akhirnya kehilangan" ucap sang pria yang disetujui si wanita. Mereka kembali menghubungi Mala dengan nomor milik Galih yang mereka gunakan.


Handphone Mala masih di tangan Leo saat nomor Galih menghubunginya. Tentu saja ini yang laki-laki itu tunggu sejak tadi. Dia masih berada di kediaman Galih dan Mala di temani Zoya, sengaja menunggu pelaku kejahatan itu untuk menghubungi mereka. Entah apa tujuan si pelaku, Leo hanya ingin tahu dimana posisi pelaku itu berada seperti yang Galih inginkan.


"Tolong jaga Mala" pinta Galih pada Zoya. Dia terpaksa meninggalkan istrinya demi menagkap si pelaku. Bersama pihak yang berwajib, Galih dan Leo menuju lokasi.


Selepas mengantar Galih dan Mala ke rumah sakit, Leo mengajak Zoya melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib atas permintaan Galih, bukan karena kehilangan handphone, tapi diperkirakan ini tindakan kejahatan yang sudah direncana, dengan Mala yang di jadikan target. Untung saja Galih datang tepat waktu menyelamatkan istrinya.


Leo hanya bisa menelan ludahnya saat mengikuti aparat yang membantunya menangkap si pelaku. Sebagai laki-laki normal yang masih lajang tentu saja membuat jiwa jomblonya berontak menyaksikan tayangan live antara dua insan yang sedang bergumul.


"Pantas saja kamu tidak mau ikut" ucap Leo begitu dia keluar dari kamar apartemen tempat kedua pelaku itu berada.


Galih terkekeh. Dia sudah tahu apa yang akan ditemukan didalam sana sehingga memilih untuk menunggu di luar.


Aparat menggiring kedua pelaku, suami Mala itu segera memasang wajah datarnya. Terlebih lagi saat mengenali keduanya adalah musuh lama yang kembali mengusiknya. Kali ini Galih tidak akan berbaik hati membiarkan keduanya menghirup udara segar.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2