
Kesehatan Tias membaik, hari ini dia akan terbang ke Singapura. Ditemani kedua orang tuanya dan juga dokter Erick, Tias akan melakukan operasi disana. Mala bersama Zoya dan Ardi ikut kebandara untuk melepas kepergian sahabat mereka itu.
"Semoga operasinya berjalan lancar" ucap Mala.
"Dan lo harus cepat pulih untuk menghadiri pernikahan gue" sambung Zoya ucapan Mala.
"Doakan yang terbaik buat gue, tapi seandainya gue nggak bisa hadir, gue tetap bahagia dengan kebahagiaan lo, Zoy" jawab Tias.
Ketiganya berpelukan, Ardi hanya bisa diam di tempat. Jika dulu dia akan ikut memeluk ketiga sahabatnya, maka kali ini dia tidak bisa melakukannya lagi. Dia sudah belajar ilmu agama, sudah memahami hukum bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, terlebih lagi sekarang Mala dan Zoya juga sudah memperbaiki cara berpakaian mereka dengan mengenakan hijab.
"Ar" panggil Tias melihat Ardi yang hanya tersenyum melihat mereka bertiga.
"Hati-hati" ucap Ardi melepas kepergian Tias.
Tias melambaikan tangan pada ketiga sahabatnya.
"Aku akan berjuang" ucap Tias didalam hatinya.
Dia akan berusaha untuk bisa sehat seperti dulu walau tidak akan sesempurna seperti semula, tapi Tias masih ingin menikmati hari-hari bersama keluarga dan sahabatnya. Ingin melanjutkan hidup dengan kebahagian, memiliki seorang yang mencintainya dengan tulus.
Belajar dari kedua sahabatnya, Tias juga ingin seperti mereka berdua yang melepaskan cinta mereka dan menerima cinta yang baru yang benar-benar mencintai dan sayang dengan keduanya.
Tias mengalihkan pandanganya ke wajah dokter Erick, laki-laki yang tengah menggengam erat tanganya itu tersenyum, senyum yang bisa meyejukkan hati Tias. Salahkah Tias berharap lebih pada dokter yang merawatnya? Tias tidak ingin mengulangi kebodohannya dimasa lalu. Biarkan saja semua mengalir apa adanya, Tias tidak akan berharap lebih.
Hari ini juga, Ardi harus segera kembali ke pesantren, dia tidak bisa menemani Mala dan Zoya yang akan berbelanja beberapa keperluan Zoya untuk acara lamarannya.
"Enggak apa-apa Di, kita berdua di antar mereka" Mala menunjuk dua orang pengawalnya.
"Baiklah, setidaknya aku tidak begitu khawatir dengan kalian."
"Hati-hati dan jangan terlalu lelah. Ingat kamu sedang berbadan dua, La" pesan Ardi pada Mala.
"Sampai jumpa Di" ucap Mala dan Zoya bersamaan sambil melambaikan tangan.
Ardi tersenyum melepas kepergian Mala dan Zoya. Jika dulu mereka akan berpelukan sebelum bepisah tapi tidak lagi kali ini. Bahagiakah Ardi sekarang?
Mengelilingi mall sudah biasa bagi keduanya, hanya saja ada hal yang berbeda tidak seperti biasanya. Kali ini mereka hanya berdua tanpa Ardi dan Tias.
"Capek Zoy. Cari makan yuk, gue lapar" keluh dan usul Mala.
Zoya menyetujui keinginan sahabatnya, dia juga lapar dan sedikit lelah. Semalam dia tidur cukup larut, menyelesaikan tugas akhir yang akan diserahkannya sore nanti.
"Lo tahu kenapa kak Abi tidak ikut mengantar Tias?"
__ADS_1
Zoya yang bertanya pada Mala, setelah mereka memesan beberapa menu makanan dan minuman.
"Hemm" jawab Mala singkat.
"Kenapa?" tanya Zoya lagi.
"Dia enggak pamit ke elo?"
"Pamit?" ulang Zoya pertanyaan Mala. Zoya menggelengkan kepala.
"Dia pamit mau kemana?"
"Jerman. Kak Abi dan Kiara menemui ayah mereka disana dan ingin memberi tahu tentang siapa ayah putra dari Kiara."
Abi bersama Kiara mengunjungi kediaman Galih dan Mala. Tepatnya Abi mengantarkan Kiara yang ingin meminta maaf pada sepasang suami istri itu. Abi bersedia membantu Kiara, bukan karena mereka terikat sebagai saudara tiri tapi menurut Abi, apa yang dilakukan Kiara sesuatu yang baik dan terpuji.
Meminta maaf adalah perbuatan baik, tidak mudah bagi orang untuk mengakui kesalahannya. Kiara ingin melakukan itu, tentu saja Abi menyetujui dan mendukungnya.
Dihadapan Mala dan Galih, Kiara mengakui semua kesalahannya sampai kesalahannya yang terakhir, yaitu saat Kiara menyetujui permintaan tante Vinanya untuk menyiramkan minuman pada Mala.
"Saya sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf." jawab Mala begitu Kiara selesai menceritakan semuanya.
"Saya harap kamu bisa belajar dari kesalahan dan memperbaiki hidup mu lebih baik lagi." lanjut Mala ucapannya.
"Saya juga sudah memaafkan kamu" Galih menimpali ucapan istrinya.
"Sebaiknya kamu juga meminta maaf pada mas Alan dan mbak Alya" saran Mala pada Kiara mengakhiri ucapannya.
Kiara mengangguk setuju, apa yang dikatakan Mala itu benar. Kesalahannya jauh lebih banyak pada Alan dan Alya.
"Saya akan mengantarkan Kiara menemui Alan dan Alya" jawab Abi membuat Mala menyungingkan senyum.
Zoya ingin bertanya lebih banyak lagi pada Mala, tapi matanya tertuju pada pasangan yang baru saja masuk ke tempat makan ini.
"Mala... mas Arfan" tunjuk Zoya pada kakak sahabatnya itu.
Mala membalikkan tubuhnya, benar saja kakaknya sedang berjalan masuk dan mencari tempat duduk kosong. Segera saja Mala melambaikan tangannya agar bisa dilihat Arfan. Laki-laki itu melangkah mendekati adiknya setelah memberi tahu Lila.
"Apa kabar Mala?" tanya Lila begitu sudah sampai dimana Mala dan Zoya duduk.
"Alhamdulillah baik Mbak." jawab Mala.
"Mas Arfan dan Mbak Lila sudah selesai dari pengadilan?" tanya Mala.
__ADS_1
"Kenapa?" bukan menjawab Arfan malah balik bertanya.
"Mas Galih belum kasih kabar" jawab Mala.
Tidak biasanya suaminya tidak memberi kabar jika sudah selesai melakukan suatu kegiatan, sejak tadi Mala terus memegang handphonenya takut Galih menghubungi. Tapi tidak ada satupun kabar ataupun panggilan yang masuk.
"Untuk apa kasih kabar kalau orangnya sudah disini"
Mala membalikan badanya, senyumnya menggembang. Yang baru saja bicara adalah suaminya, menjawab ucapannya.
"Mas..." sapa Mala.
Galih membalas senyum Mala dan langsung memilih duduk disamping istrinya itu. Bukan hanya Mala yang terkejut akan kehadiran suaminya. Zoyapun sama, dia tidak mengira Leo akan menyusulnya. Senyumnya juga mengembang melihat laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi imamnya.
"Kami berdua sudah pesan makanan. Kalian mau pesan apa?" tanya Mala pada semuanya.
"Kamu pesan apa sayang?" tanya Galih.
Mala mengusap perutnya. "Dedeknya lagi kepingin makan gado-gado" jawabnya sambil menyengir kuda.
"Mala juga pesan somay, pesan pempek sama..."
"Pesanin Mas gado-gado saja." sela Galih jawaban istrinya yang sering membuatnya akhir-akhir ini pusing bila Mala sudah menyebutkan banyak menu makanan yang diinginkannya.
"Baiklah" jawab Mala yang mengerti keadaan suaminya.
Mereka sudah selesai menyantap makanan yang mereka pesan sesuai selera masing-masing. Tiga menu yang dipesan Mala habis tak bersisa disantapnya, ditambah dua gelas jus jeruk dan Alpukat. Membuat Arfan dan Zoya menatap heran.
"Dik, perut kamu enggak sakit makan semuanya dalam satu waktu?" tanya Arfan khawatir pada adiknya.
Mendengar pertanyaan Arfan, Galih melihat istrinya. "Sakit enggak sayang?" tanyanya. Mala menggeleng.
Galih sudah tidak heran dengan porsi makan Mala yang bertambah, sudah hampir satu minggu ini walau tidak setiap hari, istrinya bisa menghabiskan beberapa menu makanan dalam satu waktu. Walau terkadang dia juga khawatir itu tidak baik untuk istri dan buah hatinya.
"Sudah enggak usah khawatir, baguskan orang hamil banyak makannya dari pada lemas enggak berdaya." Lila yang bicara, membuat Arfan menyadari kalau adiknya sedang hamil. Mengapa dia bisa lupa hal itu.
"Bagaimana persidangan hari ini?" Mala yang bertanya sambil mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Ibu Vina dihukum seumur hidup" Lila yang menjawab.
Mala menggelengkan kepala, Arfan sudah memberi bayangan padanya beberapa hari yang lalu menjelang pembacaan vonis hakim tentang mama Vina.
Mala sempat mengunjungi mama Vina, mereka tidak banyak bicara tapi Mala sudah memaafkan wanita itu. Jika menuruti hati kecilnya dia ingin wanita itu bebas, tapi pembunuhan berencana yang dilakukannya bukan kejahatan biasa. Mantan ibu tiri suaminya itu harus menjalani hukumannya.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...