BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Cerita Untuk Sendiri


__ADS_3

Wina sudah diserahkan pada pihak yang bewajib, Zoya, Abi dan orang-orang kepercayaan Galih yang menjaga Mala juga sudah memberikan kesaksian mereka. Tinggal Vina yang akan dimintai keterangan terkait alasannya melakukan penabrakan pada Mala.


"Saya akan menghubungi pengacara saya dulu" jawab Vina begitu dia berada di ruang pemeriksaan.


Sementara itu, Saras tidak berani keluar rumah seperti yang Abi sarankan, wanita itu ketakutan. Dia mencoba menghubungi Kiara adiknya berkali-kali, namun hasilnya nihil. Adiknya tidak mengangkat satu kalipun panggilan darinya.


"Kemana anak ini" rutuk Saras.


Pesan yang Saras kirimkan tidak dibaca satupun oleh adiknya. Maka berdiam dirilah yang dia lakukan bersama putra semata wayangnya.


Tanpa Saras tahu, jika Kiarapun merasa ketakutan saat ini menerima telepon dari kakaknya. Kiara sengaja mengabaikan panggilan itu, dia tidak ingin di kaitkan dengan kejahatan kakaknya. Apa lagi selama ini tidak ada yang tahu hubungan mereka berdua sebenarnya, Kiara akan menjauh. Bukankah mereka memang tidak dekat layaknya hubungan dua saudara, untuk apa Kiara memusingkan masalah Sarah?


Kiara tidak sengaja sedang berkendara di jalan kenanga, dimana warung abah Husen berada. Dari jauh dia mengenali sebuah mobil yang mirip seperti yang biasa Saras gunakan. Mobil itu melaju kencang dari arah yang berawalan dari Kiara berada.


Duaarr, suara keras itu terdengar. Kiara terkejut dengan apa yang kakaknya lakukan, wanita itu berani sekali mengambil resiko. Terlebih lagi setelah Kiara tahu siapa wanita yang menjadi korbannya.


Dengan tangan yang gemetar, Kiara melajukan mobilnya kembali ke apartemen yang diberikan Alan untuknya.


"Kita memang berakhir, tapi aku tidak akan mengambil alih apartemen yang kamu tempati. Itu jadi milikmu, anggap saja bayaran sebagai teman tidurku selama ini"


Kiara mendesah sambil menghempaskan tubuhnya di sofa, mengedarkan pandangannya kesekeliling apartemen. Biar perkataan Alan terdengar sebagai penghinaan, Kiara tidak peduli. Satu-satunya harta yang berharga yang dia miliki saat ini adalah apartemen ini. Alan sudah menghentikan uang bulanan untuknya, Rafi juga sudah memecatnya, kini Kiara harus mencari, siapa lagi sumber uang yang harus dia manfaatkan.


Abi, nama itu terlintas di benaknya. Putranya memiliki DNA yang sama dengan Abi, dia bisa memanfaatkan itu dengan mengakui putranya adalah putra Abi. Kiara tersenyum senang, dia tidak peduli walau Abi adalah suami kakaknya sendiri. Yang dia butuhkan adalah kehidupan mewah yang sudah terbiasa dia nikmati sejak menjadi anak tiri ayah Abi dan selingkuhan laki-laki paruh baya itu.


Ditengah lamunanya, ponselnya berdering. Kali ini bukan Saras, tapi dari nomor sang mama yang tertera.


"Halo, Ma" sapa Kiara begitu dia menekan tombol hijau.


"Kia, bisa carikan pengacara yang bagus?" tanya wanita itu.


"Untuk siapa?" Kiara berpura-pura tidak tahu. Sudah jelas pengacara itu dibutuhkan mamanya untuk Saras. Sejak dulu, mamanya selalu saja membedakan perlakuan antara dia dan Saras.


"Untuk mama, Kia" jawab Wina.

__ADS_1


"Apa? Untuk mama?"


"Iya untuk mama" ulang Wina agar putrinya yakin.


"Kesalahan apa yang mama lakukan?"


"Mama menabrak seseorang"


"Mala?" sahut Kiara.


"Dari mana kamu tahu? Apa Saras sudah memberitahumu?"


"Maaf Ma, aku tidak bisa membantu. Bukankah mama tahu, aku sedang menghadapi masalah keuangan. Minta bantuan Saras saja, suami dan ayahnya orang berada" jawab Kiara diluar dari pertanyaan Wina.


"Kia dengar! Ini semua karena kesalahan kamu dan Saras. Mala tahu bayak rahasia keluarga kita, dia mendengar percakapanmu dengan Saras waktu kalian bertemu di rumah sakit"


Deg. Bagaiman bisa ini terjadi? Kiara tidak bisa berpikir lagi. Jika yang dikatakan mamanya benar, itu berarti dia akan ikut terkait dengan masalah ini. Bagaimana rencanaya yang ingin memafaatkan Abi?


"Mama tidak mungkin meminta bantuan Saras, Abi berada di pihak Mala, dia bahkan mengajukan diri sebagai saksi."


Kiara melempar ponselnya ke atas sofa, mengapa dia hidup dan tumbuh di keluarga yang berantakan. Kiara bahkan tidak tahu siapa sosok ayah kandungnya. Ayahnya pergi begitu tahu ibunya mengandung. Jika bisa memilih, dia lebih baik memilih untuk tidak dilahirkan. Sejak kecil hidupnya terlunta-lunta, kehidupannya membaik setelah ibunya menjadi istri kedua ayah dari Abi.


Mendapatkan kehidupan bak seorang putri, Kiara lupa dengan kemiskinannya. Dia bahkan rela menyerahkan tubuhnya pada sang ayah tiri demi barang-barang mewah yang dia butuhkan. Bersekolah di sekolah kalangan elite mempertemukannya dengan Galih dan juga Abi.


Tante Vinanya yang memiliki peranan besar dalam hubungannya dengan Galih, Vinalah yang mendorongnya untuk mendekati Galih dan menjadi kekasih laki-laki itu. Vina juga yang membiayai kuliahnya agar terus bisa besama Galih. Kiarapun yakin hal yang sama yang dilakukan tantenya itu pada Galih agar mau menjalin hubungan bersamanya.


Hubungannya bersama Galih hambar, sampai akhirnya dia bertemu Alan. Diluar dugaan, Alan memiliki gairah yang besar, tentu saja Kiara suka itu. Dia lupa jika statusnya sebagai kekasih Galih.


Bukan hanya berhubungan bersama Alan, Kiarapun tetap melayani nafsu ayah tirinya sampai akhirnya dia dinyatakan hamil. Kiara tidak mungkin mengakui hubungannya bersama sang ayah, dia memilih Alan untuk menjadi ayah dari putranya.


Andai dia bisa mengulang waktu, Kiara ingin merubah kisah kehidupannya. Tapi dia tidak bisa melakukan itu, biarlah semua kisah ini menjadi cerita untuknya sendiri.


Ting... ting... ting... Beberapa pesan masuk dari Saras.

__ADS_1


Saras [Kia, lo dimana?]


Saras [Kia, gua diceraikan Abi]


Saras [Aku nggak bisa cari pengacara buat mama]


Mobil yang dikendarai Rafi melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit, Wina sudah ditangani polisi dan pengacara yang ditunjuk papa Andro sudah ada dikantor polisi sebagai perwakilan keluarga mereka.


Arfan berjalan beriringan bersama Rafi, sementara Zoya berjalan di sisi Leo dan Ardi, mereka menuju kamar rawat inap yang ditempati Mala. Tiba disana, tampak masih berkumpul, eyang Retno, papa Andro, bunda Sarah, Widya dan juga Alya.


Melihat Mala, yang tersenyum bahagia, Arfan yakin jika adiknya itu sudah baik-baik saja walau tangan dan kakinya masih dipenuhi oleh luka.


"Bagaiman keadaanmu, Dek?" tanya Arfan.


"Baik, sangat baik Mas" jawab Mala sambil membawa Arfan agar mendekat padanya.


"Selamat, Mas Arfan akan menjadi paman" bisik Mala tepat di telingga Arfan.


"Benarkah?" tanya Arfan sedikit mengeraskan suaranya karena tidak percaya.


"Benarkah apa, Mas?" Zoya yang bertanya.


"Kamu akan jadi tante" jawaban Arfan membuat Zoya mengangkat kedua tangannyanya menutup mulut.


"Ahhh, benarkah?" Zoya menitikkan air matanya karena bahagia.


Tidak selamanya musibah itu membawa kedukaan, nyatanya hari ini dia mendengar kabar baik setelah kecelakan yang dialami Mala. Berbeda dengan Zoya, Ardi diam membisu ditempatnya berdiri. Dia mendengar apa yang dikatakan Arfan pada Zoya, itu berarti Mala sedang mengandung buah cintanya bersama Galih. Mala berhak untuk bahagia, itu yang terbesit dibenak Ardi.


Berlahan Ardi berjalan keluar meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah berpelukan. Ardi sudah memutuskan melanjutkan studynya ke Inggris seperti permitaan sang Ibu, dia ingin menjalani kehidupan yang baru dengan orang-orang yang baru. Bukan berarti dia akan melupakan keluarga dan sahabat-sahabatnya, mereka orang-orang yang Ardi sayangi, menempati posisi masing-masing dihatinya.


Cintanya untuk Mala biarlah menjadi cerita untuk dirinya sendiri. Begitupun cerita sesaatnya dengan Tias, tak akan Ardi lupakan begitu saja. Dosa itu yang akhirnya membuatnya memilih jalan menjadi muslim yang taat.


"Ardi"

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2