BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
42. Penagkapan


__ADS_3

Hari ini kondisi Tias sudah lebih membaik ketika Zoya masuk ke kamar inap sahabatnya itu. Walau cukup terkejut dengan apa yang dia lihat, Zoya tetap memberikan senyumnya saat menemukan Ardi sudah berada di hadapan Tias sambil menyuapi sahabatnya itu.


"Kapan balik, Di?" tanya Zoya begitu Ardi melihat kearahnya.


"Lumayan lama, udah lebih kurang satu jam Gue disini" Ardi menjawab pertanyaan Zoya, tapi matanya mengarah pada Dito yang berada di belakang Zoya.


Sesuatu yang tidak Ardi dan Tias duga adalah kedatangan Dito, apa lagi dosen mereka itu datang bersama Zoya. Hal yang tidak disangka oleh keduanya.


"Bagaimana bisa?" Ardi dan Tias sama-sama bertanya dalam hati dan saling melempar pandangan.


"Pak Dito kebetulan bertemu Zoya atau..."


"Pak Dito yang nganterin Gue, kenapa?" tanya Zoya memotong ucapan Ardi.


"Enggak apa-apa, Gue hanya nanya. Salah?" jawab Ardi.


"Zoy" Panggil Tias pada sahabatnya itu ketika Zoya akan menjawab pertanyaan Ardi, bukan untuk menghentikan perdebatan antara Zoya dan Ardi, tapi Tias ingin meminta penjelasan pada Zoya mengenai kehadiran Dito.


"Maaf" jawab Zoya singkat, dia tahu maksud dari panggilan Tias, dan dia sudah melanggar janjinya.


"Saya yang tidak sengaja mendengar pecakapan Zoya dan Nurmala" ucap Dito yang mengerti kemana arah pembicaraan Zoya dan Tias, dia mencoba membantu calon asistennya itu memberi penjelasan pada Tias.


Sebelumnya Zoya sempat menjelaskan pada Dito, jika Tias tidak ingin ada yang tahu tentang sakitnya. Dito bisa mengerti apa yang menjadi alasan Tias, karena itu dia yang membantu menjawab dan menjelaskan pada Tias.


"Dimana Mala? Dia tidak bersama kalian?" Ardi yang bertanya pada Zoya dan Dito setelah suasana kamar rawat inap tersebut hening.


"Mala titip salam, dia tidak bisa datang hari ini. Papa mertuanya sedang sakit" jawab dan jelas Zoya, lalu dia berbalik menghadap Dito.


"Pak, saya sampai malam disini" Zoya memberitahu laki-laki itu agar tidak menunggunya.


"Saya pamit kalau begitu, semoga kamu cepat sembuh" ucap Dito, setelah mendengar penjelasan Zoya yang secara halus mengusirnya serta mendoakan kesembuhan Tias.


"Terima kasih Pak, tumpangannya." ucap Zoya saat dia mengantar Dito sampai di pintu kamar rawat inap Tias. Laki-laki itu membalas dengan senyuman yang semakin membuat Zoya terpesona dengan ketampanan pria itu.


Sepeninggal Dito, Zoya menceritakan apa yang ditawarkan Dito padanya dan meminta pendapat kedua sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Bukankah ini hal baik buat Lo, Zoy" Ardi yang bicara.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Gue mau, tapi gue juga takut"


"Takut kecewa?" tanya Tias. Zoya mengangguk.


"Lo niatin ambil ilmunya, bukan niatin buat bisa dekat sama tu dosen, Zoy"


"Ardi benar, dengan begitu Lo enjoy dalam mengerjakan tugas Lo. Seandainya Lo bisa dekat sama tu pak dosen, ya Lo anggap aja itu bonus hasil kerja Lo" Sahut Tias ucapan Ardi.


"Gue masih ada waktu sampai besok buat jawab terima tawaran dia apa enggak"


"Lo udah tanya Mala?" Zoya menggeleng menjawab pertanyaan Tias.


Sementara itu, Dito yang sedang jadi pembicaraan tiga sahabat itu baru saja sampai disebuah kediaman dimana sang ibu sudah menunggunya. Biasanya Dito akan menolak keinginan ibunya yang meminta di jemput setelah mengikuti acara arisan bersama geng sosialitanya, entah mengapa kali ini Dito menerima permintaan sang ibu. Walau dia sudah tahu apa yang akan dilakukan sang ibu, yang biasanya akan memperkenalkannya pada putri teman-teman satu perkumpulannya lalu akan di jodohkan padanya.


"Nah ini putra saya sudah datang" ucap seorang wanita paruh baya begitu melihat kehadiran Dito.


"Putranya jeng Sri makin tampan saja" ucap mama Vina yang ternyata satu perkumpulan arisan dengan ibunya Dito.


"Kalau begitu, kenalkan pada putri jeng Vina yang artis itu" sahut ibunya Dito.


"Maaf, jika kehadiran kami menganggu ibu-ibu semuanya. Kami hanya menjalankan tugas untuk menangkap ibu Vinanti"


"Saya?" tanya mama Vina tidak percaya.


"Apa salah saya pak? Saya tidak melakukan apa-apa" lanjut mama Vina ucapannya setelah tidak percaya kalau dialah yang akan ditangkap bapak-bapak berseragam aparat penegak hukum tersebut.


"Ibu bisa jelaskan di kantor nanti, sekarang ibu ikut kami kekantor" jelas salah satu polisi wanita yang sudah memegang tangan mama Vina.


"Kasus apa pak?" tanya Dito pada salah satu polisi yang berdiri didekatnya.


"Kejahatan berat" jawab polisi tersebut.


Ibu Dito yang berdiri didekat putranya ikut mendengar penjelasan aparat tersebut, dia menatap tidak percaya pada mama Vina yang dikenalnya baik dan dermawan.

__ADS_1


"Ibu sudah lama kenal teman ibu itu?" tanya dito begitu aparat sudah berhasil membawa pergi mama Vina.


"Baru enam bulan, dia itu ibu artis yang kemarin sempat disebut sebagai selingkuhan sala satu pengusaha muda"


Dito memang tidak mengenal siapa mama Vina, tapi dia mengingat pernah bertemu wanita itu bersama Mala. Lalu, kesalahan apa yang dilakukan wanita itu? Dito cukup penasaran. Bukan karena mama Vina, tapi karena wanita itu pernah bersama Mala.


Sedangkan Mala yang baru mengetahui kebenaran tentang apa yang mama Vina lakukan dimasa lalu membuatnya terkejut dan tidak percaya. Pantas saja papa Andro sampai jatuh sakit karena masalah ini, dan Mala ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada papa Andro dan suaminya yang harus menerima kenyataan yang menyedihkan dan menyakitkan.


Ditengah keterkejutan Mala, suara handphone milik papa Andro berbunyi. Suara diseberang sana menjelaskan sesuatu yang cukup menganggu papa Andro, itu terlihat dari wajahnya yang terlihat berpikir keras. Galih yang juga melihatnya, segera mengambil alih ponselnya.


"Iya baiklah, kami akan segera mengirim pengacara kami untuk mengurus masalahnya" jawab Galih setelah mendengar penjelasan dari seberang sana.


"Hubby, ada apa?" tanya Mala begitu melihat wajah suaminya yang tampak serius.


"Sayang, Mas bisa minta tolong?" bukan menjawab, Galih malah balik bertanya. Mala mengangguk.


"Tolong jaga papa, Mas harus menemui pengacara dan mungkin akan langsung ke kantor polisi." ucap Galih memberitahu istrinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Mala penasaran.


Galih menangkup wajah Mala lalu mengecup bibir istrinya sekilas. Dia butuh itu untuk memberikan kekuatan padanya agar bisa menghadapi masalah yang sedang dia dan papanya hadapi.


"Mama Vina ada di kantor polisi" jawab Galih yang langsung membuat Mala mengerti.


"Mala akan jaga papa. Pergilah" ucap dan perintah Mala.


Galih memeluk Mala lalu kembali mengecup bibir dan kening istrinya. Galih juga pamit pada papa Andro dan meminta pria paruh baya itu untuk kembali istirahat dan tidur.


"Mas pergi" pamit Galih pada Mala.


"Iya Mas, hati-hati" jawab Mala lalu mengecup bibir suaminya membuat laki-laki itu melukiskan senyum di wajahnya.


"I love you" bisik Galih.


"I love you too" balas Mala untuk memberikan kekuatan pada suaminya.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2