BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Mencari Keberadaan Mala


__ADS_3

"Bagaimana kejadiannya?" tanya Galih begitu dia sampai di kediamannya dan langsung bertanya pada satpam dan dua orang yang dia tempatkan untuk menjaga istrinya.


Mala yang kelelahan setelah pemakaman Tias tertidur di sofa depan telivisi yang ada di ruang keluarga. Begitu terbangun dia merasa ingin sekali memakan siomai langanannya yang ada diruko ujung jalan, yang tidak jauh dari kediamanya.


Bukan Mala jika senang menyusahkan orang lain, dia keluar dan menemui satpam untuk meminjam kendaraan roda dua milik satpam tersebut.


Mengingat pesan Galih, tentu saja satpam tersebut melarang Mala untuk mengendarai kendaraan sendiri. Diapun menawarkan diri untuk membelikan makanan yang diinginkan majikannya itu.


Tidak ingin Galih marah pada satpamnya, Mala menerima tawaran satpam tersebut.


"Hati-hati, Pak" pesan Mala pada satpam tersebut sebelum berlalu meninggalkanya.


Mala berbalik dari pos satpam untuk masuk kedalam kediamannya. Baru dua langkah dia berjalan, mulutnya ditutup sapu tangan dan dia segera tidak sadarkan diri.


Kedua orang yang ditugaskan mengawal Mala, melihat kejadian itu dari dalam pos. Mereka tidak mengira jika ada yang berani masuk dan membawa pergi istri tuan mereka.


Dengan sigap mereka berusaha mengejar orang-orang yang membawa Mala, sayangnya pengejaran mereka di halangi pihak musuh yang sepertinya sudah merencanakan semua dengan baik.


"Kejadiannya begitu cepat, Pak." jawab salah satu pengawal Mala.


"Kami langsung mengejar tapi mereka sepertinya sudah mempersiapkan semuanya dan kami kehilangan jejak karena di hadang pihak musuh." jawab pengawal yang satu lagi.


Galih hanya bisa terdiam dengan matanya yang berulang-ulang melihat cctv saat kejadian Mala di bawa pergi.


Sudah tiga hari Mala berada dirumah yang terbilang mewah ini. Jauh dari suaminya, bunda Sarah, Arfan dan juga sahabat-sahabatnya.


Sepi, itu yang Mala rasakan. Dia merindukan pelukan suaminya, belaian sayang bunda Sarah dan usapan sayang Arfan dipucuk kepalanya saat dia tidur dipangkuan sang kakak.


Tidak ada yang bisa Mala ajak bicara untuk mengetahui dimana dia berada saat ini, termasuk asisten rumah tangga yang di siapkan khusus untuk memenuhi semua kebutuhannya.


"Non, ini susu hamilnya." ucap wanita paruh baya yang ditugaskan untuk melayani Mala.


"Terima kasih, Bi." ucap Mala.


Statusnya memang sebagai tahanan di kediaman ini, tapi dia diperlakukan sangat baik. Mala diberi kebebasan melangkahkan kakinya kemana saja, hanya satu yang tidak bisa dia lewati, yaitu pintu utama kediaman ini. Membuat Mala tidak bisa menyelinap untuk melarikan diri, juga mengingat banyaknya penjaga yang ditempatkan hampir setiap sudut kediaman ini.


"Non, mau sarapan apa?" tanya wanita yang Mala panggil bibi.


"Apa saja, Bi. Anak saya tidak pernah rewel masalah makanan." jawab Mala sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata.

__ADS_1


Mala bersyukur dalam keadaan seperti ini, dia tidak mengalami morning sickness dan bayinya juga sangat mengerti dengan kondisi dirinya saat ini.


Entah apa maksud dari orang yang menculiknya, sampai saat ini Mala masih terus bertanya-tanya. Orang tidak akan mengira jika dia seorang tahanan di kediaman ini. Kehidupannya terlihat sempurna seperti orang pada umumnya.


Dia juga disediakan pakaian, yang Mala tahu semuanya keluaran dari butik ternama. Makanan yang disajikan untuknya sangat sehat. Mala juga di tempatkan di kamar yang di penuhi dengan barang-barang mewah. Saat ini hidupnya seperti burung dalam sangkar emas.


Tapi Mala tidak membutuhkan semua ini, dia hanya ingin berkumpul bersama keluarganya dan hidup bahagia.


"Tapi tuan menyuruh saya untuk menayakan apa yang Non inginkan." ucap wanita itu menjelaskan.


"Katakan saja padanya, saya ingin bertemu dan bicara dengannya." ucap Mala.


Tiga hari Mala diculik, tiga hari juga orang yang menculiknya belum menampakkan diri. Membuat Mala semakin bertanya-tanya masalah apa yang sebenarnya dia hadapi. Adakah hubungannya dengan masalah yang sedang terjadi di Andromega, atau masalah pribadi yang Mala tidak pernah tahu apa penyebabnya.


Tanpa Mala ketahui, setiap malam orang yang mengasingkannya ketepat ini datang dan memandang Mala yang sedang terlelap.


"Sebanarnya, Non...."


"Sebenarnya apa, Bi?" tanya Mala setelah wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tuan... tidak apa-apa." jawab bibi itu dan langsung meninggalkan Mala.


"Bagaimana?" tanya Galih pada Arfan dan Lila.


Kakak Mala itu mencurigai seseorang yang menjadi dalang penculikan adiknya. Dua hari ini dia memerintahkan orang-orangnya untuk mengawasi laki-laki yang dia curigai.


Tidak ada hal mencurigakan dari orang yang dia perkirakan sebagai pelaku penculik adiknya. Laki-laki itu melakukan aktifitas seperti biasa. Hanya saja banyaknya orang yang ditempatkan untuk berjaga disekitar kediamannya membuat kecurigaan Arfan bertambah.


"Belum menunjukkan hasil." jawab Arfan.


"Tapi Lila punya rencana" lanjut Arfan ucapannya.


"Rencana seperti apa?" tanya Galih.


Lila menjabarkan rencananya pada Arfan dan Galih. Hanya itu satu-satunya cara untuk masuk kekediaman orang yang mereka curigai. Galih dan Arfan menyetujui rencana Lila, dan mengijinkan Lila yang menjalankan rencana itu dan mengatur semuanya.


Sementara itu Johan kembali menemui Vivi disebuah ruangan yang biasa dia pakai untuk mengintrogasi seseorang.


Tiga hari sudah Vivi ditahan disana, karena wanita itu tidak bisa diajak bekerja sama. Johan tidak bisa membebaskannya, sebelum wanita itu mau mengatakan siapa orang yang memasukkannya ke perusahaan Andromega.

__ADS_1


Berbeda dengan Mala yang ditempatkwn di kediaman mewah, Vivi dibiarkan Johan berada di ruangan rahasia yang ada di gedung Andromega.


"Katakan siapa orang di balik semua ini?" tanya Johan untuk kesekian kalinya.


Vivi tetap dengan pendiriannya, untuk tidak mengatakan apapun karena dia tidak ingin lagi terlibat dengan Mr.X yang dia sendiri tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu.


"Tidak ada siapapun dibalik yang saya lakukan." jawab Vivi.


"Bukankah sudah saya katakan sejak awal, saya melakukan semua itu semata-mata saya benar-benar menginginkan pak Galih, saya ingin dia melihat saya. Itu saja." lanjut Vivi jawabannya.


"Lalu apa yang Toni bicarakan dengan kamu."


Tidak menaggapi penjelasan Vivi, Leo mengajukan pertanyaan lain.


"Pak Toni, saya baru kenal dia. Beberapa hari yang lalu saat saya di ruangan sekertaris, Pak Toni datang." jawab Vivi lagi, yang sudah pasti berbohong.


"Apa yang dia katakan?" tanya Johan lagi.


"Tidak banyak. Dia hanya meminta saya untuk bekerja dengan baik."


Johan menggeleng kesal. Seperti perkiraan Galih dan Leo, wanita ini tidak akan mudah bicara siapa dalang dari semua ini.


"Bukankah dia yang membawamu masuk ke Andromega atas perintah seseorang?" sahut Johan


"Sebenarnya kami sudah tahu siapa dalang semua ini." ucap Johan lagi untuk memancing Vivi bicara.


"Kami hanya ingin tahu lebih pasti lagi." lanjut Johan ucapannya.


"Katakan saja yang sebenarnya, jika kamu mau bekerja sama, maka kami akan membebaskanmu. Bahkan kamu masih bisa bekerja di perusahaan ini, jika kamu mau." Jelas Johan.


"Apa benar saya akan di bebaskan?" tanya Vivi untuk meyakinkan ucapan Johan .


"Tentu, jika kamu bisa memberikan keterangan yang sebenarnya dan mau membantu kami" jawab Johan.


Ini bukan kali pertama dia menghadapi wanita seperti Vivi. Beberapa musuh Andromegs selalu saja memberikan umpan wanita untuk mengganggu Galih yang mereka pikur bisa membuat lemah perusahaan Andromega.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagi...

__ADS_1


__ADS_2