BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Kejutan Dari Zoya


__ADS_3

Merasa mengetahui berita terbaru tentang kakaknya, Mala tidak sabar untuk memberitahu pada bunda Sarah. Sambil bersandar di bahu suaminya, Mala berbicara pada bunda Sarah dan menceritakan apa yang dia ketahui.


"APA!" teriak Mala sambil menegakkan kepalanya. Tidak terima jika bundanya sudah tahu lebih dulu dari mulut mas Arfannya sendiri.


Galih yang berada disisinya langsung merasa telinganya berdengung mendengar teriakan Mala.


"Ada apa?" tanya Galih tanpa suara. Mala menggeleng.


"Kenapa Bunda nggak cerita sama Mala?" tanya Mala dengan nada merajuk.


"Semalam kamu sudah tidur waktu mas Arfanmu pulang. Paginya Bunda lupa" jawab bunda Sarah.


"Ya sudah kalau gitu. Semoga mas Arfan dapat penganti yang jauh lebih baik" ucap Mala mengakhiri pembicaraannya dengan bunda Sarah.


Galih mengambil alih handphone Mala, meletakkannya di meja depan sofa yang ada di kamar mereka, lalu kembali menghadap istrinya.


"Kamu itu nggak suka kalau Tari bicara dengan kencang. Tapi..."


"Iya maaf" potong Mala ucapan Galih.


"Mala kaget aja, bunda sudah tahu dari mas Arfan tapi nggak cerita sama Mala" Mala memberi tahu dengan wajah merajuk.


Galih tertawa sendiri, Istrinya tadi saat membahas poligami dengan Lila terlihat dewasa, tapi sekarang terlihat sangat kekanak-kanakan.


"Hubby kok ketawa?" tanya Mala heran.


"Kamu itu... menggemaskan" cubit galih kedua pipi Mala.


"Hubby..."


Bukan melepas cubitannya Galih semakin menggoda istrinya dan cup... cup... cup. Kecup Galih dipipi kanan dan kiri istrinya lalu berakhir di bibir.


"Jangan teriak-teriak lagi" pesan Galih untuk Mala.


Seperti murid yang patuh pada gurunya Mala langsung mematuhi perintah sang suami dengan mengangguk.


Drtt...drtt... handphone Mala bergetar, sebuah panggilan masuk dari Zoya.


"MALA" panggil Zoya dengan kencang membuat Mala menjauhkan handphonenya dari telinga.


Belum juga beberapa menit dia yang berteriak, kini sang sahabat yang berteriak di seberang sana.


"Ada apa?" tanya Mala setelah mendekatkan kembali handphonenya di telinga.


"I'm happy." ucap Zoya dengan nada riang.


"Berita baik apa nih? Lo jadian sama pak Dito ya?" tanya Mala menggoda Zoya.


Mendengar ucapan Mala, Zoya mendengus kasar. Dia sudah lelah berharap dengan laki-laki itu, untuk apa juga dia menunggu laki-laki yang sulit move on.

__ADS_1


"Ishhh" jawab Zoya membuat Mala tertawa.


"Terus berita baiknya apa nih?" tanya Mala penasaran.


"Bang Leo ngelamar gue"


"WHAT"


Kejutan dari Zoya membuat Mala kembali berteriak, Galih yang fokus dengan layar televisi berpaling menatap istrinya.


"Maaf" ucap Mala tanpa suara pada suaminya, dia lupa kalau tidak boleh berteriak oleh Galih.


"Beneran dilamar? Bang Leo?" tanya Mala untuk meyakinkan lagi.


Galih tersenyum mendengar pertanyaan Mala pada Zoya, dia sudah tahu rencana Leo yang akan melamar Zoya. Sahabatnya itu tidak ingin pacaran, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Leo sudah memperhatikan Zoya sejak lama, asistennya itu sudah merasa sangat cocok dengan sahabat istrinya.


"Iya sayang ku" jawab Zoya.


"Kamu terima?" tanya Mala.


Zoya mengangguk, dia lupa jika Mala tidak bisa melihatnya.


"Lo terima nggak?" tanya Mala lagi.


"Gue terima... gue langsung terima"


"Selamat. Selamat berbahagia." ucap Mala tulus.


"Mas, sudah tahu kabar terbaru bang Leo?" tanya Mala begitu dia selesai bicara dengan Zoya.


"Kabar apa?" tanya Galih pura-pura tidak mengerti.


"Bang Leo melamar Zoya"


"Dia sempat bilang sama Mas, tapi tidak disangka cepat juga dia bertindak" jawab Galih.


"Aku ikut senang" ucap Mala.


"Zoya menerima lamaran Leo?" tanya Galih.


"Iya" jawab Mala sambil mengangguk.


"Mas boleh melamar kamu lagi?"


Pertanyaan Galih membuat Mala tertawa, merasa gelih dengan permintaan suaminya. Memang mereka tidak mengalami momen romantis tersebut. Bahkan tidak mengira berakhir seperti ini. Mengingat masa lalu, membuat Mala menghentikan tawanya.


"Bagaimana, boleh Mas melamar kamu lagi?" ulang Galih pertanyaannya.


"Apaan sih Mas" jawab Mala.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Galih segera mengangkat tubuh Mala, memindahkan istrinya yang duduk di sofa ketempat tidur.


"Hubby..." panggil Mala.


"Boleh sayang?"


Mala mengangguk mengijinkan. Tanpa banyak bicara lagi Galih mencumbu istrinya. Sejak tadi dia sudah sangat menginginkan istrinya, sudah beberapa hari ini dia terus menahan karena kondisi Mala yang butuh pemulihan.


Tidak seperti Mala dan Galih yang sedang memadu kasih. Abi sedang duduk sendiri merenungi semua yang terjadi dengannya, sambil menemani Tias yang masih harus dirawat dirumah sakit.


Bercerai dengan Saras menjadi keputusan laki-laki itu. Apa yang bisa dia pertahankan dari rumah tangga yang penuh kebohongan. Baik kebohongan yang saras lakukan tentang putranya, maupun kebohongan hatinya sendiri yang pura-pura bahagia dengan rumah tangganya yang baru seumur jagung.


Penyesalan, itu yang Abi rasakan. Namun kembali dia mengingat semua sudah takdir yang maha kuasa membuat perjalanan hidupnya berliku seperti ini. Dari rumah tangga orang tua yang berantakan, mencintai dalam diam yang membuatnya harus rela melepaskan dan perbuatan bodoh karena nafsu balas dendam yang akhirnya membuatnya terpuruk seperti sekarang. Satu pertanyaam di benak Abi. Dimana keberadaan ayahnya?


Lamunan Abi dikejutkan oleh suara ketukan di pintu kamar rawat inap Tias. Sementara adik tirinya itu sudah terlelap sejak tadi, setelah dokter Erick memeriksanya. Abi bersyukur, Tias mendapatkan dokter yang sangat baik dan perhatian.


"Kiara" panggil Abi begitu melihat Kiara yang juga adik tirinya berada di depan pintu kamar Tias.


"Aku ingin bicara" jawab Kiara.


Abi keluar dari kamar rawat Tias, dia mengajak Kiara duduk di bangku tunggu yang ada didepan kamar Tias.


"Mau bicara apa?" tanya Abi.


"Tentang Ayah dan juga putraku"


Hening sesaat. Abi diam dengan segala pikirannya yang tak menentu, membayangkan betapa buruk ayahnya yang tidur dengan anak tirinya sendiri.


"Apa yang ingin kamu katakan?"


"Aku tahu dimana ayah berada kalau kakak ingin bertemu dengannya."


Apa yang dikatakan Kiara sedikit menarik perhatian Abi, baru saja dia memikirkan dimana keberadaan ayahnya, Kirana datang menawarkan penjelasan.


"Dia tidak seburuk yang kakak pikirkan. Aku yang salah yang menjual tubuhku padanya demi kemewahan yang aku butuhkan" ucap Kiara jujur.


"Ayah tidak tahu tentang putraku, karena itu dia pergi dan aku memanfaatkan Alan untuk menjadi ayah dari putraku."


Abi diam, tidak tahu harus bicara apa. Apapun alasan Kiara tidak akan terjadi jika ayahnya juga tidak berhasrat pada Kiara. Kembali Abi menyesali kesalahan yang pernah dia lakukan dengan meniduri Kiara yang akhirnya membuatnya merasa tidak pantas bersanding dengan Mala.


"Dimana dia?" tanya Abi.


"Jerman"


Sejauh itu ayahnya pergi, Abi tampak berpikir. Mengapa dia tidak terpikirkan jika ayahnya akan tinggal disana? Harusnya Abi mengingat jika keluarga besar ayahnya juga ada di Jerman selain di Amerika.


"Ayah yang membuat perusahaannya terpuruk, dia sengaja melakukan itu untuk mengembalikan perusahaan kepada kakak yang berhak sebagai pewarisnya."


Kembali Abi terdiam mendengar penjelasan Kiara. Berpikir dan mencoba mencari cara yang terbaik agar setiap masalah teruraikan satu persatu.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2