
"Tia" Lila yang baru masuk kedalam toilet terkejut melihat siapa yang sedang bicara dengan Mala.
"Mbak Lila kenal dia." tanya Mala.
"Apa yang dia bicarakan sama kamu?" Bukan menjawab pertanyaan Mala, Lila malah balik bertanya.
"Aku hanya menyapa teman. Apa salah?" tanya Tia pada Lila.
"Mala tidak mungkin berteman dengan orang seperti kamu." bantah Lila pernyataan Tia.
"Huu..." balas Tia membuang muka lalu berlalu pergi meninggalkan Mala dan Lila.
"Mbak Lila, dia siapa?" tanya Mala yang penasaran siapa sebenarnya wanita yang datang bersama Dito itu.
"Sudah ku duga, kamu pasti tidak mengenal dia. Dia itu Tia, mantan kekasih Leo."
"Mantan kekasih kak Leo" beo Mala tidak percaya. Dia merasa heran saja, bagaimana bisa Leo jatuh cinta pada wanita seperti Tia.
"Tapi mengapa Mbak Lila terlihat membenci dia? Apa ada masalah lain antara kalian?" tanya Mala penasaran. Lila dan Galih sama-sama menunjukkan sikap tidak bersahabat dengan Tia.
"Bukan membenci hanya tidak suka dengan sikapnya. Dia tidak punya masalah secara langsung dengan Mbak, tapi dia punya masalah dengan suamimu." jelas Lila.
"Masalah apa?"
"Tanyakan saja sama Galih. Dia lebih tahu cerita sebenarnya dari pada Mbak." sahut Lila.
Keluar dari toilet pikiran Mala tidak lepas dari pernyataan Lila tentang masalah yang terjadi antara Tia dan suaminya.
Hari ini sangat melelahkan bagi Mala. Tumbuhnya yang tengah berbadan dua membuatnya sedikit tidak nyaman dan segera mengajak Galih untuk pulang ke Kediaman mereka begitu pesta selesai. Meninggalkan wajah cemberut Zoya yang tidak suka ditinggalkan Mala.
"Jangan lupa malam ini pakai hadiah dari gue." bisik Mala saat dia pamit, yang ditanggapi Zoya dengan membulatkan matanya. Mala terkekeh sambil berlalu.
"Bye sayang aku." ucap Mala lagi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Zoya.
Melihat Mala yang sudah membaringkan diri ditempat tidur, Galih ikut naik dan berbaring di sisi istrinya.
"Mas, boleh tanya soal Tia?" tanya Mala yang memiringkan badannya untuk menghadap Galih.
"Dari mana kamu tahu nama wanita itu?" tanya Galih.
Mala tersenyum, "Mbak Lila." jawabnya.
"Lila cerita apa sama kamu?" tanya Galih lagi sambil merapikan rambut Mala dan menyelipkannya di belakang telinga.
"Tidak ada." Galih menyatukan alisnya tidak percaya mendengar jawaban Mala.
"Tidak memberitahu yang lainnya lagi?"
"Bilang sih kalau Tia itu mantan pacar kak Leo."
"Ya sudah, tidak ada yang perlu diceritakan lagi." jawab Galih lalu menarik Mala masuk kedalam pelukannya.
"Jadi Mala harus memberi alasan apa sama Pak Dito tentang larangan Mas Galih untuk tidak memilih Tia sebagai pendampingnya"
"Katakan saja, Tia bukan wanita baik-baik."
"Mas Galih katakan saja sendiri, Mala nggak mau ikut campur urusan orang lain." jawab Mala merajuk. Dia kesal karena Galih tidak mau menceritakan tentang Tia.
__ADS_1
Dua hari berlalu, Mala menjadwalkan hari ini dia akan menemui Dito lalu kerumah Tari bertemu pacar ke duanya.
"Mas antar kamu hari ini sayang." ucap Galih setelah Mala selesai memasangkan kancing kemeja yang dikenakan Galih.
Mala mengangguk setuju, sejak kemarin Mala yang hampir jatuh membuat Galih tidak membiarkan dia pergi tanpa laki-laki-laki itu.
"Anak Ayah hari ini bagaimana kabarnya?" tanya Galih sambil berlutut di hadapan Mala agar bisa sejajar dengan perut istrinya.
"Baik ayah, kan ayah jagain dedek terus." jawab Mala menirukan suara anak-anak.
Tidak hanya menurunkan Mala di parkiran, tapi Galih mengantar istrinya itu sampai di ruangan Dito. Kehadiran Galih di kampus tempat Mala menuntut ilmu menjadi perhatian mahasiswi disana. Tidak sedikit yang mengenal Galih, yang mereka kenal sebagai mantan kekasih Rania.
"Ini Pak." Mala menyerahkan skripsinya untuk diperiksa Dito.
"Maaf, saya baru tahu kalau kamu kemarin jadi korban penculikan." ucap Dito setelah selesai memeriksa skripsi Mala.
"Tidak apa-apa Pak, suami saya memang tidak memberi tahu media."
"Pak, boleh tanya rentang Tia?" tanya Mala.
"Apa yang ingin kamu ketahui dari dia ?" Dito balik bertanya.
"Hanya ingin tahu, apa dia..."
"Dia wanita yang dijodohkan keluarga saya dengan saya." potong Dito ucapan Mala.
"Bapak terima perjodohan itu?" tanya Mala lagi.
"Saya tidak bisa menolak. Orang yang saya cintai juga sudah menikah, lalu saya mau bagaimana lagi." jawab Dito terdengar putus asa di telinga Mala.
"Apa dia tidak pantas untuk saya?"
"Bukan ingin ikut campur masalah pribadi Bapak, tapi..." Mala tidak melanjutkan ucapannya.
"Bapak lihat ini saja. Ini baru satu jam yang lalu saya ambil." ucap Mala menyerahkan ponselnya.
Dalam perjalanan ke kampus, tidak sengaja Mala dan Galih melihat Tia sedang berpangutan dengan pria yang tidak mereka kenal. Saat ini kendaraan mereka sedang berhenti karena lampu lalulintas sedang berwarna merah. Kendaraan yang dikendarai Galih berhenti tepat disamping kendaraan yang ditumpangi Tia.
"Kamu mengerti sekarang mengapa Mas katakan dia bukan wanita baik-baik." ucap Galih pada Mala. Mala mengangguk sambil tangannya terus memegang ponselnya untuk merekam adegan itu, yang sekarang dia tunjukkan pada Dito.
"Akan saya kirim video ini ke Bapak. Bapak bisa gunakan sebagai bukti untuk menolak perjodohan Bapak dengan dia." ucap Mala sambil memberikan sarannya.
"Terimakasih." jawab Dito. Biarpun Mala tidak mencintainya tapi Dito merasa bersyukur, Mala punya perhatian lebih padanya.
"Kamu bisa ikut ujian sidang bulan depan" lanjut Dito ucapannya menghadirkan senyum lebar dari Mala.
"Terimakasih Pak. Saya akan mempersiapkannya sebaik mungkin." jawab Mala.
Keluar dari ruangan Dito Mala terperangah saat melihat Galih di kelilingi banyak mahasiswi yang mencuri mengambil foto bersama suaminya.
"Mas." panggil Mala.
"Sudah selesai sayang?" tanya Galih.
Mala mengangguk. "Sudah Mas." jawabnya.
"Mala bisa ujian sidang bulan depan." suara Dito yang bicara pada Galih.
__ADS_1
"Terimakasih sudah membantu saya menunjukkan kebenaran." ucap Dito lagi.
"Terimakasih juga untuk bantuannya selama ini pada istri saya." jawab Galih.
"Kami permisi Pak." ucap Mala yang tidak menyangka Dito ikut mengantarkannya sampai keluar ruangan.
"Jadi sudah dapat berapa banyak penggemar hari ini Mas?" tanya Mala sambil tersenyum menggoda Galih.
Jika bukan karena menunggunya, sudah pasti Galih akan segera pergi dari tempat itu. Mala merasa tersanjung, Galih rela berkorban demi menjaga dirinya. Bagaimana dia tidak jatuh cinta pada laki-laki yang kini jadi suaminya.
"Terimakasih Mas." ucap Mala begitu Galih hanya diam saja menjawab godaan darinya.
"Mas ke kantor dulu. Nanti sore Mas jemput kamu." ucap Galih begitu dia dan Mala sudah berada di kediaman Tari.
"Iya Mas. Hati-hati dijalan." jawab Mala.
"I love you." lanjutnya sambil berbisik.
"I love you too." balas Galih sambil mengecup kening istrinya.
"Udah Galih, berangkat ke kantor sana!" usir Tari yang jengah melihat kemesraan kedua suami istri itu.
"Suka-suka gue." jawab Galih.
"Udah Mas, jangan dijawab." ucap Mala mencoba mengingatkan Galih untuk tidak melanjutkan perdebatannya dengan Tari.
Kendaraan yang dikendarai Galih sudah tidak terlihat, baru Mala menyusl Tari masuk kedalam kediamannya.
Deg. Mala melihat laki-laki yang tadi bersama Tia sedang berbincang dengan Rian suami Tari.
"Mbak, dia siapa?" tanya Mala ingin tahu.
"Dia rekan bisnis mas Rian. Kenapa?"
"Sudah berkeluarga?" tanya Mala lagi.
"Sudah, rumahnya diujung kompleks." jawab Tari menjelaskan.
"Mbak kenal istrinya?"
"Kamu sudah seperti Indra aja, banyak bertanya untuk cari berita."
"Mbak kenal istrinya enggak?" ulang Mala pertanyaannya.
"Kenal, dia sahabat aku. Kenapa sih La?"
"Mbak harus lihat ini." Mala kembali memperlihatkan video yang tadi dia rekam.
"Putri harus tahun ini, La."
"Kenapa video ini bisa ada di ponsel kamu?" tanya Tari heran.
Mala menceritakan pada Tari mengapa dia sampai merekam video itu. Awalnya memang untuk membantu memberi penjelasan pada Dito, tidak disangka kini bisa digunakan untuk bukti perselingkuhan.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1